Sabtu, Desember 26, 2015

Kenangan Tentang Mama

Telepon genggam saya berdering. Satu nama tertulis, Mama. “Chi, datang ke Surabaya. Ada yang harus mama bilang,” kata mama melalui sambungan telepon di bulan Maret 2009. Chici adalah panggilan saya oleh keluarga terdekat. Kala itu, saya baru saja keluar dari dokter kandungan saat menerima telepon dari mama. Dokter kandungan menyarankan saya untuk bedrest karena flek yang muncul. Usia kandungan saya tiga bulan. Mendapat telepon dari mama saat kondisi saya yang tak fit membuat saya sempat binggung. Namun setelah berdiskusi dengan suaminya, saya memutuskan berangkat dari Jakarta ke Surabaya keesokan harinya.


Tentu bukan tanpa alasan mama menelpon saya untuk ke Surabaya. Mama binggung untuk memutuskan apakah menjalani kemoterapi atau pengobatan alternatif untuk menyembuhkan penyakit kanker mulut rahim yang dideritanya. Februari 2009, mama melakukan pap smear di Ambon. Hasil pap smear menyebutkan ada benjolan dan dikuatirkan menjadi kanker. Dokter memutuskan mengangkat kandungan agar tak menyebar. Mama kemudian ke Ambon untuk memeriksakan diri di dokter Brahmana Askandar, spesialis obstetric dan ginekologi RS Dr Soetomo Surabaya. Dokter menganjurkan untuk melakukan tindakan leep (loop electrosurgical excision procedure). Tindakan ini untuk memastikan apakah memang benar terkena ada kanker atau tidak. Sambil menunggu hasil leep, mama balik ke Ambon.

Dua minggu kemudian mama ke Surabaya dan kaget saat mengetahui bahwa mama terkena kanker mulut rahim stadium 2B. Dokter menganjurkan melakukan kemoterapi. Sambil menunggu kemoterapi, mama mengkonsumsi obat herbal yang diyakini bisa mengecilkan sel kanker. "Ya, namanya saja usaha," kata Mama. Setelah pertimbangan berbagai hal, mama kemudian memutuskan kemoterapi. Rambutnya rontok, selera makannya hilang setelah menjalani kemoterapi.

Mama sempat putus asa dengan penyakit yang di derita. Ia mudah merenung, terkadang seperti memikirkan sesuatu. Beruntung, ini tak berlangsung lama. Saat Ayyas lahir Agustus 2009, semangat mama kemudian muncul kembali. Kala itu, mama baru saja menjalani kemoterapi. “Mama ingin gendong, tapi apa masih ada efek kemoterapi ya?,” kata Mama. Dalam kondisi mama seperti itu, Mama datang ke Jakarta untuk membantu saya merawat Ayyas. Pernah saat Ayyas menangis, Mama mengambil alih untuk menggendong Ayyas. “Kalau anak nangis, gendong saja walau kita capek. Kasihan anaknya,” tutur Mama.


Mama pula yang mengajarkan kepada saya agar tidak menggunakan pampers kepada anak, kecuali saat bepergian. Itupun hanya sebentar. “Chici dulu juga seng (tidak) pakai pampers. Jadi Ayyas jangan dikasih juga. Kasihan kalau tak nyaman,” pesan Mama. Saya menurutinya walau terkadang capek mengganti popok setiap saat. Alhasil, setiap kali bepergian harus membawa banyak sekali celana dan kain alas ompol. Repot memang, tapi tak masalah bagi saya.


Saat saya ke Surabaya, Mama lebih banyak berdiam diri di kamar. Perlahan saya mengajak Mama keluar rumah dan kemudian saya memboyong Mama ke Jakarta. Di Jakarta, Mama kemudian lebih banyak beraktifitas dan membuat semangatnya kembali muncul. Namun selera makan mama naik turun. Susah sekali untuk meminta mama makan. Kalaupun ada makanan yang diinginkan, setelah dibeli hanya makan tapi sedikit. Ini dampak dari kemoterapi yang dijalani.


Februari 2011, saya kecelakaan dan mengakibatkan kaki saya patah. Mama datang bersama (calon) adik ipar mengambil alih menjaga Ayyas selama saya di rumah sakit. Papa dan adik saya pun datang. Mama tak pernah mengeluh saat menjaga Ayyas. April 2011, kondisi Mama semakin menurun. Tak lama berselang, Mama mengalami koma selama dua hari. Semua saudara dari Surabaya datang ke Jakarta untuk menemani Mama. Mendadak, keajaiban itu tiba. Mama kemudian terbangun dari koma, Mama segar kembali!

“Mama ingin pulang ke Sidoarjo,” pinta Mama. Sehari tiba di Sidoarjo, Mama menelpon saya. “Chici, Mama sudah sembuh,” kata Mama. Dan Mama pun bernyanyi. Saya senang sekali mendengarnya. Namun hanya sesaat. Sore hari, kondisi Mama semakin menurun. Keesokan harinya, Mama koma. Saya dan suami datang diminta datang ke Sidoarjo. “Kamu harus ikhlas,” kata Mama In, adik Mama. Saya membisikkan di telinga Mama bahwa saya ikhlas Mama diberikan yang terbaik. Saya terpaksa ikhlas ‘melepas’ Mama karena kondisi Mama yang semakin menurun. Saya ikhlas, namun adik saya belum. Namun, setelah adik saya membisikan keikhlasannya di telinga Mama, Mama pun kembali ke pangkuaNya pada 2 Mei 2011. 


Setelah saya menjadi orangtua, saya semakin menyadari bahwa cinta orangtua tidak pernah habis untuk anaknya. Jika dulu saya mungkin terkadang pernah berselisih pendapat, namun kini saya menyadari apa yang disampaikan mama adalah yang terbaik. Kebersamaan saya bersama mama selama ini adalah kenangan terindah saya bersama mama. 

Selama ini, mama membebaskan saya menentukan pilihan dan kalaupun sempat menolak, itu hanya berlaku sesaat. Kepada Mama, saya tidak tahu lagi bagaimana cara membalas segala kebaikan hati yang diberikan. Tanggal 22 Desember, saat banyak yang merayakan hari ibu, saya memilih mengirimkan doa kepada mama sebagai bukti sayang saya kepada mama. Ini yang saya lakukan setiap hari. Walaupun bagi saya ini masih kurang. Terlalu banyak moment terbaik bersama mama yang saya habiskan mama. Walaupun mama telah 'pergi', saya yakin mama masih bersama saya. Mama yang masih selalu hadir di dalam mimpi indah dan ingatan saya. 

   "Tulisan ini disertakan untuk giveaway #HariIbu bersama My Scrap Book"

 


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

12 komentar:

  1. Insyaallah mamahnya dapet tempat paling indah ya mbaa.. aamiin

    BalasHapus
  2. bunda saya masih sehat... tulisan mbak rach membuat saya semakin ingin menjaga beliau selamanya....

    BalasHapus
  3. Alhamdulillaah kalau makin sehat, mba Avy. Jaga selalu ya mba. Bahagia tentunya masih bersama bunda :). Sehat selalau untuk bunda, mba. Amiin

    BalasHapus
  4. Senasib kita mba. Mamaku jg meninggal karena kanker.

    BalasHapus
  5. Innalillahi wainnilaihi rojiuun, meski sudah cukup lama tiada tapi pasti masih terasa sedihnya ya mbaa. Moga kusnul khotimah buat mamanya, aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Maap typo, innalillahi wa innailaihi roojiuun

      Hapus
  6. innalillahiwainnailaihirojiun...

    BalasHapus