Sabtu, Agustus 13, 2016

Perjuangan Menyusui Jurnalis Perempuan

Saya ingin menceritakan kisah tujuh tahun lalu. Saat saya melahirkan seorang anak yang kerap saya panggil, Dek A. Saat hamil, keinginan saya untuk memberikan ASI (Air Susu Ibu) begitu kuat. Keinginan saya, anak saya harus saya upayakan untuk mendapat ASI. Saya membaca berbagai testimoni ibu yang berhasil menyusui, saya mengikuti berbagai saran yang harus dilakukan sebelum melahirkan agar ASI lancar. 

Termasuk memilih rumah sakit yang mendukung pemberian ASI. Namun semua tak semudah seperti yang saya harapkan. Saat melahirkan melalui operasi caesar, dosis obat bius ditambah. Saya terpaksa harus dibius total. Entah terkait atau tidak, saat A lahir dan ia diletakkan di dada saya, ia tertidur. Berulangkali saya dan dokter memanggil namanya, ia masih terpejam. Kami sampai menunggu cukup lama. Akhirnya, inisiasi menyusui dini (IMD) yang diharapkan, gagal.
 
Mbah menimang A saat A baru lahir 


Kegagalan saya tak berhenti sampai disitu. Dalam masa pemulihan usai operasi caesar, ASI saya tak keluar sama sekali. Menetes pun tidak. Saya sedih. Saya merasa gagal sebagai seorang ibu yang tak bisa menyusui anak. Sehari berlalu dan anak saya tak dapat mengkonsumsi ASI. Terpaksa, A harus mengkonsumsi susu formula.

Pulang ke rumah, ASI tak kunjung keluar. Saya binggung apa yang harus saya lakukan. Seluruh urusan rumah tangga dilakukan suami. Tubuh saya terasa sangat capek. Saya menangis karena ketidakmampuan saya memberikan ASI. Berkat dukungan suami, saya yakin saya dapat menyusui. Berbagai cara pun kami lakukan. Mulai dari minum suplemen hingga sayuran seperti daun katuk. Tapi semuanya tak mempan. ASI saya tak keluar!. Akhirnya A mengkonsumsi susu formula.
 
A Lagi bobok 
Rekan saya mengusulkan untuk membeli sayuran bangun-bangun yang dipercaya dapat meningkatkan produksi ASI. Sayuran ini hanya dapat dibeli di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Pagi hari di hari Minggu, suami berangkat dari rumah kami di Kalibata menuju Pasar Senen untuk membeli sayuran itu. Sayangnya, sayuran ini tak mudah untuk dikonsumsi. Daunnya berbulu dan rasanya aneh. Berulangkali saya mencoba makan, tapi tak bisa. Kemudian suami mencoba memasak sayuran ini dengan caranya sendiri. Teryata sayuran ini harus diremas-remas sampai lemas, kemudian lebih enak diolah dengan kuah santan. Rasanya lezaat ... (Terima kasih, suami tersayang!).

Saya kemudian semakin semangat untuk bisa menyusui. Suatu hari, saya iseng memerah payudara. Saya belajar teknik memerah ASI menggunakan tangan. Ajaib, ASI saya keluar. Bahkan langsung satu botol susu. Saya kemudian semakin percaya diri untuk menyusui langsung. Awalnya A menolak, tapi kemudian dia selalu semangat untuk menyusui. Setiap kali usai menyusui, saya makan. Sebelum menyusui saya juga minum minuman hangat dan makan-makanan bergizi. Dukungan suami sangat menguatkan saya untuk menyusui ASI. Prinsip saya, kalau ibu lain bisa menyusui anaknya maka saya pun pasti bisa. Saya selalu membaca tulisan-tulisan tentang semangat memberikan ASI, mitos-mitos ASI hingga segala beluk informasi tentang ASI. Informasi ini yang saya peroleh memberikan dukungan bagi saya untuk menyusui. 

Lama kelamaan, jika sebelumnya A hanya mengkonsumsi susu formula, perlahan saya kurangi porsinya dan mengganti dengan menyusui langsung. Dua minggu perjuangan untuk lepas dari susu formula akhirnya membuahkan hasil. Saya berhasil menyusui A tanpa susu formula sama sekali. Saya bersyukur tanpa henti. Selama A menyusui ASI, ia jarang sekali batuk pilek. Daya tahan tubuhnya sangat bagus. Alhamdulillah ...

Dua minggu sebelum masa cuti melahirkan selesai, saya membeli botol kaca. Niatnya agar bisa menyimpan ASI. Tapi saya masih belum percaya diri dapat menabung ASI. Tapi karena nekat, saya mencoba percaya dan membeli 12 botol kaca.

Awalnya saya memerah ASI saat subuh di kala A tidur. Teryata satu botol itu langsung penuh. Saya memilih memerah dengan tangan agar tak ribet dan lebih praktis. Sebelum menyusui A, saya memerah ASI. Setelah itu saya makan dan menyusui A. Setiap kali A tidur atau istirahat saya berusaha untuk menabung ASI. Dalam waktu kurang dari dua minggu, lebih dari 65 botol kaca berisi ASI tabungan ASIP (ASI Perah)!. Keren kan? ...
 
Tabungan ASIP sebelum masuk kerja
Saat masuk kerja, saya selalu menyempatkan diri untuk perah ASI. Sayangnya di kantor lama tak ada ruang menyusui sehingga membuat saya terpaksa menyusui di toilet. Sedih memang, tapi itu kenyataan yang ada. Masih minim perkantoran yang menyediakan fasilitas ruang menyusui. Itu pula yang saya temui saat melakukan peliputan di lapangan.

Setiap kali berangkat kantor, saya membawa 3-4 botol ASIP kosong. Sebagian saya tinggal karena saya memerah ASIP di kantor kemudian saya simpan di freezer kantor. Bahkan freezer kantor pun penuh dengan ASIP saya. Bagaimana jika meliput di luar kantor?. Saya tetap memerah ASI. Sebagai jurnalis perempuan, sambil menunggu narasumber yang terkadang tak tentu waktunya, saya gunakan untuk memerah ASI sambil membaca materi untuk wawancara. ASI perahan saya kemudian saya simpan di tas.

Jika harus meliput di tempat lain, saya selalu bertanya apakah ada kulkas atau tidak. Nanti saya titipkan ASI perahan ke kulkas restoran atau kantor. Kalaupun tak ada ya terpaksa saya simpan saja di tas. Delapan jam adalah waktu bagi ASI berada di luar ruangan sehingga saya merasa tak perlu membawa cooler box. Agak ribet bagi saya. Maklum, saya suka yang praktis dan cepat. Saya juga memilih memerah ASI menggunakan tangan. Namun sebelumnya selalu mencuci tangan sebelum dan setelah memerah ASI. 

Saat A berusia 4 bulan, saya liputan 10 hari di Ambon, Maluku. Tepatnya Desember 2010. Liputan ini sekaligus pulang kampung saat long weekend Natal dan Tahun baru. Saya berangkat bersama suami dan A. Karena A masih menyusui, saya membeli cooler box yang mampu menampung 15 botok kaca. Sebagian saya isi ASIP, sebagian saya kosongkan. Selama saya liputan ditemani suami, A saya titipkan di tante. Kala itu, lampu di Ambon seringsekali padam. Padamnya bukan satu dua jam. Tapi berjam-jam. Bahkan pernah berhari-hari. Tapi pemadaman bergilir ini kemudian membuat saya harus memindah-mindahkan ASIP beku dari satu kulkas ke kulkas lain. Jika listrik di rumah tante saya padam, ASIP akan di bawa ke rumah tante saya lainnya. Begitu seterusnya. Perjuangan agar A bisa tetap menyusui. Pulang dari Ambon, saya membawa pulang cooler box yang penuh berisi ASIP beku. Sayangnya petugas bandara di Ambon kala itu belum memahami ASIP beku sehingga kami harus berdebat bahwa botol kaca ini memang berisi ASIP.

Dengan berjalannya waktu, saya masih tetap menyusui. Bahkan terpaksa kejar setoran karena A banyak minum ASIP. Padahal setiap di kantor saya memerah hingga lima botol. Bahkan puasa pun saya masih tetap mampu memerah 3-4 botol dalam sehari saat bekerja. Teman-teman pun kerapkali menjadikan saya sebagai tempat curhat apabila mengalami kesulitan memberikan ASI. Bahkan teman kerja pria juga bertanya kepada saya jika istrinya mengalami kesulitan memberikan ASI.

Februari 2011 saat A berusia 1,5 tahun, saya mengalami kecelakaan yang menyebabkan kaki saya patah sehingga harus di operasi. Saat melihat saya terbujur di tempat tidur dalam kondisi yang menyedihkan, A sempat tak mau mendekat ke saya. Usai operasi, saya memerah ASI dan memberikan ASI perahan itu kepada A. Tanpa berkonsultasi dengan dokter. Saya lupa bahwa ASIP saya mungkin masih mengandung obat yang digunakan untuk operasi. Anak saya itu pun diare. Sesampai di rumah, ia sama sekali tak mau menyusui langsung.
Senyumnya bikin gemes
Sakitnya ditolak A karena ia tak mau menyusui teryata lebih sakit dari luka yang saya alami. Saya depresi. Harapan saya agar ia dapat menyusui hingga dua tahun tak dapat saya penuhi akibat kecelakaan yang saya alami. Saya benar-benar sedih. Setiap malam saya menangis sehingga dokter selalu datang saat malam untuk menanyakan apakah tangis saya karena luka kecelakaan atau ada penyebab lain. Saya tak bisa menjawab pertanyaan itu dan hanya bisa menangis.

Pulang dari rumah sakit, saya selalu menangis. Teman dan kenalan yang berkunjung tiada henti menguatkan hati namun tetap saja saya merasa sebagai orang yang gagal. Saya tak bisa melakukan semuanya sendiri. Saya hanya bisa mengajak A bermain di tempat tidur. Lama kelamaan, saya mulai berdamai dengan keadaan. Saya menerima bahwa saya tak bisa menyusui A hingga dua tahun. Saya yakin perjuangan saya selama ini untuk memberikan ASI tak sia-sia.
 
Ada anak bayi gede :)
Perjuangan untuk menyusui, membuat saya kemudian bergabung dengan Asosiasi Ibu Menyusui (AIMI) untuk mensosialisasikan manfaat menyusui. Tahun 2012 bersama organisasi profesi, membuat survey kantor media yang memiliki fasilitas ruang menyusui. Kami survey dan wawancara dengan 21 perusahaan media di Jakarta. Dari 21 kantor media, hanya lima perusahaan media yang memenuhi kriteria standar tempat menyusui. Padahal menyusui juga membutuhkan dukungan dari tempat bekerja. Ini diatur dalam Pasal 128 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang kesehatan. Pada ayat 3 disebutkan 'Penyediaan fasilitas khusus diadakan di tempat kerja dan tempat sarana umum. Peraturan Menteri Kesehatan No 15 Tahun 2013 tentang Tata Cara Penyediaan Fasilitas Khusus Menyusui dan/atau Memerah Air Susu Ibu.

Data dari International Labour Organization (ILO) Jakarta Tahun 2015 menyebutkan dari 142 perusahaan yang termasuk dalam daftar Better Work Indonesia (BWI) hanya 85 perusahaan yang memiliki ruang ASI. Sedih ya ... 

Pengalaman menyusui membuat saya belajar banyak hal. Semua itu tak bisa dilakukan semudah membalikkan telapak tangan. Butuh perjuangan untuk dapat menyusui dan tentu saja dukungan dari berbagai pihak. Walaupun Pekan ASI Dunia telah lewat, tapi saya ingin berbagi beberapa tips untuk menyusui berdasarkan pengalaman saya.    



Percaya Diri
Percaya diri adalah kunci untuk dapat menyusui. Saya sendiri merasa jika ibu lain bisa menyusui, maka saya pun pasti bisa. Kalimat itu selalu saya ingat-ingat dalam pikiran saya untuk berusaha selalu menyusui. Kalaupun merasa kesulitan menyusui, jangan patah semangat. Tetap berusaha untuk mencapai keinginan untuk menyusui. Percaya diri juga dapat didukung mengkonsumsi minum suplemen, sayuran atau makanan apapun yang mendukung produksi ASI.  

Dukungan Keluarga
Keluarga, terutama suami sangat berperan dalam memberikan ASI. Saya bersyukur memiliki suami yang sangat mendukung. Bahkan menggerjakan tugas-tugas rumah tangga saat saya sama sekali tak bisa membantu akibat kelelahan yang tak jelas penyebabnya. Suami pula yang mau bercapek-capek mencari sayuran yang dipercaya dapat meningkatkan ASI. Pijatan di punggung juga merupakan salah satu bentuk dukungan suami untuk ibu menyusui.

Teruslah Menyusui
Dengan semakin sering menyusui langsung, produksi ASI akan terus menerus bertambah. Menyusui akan merangsang produksi ASI. Saya seringkali menyusui sambil menonton televisi, mendengarkan musik, membaca buku bahkan sambil mengetik laporan. Perbanyak membaca buku yang mendukung pengetahuan ASI agar semakin percaya diri untuk selalu menyusui. 

Dukungan Tempat Kerja 
Bekerja di kantor yang memiliki fasilitas tempat menyusui tentu sangat menyenangkan. Ada ruangan khusus untuk bisa tetap menyusui, menyimpan ASIP sehingga dapat menyusui hingga dua tahun. Sayangnya walaupun sudah ada aturan untuk ruang menyusui tapi masih kurang perusahaan yang memiliki fasilitas ruang menyusui. 

 *Tulisan ini diikutsertakan untuk Give Away DuniaBiza.com 










      

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

40 komentar:

  1. Sungguh menginspirasi, membuat saya semangat meng asi.

    BalasHapus
  2. Naluri ibu selalu ingin berikan yg terbaik. ASI memang yg terbaik untuk bayi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Selalu berupaya yang terbaik ya mba :)

      Hapus
  3. Super sekali Mbak, atas upayanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba Intan :)
      Makasih ya mba

      Hapus
  4. perjuanganmuuu mbaaakk, kereenn, salut bgd sm ibu karir yg ttp bs menyusui si kecil

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaaah mbaa
      Senag walaupun belum maksimal :)

      Hapus
  5. Alhamdulillah, asalkan ada usaha pasti akan ada hasilnya nanti. Sempat terharu bacanya, inspiratif sekali mbak.
    Makasih udah share ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih.
      Semoga membantu ibu menyusui yang lagi berjuang memberikan ASI :)

      Hapus
  6. Wah, merah ASI hanya pake tangannya saja bisa sebanyak itu ya, mbak. Padahal saya kalo pake tangan hanya keluar dikit. Emang berat kalo merah ASI di toilet. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kuatir ribet kalau pakai alat, mba. Makanya pakai yang praktis aja :)

      Hapus
  7. Wah perjuangannya patut diacungi jempol Mba. Dukungan keluarga menurut saya paling besar Porsinya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah dukungannya luar biasa :)
      makasih yaa.

      Hapus
  8. Jadi terharu bacanya mbak, perjuangannya luar biasa^^ Allah memang adil ya mbak, suami yg mendukung adl anugerah tersendiri.. Jadi referensi nanti kl sdh waktunya menyusui :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Smoga membantu ya, mba Prita :)
      terima kasih

      Hapus
  9. Saya selalu yakin, setiap Ibu istimewa, apapun cara melahirkannya, Ibu tetap berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan bush hati nya. Demikian juga dengan Menyusui, apapun rintangannya setiap Ibu pada dasarnya ingin memberikan makanan terbaik bagi anak yg dilahirkannya yaitu ASI. Saya jadi ingat saya pernah baca di internet, bahwa bahkan setetes air susu Ibu tidak akan pernah bisa kita balas. Indahnya perjuangan pada Ibu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener sekali, mba Rodame :)
      Terima kasih

      Hapus
  10. Luar biasa perjuangan ngASI-mu Mbak, insyaAllah ya dihitung ibadah :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah. Aamin. Makasih mba April ;)

      Hapus
  11. Jadi sang suami jago masak yaaaa hehehe

    BalasHapus
  12. kantor ku mendukung untuk busui mbak, tersedia kulkas di kantor, btw aku juga cesar cuma alhamdulillah ASI langsung ada meski dikit, yang penting optimis ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah kalau mendukung ya mba :)

      Hapus
  13. oowh baru tahu, berarti kalau kita minum obat itu gak baik ya ngasi ASI ke bayi.. makasi infonya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waktu itu saya operasi mba. Jadi mungkin ada kandungan obat tak bisa diterima perut anakku :)

      Hapus
  14. nasibnya sama mbak..cuman klo anakku mau nenen lg..

    ibu yg habis di rawat di rumah sakit pasti dijauhin anaknya..entahlah..mungkin dia pangling sama kita..

    padahal obatnya paling mujarab tuh si baby..tombo kangen..semua sakit jadi baikkan.. ya kan mbak

    BalasHapus
  15. Anakku nggak di jauhin, mba. Dia pas lihat keadaanku malah nggak mau dekat. Kan jadi sedih ya :(
    beneran tombo kangen mbaaa

    BalasHapus
  16. Luar biasa Mbak perjuangannya.
    Semoga akan semakin banyak ibu yang sadar akan pentingnya ASI, dan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikannya pada anaknya ya, Mbak..

    BalasHapus
  17. Kereeen, salut sama perjuangannya mba.. apalagi busui sekaligus wartawan yg kerjanya gak office hour.. tmn2nku banyak jg yg wartawan dan hrs brjuang keras buat asix, bahkan ada yg sampai resign demi itu karna stoknya gak cukup.. terharu bgt aku klo ada crita2 kyak gini.. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba Dita. Perjuangan banget kalau tempat kerjanya pindah2 kayak jurnalis ;)
      Makasih ya mba

      Hapus
  18. keren mba, salut selalu sama perjuangan ibu

    BalasHapus
  19. waaah... perjuangan yang berat ya agar bisa terus memberikan ASI. ASI saya dulu kalo diperah gak bisa keluar, akhirnya saya siasati utk bolak balik rumah -kantor

    BalasHapus
    Balasan
    1. perjuangan seorang ibu memang tidak mudah ya mba Santi. Tapi demi anak harus semangaat :)

      Hapus
  20. salut dengan perjuangannya, Mbak. :)

    BalasHapus
  21. Perjuangannya keren mba... dukungan lingkungan dan keluarga turut menjadi penentu ya mba....jumlah perahannya luar biasa padahal pakai tangan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulilah mba Ira. Semangat kalau demi anak, mba

      Hapus