Kamis, Juli 20, 2017

Cerita tentang Laptop Kesayangan

Sebagai blogger, salah satu peralatan yang wajib saya miliki adalah laptop. Selama ini saya telah tiga kali berganti laptop. Laptop pertama saya miliki adalah laptop bekas milik om saya. Saya beli secara mencicil saat masih duduk di bangku kuliah dan bekerja freelance. Kala itu, laptopnya masih kurang besar dan lebih berat. Saya sempat kelimpungan membawa laptop seberat itu saat masih liputan. Tapi kala itu mau membeli laptop yang baru, harganya mahal dan keuangan saya belum mencukupi. 


Tapi bagaimanapun saya berharap bisa memiliki laptop baru. Keinginan saya kemudian terwujud saat menang juara 2 di lomba jurnalistik. Senangnya luar biasa. Laptop itu saya gunakan selama hampir empat tahun. Selama empat tahun itu laptopnya sangat berguna untuk pekerjaan saya sebagai jurnali. Dulu tak ada kewajiban datang ke kantor untuk mengetik berita. Terkadang saya mengetik di lapangan sambil menunggu narasumber datang atau mengetik di rumah.  

Lama kelamaan, laptop kesayangan saya nge-hang. Layarnya tiba-tiba mati saat saya sedang asyik-asyiknya ngetik. Kaget? Ya iyalah. Saya ingat waktu itu sedang mengetik berita lingkungan dan tiba-tiba langsung jleb! Laptop saya langsung mati total. Sudah berulangkali saya mencoba untuk memperbaiki agar bisa menggunakan laptop lagi. Tapi teryata gagal. Akhirnya sekarang laptop hadiah lomba itu hanya tersimpan rapi di lemari.

Suatu saat saya kemudian terpikir untuk memiliki laptop baru untuk menunjang kuliah pascasarjana. Tapi keinginan untuk membeli laptop selalu tertunda karena berbagai hal. Apalagi saat itu saya masih mengikuti ujian seleksi masuk pascasarjana. Saat mama meninggal, ada uang pensiun yang kemudian diberikan kepada saya sebesar Rp 5 juta. Dana itu langsung saya gunakan untuk membeli laptop. 

Laptop yang saya beli hingga kini masih saya gunakan. Laptop berukuran 5 inci ini berwarna pink, sesuai warna kesukaan saya. Saya senang sekali dengan laptop saya yang terakhir ini dan sangat membantu saat saya kuliah. Hampir setiap hari, laptop saya bawa ke kampus. Biasanya sambil menunggu jadwal kuliah berikutnya saya mampir ke perpustakaan dan mengetik materi kuliah atau mengerjakan tugas yang diberikan dosen. Terhitung sudah tujuh tahun saya menggunakan laptop ini. Hingga kini, laptopnya masih berfungsi dengan baik. 

Jika ingin membeli laptop lagi, ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya : 


Beli Sesuai Kebutuhan  
Jika teman memiliki jenis pekerjaan yang mobile, pilihlah laptop yang sesuai. Saran saya, pilihlah laptop yang ukurannya lebih kecil dan ringan agar bisa dibawa kemana saja. Tapi jika laptopnya hanya lebih banyak digunakan di rumah, bisa juga memilih laptop yang berukuran lebih besar. Biasanya ada juga yang membeli laptop berukuran lebih besar karena lebih ‘nyaman’ di mata. 


Tentukan Harga Laptop 
Harga laptop bervarias. Terserah teman mamu membeli laptop seharga berapa. Apalagi sekarang ada aneka laprop yang bervariasi harga. Jika memiliki budget di bawah Rp 5 juta juga banyak tersedia. Tapi ada juga laptop yang harganya cukup mahal. Tapi ya itu tentu sesuai dengan kemampuan masing-masing. 


Beli dimana? 
Banyak toko khusus laptop yang menjual laptop dan aneka perlengkapannya. Biasanya banyak yang menjual di dekat perguruan tinggi. Kalau mau membeli online juga bisa. Salah satu toko online yang menjual laptop adalah MatahariMall. Di MatahariMall ada beragam jenis laptop yang bisa dipilih. Oh ya, MatahariMall ini sudah terbukti ya sebagai toko online yang bisa dipercaya. 


Nah, itu beberapa hal yang menjadi pertimbangan saya membeli laptop. Apa alasan teman sebelum membeli laptop? 



Jumat, Juli 14, 2017

Liburan Bebas Anyang-Anyangan

Lebaran kemarin saya harus menempuh perjalanan pulang pergi Jakarta-Kudus 30 jam. Kalau dibilang capek, jujur ya saya capek. Siapa sih yang tak capek total perjalanan 30 jam melalui jalur darat? Nah pas perjalanan panjang itu tentu hanya berhenti mobil saat istirahat, shalat dan makan (isoma). Itupun paling hanya setengah hingga satu jam saja. Selebihnya mobil melaju atau terjebak macet. Masalah muncul saat di tengah jalan kebelet buang air kecil Badan gerak kiri nggak nyaman. Badan gerak kanan pun tak nyaman. Kuatirnya makin buang air kecil. Duh!

Liburan ke Bandung bersama sahabat

Selasa, Juli 11, 2017

Tips Anti Lelah Untuk Ibu Bekerja

Mungkin ada teman yang pernah mengalami kondisi seperti saya. Berprofesi sebagai ibu bekerja, sibuk mengejar passion dan hobi (ehem) tapi masih disibukkan sengan segala aktifitas kegiatan rumah tangga. Apalagi ART (Asisten Rumah Tangga) andalan belum pulang kampung. Sementara ini saya menggunakan jasa ART pulang pergi untuk menjaga anak selama saya dan suami bekerja. Alhasil, banyak upaya yang kemudian dilakukan untuk menyeimbangkan antara keluarga, pekerjaan dan usaha sampingan.



Minggu, Juli 09, 2017

Pengalaman ke Pekan Raya Jakarta (PRJ) 2017

Salah satu agenda tetap saya setiap tahun adalah datang kePekan Raya Jakarta (PRJ)2017. Setahun maksimal dua kali saya ke Jakarta Fair. Saking senangnya ke PRJ, bahkan, saat hamil 7 bulan, saya berkeliling PRJ bersama adik ipar yang lagi hamil 6 bulan, mertua dan keluarga besar suami lainnya. Nggak capek? Iya capek juga sih tapi senang saja berkeliling jalan-jalan. PRJ tahun ini dibuka sejak tangal 8 Juni 2007 hingga 16 Juli 2017. Tiket masuk hari Senin hanya Rp 20 ribu, Selasa-Kamis tiket masuknya Rp 25 ribu. Sedangkan Sabtu hingga Minggu Rp 35 ribu.
Suasana di PRJ

Minggu, Juli 02, 2017

Perjalanan Mudik Lebaran Jakarta-Kudus-Jakarta 30 jam

Kebayang nggak mudik lewat jalur darat pulang pergi selama 30 jam? Kalau saya sih bukan ngebayangin lagi. Tapi telah merasakan kemacetan perjalanan mudik selama 30 jam. Capek? Pasti capek. Apalagi yang nyetir. Tapi mau gimana lagi. Agenda setiap tahun setiap lebaran ini selalu kami lalui. Walau kebayang macetnya, walau terbayang pegalnya, tapi selalu lebaran membawa aura kebahagiaan bagi kami sekeluarga. Tulisan saya kali ini akan menceritakan tentang pengalaman perjalanan mudik lebaran Jakarta-Kudus-Jakarta selama 30 jam. 
Photo design by : canva.com

Jumat, Juni 23, 2017

Indahnya #Sehatea Bersama Suami

Saya berjumpa dengan suami di sebuah kegiatan backpacker di Pulau Tunda, Kepulauan Seribu. Kala itu, saya ingat pertemuan itu tak menggoreskan kesan apapun. Bahkan kami tak saling ngobrol selama di Pulau Tunda. Aneh ya? Berbulan-bulan kemudian tak ada perjumpaan dan tak ada saling berkomunikasi. Entah apa mulanya, kami kemudian terhubung di sebuah media sosial dan intens berkomunikasi. Saat pertama kali berjumpa, saya mengajak sahabat saya untuk sama-sama bertemunya. Empat bulan kemudian, dilakukan pertemuan keluarga saya di Ambon. Dan, dua bulan kemudian, kami menikah. Bisa dihitung, sejak bertemu (lagi) hingga menikah, kami hanya ‘dekat’ selama enam bulan. Tak ada ucapan ajakan untuk serius ke arah pernikahan. Semua berjalan begitu saja. Jadi, jangan tanya tanggal jadian ala abegeh ya? Hehehhe .... 
Ada yang natap sambil bilang "Ummi lihatin aku dong"

Rabu, Juni 21, 2017

Ingin Jual Barang Bekas Lebih cepat dan Mudah? Pakai Aplikasi Carousell Saja!

Akhir-akhir ini salah satu kebiasaan saya yang kerap dilakukan adalah membersihkan rumah. Saya ingin kondisi rumah semakin bersih dan tak ada barang-barang terpakai yang menumpuk. Barang-barang yang tak terpakai biasanya membuat rumah terlihat ‘sesak’ dan penuh debu. Barang-barang yang terlihat kecil, tapi kalau ditumpuk ya jadi banyak. Padahal secara fungsi masih berfungsi dengan baik. Bahkan ada yang belum dipakai sama sekali. Misalnya lipstik yang saya beli online. Pas saya lihat sepertinya pas untuk warna kulit saya. Tapi teryata setelah saya beli, warnanya telalu ngejreng buat saya.

“Ummi mau jual aja lipstiknya, Bap” kata saya ke suami. Saya sempat menawarkan lipstik ini ke adik ipar. Tapi teryata tak ada yang minat karena kebanyakan juga lebih menyukai warna yang lebih soft seperti saya. Kalau mau dibuang kan sayang. Soalnya saya beli seharga Rp 55 ribu. Lipstik mungkin hanya salah satu saja barang yang menumpuk di rumah saya. Sebelumnya, saya tertarik membeli celana seharga Rp 100 ribu karena tawaran beli 1 gratis 1. Sudah pasti saya tergiur dengan tawaran ini. Apalagi warnanya pas dengan selera saya. Tapi karena banyak orang dan ruang pas penuh, saya pun tak sempat mencoba. Hanya melihat ukuran celana dan bahannya yang nyaman, langsung saya beli. Tapi pas saya coba pakai celana, eh teryata kegedean. Nggak mungkin harus saya kembalikan ke toko karena jaraknya jauh.  

Aplikasi Carousell