Review Buku Assalamualaikum Tarim karya Ustadzah Halimah Alaydrus

Buku ini merupakan kisah perjalanan Ustadzah Halimah Alaydrus menemukan diri sendiri. Buku yang mudah dipahami dan ditulis dengan apik

Review Buku Assalamualaikum Tarim karya Ustadzah Halimah Alaydrus


Buku Assalamualaikum Tarim: Sebuah Perjalanan Menemukan Diri Sendiri, saya baca setelah beberapa kali mendengarkan tausyiah Ustadzah Halimah Alaydrus di media sosial. Saya baru tahu Ustadzah Halimah di aplikasi tiktok. Dalam postingan itu, saya lupa siapa yang posting, ada ustadzah yang belajar di Tarim dan tidak pernah foto atau videonya ada di media sosial manapun.  MasyaAllah …


Saya penasaran dan kemudian mencari tahu tentang Ustadzah Halimah. Semakin saya tahu, semakin saya jatuh cinta dengan tausyiah yang selalu disampaikan dengan bahasa yang mudah saya pahami. Walaupun terkadang menggunakan percakapan bahasa Arab, diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dengan baik. Materi yang disampaikan oleh Ustadzah Halimah menunjukkan kedalaman ilmunya yang mengajak para jamaahnya mendekatkan diri kepada Allah dan mengajarkan jamaah mencintai Nabi Muhammad SAW. 


assalamualaikum tarim ustadzah halimah alaydrus
Buku Assalamualaikum Tarim karya Ustadzah Halimah Ayaldrus


Siapakah Ustadzah Halimah Alaydrus? Ustadzah Halimah menceritakan perjalanan hidupnya melalui ceramah-ceramah dan buku-buku yang ditulisnya. Dalam suatu ceramahnya, ia menceritakan perjalanannya menuntut ilmu ke Tarim berkat ajakan sang abang, Ahmad Alaydrus. Kala itu, sang Kakak mengajaknya ke Tarim padahal disana belum ada pondok pesantren putri. 


Padahal di Indonesia, Halimah remaja sedang asyik-asyik menuntut ilmu di pondok pesantren. “Lalu saya mau ngapain di Tarim?,” katanya. “Nanti kamu bisa ikut kajian-kajian khusus muslimah. Kamu juga bisa memasak untukku dan mencuci baju untukku,” kata sang kakak. Halimah diam saja karena menurutnya belum membuat ia tertarik belajar di Tarim. 


Namun ada satu perkataan sang kakak yang membuat Ustadzah Halimah memutuskan untuk ke Tarim. “Tarim itu kotanya Sayyidina Muhammad bin Ali Ba’alawy”. 


“Muhammad bin Ali Ba’alawy yang kita baca dalam ratib itu?,” ungkap Ustadzah Halimah. Sang kakak mengiyakan. “Kalau begitu, aku ikut. Aku rasa kita tak akan terlantar di kota tempat seorang wali besar yang selalu kita sebut namanya selama ini,” ungkapnya panjang lebar. 


Perjalanan menuju Tarim pun dimulai pada bulan Oktober 1998. Dari Jakarta menuju Abu Dhabi dengan perjalanan selama sepuluh jam. Transit sehari, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan pesawat selama tiga jam menuju San’a, ibukota Yaman. 


Dari bandara di kota San’a, perjalanan kemudian ditempuh selama satu jam menggunakan pesawat kecil menuju Seiwun, ibukota Hadramaut. Jarak antara San’a dan Tarim sekitar 600 kilometer. 


Keistimewaan Kota Tarim

Habib Abdurrahman Assegaf, ulama terkemuka pada zamannya mengatakan ‘Jalanan Kota Tarim adalah guru bagi yang tak berguru’. Artinya, jika tak memiliki guru yang dapat membimbing, maka datang ke Tarim, insyaAllah akan bertemu banyak orang yang akan mengajarkan lewat ucapan ataupun perilaku. 


Tarim juga dikenal sebagai kota yang memiliki lebih dari seratus masjid karena semua laki-laki di Tarim pasti shalat di masjid. Ada masjid Ba’alawy (masjid tertua), Masjid Asegaf hingga masjid Al-Muhdhor, masjid yang dijadikan simbol kota Tarim. 


kota tarim
sumber foto : gettyimages


Selain masjid, tempat yang kerap dikunjungi adalah ma’bad, tempat ibadah para wali yang terdapat di rumah-rumah para wali. Kebiasaan di Tarim, ada ruangan kecil di dalam rumah yang khusus dijadikan tempat ibadah. Tapi ada juga yang membuat ma’bad di sisi masjid atau bahkan di gua seperti yang dilakukan Alfariqihil Muqoddam yang membuat ma’bad di area jabal Nur’air. 


Seribu Ulama di Kota Tarim 

Kota Tarim adalah kota seribu wali karena banyaknya hamba Allah tercinta di sisi Allah dari kalangan ulama ataupun ahli ibadah.


Dalam buku ini diceritakan sebagai kota para Wali. Ada makam Imam Al Muhajir Illallah Ahmad bin Isa, cucu Nabi Muhammad SAW yang datang pertama kali ke Tarim dan mendapat julukan, Al-Muhajir Ilallah, orang yang hijrah menuju Allah. Beliau keturunan kesembilan Nabi Muhammad yang juga kakek kebanyakan habaib di seluruh dunia serta kakek dari para Wali Songo yang menyebarkan Islam di Indonesia. 


Datang ke Tarim, berziarah ke makam para wali di perkuburan Zanbal merupakan hal pertama yang kerap dilakukan. Habib Abdurrahman Assegaf sekitar enam ratus tahun yang lalu mengatakan bahwa di Zanbal terdapat sepuluh ribu wali yang dimakamkan. 


Ada makam utama yakni Al-Faqihil Muqoddam Muhammad bin Ali Ba’alawy, ulama terbesar pada zamannya dan merupakah keturunan keenambelas Nabi Muhammad SAW yang lahir di Tarim pada tahun 574 H dan meninggal pada tahun 653 H di Tarim. 



assalamualaikum tarim


Makam keturunan keenam Al Faqihil Muqaddam yakni Habib Abu Bakar bin Abdurrahman Assakran juga dimakamkan di Zanbal. Nama Assakran adalah julukan yang berarti ‘mabuk’. Nama ini disematkan karena beliau menolak khamer yang diberikan dokter untuk operasi saat beliau sakit punggung. “Aku ingin sehatku beribadah kepada Allah. Bagaimana mugkin untuk mendapatkannya, aku harus melanggar aturan Allah ?. Lakukanlah operasi pada saat aku shalat karena ketika shalat, aku tak menyadari apapun. ” Dokter melaksanakan operasi saat beliau shalat dan terbukti beliau tak merasakan kesakitan sehingga dijuluki Assakran, orang yang mabuk cinta kepada Allah SWT. 


Keturunan keempat belas Nabi Muhammad pun dimakamkan di Zanbal. Beliau adalah Habib Ali bin Alwi Khali’ Qasam, tepatnya Ali bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Al-Muhajir. Beliau ini adalah habaib pertama yang tinggal di Tarim pada tahun 521 H dan membangun masjid Ba’Alawy. 


Dan tentu ada banyak sekali makam-makam ulama yang ada di Kota Tarim. Keturunan para ulama ini yang hingga kini masih menjadi ulama dan hidup penuh berkah di Tarim. 


Perjalanan Menuntut Ilmu di Tarim 

Buku yang ditulis Ustadzah Halimah ini juga menceritakan perjalanannya menuntut ilmu di Tarim. Kala tiba di Tarim, belum ada pesantren putri tapi ada Daruzzahra, sekolah buat anak perempuan untuk belajar agama. Ustadzah Halimah yang sebelumnya telah bertahun-tahun mempelajari bahasa Arab dan mampu berbicara dengan bahasa Arab Fusha, tetap mengaku kesulitan saat bercakap bahasa Arab di Tarim. Padahal selama di Indonesia, ia menggunakan bahasa Arab dengan para santri. Dan tak hanya kendala bahasa melainkan juga bahasa isyarat yang menjadi kendala. 


Namun semangat menuntut ilmu yang tinggi oleh Ustadzah Halimah membuatnya kerap datang ke majelis-majelis ilmu dan kemudian berkenalan dan belajar banyak dari para hubabah. Namun Ustadzah Halimah juga mengakui dalam bukunya, ia juga banyak belajar dari masyarakat kota Tarim. 


Salah satunya belajar dari kebiasaan masyarakat kota Tarim yang selalu mengucapkan salam dan juga berpesan untuk selalu didoakan. Suatu kebiasaan yang berasal dari hadits Nabi Muhammad yang salah satunya berbunyi “Tidaklah seorang muslim mendoakan kebaikan bagi sodaranya sesama muslim tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat akan berkata, “Dan bagimu juga kebaikan yang sama” (HR. Muslim). 


Kebiasaan lainya yaitu menitipkan apapun dan siapapun kepada Allah. Jadi, setiapkali ada anggota keluarga yang keluar rumah dan berpamitan, maka orang yang dipamiti akan berkata “Istauda’tukallah, aku titipkan kamu kepada Allah”. Dan orang yang dipamiti akan menjawab “Qobiltul wada’ah, aku menerima diriku dititipkan kepadaNya.  


Membaca buku Assalamu Alaikum Tarim yang ditulis dengan indah oleh Ustadzah Halimah Alaydrus ini menambah informasi tentang Islam dan belajar banyak tentang kebiasaan masyarakat Kota Tarim, Kota Seribu Wali. 


Harapan saya, kelak Allah ijinkan saya ke Kota Tarim dan melihat langsung keberkahan kota Tarim yang Ustadzah Halimah Alaydrus tulis di buku ini. 


Assalamualaikum, Tarim … 

InsyaAllah, saya akan mengunjungimu. 

Aamiin 


14 nhận xét

Avatar
Herva Yulyanti 08:37 6/3/23

MasyaAllah Ustadzah Halimah aku juga sering denger Ummi, jadi pengen baca bukunya juga

Reply Delete
Avatar
Zahra Rabbiradlia 08:54 6/3/23

Masyaallah beliau adalah salah satu ustadzah favoritku. Kalau sudah berkisah tentang nabi Muhammad, waaahhh luar biasa kecintaan beliau itu. Semoga saya bisa baca buku beliau tentang Tarim ini dan bisa ke Tarim juga :)

Reply Delete
Avatar
Uniek Kaswarganti 08:54 6/3/23

Jadi pengin ke Tarim juga nih berkat tulisan indah dari Mbak Alida ini. Insya Allah kita diijinkan oleh Allah untuk ke sana ya, Mbak. Aamiin.

Reply Delete
Avatar
Fenni Bungsu 10:53 6/3/23

Menyenangkan pastinya bisa berkunjung ke kota Tarim.
Apalagi baca bukunya dulu lalu ke sana ya, jadi bisa sekaligus Napak tilas sejarah juga

Reply Delete
Avatar
Heni Puspita 11:56 6/3/23

Singgah atau mampir di kota ini pasti membuat hati sejuk karena kita bisa mendapat banyak contoh dari orang2 soleh.

Reply Delete
Avatar
Reyne Raea 17:04 6/3/23

Jadi pengen baca bukunya, saya paling suka baca cerita pengalaman kayak gini, apalagi kalau menceritakan lokasi yang indah dan menenangkan seperti kota Tarim :)

Reply Delete
Avatar
Mechta 17:35 6/3/23

MasyaAllah sepertinya ini buku bagus sekali yaa.. Saya blm mengenal ustadzah Halimah ini, jadi ingin mencari info lebih banyak ttg beliau dan juga ttg buku ini. Terima kasih sharing ulasannya ya mba..

Reply Delete
Avatar
Heni Puspita (Our Happy Project) 23:29 6/3/23

Wah yang fasih berbahasa Arab aja sempat kesulitan ya, apalagi saya yang bisa dibilang nggak paham sama sekali hu hu. Tapi tertarik dengan kota ini karena banyaknya wali dan ahli ibadah. Terbayang kalau bisa ke sini bersama keluarga dan melihat bagaimana keseharian warganya sebagai contoh buat kita terutama anak-anak.

Reply Delete
Avatar
Monica Anggen 11:24 7/3/23

Membaca ulasan ini jadi penasaran sama kota Tarim dan kisah perjalanan Ustadzah Halimah ini. Sepertinya wajib nih baca bukunya.

Reply Delete
Avatar
Indah Nuria Savitri 11:29 7/3/23

sungguh suatu buku yang mencerahkan ya mba. Ada banyak kisah dan teladan bagi kita semua. Aku belum pernah mendengar mengenai kota Tarim. Semoga bisa mengunjunginya juga kelak

Reply Delete
Avatar
Lita Chan Lai 11:44 7/3/23

Masya Allah, Ustazah Halimah Alaydrus ternyata menuntut ilmu di Kota Tarim. Jadi penasaran dengan kebiasaan2 masyarakat Tarim yg blm diulas disini. Pengen deh baca bukunya.

Reply Delete
Avatar
Karimah Iffia Rahman 11:54 7/3/23

Masya allah mbaaa, aku baca ulasan ini sedih, aku punya buku tentang tarim juga tetapi belum aku baca, dan aku tidak tahu kalau ternyata ustazah halimah punya buku tersendiri ttg tarim, semoga kapan2 bisa aku baca dan aku juga bisa mengunjungi kota ini, aamiin, allahumma sholli 'ala Muhammad

Reply Delete
Avatar
Siska Dwyta 12:00 7/3/23

Maa syaa Allaah kebiasaan masyrakat Kota Tarim yang sangat patut kita sebagai umat muslim tiru ya Mbak, karena kebiasaan itu juga asalnya dari Hadis Nabi, membiasakan mengucap salam dan request untuk selalu didoakan. Serta menitipkan apapun dan siapapun kepada Allah. Reminder nih

Reply Delete
Avatar
Khoirur Rohmah 12:45 7/3/23

Tahu ustadzah Halimah Alaydrus ini saat fyp di sosmed, yang tidak menampakkan wajahnya tapi pengajian nya dimana2
Masyaallah ternyata beliau juga memiliki karya tulis ya mbak
Apalagi yang diangkat terkait Kota Tarim

Reply Delete