Senin, Februari 19, 2007

Membatasi Para Alumnus

Penangkaran satwa langka, khususnya di kebun binatang, menurut staf ahli biologi Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta, Drs. Hari Palguna, MP, sedikit banyak dipengaruhi masalah peraturan. Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 7 dan 8 Tahun 1999, binatang langka yang dilindungi dilarang dipertukarkan kecuali keturunannya (F2).Tapi peraturan itu tidak berlaku bagi 11 jenis satwa tertentu, termasuk komodo dan orangutan. Ke-11 jenis ini tak boleh dipertukarkan, apalagi dipelihara dan diperdagangkan, kecuali atas izin presiden. Akibatnya, 11 satwa langka itu tidak memiliki ''nilai tukar''.Populasi hewan-hewan itu akan membebani kebun binatang jika tidak dikendalikan.

''Karena itulah, banyak kebun binatang tak terlalu bersemangat menangkar hewan langka terlalu banyak,'' kata Hari. Lagi pula, fungsi kebun binatang sesungguhnya bukan tempat pembiakan satwa. ''Kebun binatang lebih pada konservasi flora dan fauna. Jadi, ia tak bisa disebut gagal jika tidak menangkar hewan langka,'' Hari menegaskan.Sebab itulah, saat ini Gembiraloka membatasi koleksi komodonya hanya sekitar 10 ekor sejak 1998.

Petugas kebun binatang akan membiarkan induknya menyantap anak-anaknya setiap ada telur yang menetas. Kelihatannya kejam, tapi begitulah perilaku induk komodo di alam liar. ''Sebenarnya, secara alami, itu dilakukan untuk menjaga populasi,'' kata Hari.Jika tidak, bayangkan saja, komodo betina rata-rata mampu menghasilkan 33 telur. Naga purba itu bertelur dua hingga tiga kali sepanjang hayatnya. Jika 60% saja telur-telur itu menetas, dalam tempo minimal tiga tahun akan ada 40 ekor komodo dari satu induk saja.Koleksi komodo Gembiraloka memang pernah mencapai 140 ekor pada 1994.

Ketika itu, populasinya sengaja diperbanyak, karena komodo masih punya nilai tukar hingga 1998. Komodo kerap dibarter dengan satwa lain untuk menambah koleksi, seperti burung unta atau kuda nil. ''Pernah juga ditukar dengan peralatan medis untuk hewan,'' ujar Hari.Nah, saat pertukaran satwa langka dilarang, Gembiraloka pun kesulitan memelihara ratusan komodonya. Untuk biaya makan saja, komodo menyedot dana lumayan besar. Seekor komodo perlu menyantap daging 10% berat badannya. Padahal, berat badan rata-rata komodo adalah 27 kilogram. setiap ekor memang hanya perlu makan sekali sepekan. ''Tapi jika jumlah mulut yang harus makan 80-an ekor, bisa hitung sendiri daging sapi yang diperlukan,'' kata Hari.

Menurut Humas Gembiraloka, Suharti, seluruh biaya operasi Gembiraloka kini ditambal dari tiket masuk Rp 8.000 per orang. Padahal, sejak krisis moneter 1997, jumlah pengunjung terus menurun. Tahun kemarin, 354.000 lebih pengunjung datang ke Gembiraloka. Jumlah itu menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2005), yakni 574.000 orang. ''Kami terpaksa mengurangi jumlah satwa tanpa mengurangi jumlah spesiesnya,'' tutur Suharti.

Menurut Direktur Konservasi, Departemen Kehutanan, Adi Susmiyanto, sebenarnya kondisi penangkaran di Indonesia cukup bagus. ''Untuk beberapa hewan, pakar luar negeri belajar pada kita,'' kata Adi. ''Hanya, dana memang menjadi masalah krusial,'' Adi menambahkan. Sumber dana murni dikelola sendiri oleh kebun binatang.Walhasil, untuk mengendalikan populasi, komodo Gembiraloka diberikan secara cuma-cuma kepada kebun binatang lain hingga akhirnya tinggal 10 ekor. Komodo yang dibiakkan dalam program EAZA, kata Hari, memang ''alumnus'' Gembiraloka angkatan 1994-1998.
Nur Hidayat, Rach Alida Bahaweres, dan Sigit Indra (Yogyakarta)

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar