Rabu, Januari 06, 2016

Cerita Gigi

Suatu sore di hari Senin 4 Januari 2016. “Ummi, nggak nyaman,” kata A kepada saya. “Nggak nyaman kenapa?,” saya balik bertanya.

“Gigi aku goyang. Kayaknya mau copot,” katanya lagi. Saya buka mulutnya. Ada satu gigi yang di bagian bawah yang goyang. Sebelum ke dokter gigi, saya telepon rumah sakit namun berulangkali tak terhubung. Tetangga yang kebetulan dokter gigi sedang tidak bisa. A kemudian bermain bersama sepupunya yang kebetulan datang. Saat makan, A makan soto dengan nikmat. Tak ada keluhan dia dengan giginya yang goyang. Saya pun terlibat asyik mengobrol dengan mertua dan ipar yang datang dari Kudus, Jawa Tengah dan yang dari Bekasi, Jawa Barat.


Tak lama kemudian, A datang kepada saya sambil membuka mulutnya. “Ummi, gigi aku copot,” katanya. Suami saya kemudian berkata agar A segera kumur-kumur dengan air dingin. Saya menemaninya kumur-kumur di halaman belakang. Suami mengambil gigi A yang copot dan kemudian melempar gigi itu ke atap rumah. “Katanya kalau gigi bawah di lempar ke atas,” kata suami. Aih, ada-ada saja ...

Gigi A bukan kali ini saja copot. Tapi ini gigi ke empatnya yang copot. Gigi pertama yang copot adalah gigi bawah. Saya mengantarnya cabut gigi di dokter gigi yang kebetulan tetangga. Dokter gigi yang menangani Ayyas bernama bu Laura. Bu Laura meminta saya untuk membeli ice cream agar bisa dikonsumsi usai cabut gigi.  Saat menemaninya cabut gigi, saya menutup mata saya dengan jilbab. Ayyas duduk di kursi untuk cabut gigi tanpa saya temani. “Tenang, bu. Nggak sakit kok,” kata bu Laura. Bu Laura malah menasehati saya bukan A yang saat itu akan dicabut gigi. Mungkin tahu, saya yang ketakutan daripada A. Hihii.
Cabut Gigi Pertama Kali

Kurang dari lima menit, gigi A sudah dicabut. Dia tertawa menunjukkan giginya yang ompong satu. Usai kumur-kumur, dia pun memakan ice cream yang tadi saya beli. Saya pun lega. Gigi kedua pun di cabut di bu Laura. Giginya dicabut tanpa saya temani. Namun ditemani Mba Yani, pengasuh A yang telah bersama kami selama enam tahun. Hmm, tapi sekarang Mba Yani sudah tak bersama kami.  

Kala itu, saat dicabut, saya di kantor. “Nanti saja, tunggu ummi pulang kantor saja,” kata saya. “Nggak usah ummi, aku bisa,”kata A lagi. Baiklah, mungkin dia tahu kalau umminya ketakutan. Pulang kerja, A menunjukkan giginya yang copot. Saya pun memeluknya. Nah, gigi ketiga copot secara tak sengaja. Ini karena jari saya!

Loh kok? Iya, memang benar karena jari saya. Ceritanya, gigi itu memang sudah goyang. Sudah waktunya diganti dengan gigi yang lebih kuat. Saat itu saya meminta Ayyas untuk tidur. “Hayuk tidur, biar ummi peluk,’ kata saya sambil melebarkan tangan bersiap memeluknya. Tapi, jari telunjuk saya terkena giginya yang copot. “Ummi ....,” kata A. Saya lihat giginya. Wah, giginya copot! Dia pun bergegas kumur-kumur dengan air dingin. Tak banyak darah yang keluar.

Ya, gigi A copot karena memang sudah waktunya. Giginya tidak hitam. Mungkin karena jarang makan permen dan sering sikat gigi. Saya bersyukur. Saya takut ia sakit gigi karena saya sendiri takut sakit gigi. Di sekolah, setiap kali makan siang, diwajibkan untuk sikat gigi. Jadi, kesadaran buat sikat gigi sudah ditanamkan sejak kecil. Mulai dari rumah dan juga dilakukan di sekolah.

Bagi saya, ada beberapa cara untuk membantu anak selalu sehat. Ini yang saya lakukan selama ini :
1.  Ajarkan pentingnya sikat gigi sejak awal. Caranya bisa dilakukan melalui cerita, menunjukkan gambar-gambar yang mendukung untuk menjaga gigi.
2.  Tunjukkan bukti langsung dampak jika tak mau sikat gigi. A saat kecil pernah tak mau sikat gigi. Saya minta dia menutup mulutnya dan berbicara saat ia belum sikat gigi. “Iih, bau,” katanya. Saya bilang kalau gigi bau kalau tak sikat gigi.
3.  Jangan paksa tapi ajarkan secara perlahan-lahan. Saya kuatir kalau dipaksa, anak malah akan trauma untuk menggosok gigi. Harus telaten sih, tapi demi kebaikan.
4.  Biarkan dia memilih pasta gigi dan sikat gigi yang ia suka. Jika anak sikat gigi dengan pasta gigi kesukaanya, anak akan termotivasi untuk menjaga giginya. Jadi, jangan heran kalau dulu A punya beberapa sikat gigi dengan beraneka jenis. Tapi, pilih juga sikat gigi yang memang nyaman dan aman untuk anak.
5.  Kurangi konsumsi permen dan coklat atau makanan yang bisa merusak gigi. Kalaupun sesekali tak masalah, tapi jangan lupa untuk kumur-kumur dan sikat gigi. Oh ya, jika mengkonsumsi susu formula setelah usia 2 tahun, berilah susu putih lebih baik daripada susu coklat.
6.  Cek selalu apakah sudah waktunya mengganti sikat gigi atau belum. Biasanya diganti setiap tiga bulan sekali
7.  Pilih sekolah yang mendukung anak untuk rajin membersihkan gigi. Jadi, anak semakin menyadari pentingnya menjaga kebersihan gigi dan mulut.


Tujuh langkah di atas selama ini membantu saya selama ini menjaga gigi A. Ya, selain karena untuk kesehatan, juga sekali lagi, karena saya takut sakit gigi. Bagaimana cara anda menjaga kebersihan gigi anda dan anak anda? :)
   




Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

28 komentar:

  1. Cerita trntang gigi selalu bikin aku klik klik, maklum berencana perawatan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Moga perawatannya lancar ya, mba. Jadi gigi makin sehat dan kinclong. Hihi

      Hapus
  2. aihhh saya doyan banget ke dokter gigi mbakk, ahahha. Iyaa, bener mbak dulu kalo gigi bawahku copot, juga kulempar ke atas genteng, biar cepet tumbuh, eaa ada-ada aja hihihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waduh waduh. Teryata ada juga yang doyan ke dokter gigi. Hiihiii. Iya katanya juga biar cepat tumbuh. Hehhee

      Hapus
  3. anak-anak saya giginya sempat berantakan. Beberapa kali bolak-balik ke dokter gigi. Agak lalai saya untuk urusan gigi. Dan itu menguras dompet hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Katanya, kalo dewasa bakalan rapi lagi, mba :). Makasih :)

      Hapus
  4. Saya aja masih sering takut kalo ke dokter gigi. Padahal mah dokternya baik. Kalah deh saya sama Lil A

    BalasHapus
    Balasan
    1. Idem, mba. Terakhir aku ke dokter gigi pake obat bius di semprot. Berulangkali malah. Tetap aja saya nangis saking takut. Hihii

      Hapus
  5. Waah Ayyas pinter. Malah umminya yang takut yah, hehehe.

    BalasHapus
  6. hebat ih, mau ke dokter gigi tanpa ditemni umminya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah, mbaa. Tapi tetap aja umminya pengen nemanin :). Makasih mba

      Hapus
  7. Jd ingat masa2 anakku mulai copot giginya, 18 th lalu. Begitu dia lapor giginya goyang, saya lgsg bawa ke dr gigi, biar segera ditangani agar giginya tetap rapi. :)
    7 langkahnya layak ditiru emak2 lainnya nih. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. Inginnya juga tetap rapi, mba Alaika :). Makasih sharingnya :)

      Hapus
  8. anak saya juga rajin banget sikat gigi, kalo ditanya apakah sudah sikat gigi atau belum dia langsung buru-buru ke kamar mandi untuk menyikat giginya sendiri walapun sebelumnya giginya sudah di sikat :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih, jagoan banget tuh :). Pasti mamanya senang :)

      Hapus
  9. gigi susunya yang copot yaa? hebat ya berani ke dokter gigi :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Nur. Gigi susu yang copot :)

      Hapus
  10. Anak bungsuku pas giginya goyang mau copot takut banget, tapi setelah giginya beneran copot dia ketawa-ketawa hihi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah ya malah nggak rewel. Kalau gigi aku goyang, aku malah nangis. Udah dicabut malah masih nangis :)

      Hapus
  11. Jumat kemarin saya ke drg utk scalling.
    Kt dokter, gigi sy pada abrasi. Skrg kudu rajin memperhatikan kesehatan gigi.

    Hehe mamanya yg deg-degan ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo, mba Pipit. Semoga giginya sehat-sehat saja ya. Iya, saya emang deg-degan :). Makasih

      Hapus
  12. Kalo ngebaca ceritanya sih ayyas melewatinya dgn tanpa drama ya.. mudah2an anakku nti pas cabut gigi jg santai. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba. Umminya yang drama, mba :). HIhiii. Aamiin. Moga nanti si kecil juga nggak rewel pas waktunya cabut gigi :). Makasih, mba

      Hapus
  13. Anakku ga mau ke dokter gigi, jd giginya copot sendiri :D

    BalasHapus
  14. Anakku malah senang periksa gigi, beda sekali sama saya hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihii iyaa ... Aku juga takut mbaa kalau ke dokter gigi. Hhehee

      Hapus