Honjok : Seni Hidup Sendiri

Blog ini berisi tentang kisah perjalanan, catatan kuliner, kecantikan hingga gaya hidup. Semua ditulis dari sudut pandang penulis pribadi

Honjok : Seni Hidup Sendiri

Pernah mendengar kata Honjok ? Saya baru tahu kata ini setelah membaca buku yang diterbitkan oleh Gramedia. Buku yang berjudul Honjok : Seni Hidup Sendiri ini awalnya membuat saya mbatin ‘Hidup sendiri kok ada seninya ?’. Apa keistimewaan dari honjok ini sehingga menjadi sebuah buku yang ditulis oleh Crsytal Tai dan Francie Healey ini? Lalu apa beda antara honjok dan penyendiri ? 

Honjok (diucapkan hon-juk) merupakan istilah yang muncul pada tahun 2017 di Korea Selatan. Hon adalah kependekan dari kata honja artinya sendirian. Sedangkan Jok artinya suku. Jadi, kata honjok adalah suku penyendiri. 

Sumber foto : pixabay.com

Munculnya honjok ini boleh dikatakan sebagai bentuk ‘perlawanan’ terhadap masyarakat Korea Selatan yang menuntut untuk menikah dan tuntutan masyarakat pada umumnya. Dalam buku ini ditulis bahwa gerakan ini muncul karena anak-anak muda merasa frustasi. Persaingan dibidang perekonomian yang lesu, kurangnya kesempatan kerja dan mobilitas sosial yang menghambat perkembangan masa depan. 


Ditambah lagi, masyarakat Korea hidup dalam kekakuan yang terbentuk sekian lama. Misalnya di sekolah dasar, anak murid harus antre dan diberi nomor sesuai dengan tinggi badan. Selain itu juga penampilan memainkan peran penting bagi masyarakat Korea. Penampilan calon pelamar kerja juga ditentukan oleh tampilan foto yang menarik. 


Perlu diketahui, Korea Selatan menduduki peringkat tertinggi di dunia dalam hal operasi wajah. Bahkan menurut jajak pendapat yang dilakukan Gallup Korea, satu dari tiga perempuan pernah menjalani operasi plastik. 


Anak muda Korea Selatan hidup seperti mimpi orang Amerika yang digalakkan di Amerika pada masa McCarthy pada 1950-an. Mimpi itu adalah rajin belajar, lulus, mendapat pekerjaan, menikah, membeli rumah, memiliki anak. Mimpi yang menurut saya masih bertahan hingga kini karena dianggap itulah kehidupan yang ideal bagi kebanyakan orang. 


Perempuan dalam kehidupan di Korea Selatan juga mendapat tuntutan yang sama. Mereka harus memilih antara menikah atau karir. Tak bisa antara menikah selaras dengan pekerjaan. Ini karena perempuan di Korea Selatan (dan sama seperti di Indonesia juga) dituntut menjadi perempuan yang mampu mengurus rumah tangga. Perempuan dituntut menjadi menantu yang patuh, mampu membereskan rumah, bisa memasak, mampu mengurus dengan baik. Tuntutan ini yang kemudian juga memunculkan gerakan #NoMarriage di Korea Selatan.


Tekanan demi tekanan, serta rasa kecewa itu yang kemudian memunculkan Honjuk. Honjuk menjadi pilihan yang kemudian dipilih oleh anak muda Korea Selatan. Terutama pada perempuan muda Korea Selatan yang semakin tinggi tuntutan hidup oleh masyarakat. 


Honjok berbeda dengan penyendiri. Buku ini memberikan perbedaan antara honjok dengan penyendiri. Jika penyendiri ditolak masyarakat, honjok menolak tekanan dan harapan masyarakat untuk menikah dan berkeluarga. Penyendiri menyebabkan penderitaan karena kesepian. Sedangkan honjok menikmati waktu untuk sendiri. Jika penyendiri tidak memiliki kepuasaan karena menyembunyikan diri, honjok fokus pada memenuhi kebutuhan diri sendiri sebagai cara berkembang. Honjok juga cenderung tidak peduli pada kesendirian. 


Pertanyaannya, apa hakikat gaya hidup honjok ? Jadi, hakikat gaya hidup honjok adalah memilih untuk hidup di saat ini untuk diri sendiri dan bukan untuk orang lain. Dengan memilih gaya hidup honjok, ada kebebasan memiih kemana pergi dan apa yang dilakukan tanpa tergantung pada orang lain atau memenuhi kehendak orang lain. 


Di halaman 65, buku ini juga memberikan beberapa pertanyaan yang bisa menentukan apakah seseorang termasuk introver, ekstrover atau ambiver. Salah satu pertanyaan adalah terkait perasaan kita ketika berbicara dengan orang yang tidak dikenal. Selain itu juga pertanyaan terkait kecenderungan berbicara dengan seseorang. 


Selain itu, buku ini juga memberikan beberapa rekomendasi kegiatan yang dapat dilakukan ketika memilih gaya hidup honjok. Mulai dari makan, meditasi, berjalan sendirian dan lainnya. Namun honjok bukan berarti tanpa resiko. Butuh keberanian untuk memilih untuk gaya hidup honjok. 


Apakah selama ini teman tanpa disadari memilih gaya hidup honjok? Atau malah termotivasi untuk mengadopsi gaya hidup honjok? Sebelum memutuskan, silakan baca lengkap ulasan buku ini yang ditulis secara detail dengan bahasa yang mudah dipahami. 


Selamat membaca :) 


18 komentar

Avatar
Nchie Hanie 02/06/21 18.11

AKu familiar banget sama Honjok ini dan banyak banget yang ngomongin juga. Yess bener banget Mak, sebelum menganut gaya hidup honjok disarankan buat baca2 buku dulu, bukan hanya sekedar ikut2an saja.

Soalnya ada temenku penganut honjok ini juga. TApi kalo dipikir memang iya juga kita hidup buat diri sendiri, kek aku kmana mana sendiri tanpa harus bebarengan sama yang lain rasanya nyaman, jangan jangan... eaaa..

Reply Delete
Avatar
Nurul bukanbocahbiasa 02/06/21 19.08

Honjok emang nonjok!!

Intinya hidup secara mindfull dan menjadikan diri sendiri sebagai pusat tata surya ya mbaaa


Asik bgt dah ini. Ga perlu FOMO kalo honjok

Reply Delete
Avatar
winda - dajourneys.com 02/06/21 23.22

kayaknya part paling menarik buat saya dari buku ini adalah beberapa pertanyaan yang bisa menentukan apakah seseorang termasuk introver, ekstrover atau ambiver.

Reply Delete
Avatar
Tetty Hermawati 03/06/21 05.22

waah ada-ada aja ya Mi, tapi emang namanya beda budaya, beda kebiasaan, beda segalanya, maka pemikiran pun bisa beda, smpe ad gerakan hidup sendiri, kalo di Indonesia mah kynya ga ada mau yg jomblo ya, hehehe

Reply Delete
Avatar
Keke Naima 03/06/21 16.37

Saya baru tau tentang honjok. Jadi sempat mikir kalau saya mungkin termasuk salah satunya. Karena sering merasa kurang nyaman berada di tempat yang banyak orang.

Tapi, kalau bener-bener sendiri juga kayaknya gak berani. Soalnya saya penakut juga hihihi

Reply Delete
Avatar
Dessy Achieriny 03/06/21 17.09

Nah iya mbak, perempuan korea mirip-mirip gaya hidup orang Indonesia yang dituntut jadi menantu idaman mertua untuk masak dan ngurus rumah tangga. Jadi penasaran aku baca buku tentang Honjok

Reply Delete
Avatar
Demia Kamil 04/06/21 01.50

waaa aku baru tau nih soal honjok ini, jadi penasaran pengen cari tau lebih banyak deh jadinya hihihi, bener bener baru denger banget soalnyaaa

Reply Delete
Avatar
Mpo Ratne 04/06/21 02.51

Bener nih hidup adalah pilihan mau hanjok atau tidak. Karena pemikiran dan pandangan orang berbeda . Kita hanya bisa menghargai setiap orang termasuk memilih jalan hanjok

Reply Delete
Avatar
Inda Chakim 04/06/21 05.15

Saking banyaknya tekanan di korea sampai muncul honjuk.
Ini paripurnanya self love nggak, sih mbak? Jadi penasaran pengin baca bukunya juga.

Reply Delete
Avatar
Retno Kusumawardani 04/06/21 06.42

waktu baru baca judulnya kirain istilah ini dari Jepang, enggak taunya dari Korsel. Btw ada juga ya ternyata antri berdasarkan tinggi badan. Kalau di Indonesia yang bedain tinggi badan itu bukan antri tapi upacara bendera, yang tinggi di depan, yang pendek di belakang. Nah aku pasti kebagian yang belakang hehehe

Reply Delete
Avatar
Ida 04/06/21 06.49

Bisa dipahami tentang honjok ini karena ini orang Korea ya... semoga orang Islam jangan mengadopsi ini karena bertentangan dengan syariat. Menikah itu memang dianjurkan kecuali memang yang belum diberikan jodoh Allah di dunia itu lain masalah, tapi kalau menyengaja ingin sendiri ..jangan deh ah hehe..

Reply Delete
Avatar
t h y a 04/06/21 07.29

baru denger istilah honjok ini. kalo aku mah mana bisa hidup sendiri.. butuh pendamping mbaaak.. wekekek..

Reply Delete
Avatar
April Hamsa | Parenting Blogger keluargahamsa.com 04/06/21 10.35

Kyknya emang Korsel mirip2 Indonesia nih soal cewek mau jd emak2 RT atau kerja aja, pdhl aslinya ya bisa jalan bareng.
Hidup Honjok keknya relate sama pandemi skrng wkwk
AKu pengen nyobain kuisnya biar tau aku intropret atau ekstropreet :D
Harga bukune berapaan?

Reply Delete
Avatar
Shyntako 04/06/21 11.46

sepertinya anak-anak muda sekarang banyak yang memang lebih byk pertimbangan untuk memutuskan menikah/berkeluarga yaaaa, di satu sisi bagus juga jd gak cuma mikir asal nikah krn semuanya hrs disiapkan toh

Reply Delete
Avatar
Ainhy E 04/06/21 12.10

Jadi Honjok berbeda dengan menyendiri yah. Baca ulasannya jadi tertarik pengen baca, apalagi menceritakan karakter masyarakat Korea Selatan pada umumnya ya mba

Reply Delete
Avatar
Novitania 04/06/21 16.23

Baca ulasan mba Alida, jadi Inget temenku deh. Dia terang terangan bilang pengen hidup sendiri aja seumur hidupnya. Hal itu dipicu karena keluarganya yg agak toxic.

Reply Delete
Avatar
Nyi Penengah 04/06/21 18.46

Baru tahu gaya hidup. Beginian..
Kalau aku sih nggak bisa. Jadi penasaran baca bukunya juga.

Reply Delete
Avatar
susie ncuss 04/06/21 20.33

Fenomena honjok ini juga kali ya yang bikin child birth rate di korsel turun drastis :(

Reply Delete