SLIDER

Resensi Buku : Lagom. Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia

Rabu, Februari 28, 2018

Apa yang membuat seseorang bahagia? Apakah harta banyak bisa membuat seseorang bahagia? Sepertinya tidak selalu demikian. Saya pernah berkenalan dengan seseorang yang bisa dikatakan memiliki hampir semuanya. Tiga mobil selalu terparkir di rumahnya yang besar dan megah. Namun semuanya terasa hampa karena ia selalu merasa sendiri karena kesibukan anak-anaknya yang telah dewasa dan memiliki keluarga masing-masing.

Apakah kebahagian memiliki pekerjaan juga menjadi patokan? Belum tentu juga. Ada teman yang mengeluh pekerjaan yang kini digelutinya membuat ia kehabisan waktu me time. “Aku sampai nggak punya waktu buat diri saya,” katanya. Apa yang ia lakukan semata-mata demi urusan pekerjaan dan bukan karena keinginan pribadi. Belum lagi ia harus berjibaku dengan kemacetan perjalanan menuju kantor yang menghabiskan waktu berjam-jam.
 
Lagom : Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia 
Dua contoh di adalah kisah nyata yang menunjukkan bahwa kekayaan dan pekerjaan yang dimiliki bukan jaminan seseorang bahagia. Tapi ada juga definisi kebahagiaan yang sederhana. Misalnya saya yang merasa bahagia ketika naik commuterline dalam keadaan nyaman serta tak penuh. Saya bersyukur karena mudah bahagia untuk hal-hal sederhana. Alhamdulillah ...

Tapi ya balik lagi berapa banyak yang merasa bahagia dengan kehidupannya?. Seringkali ada perasaan kurang dan memiliki keinginan yang banyak. Pengen ini, pengen pengen ini. Mau ini, mau itu. Tak pernah ada perasaan dalam kehidupan.

Nah, di tulisan saya kali ini, saya akan menulis resensi buku berjudul ‘Lagom. Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia’ yang diterjemahkan dan diterbitkan oleh penerbit Renebook. Swedia termasuk salah satu negara yang paling bahagia berdasarkan survey  yang dilakukan oleh Badan PBB dan diumumkan pada Hari Kebahagiaan Internasional yang jatuh pada tanggal 20 Maret 2017.

Dalam buku berjudul ‘Lagom. Rahasia Hidup Bahagia Orang Swedia’, Kebahagiaan ini di tinjau dari beberapa aspek yakni kultur, makanan, kesejahteraan hingga keuangan. Pernah dengar kata Lagom? Kata ini memang masih terasa asing. Lagom (dibaca laaw-gam) artinya jumlah yang pas, tidak lebih atau tidak kurang.

Beberapa hal yang bisa dipelajari dari Lagom dibahas di buku ini yakni :
Keseimbangan individual
Kesederhanaan
Kemandirian dalam lingkup sosial
Menciptakan keselarasan
Seni bersabar
Menghargai waktu
 
Bahagia. Sumber foto : Pixabay.com
Dalam buku ini misalnya menceritakan orang Swedia memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Jika di Indonesia jatah cuti setahun 12 hari, di Swedia cuti selama 5 minggu merupakan standar bagi karyawan. Bahkan cuti berbayar untuk mengurus anak adalah 480 hari yakni sekitar satu tahun tiga bulan per anak.

Ada sedikitnya 18 hari libur nasional ditambah dengan hari kejepit di antara hari libur nasional dan akhir pekan yang dapat dijadikan hari libur oleh sebagian orang. Ada juga dapat meminta izin cuti berkompensasi yakni hak orang tua yang dinamakan VAB untuk merawat anak yang sakit.

Segala kemewahan ini disubsidi besar-besaran secara adil oleh sistem pajak yang didukung oleh semua orang. Artinya, semua orang membayar bagian mereka masing-masing secara adil sehingga siapapun bisa mendapatkan hak-hak dasar.

Tak heran, menurut Indeks Hidup Lebih Baik dari OECD, 81% orang yang tinggal di Swedia berada dalama kondisi sehat yang secara substansial lebih tinggi daripada rata-rata OECD yang sebesar 69%.

Di halaman 162, ditegaskan bahwa orang Swedia bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja. Fleksibilitas dalam bekerja menjadi kultur mereka. Misalnya, orangtua dapat pulang kantor lebih awal untuk menjemput anaknya dari taman kanak-kanak atau keluar sejenak untuk memenuhi janji pertemuan pribadi. Bahkan setelah cuti melahirkan, mereka dapat mengurangi 50% hingga 75% jam kerja, jika mereka menginginkannya. Siapa yang tak bahagia?

Lagom juga diterapkan saat menata rumah. Perabot-perabotan yang digunakan bersifat praktis, simpel dan sangat mudah digunakan. Konsep tentang pengaturan rumah ala Lagom ini di ulas di halaman 117. Pengaturan keuangan yang dilakukan oleh orang Swedia juga mengacu pada Lagom yakni tidak berlebihan, tidak kurang, pas.

Pengelolaan uang dilakukan secara lebih praktis dan logis. Ketika membeli sesuatu selalu dipertimbangkan terlebih dahulu apakah penting membeli produk itu atau tidak. Dengan cara ini, secara perlahan akan menjauhkan seseorang untuk berhutang.

Inti dari Lagom itu adalah apa adanya, tidak berlebihan dan jumlahnya pas. Dan hal ini yang kemudian diterapkan oleh masyarakat Swedia dalam kehidupannya. Dengan menerapkan konsep hidup Lagom, Swedia menjadi salah satu negara yang penduduknya paling bahagia.

Dalam buku ini juga dijelaskan beberapa poin yang daoat dilakukan untuk menerapkan Lagom yakni : jangan sombong, tidak boros, jangan membuang-buang waktu hingga melakukan 3R yakni reuse, refil dan reycle.

Buku ini cukup menarik dibaca karena diungkapkan secara satu per satu dari berbagai bidang. Selain itu, buku ini menerima penghargaan di bidang penulisan dari Society of American Travel Writers dan North American Travel Journalist Association.

Jika teman-teman tertarik untuk membeli buku ini, bisa langsung membuka website https://bukudiskon.co.id/ ya. Oh ya, apakah teman-teman tertarik untuk hidup Lagom ala orang Swedia? Atau sudah menerapkan dalam kehidupan teman-teman? Yuk berbagi ... 

Penulis: Lola A. Åkerström
Diterjemahkan dari  ‘Lagom : The Swedish Secret of Living Well’
Penerbit : Renebook
Jumlah Halaman: 244
Kertas : Bookpaper
Ukuran: 14 x 21 cm              
Berat: 250 Gram


Jas Hujan Cablin Project untuk Muslimah

Rabu, Februari 21, 2018

Belakangan ini musim hujan hampir merata di berbagai daerah. Hujannya juga nggak nangung-nanggung. Nggak pagi, nggak sore hujan terus. Awalnya saya sempat mengira kalau hujan pagi aja, sorenya udah bisa melenggang keluar kantor tanpa kehujanan. Eh, perkiraan saya keliru. Teryata hujannya awet bak pakai pangawet.

Kalau musim hujan gini, saya selalu membawa payung. Tapi belakangan, payungnya sering rusak. Alhasil, kehujanan deh pas pulang kerja saat hujan tiba. Seringkali juga yang terjadi, jas hujan yang saya punya malah mudah rusak. Nah, jas-jas hujan yang mudah rusak itu biasanya saya beli di emperan-emperan jalan. Penjual-penjual itu biasanya selalu ada saat hujan turun. Harganya pun sangat terjangkau yakni hanya Rp 10 ribuan saja.

4 Little Things To Boost Mood and Productivity

Sabtu, Februari 17, 2018

Oy, senggol bacok!
Sering banget kan dengar kata ini? Biasanya kalau ada yang bad moodnya, pengennya marah-marah melulu. Kalau di kantor, orang yang lagi mood jelek biasanya ke baca banget deh. Biasanya pas di sapa diam aja, nanya dikit aja eh malah marah-marah. Udah deh, daripada nyari masalah, mendingan saya melimpir cantik sambil makan cemilan. Nyari aman. Hehhehe ...

Eh tapi bukan berarti saya nggak pernah ngalamin bad mood loh ya. Bisa dikatakan saya sering alamin bad mood. Liputan reporter tak sesuai harapan, deadline tak ditepati, produser nanya naskah melulu padahal tim lapangan lagi ngerjain, wah, ini bisa bikin saya ngomel-ngomel. Pernah nih ya, di rapat udah diminta live dari kota A, B, C dan D untuk satu program acara. Setelah dikoordinasikan dengan tim lapangan dan tim lapangan menuju lokasi, eh livenya batal! Padahal untuk menggerakan satu tim live itu juga butuh waktu loh.

My Style 

FWD LooP untuk Kemudahan Berasuransi

Rabu, Februari 14, 2018

Hidup jaman sekarang semuanya serba mudah. Bahkan segala kemudahan itu bisa diperoleh hanya dalam hitungan menit dan berbekal sebuah smartphone. Tak percaya? Sekarang, jika ada yang ingin melakukan perjalanan kemana saja, bisa langsung order mobil atau mobil online. Hanya dalam hitungan menit, transportasi online yang dipesan pun tiba.

Mau pesan makanan? Langsung pilih makanan yang diinginkan di aplikasi khusus dan dalam hitungan menit pesanan pun tiba di tempat tujuan. Nggak perlu keluar rumah, nggak perlu bermacet-macet ria, semuanya yang diinginkan pun bisa terpenuhi. Mudah kan?


Kesan Klasik di Rumah Makan Inggil Malang

Kamis, Februari 08, 2018

Setiap kali akan berkunjung ke suatu daerah pasti akan mencari info tentang rumah makan legendaris di daerah itu. Apakah ada yang sama seperti saya? Saya seringkali lebih senang datang ke rumah makan yang masih mempertahankan kualitas dan rasa mereka selama bertahun-tahun. Termasuk saat ke Malang 12-14 Januari 2018 untuk menghadiri acara wisuda mas Ghaffar di Universitas Brawijaya. 

Nah, salah satu agenda adalan makan siang di Rumah Makan Inggil Malang. Mengapa di Rumah Makan Inggil? Pertama karena restoran yang terletak di Jalan Gajahmada No 4 Malang ini merupakan rumah makan yang didirikan sejak tahun 1943. Kedua, di Inggil juga bisa dinikmati kolek barang-barang tempo dooloe yang bisa dinikmati secara gratis. Selain itu, banyak pilihan makanan di Inggil dan rasanya pun sudah teruji enak.
 
Rumah Makan Inggil Malang
Desain klasik di kasir ya 

Solusi Cegah Diabetes Menggunakan H2 Tepung Kelapa

Sabtu, Februari 03, 2018

Saya masih mengingat almarhumah nenek saya yang mengidap diabetes. Di masa tuanya, ia tak hanya berjuang melawan kanker serviks. Namun juga  penyakit diabetes yang membuat ia harus melawan kebiasaannya senang mengkonsumsi makanan dan minuman manis. Penyakit diabetes juga membuat ia selalu berusaha untuk tak terluka karena luka menjadi susah sembuh. Pernah suatu saat ia terluka di ujung kaki dan ia membutuhkan waktu yang lama untuk kering.

Tak hanya almarhumah nenek saya saja yang menderita diabetes. Mertua saya pun mengalami penyakit yang sama. Diabetes telah ia derita selama puluhan tahun. Dampaknya pun juga sama dengan nenek saya. Saat ada luka, luka itu menjadi susah sembuh dan membutuhkan waktu yang lama. Pernah sepulang umrah, kaki Mae (panggilan saya ke mertua) terkelupas saat terkena jalanan yang panas. Walaupun sudah dibawa ke dokter, tapi luka itu membutuhkan waktu lebih dari sebulan untuk kering dan benar-benar sembuh.

Pengalaman Melihat Gerhana Bulan Total

Kamis, Februari 01, 2018

Siapa yang Rabu malam tanggal 31 Januari 2018 bisa melihat Gerhana Bulan Total? Alhamdulillah saya termasuk yang berhasil melihat gerhana matahari total dari masjid dekat rumah di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Sebetulnya sejak beberapa hari sudah beredar informasi di grup whatsapp bahwa masjid yang di kompleks rumah akan mengadakan ceramah dan shalat gerhana. Saya pun langsung menyampaikan informasi itu ke sleuruh keluarga. “Jangan lupa shalat gerhana ya. Ntar kita berangkat rame-rame,” kata saya.

Gerhana Bulan Total ini istimewa karena tiga fenomena gerhana bulan bersamaan. Peristiwa ini terakhir kali terjadi 31 Maret 1866 atau 152 tahun lalu. Tiga fenomena ini terjadi karena siklusnya bersamaan.  Suatu fenomena alam yang membuktikan kuasa Allah SWT. Gerhana bulan total ini disebut Supermoon karena jarak bulan masih terdekat dengan bumi sehingga purnama dan gerhana tampak lebih besar dari biasanya.
 
gerhana matahari total
Bulannya kelihatan kecil banget kan? :p
© Rach Alida Bahaweres • Re-Design By momsodell