Kamis, Desember 24, 2015

Saat Vertigo Kambuh

Dua malam menginap di RS Asri Duren Tiga, Jakarta Selatan karena vertigo adalah pengalaman pertama saya. Vertigo bukan penyakit baru bagi saya. Sudah sejak 2009 saya menderita vertigo. Saya pernah mewawancarai dokter  Muhammad Kurniawan, ahli syaraf di Rumah Sakit Asri Duren Tiga pada Maret 2010. Vertigo menurutnya merupakan suatu sensasi berputar terhadap diri sendiri atau lingkungan akibat gangguan di pusat keseimbangan. Penderita akan merasa dirinya berputar atau lingkungannya yang berputar. Vertigo terbagi atas dua yakni vertigo vestibular dan vertigo non vestibular . Vertigo vestibular gejalanya, kepala akan pusing tujuh keliling. Sedangkan gejala vertigo non vestibular adalah penderita akan merasa bergoyang. Nah vertigo vestibular terbagi atas dua yakni di pusat dan di tepi. Kalau di pusat, berarti ada gangguan keseimbangan di daerah otak kecil atau di batang otak.


Jumat, 11 Desember hingga Minggu 13 Desember lalu, saya terpaksa harus di rawat. Semua bermula saat Rabu, 9 Desember 2015 saya mendadak terjatuh ke depan saat duduk di kursi. Saat itulah saya merasa serangan vertigo itu tiba. Keesokan harinya, usai pulang kerja saya janjian dengan kawan untuk akupuntur agar nyeri vertigo menghilang. Namun vertigo tak kunjung hilang. Pagi harinya, serangen vertigo itu muncul. Saya yang lagi duduk di kasur mendadak terjatuh ke belakang. Siangnya, saya mengajak Ayyas ke RS Asri Duren Tiga untuk memeriksa diri di klinik vertigo dokter Entjep Hadjar, ahli THT. Ini kali kedua saya memeriksakan diri di dokter Entjep. Pertama kali usai diperiksa dan diterapi vertigo hilang tanpa mengkonsumsi obat.

Pada pemeriksaan Jumat siang, dokter Entjep memeriksa telinga, mulut dan hidung saya. Dokter kemudian meminta saya memejamkan mata dan melihat arah pupil mata saya saat terkena cahaya. Setelah itu, dokter memberikan saya terapi CRT (Canalith Repositioning Theraphy). Dokter Entjep meminta saya berbaring sambil menghadap kiri. Waduh, saya seperti terjatuh. Sakitnyaa.... Kemudian dokter meminta saya berbalik kanan. Ada alat yang kemudian diletakkan di kepala saya secara perlahan dan kepala seperti dipijat. Pelan sekali. Namun mendadak kepala saya sakitnya semakin bertambah. Saya merasa seperti di ayun-ayun, dibanting kiri dan kanan. Semuanya gelap. Kedua tangan saya memegang tangan dokter Entjep. “Ampuun, dokter sakit sekali,” saya berkata sambil menangis. Kemudian dokter meminta saya tengkurap, rasa nyeri berkurang. Usai di terapi, dokter Entjep mengangkat satu jari dan meminta saya melihat arah jari saya.

Usai pemeriksaan saya hendak duduk di kursi sebelah kiri. Tapi badan saya malah bergerak ke kanan mendekati kursi dokter. Untung di pegang suster dan membantu saya duduk. Setelah merasa keseimbangan semakin baik, saya pun keluar klinik dan membayar tagihan di kasir. Saat menunggu, keseimbangan saya semakin terganggu. Perut pun mual. Saya mengeluarkan tas kresek kuatir akan muntah. “Biasanya tak seperti ini,” kata saya dalam hati.

Usai membayar, saya memesan taksi di petugas. Tapi rasa nyeri semakin terasa. Sekeliling saya semakin berputar. Saya menelpon suami.

“Bapak. Ummi masih di rumah sakit .... ,” kata saya menangis
“Ummi gimana masih pusing?,” kata suami
“Ummi sakit”. Kemudian saya pun menangis.
“Mana perawat? Biar aku bicara ke perawat. Di rawat saja kalau sakit begitu,” kata suami.

Petugas rumah sakit lewat.
“Mba, suami saya mau bicara,” kata saya sambil menghapus air mata.
Percakapan pun terjadi antara suami dan petugas rumah sakit. Dan saya pun semakin lemas. Usai telepon di matikan, semuanya berjalan cepat. Kursi roda datang, dan saya langsung masuk UGD. Infus pun di pasang, dokter jaga datang dan kemudian dokter Enjtep kembali datang.

“Ibu terkena vertigo debris tapi di dua sisi. Biasanya usai di terapi satu sisi ibu sudah baikan. Tapi ini belum. Ibu di rawat saja,” kata dokter Entjep. Suami saya yang saat itu masih di Sukabumi, Jawa Barat. Saya berdua di UGD hanya dengan Ayyas berusia enam tahun. Saya menghubungi adik saya di Surabaya, Jawa Timur melalui blackberry messenger agar dibelikan pulsa.

“Ir, pulsa habis tolong beliin ya,” kata saya. 
“Emang chi dimana,” kata Ir. Saat saya bilang di UGD, Ir panik. Kemudian pulsa masuk sehingga saya bisa menghubungi suami.

Kemudian telepon berdering. Bokap, nama yang tertera di panggilan telepon.
“Chi pikiran apa? Kenapa bisa vertigo sakit lagi? Sudah, jang pikiran terlalu banyak,” kata Papa tanpa jeda. Saya menjawab bahwa saya mulai baikan dan sudah menjalani perawatan di UGD. “Papa sudah hubungi mas, mas nanti segera pulang,” kata papa. Percakapan selesai. Papa panik karena papa di Ambon dan suami saya di Sukabumi. Tak ada yang bisa menemani sesegera mungkin. Saya menelpon mba Farah di rumah untuk mengabarkan kondisi saya dan memintanya membawakan baju.

Pukul 18.00 WIB saya mendapat kamar di lantai tiga, sekamar berdua. Di sebelah, seorang ibu dari Ternate, Maluku sudah 10 hari dirawat. Dia ditemani kedua anaknya (satu perempuan, satu laki-laki) yang datang jauh dari Masohi, Maluku, untuk menemaninya. Dua jam kemudian, suami datang. Kepadanya saya katakan tak perlu menemani saya di rumah sakit. Saya kuatir tak bisa istirahat tapi malah keasyikan ngobrol. Padahal, karena pengaruh obat saya selalu merasa mengantuk.
Keesokan harinya, saya sudah merasa semakin baik. Pukul 09.00 WIB, dokter Entjep datang dan memberikan terapi CRT lagi. Alhamdulillaah, kali ini saya sama sekali tidak merasa kesakitan. Semuanya baik-baik saja saat saya diminta menghadap kiri dan kanan. Minggu siang, 13 Desember saya sudah diijinkan kembali ke rumah. Rabu, 16 Desember saya kembali kontrol ke dokter dan bersyukur hasilnya membaik. 

Jangan kembali lagi ya, vertigo ....  


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

27 komentar:

  1. TERIMA KASIH SANGAT BERMANFAAT MBAK

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillaah kalau bermanfaat. Iya, jangan sampai deh sakit vertigo. Terima kasih sudah mampir :)

      Hapus
  2. Semoga tidak kembali lagi vertigonya, kak. Tadinya saya kira vertigo itu penyakit yang tidak separah itu. And by the way, saya menunggu cerita-cerita selanjutnya ya, kak. Sudah lama saya tidak membaca blog yang isinya tentang kehidupan pribadi seperti ini. Saya tunggu lanjutan ceritanya!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hallo mas Firman. Iya awalnya aku juga menduga demikian. Apalagi kan ada permainan namanya vertigo, jadi sempat mikir seru. eh teryata sakit. Makasih komentarnyaa. Iya, smoga smakin rajin menulis :)

      Hapus
  3. saya pernah, sekali. tiba2 tengah malam saya terbangun dan pusing sekali. mata kaya muter. dunia ini muter. semakin saya terpejam, semakin pusing. kaya gak ada solusi. ada bberapa menit begitu, terus selesai. belum pernah kambuh lagi sampai sekarang. Saya baca2 itu vertigo. Tapi rupanya saya belum sampai yg begini sih... makasih sharingnya ya.. saya jad tahu lebih banyak tentang vertigo.
    pusingnya itu benarw menyiksa mata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Vindy, iyaa saya kalau vertigo tapi nutup mata aja bisa sampai teriak-teriak. Padahal sudah pegangan kuat. Kalau masih ringan bisa minum mertigo. Tapi kata dokter, latihan aja gerakkin badan ke kiri dan kanan, mba saat sakit. Moga nggak kumat lagi vertigonya, mba :). Makasih sebelumnya

      Hapus
  4. Saya juga verigo mba. Pengalaman pertama vertigo lgs masuk rumah sakit dan opname. Kalo miring kekiri dan kekanan sakitnya minta ampun. Serasa gempa bumi.
    Terus muntah dan mual juga. Alhamdulillah semakin membaik.
    Membaca tulisan mba ini, saya lgs inget pengalaman saya sendiri.
    Mudah mudahan vertigo kita ngga kambuh kambuh lagi ya mba. Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Yuni, pas pertama kena vertigo Maret 2010 saya sempat diminta di rawat. Tapi keingat si kecil dan masih bisa sembuh dengan minum obat. Iya mual-mual dan pusing bikin ampun-ampun. Aamin atas doanya. Makasih, mba :)

      Hapus
  5. Sepupu saya ya vertigo padahal masih SMA.sebelumnya asma sih tp dinyatakan sdh membaik setelah terapi ke dokter disertai renang juga hampir tiap minggu. Sampai tante saya pasrah anaknya sekali kena penyakit yg berat2. Kalau dilihat sehari2 ya sepupuku ini biasa aja malah sekarang jd lebih banyak aktivitas ekskul di sekolahnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Vertigo itu bahaya kalau pas kita lagi nyetir. Aku berharap tidak terjadi sih, mba. Moga sepupunya mba ga kambuh lagi vertigonya. Makasih sudah berkunjung, mba :)

      Hapus
  6. Semoga nggak kambuh lagi Mba. Kebayang sakit dan repotnya sakit jauh dari suami.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku berharap demikian juga, mba. Suami kebetulan saat itu lagi di luar kota. Selama ini selalu nempel ama suami :). Makasih ya mba : )

      Hapus
  7. Alhamdulillah sudah baikan ya Mbak. Vertigo itu kambuh karena apa, ya, Mbak? Kecapean, atau bagaimana?
    Duh, mudah2an kondisi fit terus setelah ini yaaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Mugniar, aku pernah nanya ke dokter apa penyebab untuk aku. Tapi dokter juga ngak tahu. Kecapean hanya faktor kesekian saja. Makasiih.

      Hapus
  8. wah vertigo? semoga selalu sehat ya mbak...

    BalasHapus
  9. Saya taunya vertigo yang sakit kepala terus muntah gitu mbak *lek saya mengalaminya*
    ternyata pusing dan merasakan badan begoyang masuk vertigo yaa, saya kadang mengalami kayak gitu *tak kirang sakit kepala biasa*
    semoga selalu sehat yaa mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa. Badannya sih tidak bergoyang, tapi yang telihat dan dirasakan adalah semua serba bergoyang. Itu mungkin ya beda ama sakit kepala. Amiin. Sehat juga untuk, mba dan keluarga. Amin

      Hapus
  10. Cepet sembuh ya Mbak. Tetep semangat dan jaga kesehatan biar vertigo gak balik-balik lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mba Anisa. Amin doanya. Sehat juga untuk, mba :)

      Hapus
  11. sekarang keadaannya gimana mbak? suami saya jg punya vertigo, kadang kambuh.
    saya tidak menyangka kalau ternyata cukup serius ya...saya pikir kayak pusing saja...

    semoga cepat pulih dan tidak kambuh lagi ya mbak....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Avy, alhamdulillah udah pulih. Wah kasiahn ya kalau kambuh pasti sakit sekali. Saya sudah ikut pemeriksaan lengkap di klinik vertigo, mba. Mulai dari foto punggung, tes pendengaran dan penglihatan juga. Smoga suami mba nggak kambuh lagi ya vertigonya. Amin

      Hapus
  12. Saya pernah vertigo, rasanya gak enak sama sekali. Tapi gak sampai di rawat, sih. Iya, semoga jangan sampai datang lagi, ya. Sehat-sehat selalu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Untungnya nggak sering kambuh ya, mba. Iya ini pertama kai aku sampe dirawat. Sehat2 selalu untuk, mba :)

      Hapus
  13. Saya juga beberapa waktu lalu kena serangan vertigo, tepatnya setelah kegiatan simulasi akreditasi di kantor. Langsung jatuh dibawa ke IGD.

    -Adi Pradana-

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah mas Adi kejadiannya hampir sama kayak saya. Saya setelah di infus sudah agak enakan. Tapi infusnya bikin ngantuk. Moga nggak kambuh lagi, mas :). amin

      Hapus
  14. Ibu saya juga prnah vertigo dua kali. saat vertigo menyerang hrus rawat d rs jg, tp gak perlh diterapi. Beliau merasa seperti berputar2. alhamdulillah skrg gk prnh kmbuh lg, semoga saja gk dtg lg. Aamiin

    BalasHapus