Yuk Ciptakan Kawasan Tanpa Rokok untuk Wujudukan Kota Layak Anak

Blog ini berisi tentang kisah perjalanan, catatan kuliner, kecantikan hingga gaya hidup. Semua ditulis dari sudut pandang penulis pribadi

Yuk Ciptakan Kawasan Tanpa Rokok untuk Wujudukan Kota Layak Anak

Di rumah, saya punya peraturan yang tak bisa diganggu gugat yakni larangan merokok di dalam rumah. Peraturan itu saya buat bukan tanpa sebab. Saya sebetulnya sedih harus mengatakan bahwa suami dan papa saya adalah perokok. Tapi itulah kenyataannya.

Suami saya hanya perokok sesekali. Dia tidak pernah merokok di dalam rumah. Bahkan sebelum memegang anak, dia selalu memilih untuk mencuci tangan dan menganti baju yang mungkin ada sisa-sisa asap rokok.

Papa adalah perokok keras. Dalam sehari, ia bisa menghabiskan satu hingga dua bungkus rokok. Saya pernah protes ke papa ketika tahu kamar mandi belakang teryata bau asap rokok. Memang saya dan anak tidak menggunakan kamar mandi itu. 

kota layak anak
Hiasan larangan merokok di depan rumah saya


Tapi tetap saja saya dan anak terganggu dengan asap rokok dan kerap kali membuat kami batuk. Kesal? Tentu saja. Saya membuat tulisan dari kertas sederhana yang bertuliskan “Dilarang merokok di WC. Hormati hak orang yang tidak merokok!”.Bagi saya, ini cara saya melindungi diri saya dan anak saya dari asap rokok.


Secara perlahan-lahan, saya sampaikan ke papa dan suami saya bahwa saya ingin lingkungan rumah bebas asap rokok. Saya tidak ingin ada yang merokok di dalam rumah. Saya ingin kami sekeluarga sehat. Alhamdulillah perlahan-lahan, aturan yang saya terapkan pun menuai hasil. Rumah kami bebas dari asap rokok.


Tapi suatu waktu ada saudara jauh yang datang. Sialnya karena dia merokok, secara sadar ia mengambil rokok dan kemudian merokok dalam rumah saya. Sialnya lagi, suami dan papa saya pun perlahan-lahan mengambil sebatang rokok dan menghembuskan asap rokok di dalam rumah saya. Bete? Jelas. Saya sudah pasang kode agar suami saya memulai mematikan rokoknya, tapi karena keasyikan ngobrol, kode-kode dari saya pun terabaikan.


Tak menunggu lama, saya langsung sampaikan secara perlahan kepada tamu, papa dan suami bahwa rumah saya bebas asap rokok. Tamu langsung minta maaf dan mematikan rokok. Begitupula papa dan suami saya.


Sampai sekarang, papa dan suami saya masih merokok. Suami saya sudah berkurang jauh kebiasaan merokoknya. Tapi papa saya tidak. Walaupun usianya bertambah, kebiasaan merokoknya tidak pernah berkurang. Saya sadar memang susah meminta papa dan suami saya menghentikan merokok. Tapi setidaknya saya memulai untuk meminta mereka mengurangi asap rokok. Selain itu, saya ingin menciptakan kawasan bebas bebas rokok harus dimulai dari rumah agar anak bebas dari asap rokok.

Berawal dari Rumah untuk Ciptakan Kawasan Tanpa Asap Rokok agar Kota Layak Anak

Ya, semua berawal dari rumah untuk menciptakan kawasan tanpa asap rokok. Itupula yang dilakukan oleh Ibu Sumiati, warga Kampung Penas, Jakarta Timur sekaligus Pegiat Kampung Tanpa Rokok. Ibu Sumiati menyampaikan pengalamanya menciptakan kawasan Tanpa Asap rokok melalui program radio Ruang Publik KBR berjudul “Kawasan Tanpa Asap Rokok untuk Ciptakan Kota Layak Anak” edisi #putusinaja.


Program radio Ruang Publik KBR ini menghadirkan dua narasumber utama yakni :
  • Ir. Yosi Diani Tresna, MPM : Kasubdit Perlindungan Anak, Dit. Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda dan Olahraga, Kementerian PPN/Bappenas
  • Sumiati : Pegiat Kampung Tanpa Rokok, Kampung Penas Jakarta Timur .
Selain itu juga ada pendapat dari Nahla, aktifis Lentera anak yang menyampaikan pendapatnya tentang Kawasan Tanpa Rokok untuk Ciptakan Kota Layak Anak.

ciptakan kota layak anak


indonesia bebas asap rokok




indikator kota layak anak



tips agar kota layak anak
Suasana Kampung Penas sebelum deklarasi menjadi Kawasan Tanpa Rokok. Sumber foto : Ibu Sumiati 


Kampung Penas dijadikan contoh kawasan tanpa rokok yang berhasil di terapkan di Jakarta. Kampung Penas adalah kawasan kumuh yang berada di bantaran kali Ciliwung yang kumur dan kotor. Ditambah lagi, dulu di kawasan yang padat penduduk itu, orang dengan gampangnya hilir mudik merokok seolah tanpa mengenal waktu. Bahkan mereka tak peduli jika merokok ada anak di sampingnya. Kesehatan warga di kawasan tersebut pun terancam memburuk.


Salah satu yang telah menjadi korbannya adalah Ibu Sumiati yang telah terdiagnosis sakit paru pada tahun 2007 akibat terpaan asap rokok. Tak ingin banyak orang mengalami hal serupa, ia pun menginisiatif untuk membuat kampungnya menjadi kampung bebas asap rokok.  “Kami ingin melindungi anak dan perempuan dari paparan asap rokok,” kata Ibu Sumiati.


Teryata tidak hanya dia merasakan kegelisahan itu. Bersama enam rekannya yang menjadi motor penggerak untuk menciptakan kampung bebas asap rokok, Ibu Sumiati pun memulai mensosialisasikan ide ini pada tahun 2012. Awalnya mereka membuat survey ke semua warga apakah ingin menciptakan kawasan bebas asap rokok atau tidak. Teryata semua warga sepakat untuk menciptakan kampung Penas menjadi kampung bebas asap rokok.


Bersama Forum Warga Kota Jakarta, sosialisasi demi sosialisasi terus dilakukan. Dan pada 10 Juli 2017, kampung Penas di deklarasikan sebagai Kampung Bebas Asap Rokok.  Deklarasi yang disepakati adalah larangan tidak boleh merokok di dalam rumah, teras, halaman rumah dan area lingkungan kampung.

Hingga kini belum ada yang kena denda. Kalaupun ada yang ketahuan merokok maka akan langsung ditegur. “Kalau warganya sendiri sudah tahu tapi masih ada yang ngumpet-ngumpet merokok di malam hari atau di jalan,” kata Ibu Sumiati saat saya hubungi melalui telepon.  Kesadaran dari warga untuk menciptakan kawasan tanpa rokok membuat delapan orang berhenti merokok.


ruang publik




Kampung Penas setelah menjadi Kawasan Tanpa Rokok. Sumber foto : Ibu Sumiati 


Kawasan Tanpa Rokok merupakan salah satu indikator untuk menciptakan Kota Layak Anak. “Kami ingin melindungi perempuan dan anak-anak dari bahaya asap rokok,” kata Ibu Sumiati.

Mengapa harus menerapkan Kawasan Tanpa Rokok untuk Ciptakan Kota Layak Anak?


Menciptakan kota layak anak adalah bagian untuk memenuhi hak dan melindungi anak. Hal ini sesuai juga dengan Konvensi Hak Anak dari kerangka hukum ke dalam definisis, trategi dan  intervensi pembangunan. Ini tertuang dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjaminnya pemenuhan hak dan perlindungan anak.
 
Sumber www.kemenpppa.go.id
Ada lima tahapan peringkat pencapaian Kota Layak Anak yakni Pratama, Madya, Nindya, Utama dan Kota Layak Anak. Penilaian dan pemberian peringkat berdasarkan pada 24 indikator yang diklarifikasikan dalam lima klaster yakni :
  • Klaster hak sipil dan kebebasan
  • Klaster lingkungan keluarga dan perawatan alternatif
  • Klaster kesehatan dasar dan kesejahteraan
  • Klaster pendidikan, pemanfaatan waktu luang dan kegiatan budaya
  • Klaster upaya-upaya perlindungan khusus.
Salah satu indikator untuk menciptakan Kota Layak Anak pada klaster III tentang kesehatan dasar dan kesejahteraan adalah tentang tersedianya kawasan tanpa rokok dengan  dua ukurak yakni :
  • Adaya peraturan tentang kawasan tanpa rokok
  • Tidak ada iklan, promosi dan sponsor rokok
“Kami ingin menyelamatkan anak-anak dari bahaya asap rokok,” kata Ibu Yosi. Anak merupakan penerus suatu bangsa sehingga dibutuhkan perlindungan pertumbuhan dan perkembangan fisik, mental dan sosial. Anak diharapkan dapat tumbuh maksimal dan terbebas dari diskriminasi, psikotropika dan zat adiktif dan termasuk rokok. 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan 2018, baru sekitar 43 persen Kota dan Kabupaten di Indonesia yang memiliki aturan Kawasan Tanpa Rokok. Sedangkan hanya 10 dari 516 kabupaten atau kota yang sudah memiliki aturan larangan iklan, promosi atau larangan merokok.

Sumber www.kemenpppa.go.id


“Kalau inginn menjadi Kota Layak Anak, tidak hanya ada indikator larangan merokok saja tapi juga ada peraturan daerah kawasan tanpa rokok,” kata Ibu Yosi. Insiatif untuk mengembangkan kawasan tanpa rokok sebaiknya berasal dari warga itu sendiri. “Karena kalau dari pemerintah maka terkesan paksaan,” katanya lagi.  Apabila ide untuk menciptakan Kawasan Tanpa Rokok merupakan insiatif dari warga maka warga akan lebih mematuhi. Nanti inisiatif itu kemudian diawasi dengan peraturan pemerintah. Contohnya adalah Kampung Penas yang merupakan inisiatif dari warga kampung itu sendiri.

Tantangan Menciptakan Kawasan Tanpa Rokok untuk Kota Layak Anak

Menciptakan kawasan tanpa merokok bukan perkara mudah. Di keseharian, masih banyak juga yang tidak setuju ketika ada larangan merokok di rumahnya sendiri. Hal ini menimpa seorang warga yang meminta suaminya untuk berhenti merokok. Bukannya sepakat, sang suami malah marah-marah. “Mulut-mulut gue sendiri, uang juga uang gue sendiri tapi mengapa loe yang sibuk ngurus gue,” kata Ibu Sumiati menceritakan kisah yang menimpa salah satu warganya.

Kampung Penas juga mengalami kendala ketika kepengurusan berganti, pengawasan pun mulai kendor. Ibu Sumiati menceritakan ada anak-anak dari luar kampung yang nongkrong sambil merokok. “Padahal kami menyediakan dua tempat untuk orang bisa merokok,” tambah ibu Sumiati lagi.


Kasus lain, jika di rumah tak ada yang merokok, tapi di luar rumah malah banyak kenalannya yang merokok sehingga mau tak mau pun ikut merokok. Jadi, faktor lingkungan boleh dibilang menjadi tantangan untuk menciptakan kawasan tanpa rokok.

Di level nasional, “Banyak kebijakan yang belum sinkron dan ini menjadi tantangan pemerintah,” kata Ibu Yosi. Selain itu di level nasional, pemberlakuan sanksi pun tak ada. Sehingga menjadi kurang greget. Tapi di level daerah biasanya menerapkan sanksi bagi kawasan tanpa rokok. Misalnya di Mojokerto, Walikota menerapkan sanksi berupa teguran lisan hingga pencabutan ijin kawasan tanpa rokok.  


Selain itu, promosi merokok juga sangat gencar dan menyasar juga perokok-perokok pemula. Promosi-promosi merokok itu juga yang menjadi hambatan untuk menciptakan Kawasan Tanpa Rokok untuk Kota Layak Anak. Data yang berhasil dihimpun oleh Lentera Anak menyebutkan hasil pantauan iklan dan sponsor rokok menunjukkan bahwa 85 persen sekolah mulai dari SD hingga SMA dikepung oleh iklan, promosi dan sponsor rokok.

Dan untuk mengatasi ini diperlukan perlindungan konsumsi produk tembakau termasuk larangan iklan, promo dan sponsor rokok. “Supaya anak-anak tidak mencontoh dan terkontaminasi lingkungan yang terbiasa merokok. Di Indonesia, merokok dianggap biasa dan setiap ada pertemuan ada yang merokok walaupun di dalamnya ada anak-anak,” kata Nahla dari Lentera Anak.

Harapan Kedepan untuk Kawasan Tanpa Rokok untuk Ciptakan Kota Layak Anak

Kampung Penas diharapkan bukan menjadi satu-satunya kampung di Jakarta yang menjadi kampung Kawasan Tanpa Rokok. Oleh karena itu, Ibu Sumiati dan tim menargetkan tahun ini akan ada lima kampung lagi di Jakarta yang akan didorong menjadi Kawasan Tanpa Rokok. Beberapa di antaranya adalah kawasan Sunter, Petukangan Selatan hingga kawasan Koja.

Selain itu, sosialisasi bahaya merokok harus selalu digiatkan di berbagai kalangan. Pemerintah sendiri telah mensosialisasikan dampak bahaya merokok hingga ke sekolah-sekolah untuk mencegah munculnya perokok-perokok baru.

Sumber foto : pixabay.com
Perempuan adalah penggerak yang aktif untuk mencegah munculnya bahaya merokok di kalangan keluarga sehingga perempuan bisa memutus mata rantai merokok bagi keluarga. Perempuan selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi keluarga termasuk mengajak agar keluarga terhindari dari bahaya merokok. Sehingga di keluarga tak ada contoh buruk merokok yang bisa ditiru oleh anak.  

Pemberian penghargaan kepada Kota Layak Anak pun ya harus selau di evaluasi setiap tahun. “Kami cek apakah mengalami penurunan atau ada peningkatan,” kata Ibu Yosi.

Intinya, untuk menciptakan kawasan tanpa rokok harus melibatkan berbagai unsur  yakni pemerintah, masyarakat, dunia usaha, media dan partisipasi anak. Jadi tidak hanya satu pihak saja namun kolaborasi berbagai pihak diharapkan bisa menciptakan Kota Layak Anak agar Indonesia Layak Anak 2030.

32 komentar

Avatar
Chela Ribut Firmawati 26/04/19, 17.52

Suamiku perokok setelah beberapa bulan berhenti.dan aku jadi sedih karena di rumah skrg ini kerap terpapar asap rokok. Kalaupun di tegur beliau pasti marah.. harusnya memang ada edukasi lebih terkait bahaya rokok ya mbak. Dan berharapnya Kota Layak Anak bisa meluas ke area-area di Indonesia. Nggak cuma di kota besar saaja.

Reply Delete
Avatar
lita chan lai 27/04/19, 03.45

kalau sudah kompak dan sama2 ingin menciptakan kawasan bebas rokok, pasti bisa ya mba...yg penting sama2 komitmen, saling mengawasi dan saling mengingatkan kalau ada yg melanggar aturan. salut banget deh di Penas bisa seperti itu.

Reply Delete
Avatar
emanuella aka nyonyamalas 27/04/19, 05.28

Senang sekali saya dengar ada kabar baik seperti ini. Saya penderita asma, pencetus salah satunya asap. Jadi ngerti banget tersiksanya hidup kalau di tengah asap rokok. Semoga makin banyak daerah yang layak anak dan bebas asap rokok ya....

Reply Delete
Avatar
Uniek 29/04/19, 07.45

Iya, semoga ide ini akan makin disebarluaskan di banyak tempat. Masih banyak para perokok pasif yg menderita akibat asap rokok ini .

Reply Delete
Avatar
Mechta 27/04/19, 08.54

Salut untuk Kampung Penas dan semoga semakin banyak Kampung Penas yg lain di sekitar kita

Reply Delete
Avatar
Uniek Kaswarganti 27/04/19, 11.52

Ibu Sumiati ini keren banget ya bisa menjadi penggerak anti rokok di kampungnya. Mantap bener.
Suamiku juga masih merokok nih mba, tapi kalau pas meeting bareng teman2nya yang juga pada ngerokok gitu. Tapi kalau di rumah ga ada asap rokok sama sekali. Malah kadang kakak ipar yang datang dan ngerokok, tapi di luar rumah sih. :))

Reply Delete
Avatar
Ira Hamid 27/04/19, 12.36

Suamiku perokok, Mba. Dan saya sering marah kalo dia mendekati saya atau anak kami saat badannya bau rokok :(

Semoga semakin banyak kawasan yang bebas asap rokok yaa, amiiin

Reply Delete
Avatar
Vicky Laurentina 27/04/19, 13.52

Saya rasa, kepala kampungnya kudu galak, Lid, supaya nggak ada yang merokok di situ. Sanksinya memang harus tegas sih, melibatkan aparat keamanan, bahkan sampai Babinsa kalau perlu. Sebab kalau nggak ada kontrol sosial, agak sulit untuk bersama-sama bikin kawasan tanpa rokok ini.

Reply Delete
Avatar
Dewa Ayu Inda 27/04/19, 19.00

Ketika saya masih pacaran sama suami, bagi saya laki2 merokok itu terlihat jantan, lama2 udah ada anak, liat asapnya ngepul dari jauh aja rasanya sesak. apalagi kalau udah ngumpul sama temen2nya langsung aturan jangan merokok di depan saya sama anak jadi bablas jadi kseringan saya sm anak yang ngalah u menjauh

Reply Delete
Avatar
CatatanRia 27/04/19, 21.49

saya sebel banget sama perokok eh dapat suami yang perokok aktif. Seandainya di sini juga ada kawasan tanpa asap rokok, saya pengen deh bisa pindah ke sana :D

Reply Delete
Avatar
Hidayah Sulistyowati 27/04/19, 22.58

Alhamdulillah dari ayah yang perokok, suamiku termasuk keturunan yang tidak merokok. Kayaknya kadang laki-laki merokok berawal dari pergaulan juga. Makanya aku wanti2 sama anak-anakku, agar memilih teman itu yang ngerti tentang bahaya rokok. Jadi mereka tidak bakal merokok saat ngumpul

Reply Delete
Avatar
Helena Magdalena 27/04/19, 23.41

Setuju bahwa ini adalah peran serta semua pihak termasuk pemerintah. Dengan memberikan penghargaan untuk KLA bisa menjadi motivasi untuk lebih baik dan juga contoh utk wilayah lain...

Reply Delete
Avatar
Farida Pane 28/04/19, 01.27

Seneng ya kalau bisa tinggal di lingkungan yg bebas rokok. Semua sehat dan hepi.

Reply Delete
Avatar
herva yulyanti 28/04/19, 05.38

semoga Papa bisa berhenti ya ummi, karena bapak dan bapak mertua juga stroke akibat rokok utamanya :( sampai sekarang masih terapi sejak stroke barulah berhenti merokok :(

btw semoga makin banyak kawasan seperti kampung Penas ya ummi gemes kalau liat anak-anak yang merokok

Reply Delete
Avatar
Arda Sitepu 28/04/19, 05.58

Wah keren juga kampung Penas ini, memang salah satu yang paling tidak saya sukai adalah aktivitas merokok yang tidak saja mengganggu diri sendiri tapi orang lain. Bersyukurnya di rumah dan keluarga inti tidak ada yang merokok. Juga ada tulisan di rumah di larang merokok, jadi tamu-tamu enggak ada yang berani merokok di rumah mbak. Semoga kampung seperti ini berkembang di kota-kota lain juga.

Reply Delete
Avatar
Nia Haryanto 28/04/19, 08.25

Andai semua daerah bisa kayak Kampung Penas ya. Bebas dari asap rokok. Kasian anak-anak harus terkontaminasi asap rokok. Dan karena terbiasa penuh asap rokok, jadi banyak perokok anak-anak bermunculan. :(

Reply Delete
Avatar
Kurnia amelia 28/04/19, 08.37

Berharap banget kawasan tanpa rokok ini ada di berbagai wilayah biar kita semua bisa sehat dan bebas dari asap rokok yang mematikan itu.

Reply Delete
Avatar
Nyi Penengah 28/04/19, 08.42

semoga sinergi bersama untuk menciptakan kota layak anak dimudhakan. Meski berat mencoba selalu harus kita usahakan. Alhamdulillah suamiku ga merokok rasanya berkah. Bu Sumiati keren, semangat selalu

Reply Delete
Avatar
April Hamsa 28/04/19, 09.02

Ah sedih bapakku jg msh blm bisa berhenti merokok, tapi kalau di hadapan cucunya gak pernah merokok sih....
Wah Kampung penas ini andai ada di semua kampung enak kali ya. Pemerintah nih kudunya yang teges bikin aturan. Di tempat yg jelas2 ada larangan merokok aja msh ada yg merokok, miris :(

Reply Delete
Avatar
lendyagasshi 28/04/19, 09.29

Sedih yaa...kalau justruorang yang terdekat dengan kita adalah perokok aktif.
Tapi,
Aku jadi berpikir kembali, kak...kalau sebenarnya rokok ini habit yang bisa mendekatkan para pria yaa..

Jadi mereka sambil asik ngobrol, sambil ngudut.

Apakah perempuan juga punya habit yang bisa mendekatkan kita saat ngobrol?

Reply Delete
Avatar
lendyagasshi 29/04/19, 04.04

Sedihnyaa...
Ada berapa jiwa anak dan kesehatan yang terganggu karena efek samping dari merokok.
Tapi diberi tahu bagaimanapun, kalau sudah suka itu seperti candu.

Reply Delete
Avatar
Siti Hairul Dayah/ catatansiemak 28/04/19, 09.35

Iya kayaknya kenpen kawasan bebas rokok ini harus kerjasama pemerintah dan masyarakat. Soalnya dampaknya ke anak2 itu besar banget

Reply Delete
Avatar
Beautyasti1 28/04/19, 17.35

Sama mba, aku dan keluarga juga ga bisa kena asap. Dan keluarga ku semua nya tau, jadi kalau ke rumah ku ga ada yang merokok. Alhamdulillah suami ku tidak perokok. Dan semoga masyarakat banyak yang sadar akan dampak merokok

Reply Delete
Avatar
Ida Tahmidah 28/04/19, 21.39

Wah asyik ya kalau banyak org yg bs sembuh dr ketagihan sama rokok ini....suka miris liat org merokok dkt2 bayi atau anak2...

Reply Delete
Avatar
Desi 28/04/19, 22.10

Senengnya ada kampung positif seperti kampung Penas, semoga menginspirasi kamoung2 lainnya

Reply Delete
Avatar
Wendaariwenda 28/04/19, 23.48

Saya termasuk yang nggak suka sama perokok dan asap rokok, Alhamdulillah lingkungan keluarga dan pacar tidak merokok, semoga para perokok bisa sadar dan bisa menempatkan diri untuk tidak merokok di tmpt umum

Reply Delete
Avatar
Riwenda 28/04/19, 23.49

Saya termasuk yang nggak suka sama perokok dan asap rokok, Alhamdulillah lingkungan keluarga dan pacar tidak merokok, semoga para perokok bisa sadar dan bisa menempatkan diri untuk tidak merokok di tmpt umum

Reply Delete
Avatar
Mellisa 29/04/19, 07.30

Alhamdulillah ya sekarang ada kawasan bebas rokok. Aku juga suka kesal kalau ada asap rokok. Impianku juga nanti di rumahku gak boleh ada asap rokok.

Reply Delete
Avatar
Lily Kanaya - www.Glowlicious.Me 29/04/19, 09.16

Aku juga paling sebel banget kalo ada orang tua tetap bisa senyum dan biasa aja ngerokok di depan anaknya. Entahlah semoga pemerintah juga bisa dengan tegas menindak para perokok yang tidak merokok pada tempatnya. Complicated kayaknya ya mba, sungguh asap rokok itu nggak sehat dan menyiksa buatku yang sensitif sama bau2an hiksss. Jd panjang n curhat, maafkeun mba Lid hihi

Reply Delete
Avatar
Grandys 29/04/19, 09.37

setuju banget, bahkan aku pernah mendegar ada sesebapak yang menggerutu karena ruang lingkup perokok makin dipersempit. Aku yg melihatnya menahan geram sih ini, kebetulan waktu itu kejadiannya di stasiun tugu Yogyakarta yang mengkhususkan ruang khusus untuk perokok gitu yg seperti halte bis tapi lebih kecil

Reply Delete
Avatar
Elva Susanti 29/04/19, 09.43

Wajib banget nih mbak menerapkan kawasan bebas asap rokok, soalnya bahaya banget kalau kita ataupun anggota keluarga terpapar asapnya

Reply Delete
Avatar
Suzannita 30/04/19, 10.36

Penting banget ya ada kawasan bebas asap rokok ya, karena asap rokok sangat berbahaya bagi kita yang perokok pasif

Reply Delete