Sabtu, Maret 26, 2016

Buku Teman Duduk Saya

Awalnya Mat Kaldun hanyalah pemuda biasa yang menempuh masa remaja dengan berbagai kesulitan hidup. Ia menumpang hidup pada abang-abangnya saat kedua orangtuanya meninggal. Ipar-iparnya pun kerap meminta bayaran dari Mat Kaldun sebagai pengganti biaya makan selama hidup menumpang. Hanya satu yang Mat Kaldun miliki, yakni kesenangannya pada melukis. Berkat kemampuan melukisnya yang semakin terasa, karyanya menjadi koleksi yang diburu. Saat kematian Mat Kaldun, abang-abang beserta istri-istri datang ke rumah Mat Kaldun meminta lukisan-lukisannya.Tanpa persetujuan istri Mat Kaldun, lukisan-lukisan itu pun dibawa pergi. Kepada anak-anaknya, istri Mat Kaldun mengatakan bahwa orang-orang yang membawa lukisan itu adalah burung-burung nasar, sejenis makluk makhluk pemakan bangkai.  

Dalam kisah berjudul ‘Burung Nasar’, Daoed Joesoef memotret perjalanan hidup manusia yang kerap terabaikan saat sengsara. Pengabaian ini bahkan dilakukan oleh saudara sendiri. Namun ketika sukses, mereka yang jauh kemudian mendekat dengan harapan kesuksesan itu juga bisa ikut dinikmati. Padahal, dimanakah mereka saat dibutuhkan? 

Kisah ‘Burung Nasar’ merupakan salah satu dari 10 cerita pendek yang ditulis oleh Daoed Joesoef pada buku berjudul ‘Teman Duduk’. Ada juga kisah ‘Patung Guru’ yang menceritakan seorang guru yang sangat berjasa bagi sebuah kota. Setelah meninggal, dibuatlah patung yang terbuat dari emas untuk menggenang jasa-jasanya sewaktu masih hidup. Waktu berganti, patung yang dulu menjadi kebangggan kota pun terabaikan. Saat sang patung bertemu seekor burung gelatik, ia meminta agar burung menguliti satu persatu lembaran emas dan memberikan kepada orang yang membutuhkan. Kisah ‘Patung Guru’ ini diilhami karya Oscar Wilde, The Happy Prince (1888) dan semangat perjuangan Guru Nurlaila mempertahankan eksistensi SMPS 56 Melawai dan hak-hak muridnya untuk belajar disana.

 
Membaca Teman Duduk
Daoed Joesoef tak hanya sekedar menulis sebuah cerita, namun selalu menyisipkan pesan moral tentang kehidupan sehari-hari. Ini yang juga dilakukan di buku-buku sebelumnya yakni ‘Emak’ serta ‘Dia dan Aku’. Kisah ‘Mentimun Bungkuk’ seolah menyindir masyarakat yang kerap memandang seseorang berdasarkan fisik. Seseorang yang fisiknya tak sempurna dianggap tak berguna dan kemudian terbuang. Namun kemudian, mereka yang terbuanglah yang dapat menolong.

Sedangkan pada kisah ‘Kuburan Keramat, Daoed Joesoef memotret sebagian masyarakat yang kerap memuja sesuatu tanpa tahu apa yang sebenarnya dipuja. Dalam kisah ‘Kuburan Keramat’, Daoed menceritakan masyarakat yang datang berbondong-bondong ke sebuah kuburan yang dikeramatkan. Mereka datang memberikan uang, makanan atau apapun agar keinginannya terwujud. Padahal, tahukah mereka apa yang terkubur di dalam kuburan yang dikeramatkan tersebut? Teryata tidak.

Buku setebal 231 halaman ini tak hanya membuat kisah-kisah yang berbobot. Namun juga berisi puisi dan pantun pedagogis melayu. Pantun sejenis ini kerap dituturkan oleh seseorang datuk atau penghulu adat dalam acara-acara resmi. Pantun-pantun dikumpulkan dan dikategorisasi oleh Daoed berdasarkan apa-apa yang masih diingat dari pembelajaran formal berpantun di sekolah dasar tempo doeloe, pertandingan berbalas pantun antar kelas dan antar sekolah serta keikutsertaan pada lokakarya.  

Simaklah pantun yang mengajarkan integritas, tidak munafik, tidak bermuka dua sesuai dengan perbuatan lurus dan jujur, ada ungkapan:
“Lurus bagai benang arang
Lurusnya tahann dibidik
Sepadan takah dengan tokohnya
Sepadan lenggang dengan langkahnya
Sepadan ilmu dengan amalnya
Sepadan cakap dengan peragainnya
Sepadan laku dengan buatnya”

Buku ‘Teman Duduk’ adalah buku keempat karya Daoed Joesoef yang saya miliki. Semua berawal dari membaca buku ‘Emak’ kemudian membaca buk berjudul ‘Dia’, lalu ‘Borobudur’. Dan ketika ada buku berjudul ‘Teman Duduk’ saya pun langsung membeli di toko buku terdekat.

Dalam buku ‘Teman Duduk’, Daoed Joesoef menuliskan kisah demi kisah dengan bahasa yang mudah dimengerti. Namun kisah-kisah itu harus dipahami dengan penafsiran yang tersirat sesuai kehidupan saat ini. Buku ini tak sekedar ‘teman duduk’ melainkah cermin kehidupan yang membuka hati nurani.

Penulis : Daoed Joesoef
Judul : Teman Duduk. Kumpulan Cerpen
Penerbit Buku Kompas 2016
PT Kompas Media Nusantara
Jl. Palmerah Selatan 26-28
Tahun terbit : 2016
                 

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

22 komentar:

  1. enak dibaca pas di commuterline neh ya mbak ;) makasih reviewnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihii iya, mba. Aku baca sekilas di commuterline. Sisanya aku lebih banyak baca di rumah dan di kantor. Hii. Makasih :)

      Hapus
  2. beneran suka bnget sama reviewnya mbak. isi bukunya maknanya indah banget lho hhee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasih yaa, mba. Aku juga suka makna setiap isinya. Pas dengan kondisi saat ini :)

      Hapus
  3. ha, ha, aku kira teman duduk beneran ternyata judul cerita toh,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihiii iya, mba Tira. Tapi ya juga menandakan teman duduk beneran :)

      Hapus
  4. Mampir yuk ke Social Bookmark Dofollow Indonesia Tanpa Daftar :)

    BalasHapus
  5. Kayaknya menarik banget bukunya 😆😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banget, mba Amel. Aku suka bangeet :)

      Hapus
  6. Waaah kumpulan cerpen ya Mak? Cerita-ceritanya menarik yaaa. Ntar coba cari aaahh. Makasi reviewnya Maaak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba, Kumpulan cerpen yang selalu memiliki muatan moral :)

      Hapus
  7. Baca buku pas lagi nunggu antrian dokter juga enak mbak hehe, jadi pengen beli buku ini juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa, mba:)
      Kalau aku sih nggak rugi membacanya :)

      Hapus
  8. Daod Joesòe selalu punya sentuhan yang 'enak' dalam tuiisannya ya mba. tema ceritanya sederhana tapi ngena. selalu suka baca karya beliau.. :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Ira. Berbobot ya tulisannya :)

      Hapus
  9. wah kayaknya bagus yah tulisannya
    kapan-kapan harus baca nih

    BalasHapus
  10. Bagus, mas. Nggak mengecewakan :)

    BalasHapus
  11. sepertinya bakal jadi teman duduk yang asik nih..
    thanks untuk reviewnya mbaaak

    BalasHapus
  12. Menarik ya. Saya belum pernah tau dan baca buku karya Daud J. Ini. Jika ke tobuk akan saya cari. Makasih mbak, nambah wawasan koleksi buku ��

    BalasHapus