Selasa, September 26, 2017

Menikmati 7 Oleh-Oleh Khas dari 7 Kota di Indonesia

Berkunjung ke berbagai tempat di Indonesia tak lengkap rasanya jika tak membeli oleh-oleh khas daerah yang dikunjungi. Termasuk saya yang hampir selalu berburu oleh-oleh khas dimanapun saya berkunjung. Oleh-oleh tak hanya untuk saya konsumsi bersama keluarga. Tetapi juga untuk tetangga dan teman kantor.

Bahkan, saya pernah hampir ketinggalan pesawat gara-gara berburu oleh-oleh. Konyol sih, tapi ini terjadi. Semua bermula saat saya berkunjung ke Bukittinggi. Saat akan kembali ke Jakarta, saya meminta sopir mobil sewaan mengantar saya terlebih dahulu untuk mencari oleh-oleh berupa rendang daging. “Nanti ada bu dekat bandara di Padang,” kata sopir itu. Perjalanan dari Bukittinggi ke bandara yang terletak di Padang memakan waktu hingga dua jam. Selama perjalanan, saya hanya mampir di satu toko di Bukittinggi untuk membeli oleh-oleh lain. Teryata, perjalanan macet parah. Tak hanya itu saja, toko yang direkomendasikan teryata tak lagi menjual rendang. “Tenang bu. Kita cari lagi,” kata pak sopir. Beberapa kali datang teryata tak menjual rendang yang saya inginkan. Rata-rata hanya menjual rendang telur. Tanpa saya sadari, waktu check in pesawat hampir habis. Akhirnya saya memutuskan tak membeli oleh-oleh yang saya inginkan daripada harus terlambat naik pesawat.
Sebelum membeli oleh-oleh, ada beberapa tips yang seringkali saya lakukan yakni :

Saya dan Omiyago

Perencanaan yang Tepat
Jika tak ada perencanaan membeli oleh-oleh, biasanya akan semakin binggung mau membeli apa. Soalnya di tempat oleh-oleh punya banyak pilihan yang membuat kita susah memilih. Alhasilnya biasanya saya malah kalap membeli barang yang sebetulnya tak perlu dibeli.  Sebaiknya sejak dari tempat asal sudah merencanakan akan membeli apa sehingga tak menyulitkan. Selain itu, tentukan juga membeli oleh-oleh untuk siapa. Saya kalau membeli oleh-oleh kepada teman sekantor biasanya saya membeli yang dikemas agak banyak. Misalnya keripik pisang sebanyak satu kiloan daripada membeli satuan seberat 240 gram. Jadi biar makannya barengan ama teman sekantor. Tapi jika membeli untuk tetangga pasti berbeda ukurannya. Oh ya, perencanaan ini penting agar tak merepotkan juga saat proses packing dan tak harus kelebihan bagasi. Perencanaan ini juga meliputi mau membeli dimana sehingga tak seperti saya yang mengalami kesulitan saat membeli oleh-oleh.

Rencanakan Budget Membeli Oleh-oleh
Sebaiknya budget membeli oleh-oleh juga tak terlalu besar. Usahakan hanya sekitar 5-10 persen dari total anggaran liburan yang dikeluarkan. Jangan sampai kapok membeli oleh-oleh karena terlalu banyak dana yang dikeluarkan untuk membeli oleh-oleh daripada berkunjung ke tempat wisata.

Perhatikan Masa Kadarluarsa Makanan
Bagi yang membeli oleh-oleh dalam bentuk makanan, perhatikan masa kadarluarsanya. Misalnya makanan yang masa kadarluarsa 3 hari tentu harus dikonsumsi lebih cepat daripada yang memiliki masa kadarluas lebih dari seminggu. Untuk saudara yang rumahnya agak jauh, biasanya saya membeli oleh-oleh yang masa kadarluarsanya lebih lama. Misalnya ikan asap dari Ambon yang bisa bertahan lebih dari satu minggu jika disimpan dalam kulkas. Tapi untuk teman kantor saya membeli yang masa kadarluarsa di bawah tiga hari. Soalnya dalam hitungan jam biasanya oleh-oleh sudah habis. Hahhahaa ...

Tiga hal itu sebetulnya hal yang paling mendasar saat membeli oleh-oleh. Terlihat sepele namun membuat mood liburan tak berantakan hanya gara-gara membeli oleh-oleh yang tak sesuai pilihan. Saya biasanya membeli oleh-oleh khas yang telah berjualan lama sehingga rasa dan kualitasnya telah terjaga dengan baik. Selain itu juga saya utamakan oleh-oleh yang dibeli adalah memang benar-benar khas daerah itu.  Ada beberapa oleh-oleh kuliner yang menurut saya mengugah selera. Bahkan kala datang ke daerah itu lagi, saya selalu membeli oleh-oleh yang sama.

Manisan Pala dari Ambon
Bagi sebagian orang, manisan pala ini akan membuat rasa yang aneh. Ada rasa manis, kecut dan pahit yang berpadu menjadi satu. Nah, manisan pala ada yang manisan pala basah dan ada yang manisan pala kering. Biasanya di kemas di plastik kecil. Harganya hanya berkisar Rp 500-Rp 10 ribu per bungkus. Kalau ditanya enak yang mana, menurut saya keduanya enak. Tapi saya paling suka yang manisan pala basah soalnya kuahnya pedas. Hhehe. 


Saya dan keluarga di Pusat Oleh-oleh di Ambon
Manisan pala kering yang rasanya enak
Saya pernah membawa manisan pala ini ke kantor, reaksi teman kanto ‘rasanya aneh’. Hahhaa. Buah pala menjadi salah satu komoditas unggulan di Ambon yang di olah menjadi berbagai produk makanan. Selain manisan pala juga ada sirup pala. Rasanya? Enaakk ….

Nopia dari Banyumas
Setiap kali datang ke Purwokerto, saya selalu membeli Nopia. Kebetulan lokasinya pas di depan rumah saudara saya yakni di Desa Pakunden, Kecamatan Banyumas, Jawa Tengah. Nopia merupakan oleh-oleh khas Purworejo yang berukuran bulat berwarna putih dan memiliki beberapa rasa seperti cokelat, bawang, durian dan gula merah. Kalau beli langsung di tempat produksi, harganya lebih murah. Untuk ukuran kecil hanya Rp 7000 untuk kemasan berukuran 250 gram. Sedangkan di toko oleh-oleh harganya bisa dua kali lipat. Saat datang membeli oleh-oleh Nopia ini, saya bisa langsung melihat proses pengolahan. Bahkan saya juga bisa melihat proses memasak di sebuah tungku raksasa yang terbuat dari tanah liat. Nopia ini di bagian luarnya agak keras tapi di bagian dalamnya lembut. Biasanya Nopia ini saya beli untuk oleh-oleh teman kantor atau tetangga serta saudara. Masa kadarluarsa Nopia bisa lebih dari satu minggu.

Suami sedang melihat proses pembuatan Nopia. Gayanya kayak mandor ya. Hehhe

Nopia baru matang 
Bakpia dari Jogja
Siapa sih yang tak datang ke Jogja dan tak membeli Bakpia? Saya sih yakin hampir semua orang yang datang ke Jogja selalu menyempatkan membeli bakpia. Bahkan kalau tak membeli bakpia rasanya kurang pas. Hheheh. Di Jogja, ada banyak toko bakpia yang bisa dikunjungi. Saat April 2017 saya ke Jogja, saya ke Bakpia Patok 25. Pas datang ke sana, pengunjung tak hanya berbelanja tapi juga bisa melihat secara langsung proses pembuatan Bakpia. Bakpia ini merupakan oleh-oleh khas Jogjakarta. Ada berbagai pilihan rasa bakpia yakni bakpia rasa coklat, keju, nanas dan durian. Harganya bervariasi mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 35 ribu.

Proses pembuatan Bakpia

Bakpia siap dijual
Pas saya membeli bakpia, karyawan toko bertanya apakah mau ambil sekarang atau di antar ke hotel. Kami memilih menngambil langsung karena besok sudah harus berangkat ke Jakarta. Oh ya, pas saya beli bakpia masih dalam keadaan panas jadi pas kardus kemasannya di bolong-bolongin terlebih dahulu. Tapi pas sampai hotel dan mencium aroma bakpia saya tergoda untuk mencicipi bakpia rasa coklat. Potongan bakpia panas berpadu dengan kulitnya yang lembut dan rasa coklat manis adalah perpaduan yang pas. Ambil satu nggak cukup. Jadinya saya makan dua eh nggak cukup dan akhirnya abis lima buah. Hhahaha ... Saat tiba di Jakarta, saya membagikan bakpia ke teman-teman kantor. Langsung deh ludes karena jadi rebutan. Hahhaa

Bir Pletok dari Jakarta
Banyak yang mengaku kebingungan saat mencari oleh-oleh khas Jakarta. Ada yang bilang “Jakarta tuh nggak punya oleh-oleh khas” atau ada juga yang bilang “Paling hanya kerak telor”. Eits, salah. Jakarta punya oleh-oleh khas yang juga menggugah selera. Saat saya berkunjung ke Setu Babakan yang terletak di kawasan Jakarta Selatan, banyak yang menjual oleh-oleh khas Betawi. Nah dua diantaranya adalah bir pletok dan kue kembang goyang. Walaupun namanya bir pletok, minuman ini sama sekali tak memabukkan. Minuman ini merupakan perpaduan dari rasa jahe, daun pandan dan aneka rempah-rempah. Diminum panas ataupun dingin sama-sama nikmat. Harganya pun cukup terjangkau yakni Rp 10 ribu per botol.

Bir yang tak memabukkan
Asinan Bogor dari Bogor
Karena jaraknya yang tak terlalu jauh dari Jakarta, saya seringkali ke Bogor. Walau hanya sekedar mencari suasana berbeda atau untuk mencari kuliner khas Bogor. Dua kuliner khas Bogor yang menjadi favorit saya adalah asinan Bogor. Kedua makanan itu saya biasanya beli di kawasan Gedung Dalam Jalan Sukasari, Bogor. Asinan Bogor ini sudah sangat terkenal loh dan terjual hingga ratusan bungkus setiap hari. Ada asinan Bogor sayuran, ada yang asinan bogor buah dan ada juga yang campur. Harganya Rp 20 ribu cukup untuk dikonsumsi dua orang. Saya suka sekali asinan ini karena segar dan emang enak. Sambalnya juga tak terlalu pedas, kuahnya bikin nambah. Saya biasanya beli buat diri sendiri dan tetangga yang kebetulan juga doyan asinan Bogor. Menurut saya, paling enak tuh makan asinan Bogor dalam keadaan dingin saat cuaca panas, duh segarnyaa ...

Asinan Bogor
Suasana di dalam toko yang menjual asinan Bogor
Jenang dari Kudus
Datang ke Kudus tapi nggak beli jenang? Kayaknnya nggak mungkin deh. Berulangkali saya datang ke Kudus dan membuat saya selalu membeli jenang dan keciput. Jenang yang saya beli adalah jenang Mubarok yang merupakan toko jenang terbesar di Kudus. Ada berbagai pilihan jenang yang bisa dipilih dan tentunya dengan berbagai rasa. Jenang ini sekilas mirip dodol tapi lebih kenyal dan lebih berminyak dibandingkan dodol. 


Jenang Kudus. Sumber foto : Travel
Jenang ada yang dikemas dalam ukuran lebih kecil dan bulat memanjang. Tapi ada juga yang ukuran lebih besar dan dijual satuan. Saya sih biasanya membeli jenang yang ukurannya kecil dalam jumlah banyak biar dapat dibagi-bagi kepada banyak orang.

Jenang Kudus
Otak-Otak Ikan Tenggiri dari Makassar
Dua kali ke Makassar, saya selalu menyempatkan membeli otak-otak ikan tenggiri. Semua berawal saat mengunjungi Makassar tahun 2006. Saat pulang, teman mengajak saya ke Jalan Sumba Opo, pusat oleh-oleh khas di Makassar. Salah satu yang ditawari adalah otak-otak. Awalnya saya mengira otak-otak ikan di Makassar sama aja seperti yang di Jakarta, teryata beda. Kandungan ikan tenggiri pada otak-otak ikan tenggiri di Makassar lebih banyak. Ukurannya lebih besar dan rasanya lebih enak. Saking sukanya, bahkan saat dari Jayapura menuju Jakarta dan transit di Makassar, saya menyempatkan diri membeli otak-otak ikan tenggiri yang dijual di bandara. Agak mahal sih, tapi kan pengen. Namun sejak tante kesayangan pindah ke Makassar, ia selalu menyempatkan membawa otak-otak setiap kali berkunjung ke Jakarta. Harga satu kardus isi 20 adalah Rp 90 ribu. Saya lebih senang membakar otak-otak ikan tenggiri sebelum di konsumsi. Soal harga jangan ditanya karena memang enak.
Otak-otak ikan Tenggiri Makassar
Omiyago, Pusat Oleh-Oleh Indonesia
Selain 6 oleh-oleh khas daerah itu, sebetulnya saya ingin juga mencicipi aneka oleh-oleh khas Lombok. Hanya saja saya belum pernah ke Lombok. Sebetulnya kalau mau nitip beliin teman sih bisa aja tapi terkadang saya sungkan. Untunglah ada Omiyago yang menjual aneka Oleh-oleh Indonesia termasuk oleh-oleh khas Lombok. 

Kuliner Indonesia di Omiyago.com
Pertama-tama, saya login ke website www.omiyago.com. Ada banyak pilihan kuliner yang menggugah selera yang berasal dari seluruh Indonesia. Mulai dari kuliner khas Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan lain-lain. Karena ingin mencoba kuliner khas Lombok, langsung saja ke kuliner khas Lombok yang menampilkan berbagai pilihan kuliner khas seperti Bebek Ungkep, Dendeng Ayam Lombok, Sambal Encim Ikan Asin dan masih banyak lagi. Biar lebih lengkap, saya memilih Lombok Spesial Package. Setelah proses pemesanan selesai dan proses pembayaran beres saya pun menunggu pesanan saya tiba.
Cara pesan Omiyago
Suprise banget saat pesanan datang. Sebuah kotak besar berwarna hijau dengan tulisan ‘Omiyago’ tiba. Kotak besar itu dimasukkan di tas cokelat. Senangnya karena mendapat bingkisan yang dikemas secara ekslusif dan terkesan mewah. Ada kertas minyak/kalkir yang berfungsi menjaga kualitas oleh-oleh tetap baik.
Kemasan di dalam kemasan esklusif
Saat dibuka, ada lima kuliner khas yang terdapat di dalam kemasan yakni :
- Ayam Taliwang 200gr
- Bebek Taliwang 200gr
- Sambal Terasi Taliwang 150gr
- Kopi Etnic 2 pack @100gr
- Dendeng Ayam 250gr

Isi di dalam kemasan
Selain itu, ada kartu ucapan yang menjelaskan secara rinci tentang kuliner khas lengkap dengan cara penyajiannya. Keren banget kan? Misalnya di kartu ucapan ditulis tentang sejarah kuliner Bebek Taliwang yang merupakan salah satu unsur warisan budaya kuliner yang menjadi ikon makanan khas Suku Sasak di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Bebek Taliwang merupakan olahan bebek yang diramu dengan bumbu-bumbu  khas yang kemudian dibakar sehingga memberikan cita rasa yang kuat. Soal rasa, oleh-oleh Omiyago enak dan pas dengan selera saya sekeluarga. Misalnya Bebek Taliwang yang bumbunya meresap hingga ke dalam daging bebek. Siapa yang tak tergiur?

Membeli oleh-oleh di Omiyago membuat saya tak sekedar membeli dan mencicipi oleh-oleh saja. Tetap semakin paham sejarah kuliner kuliner khas daerah dengan adanya kartu ucapan itu. Omiyago merupakan pilihan terbaik untuk memberikan oleh-oleh kuliner khas Indonesia tak hanya untuk diri sendiri melainkan juga untuk orang lain. Jika suatu saat diberikan kesempatan untuk menjelajah kuliner khas Lombok dengan mengunjungi Lombok, saya berharap bisa bersama Ladita Tour.



Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

33 komentar:

  1. Aku suka nopia mb, di tempatku disebutnya ndog bledeg alias telur naga

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah yg belum pernah cuma yg dari Makassar. Tapi kalau lainnya dikasih lagi mau banget. :))

    BalasHapus
  3. Saya baru tau Mba, ada sirup dari buah pala dan bakpia dari nopia. Enaknya pakai omiyago ini memang lebih praktis, dan lagi menghindari over bagasi ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener mba. Praktis banget ya mba Nita :)

      Hapus
  4. waa praktis banget ada tokonya,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Praktis banget mba. Sangat membantu :)

      Hapus
  5. baru kemarin aku search lagi pgn makan oleh2 surabaya sambel bu rudi eh di omiyago ada juga kalau ke surabaya selalu aja tutup tokonya krn klo kesana abis hubar kantor 😁
    semua oleh2nya unik y mb aku ngiler sama otak2 tenggiri 👌

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di rumahku lagi ada sambal bu Rudi, mba. Eunaak dan pedas. Aku punya loh mba poto ama BU Rudi pas jalan-jalan ke tokonya. Hahhaa
      Sini bumil aku suapin yaa :)

      Hapus
  6. Dari semua oleh-oleh di atas, yang sudah saya coba baru bakpia Jogja dan Otak-Otak :D
    Semoga besok-besok bisa coba yang lainnya.

    BalasHapus
  7. aku suka tuh pala manis, mba. Tapi lebih suka yg berupa asinan gitu. Yg tanpa gula. Aduh langsung ngeces ngebayangin asinan pala nih 😜

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ssst aku juga suka yang pedas mbaa. Manisan yang manis euy :)

      Hapus
  8. Waah kangen Asinan Bogor nya. Suka banget sama itu. Tapi yang buahnya. Klo sayur gak doyan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahha sama. Aku ya senang yang buah, mbaa :)

      Hapus
  9. aku jadi ngiler lihat manisan palanya hehe

    BalasHapus
  10. Hahahahaa...aku emak yg jarang beli oleh2, ga mau ribet dan rempong bawanga mak.
    Terkecuali bakpia ato pie bali pasti beli coz oleh2 fav anakku.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aih kalau aku masuk emak yang suka beli oleh oleh mbaa. Hehhe

      Hapus
  11. Terakhir makan manisan pala adalah zaman masih kuliah. Itupun dikasih teman yang entah dapat dari mana. Huh, lamanya...

    BalasHapus
  12. Omiyago nyediain semua oleh2 khas daerah ya mba? aku lagi penasaran sama lapis legit harum dari Bali, pengen beli tapi mikir ongkirnya bakalan lebih mahal ngga yaa... #galau

    BalasHapus
  13. enak banget ya mba jaman sekarang udah canggih. mau nyicipin kuliner khas di kota orang lain tinggal klik-klik sampe :D *eh jangan lupa trf juga sih hehe*

    BalasHapus
  14. Omiyago kereeen, saya juga pernah dapat paketnya. Enak2 semuanya.
    Terus desainnya itu lho. Kece abis. Kotak ijonya sampai sekarang masih saya simpan.

    BalasHapus
  15. sukaaaa bgt sama asinan bogor! tapi kenapa ya kurang suka dengan bakpia, padahal terkenal ya

    BalasHapus
  16. Aku juga merasa kalau manisan pala itu rasanya agak aneh dilidah hihi. Waaw, omiyago keren ih, memudahkan buat icip oleh-oleh dari berbagai daerah. Jadi kepikiran, kalau nanti liburan nggak mesti ribet nyari sendiri *eh muehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahha ada juga yang ngerasa begitu kok mbaa

      Hapus
  17. Ini otak-otaknya menggugah selera. Ah jadi pengen deh >___<

    BalasHapus