Kamis, Maret 10, 2016

Menulis Cerpen Anak Bersama Hairi Yanti

Memiliki kenalan yang bisa menulis cerita pendek, tentu menjadi sesuatu yang menggembirakan. Saya bisa belajar banyak hal tentang penulisan cerita pendek (cerpen). Maklum, saya tak pandai untuk menulis cerpen. Hihiii. Seperti kawan saya yang bernama Hairi Yanti. Di blognya www.hairiyanti.com, dia banyak menulis tentang dunia cerita pendek. Tagline yang diangkat singkat, namun bermakna. Adalah ‘Sepinggan Kata, Selaksa Rasa’ menjadi tagline yang ia usung. Sepinggan merupakan nama bandara di Kalimantan Timur. Menggapa Kalimantan Timur? Karena disanalah, ia tinggal. Namun, Sepinggan juga mengisyaratkan ketertarikannya pada kuliner. 

Kuliner dan menulis, adalah dua ketertarikannya terbesar. Dan itulah yang banyak ditulis di blognya. Tulisannya pernah dimuat di majalah Bobo, majalah Gadis, Kompas Anak, Koran Jakarta, Pikiran Rakyat, dan Tribun Kaltim. Ia juga pernah menerbitkan buku antologi Once More Ramadhan (Grasindo, 2014) dan Jejak Kaki Misterius (Lintang Indiva). 

Mba Hairi ini juga menyampaikan tips untuk menulis. Tak percaya? Mampirlah pada tulisannya berjudul ‘Menyusun Pointer untuk Menulis Cerpen. Pada tulisan itu, ia menuliskan bahwa pointer membantunya dalam menulis. Dalam blognya, ia menceritakan detil bagaimana pointer-pointer itu berawal hingga menjadi sebuah tulisan yang dibuat. Namun mba Hairi mengatakan, tak semua pointer harus menjadi panduand alam menulis. Terkadang, mba Hairi bahkan tak melirik pointer yang ia tulis karena jalan cerita sudah terekam dalam memori. 



Cerpen karya mba Hairi
Lalu, darimana ia belajar menulis? Mba Hairi sengaja menulis melalui berlajar di kelas online. Akhir tahun 2013, ia mendaftar menulis di kelas Penulis Tangguh di bawaj asuha, mba Nurhayati Pujiastuti.

Dan disana, ia mengikuti kelas menulis cerpen anak. Karyanya dikirim ke Kompas Anak dan dimuat delapan bulan kemudian. Mba Hairi kemudian mengikuti kelas Kurcaci bersama Bambang Irwanto. Saat mengikuti kelas ini, ia mendapat banyak ilmu tentang menulis hingga menembus media. 

Meskipun telah mahir menulis cerpen anak, ada satu keinginannya yang belum terwujud. Yakni menulIs novel remaja atau dewasa. Namun bukan berarti ia tak bisa menulis novel. Ia pernah menulis hingga 60 halaman. Hanya saja, tidak ada kata ‘selesai’ yang menjadi akhir sebuah tulisan. Ingin mengenal lebih banyak tentang mba Hairi? Mampirlah ke akun instagramnya : @hairiyanti, akun twitternya @yant165



Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

24 komentar:

  1. Mba hairi produktif sekali menulis cerpen anak. Sering tembus Bobo pulak, keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Ety. Produktif dan mau berbagi :)

      Hapus
  2. semoga cita2 jadi penulis novelnya terwujud..aamiin..

    BalasHapus
  3. Wah aku jadi pingin belajar nulis cerpen krn klo sudah lahiran nanti dan resign dari kantor, aku pingin jadi penulis. Semoga bisa belajar dari mba hariyanti. ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waah .. moga lahirannya lancar yaa mbaa. Sehat selamat. Bisa mba sambil menunggu waktu lahiran, bisa belajar menusli cerpen :)

      Hapus
  4. Semoga keinginn Mbak Yanti menulis novel terwujud aamiin :)

    BalasHapus
  5. Tempat yangtepat buat belajar nulis cernak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, mba Niar. Fokus banget :)

      Hapus
  6. Makasiiiiih, Mbak. Senangnya dapat banyak doa di sini. Terima kasih teman-teman. Semoga impian teman-teman juga bisa terwujud. Aamiin :-)

    BalasHapus
  7. keren sekali.. jadi pengen ikut belajar juga nih mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Ranika. Yuk sama2 berlajar. Hihii

      Hapus
  8. Cita-cita saya dulu jadi penulis cerpen supaya tulisan saya bisa dibaca banyak orang. Cuman kalau mau publish di majalah mesti diseleksi dulu, ya. Berbeda dengan ngeblog tulisan apa pun bisa langsung terpublish dan dibaca siapa saja.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener, mba Dewi. Kalau di media cetak, seleksinya ketat. Jadi kalau bisa dimuat pasti senang banget :)

      Hapus
  9. Wah, kereeen.. :)
    Bisa nembus media cetak itu bagus banget lho, smoga segera deh bisa nulis novelnya ya

    BalasHapus
  10. Inspiratif... seandainya saya bisa konsisten belajar dan menulis seperti Mbak Hairi... jadi semangat lagi nih! Kalau Mbak Hairi bisa, saya pasti bisa juga :)

    BalasHapus
  11. Semoga cita-cita kepenulisan Mbak hairi Yanti bisa tercapai ya, dan semoga aku juga bisa belajar langsung menulis cernak dari beliau.

    BalasHapus