Jumat, April 22, 2016

Perempuan-Perempuan Hebat yang Menginspirasi

Saya tak bisa menghitung berapa banyak perempuan hebat yang saya ketahui. Terlalu banyak perempuan-perempuan hebat yang menurut saya sangat menginspirasi. Perempuan-perempuan hebat itu saya ketahui entah dari media massa, atau saat berjumpa langsung. Saya sangat senang jika menulis profil tentang perempuan-perempuan hebat, sejak saya masih menjadi jurnalis di majalah. Menulis profil tentang perempuan hebat, menjadi motivasi bagi saya. Jika saya merasa 'hebat', saya membaca kisah perempuan dan kemudian saya tahu bahwa saya bukan siapa-siapa. Karena ada banyak perempuan hebat di luar sana. Saya takjub dengan beragam inovasi yang dilakukan. Sesuatu yang mungkin bagi orang lain tampak sederhana, tapi menjadi sesuatu yang luar biasa.  

Tulisan ini memuat kisah perempuan-perempuan yang ditampilkan di Kompas TV dalam rangka peringatan Hari Kartini 2016. Ada 30 perempuan hebat yang diliput Kompas TV dan tayang sejak tanggal 11 hingga 21 April 2016. Saya ingin mencuplik tiga diantara 11 nama perempuan hebat itu. 

Pertama adalah Endang Siti Sukenny. Walaupun memiliki keterbatasan fisik karena cidera di kaki saat usia 4 tahun, ia tetap semangat berkarya. Saat kecil, ia kerap sakit-sakitan sehingga berganti nama menjadi Irma Suryanti. Kini, ia membuat usaha dari kain perca, sajadah dan lain-lain. Ia memperkerjakan 30-50 rekan-rekannya yang bernasib sama dengannya. Kain perca ini diolah menjadi beraneka hasil misalnya keset dan dijual Rp 8 ribu hingga Rp 200 ribu untuk kualitas ekspor. Omzetnya semakin meningkat hingga mencapai ratusan juta rupiah.


Di Kediri, ada sosok Yuli Sugihartati. Perempuan berusia 48 tahun ini mengolah kotoran sapi menjadi biogas dan bio slurry. Ia rela dua minggu sekali mengendarai sepeda motornya dari rumhnya di Desa Ngaringan, Gandusari, Blitar sejauh 50 kilometer menuju Dusun Brau, Batu, Malang, Jawa Timur. Apa yang dikembangkan ini menjadi solusi mengurangi limbah kotoran ternak. Berkat kemampuannya, biogas kemudian digunakan untuk memasak dan sebagai bahan penerang. Bio slurry ia olah menjadi pakan ternak cacing dan pupuk organik. 


Rosalinda Delin, perempuan asal Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, menghapus budaya panggang pada bayi di Desa Jenilu. Tradisi yang dilakukan secara turun temurun dianggap mampu menghangatkan bayi dan ibunya. Tapi, pemanggangan ini beresiko membuat ibu mengalami anemia. Sang bayi pun dikuatirkan akan terganggu pernapasannya. 






Jika kita membuka youtube Kompas TV, ada banyak profil perempuan-perempuan hebat lainnya. Luar biasa ya yang mereka lakukan? Siapa perempuan hebat menurut teman-teman? :) 


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

12 komentar:

  1. kereen Kartini masa kini
    sala sehat dan semangat
    amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semoga menginspirasi ya, mas :)
      Makasih

      Hapus
  2. sekarang banyak wanita hebat ya, juga yang punay keterbatasan fikipun banyak yg hebat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Tira. Dan kita harus banyak bersyukur :)

      Hapus
  3. yang bu Endang Siti itu memang inspiratif ya mbak sering saya liat di TV dengan keterbatasannya bisa mengangkat teman2 lain yang juga "kekurangan" untuk mandiri dan percaya diri dengan tidak bergantung ke orla. salut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya. Aku awalnya tahu dari tabloid, mba. Jadi tertarik untuk tahu banyak :)

      Hapus
  4. Iya...perempuan2 di atas mmg keren2 :)

    BalasHapus
  5. Subhanallah..ini wanita-wanita hebat nan tangguh. benar-benar menginspirasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jika menginspirasi ya mba Siethi:)

      Hapus
  6. Ya Allah, panggang bayi?

    Mbaaaaa, aku ngeri. Alhamdulillaah ada yang mengabdi dan berhasil menghapus tradisi itu yah. *kebayang deh usahanya, pasti penuh risiko

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Percaya nggak percaya. Itu terjadi mbaa. Alhamdulillah ya ada yang berjuang untuk menghapusnya

      Hapus