Nukilan Buku : Mencari Identitas Orang Arab Hadhrami di Indonesia (1900-1950)

Blog ini berisi tentang kisah perjalanan, catatan kuliner, kecantikan hingga gaya hidup. Semua ditulis dari sudut pandang penulis pribadi

Nukilan Buku : Mencari Identitas Orang Arab Hadhrami di Indonesia (1900-1950)

Terlahir dengan darah Arab yang mengalir di dalam tubuh, jujur saya penasaran bagaimana perjalanan nenek moyang saya. Papa saya terlahir di Ambon dan memiliki ayah bermarga Bahaweres serta mama bermarga Bamahry. Keduanya saya panggil Bib (untuk kakek) dan Baba (untuk nenek). 

Papa saya menikah dengan Mama yang bukan keturunan Arab. Setelah saya lahir di Sidoarjo, keduanya pindah ke Pulau Seram, Maluku dan kemudian berpuluh tahun menetap di Ambon sebelum kemudian pindah ke Sidoarjo, Jawa Timur.

 

Dalam perjalanan hidup, saya pun penasaran dengan identitas keluarga saya yang terlahir sebagai orang Arab. Sebetulnya, salah satu yang tahu keluarga besar saya adalah saudara Baba. Beliau sempat cerita banyak tapi sayangnya saya kurang menyimak dan mencatat baik dan ketika beliau meninggal, ada penyesalan saya agak mengabaikannya.


Sumber foto : Kutukata.id

Dan di kemudian hari, saya menemukan ebuku yang ditulis Huub de Jonge berjudul ‘Mencari Identitas Orang Hadrami di Indonesia pada tahun 1900-1950. Ebook ini saya baca di Gramedia Digital. Saya pernah berjumpa langsung dengan Huub de Jonge sekitar tahun 2006 di Sumenep, Jawa Timur. Waktu itu saya menulis panjang untuk majalah Gatra terkait penelitian Huub tentang hubugan orang Bali dan Madura.

 

Dalam pandangan saya, Huub adalah pribadi yang menyenangkan serta ramah. Seingat saya, ia juga bisa berbahasa Indonesia. Kami sempat ngobrol panjang soal penelitiannya. Dan bahkan saya memotretnya. Sayangnya, setelah itu saya hilang kontak. Tapi bersyukur menemukan karyanya melalui buku ini.

 

Apa Saja yang Dibahas di Buku Mencari Identitas Orang Arab Hadrami di Indonesia

 

Zeffry Alkatiri dalam sekapur sirih di buku ini menulis bahwa pencarian identitas ini adalah pencarian yang terus menerus dan tidak berkesudahan. Dalam buku ini diungkapkan hubungan internal sesama orang Arab sebagai masyaralat pendatang maupun hubungan eksternal dengan masyarakat yang lebih luas.

 

Huub menuliskan buku ini berdasarkan pengkajian sumber tertulis seperti buku, artikel. dokumen arsip dan wawancara dengan anggota komunitas Hadhrami. Dan ini dilakukan di Belanda, Inggris, Indonesia. Semua artikel dalam buku ini berkaitan dalam buku ini berkaitan dengan perubahan identitas yang dialami oleh orang Hadrami yang dilahirkan dan dibesarkan di Hindia Belanda.

Imigran generasi pertama berorientasi, dan sangat setia kepada negeri asal mereka. Namun di kalangan anggota generasi yang lahir di kepulauan Indonesia, ikatan yang dulu erat tersebut berangsur-angsur berkurang meskipun tidak selalu menjadi longgar.

 

Apa saja yang dibahas di buku ini ? Artikel pertama membahas perjuangan kelas komunitas Hadrami di Hindia Belanda yang antara lain dilakukan melalui pertarungan gelar simbolis. Selanjutnya artikel yang membahas prosedur imigrasi yang kadang-kadang ambigu berkenan dengan orang Hadrami.

 

Buku ini juga membas posisi orang Hadrami pada masa pendudukan Jepang dan masa perjuangan kemerdekaan melawan Belanda. Ingin tahu tentang saran politik tentang penduduk Hadrami yang diberikan oleh orientalis Belanda ? Buku ini bisa menjadi pilihan.   

 



Sebagian besar imigran Arab pada paruh kedua abad ke 19 dan paruh pertama abad ke 20 berasal dari Hadramaut. Dari sudut pandang ekonomi, orang Arab cenderung berhasil di lingkungan baru mereka. Bersama orang Tionghoa, komunitas imigran terbesar di koloni, orang Hadrami menguasai perdagangan perantara dengan masing-masing kelompok berorientasi pada  produk tertentu.

 

Pada paruh kedua abad ke 19, kampung-kampung Arab menjadi penuh sesak. Orang Arab pun mendapat diskriminasi walaupun dianggap memiliki kedudukan yang sama. Hal ini terjadi karena minoritas Arab dianggap lebih merusak kesejahteraan masyarakat luas daripada kelompok perdagangan asing lainnya. Pemerintah juga dianggap kuatir terhadap pengaruh mereka dalam masalah agama.

 

Untuk waktu yang lama, penduduk Arab di Hindia Belanda bereaksi terhadap tindakan diskriminasi dengan cara yang sama seperti orang asing lainnya yakni dengan sikap pasrah, penghindaran dan perlawanan pasif. Kebijakan yang diterapkan dan menghambat perkembangan potensi ke ekonomi membuat orang Arab semakin giat mencari nafkah.

 

Bagaimana posisi perempuan di kalangan Hadrami ?


Di halaman 151 buku ini menuliskan bahwa tidak ada organisasi selain PAI dan tidak ada jurnal selain Aliran Baroe yang lebih banyak mengkampanyekan emansipasi perempuan Hadrami di Indonesia sebelum Perang Dunia II. Dan hampir setiap edisi membahas posisis ketinggalan zaman yang ditempati gadis dan perempuan Hadrami.

 

Segala sesuatu yang menyangkut perempuan dipandang sebagai rahasia yang tidak patut dibicarakan di depan umum. Jurnal Aliran Baroe memiliki rubrik perempuan yakni Taman Poetri yang dalam kurun waktu panjang ditulis A.A Noor dan kemudian ditulis oleh perempuan lainnya. Hal ini dianggap tak lumrah karena kebanyakan orang Hadhrami beranggapan bahwa perempuan harus menjauhi kegiatan dan bahkan perempuan dilarang menyebut nama mereka di depan umum atau bahkan menampilkan nama mereka di media cetak.

 

Hingga memasuki tahun 1930 an, sebagian besar perempuan Hadhrami sangat jarang terkena sinar matahari, terkurung di rumah. Mereka umumnya buta huruf dan hampir tak tahu apa yang terjadi di dunia.

 

Kontak mata dengan tamu sangat dilarang. Mereka berbicara dari balik tirai atau pintu. Namun setelah berdirinya PAI, ada pelonggaran pingitan terhadap perempuan, terutama di kalangan hartawan kelas menengah dan elite bisnis kecil yang kaya. Perempuan pergi belanja bersama, menemani suami ke bioskop atau bahkan diperbolehkan bertegur sapa dan berbicara dengan etnis lainnya. Aliran Baore mengkampanyekan pendidikan aanak perempuan dan dewasa yang memberikan kebebasan bergerak lebih besar dan memungkinkan untuk mengungkapkan pendapat.

 

Dalam buku ini juga Huub menuliskan bahwa dalam jangka waktu empat puluh tahun, minoritas Hadrami di Hindia Belanda berkembang dari komunitas yang sebagian besar beorientasi Arab dengan wajah Indonesia menjadi kelompok yang sebagian besar berorientasi Indonesia dengan cap Arab.

 

Membaca buku ini juga bisa diketahui bahwa Huub secara teliti dan berhati-hati mencari beragam sumber informasi serta literasi untuk proses pencarian identitas komunitas orang Arab di Indonesia. Dan bahkan Huub mencoba mengungkapkan segala sesuatu yang mungkin masih terasa asing untuk di bahas terkait kehidupan orang Arab.

 

Saya merekomendasikan buku ini untuk dibaca agar mendapat wawasan terkait proses pencarian jati diri orang Arab. Dan tentunya berharap ada banyak lagi yang meneliti kehidupan orang Arab setelah tahun 1950.

  

 

42 nhận xét

Avatar
winda - dajourneys.com 16:44 14/4/21

keren mba review bukunya, saya nggak baca bukunya jadi sedikit banyak tahu isinya dan gambaran garis besarnya, tapi tetap menyisakan rasa penasaran untuk baca langsung bukunya :)

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 07:24 16/4/21

Iya mba WInda. Menarik untuk tahu :)

Reply Delete
Avatar
Rani R Tyas 07:25 15/4/21

Waktu kita ketemu itu, aku aslinya sungkan mau nanya, Mbak Alida nih ada keturunan Arab kah? Kok cantik bingits kayak gadis Arab.

Membaca tulisan ini, seketika aku membayangkan bagaimana perjuangan orang jaman dahulu ya, dalam hal ini perjuangan suku dari Arab yang berjuang cari nafkah di mari.

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 07:24 16/4/21

Hehhe makasih mba Rani :*
Iya tak mudah ya

Reply Delete
Avatar
April Hamsa | Parenting Blogger keluargahamsa.com 08:53 15/4/21

Soal asal usul keluarga yang gak pernah ketemu tu aku menyesali jg keluarga bapakku tu kyk udah ilang. Mbahkungku cuma dua bersaudara katanya, nah saudara satu2nya ini mbuh di mana, tau kotanya tapi gk tau wajahnya skrng dan bingung nyarinya mulai drmn.Pernah diiklanin koran ya gk berhasil.
Kalau keluarga suamiku yg mencar bisa ditemukan krn waktu itu pakmer punya akses ke dispendukcapil di Jkt,akhirnya bisa ditemukan yg ilang2 yg merantau ke Jkt.
Sejarah org Arab di Indonesia ini menarik, dulu kyknya masuk dr pintu perdagangan ya mbak?
Weh kebayang dulu perempuan Arab susah sekolahnya ya :(
Eh tapi wong jowo yo idem, kecuali deket ma londo pd masanya hehe

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 07:25 16/4/21

Itulah. Kadang kita anggap ga penting tahu asal usul ya pas mereka masih hidup. Tapi buat anak cucu harusnya tahu

Reply Delete
Avatar
Dessy Achieriny 10:04 15/4/21

Bagus buat dibaca untuk menambah wawasan mengenai jati diri orang arab ya. Mempelajari hal yang kita gak tau jadi tahu kadang memang menarik.

Reply Delete
Avatar
Indah Nuria Savitri 00:36 16/4/21

memang menarik yaa mba untuk tau dan belajar tentang sejarah asal usul kita dan keluarga ya mba. Aku asalnya dari mana yaaaa

Reply Delete
Avatar
lendyagasshi 03:52 16/4/21

Adiknya Bapak juga menikah dengan orang Arab, kak..
MashaAllah~
Senang kalau sedang mau punya hajat, karena ramai, keluarga besar yang selalu kompak.

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 07:25 16/4/21

Alhamdulillah ikut bahagia mbaa :)

Reply Delete
Avatar
lendyagasshi 18:23 21/4/21

Senang sekali kak Alida..
Tapi yang paling terlihat dari kak Alida selain wajahnya adalah naman fam-nya yaah...
Ini uda Arab banget, fam bahaweres.

Delete
Avatar
Ida 06:12 16/4/21

Wah pantas Mba Alida ada raut Arab-Arabnya... ternyata ada turunan Arabnya juga ya... Jadi ingat saya waktu kecil kalau ga dibilang gadis Ambon ya Arab... padahal idung saya ga mancung hahaha....

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 07:25 16/4/21

Hahhaa ada ada aja ya mba :)

Reply Delete
Avatar
nurul rahma 08:40 16/4/21

Sekarag aku tahuuuu, hidung dirimu kok auto-mancung ora perlu shading endebra endebre ini ternyata karena ada keturunan arab tooo

masyaAllah.
AKu juga pengin ngerti serba/i riwayat dan silsilah keluargaku mba
ya walopun wong jowo kabeh, tapi siapa tau ada cerita menarique juga ye kan

Reply Delete
Avatar
Rani R Tyas 09:44 19/4/21

Yakin nih Mbak Nurul asli orang Jawa semua? Kan orang Indonesia tuh aslinya dari berbagai suku ras.

Aku sendiri mau ngaku turunan cina-arab kok isin ya, secara kayaknya udah jauh turunannya - generasi ke-4. hahahha.

Reply Delete
Avatar
CIci Desri 10:26 16/4/21

aku termasuk yang penasaran juga soal asal-usul keturunan orang tua sebelumnya Kak tapi buyut dulu dimakamkan di Jakarta dan karena ngga dirawat udah ditimpa dengan makam baru.

Reply Delete
Avatar
Cindy Vania 11:30 19/4/21

Menarik sekali cara mba Lid reviewnya. Aku tadi sempet zoom pas bagian cara ngobrolnya dr balik pintu/tirai, kayak yg di film ayat2 cinta gitu yaa

Reply Delete
Avatar
Andiyani Achmad 13:12 19/4/21

ngomongin asal usul, keluarga bokap masih ada keturunan timur tengah, cuman sayang gak nurun ke cicitnya dalam hal bentuk hidup yang mancung hehhe.. tapi emang seru ya kalo bisa menelusuri jejak sejarah keturunan

Reply Delete
Avatar
Nchie Hanie 16:49 19/4/21

Aku punya adik sepupu laki2 yang menikah dengan turunan Arab, pernah mendengar cerita keterbatasan soal perempuan yang harus gini gitunya. Kek cerita di buku ini soal posisi perempuan di kalangan Hadrami .

Btw kalo ngelihat wajah Mak Alida emang wajah2 Arab ko

Reply Delete
Avatar
Nurul Sufitri 21:25 19/4/21

Wajah Mbak Alida memang kelihatan ada Arab-nya :) Mencari silsilah dan sejarah keluarga tuh ga mudah ya, apalagi jika banyak tetua yang sudah tiada. Buku ini bermanfaat banget dibaca supaya kita tahu asal-muasal garis keturunan keluarga.

Reply Delete
Avatar
CIci Desri 07:02 20/4/21

aku suka banget gaya pemaparannya kak, ngikutin dari awal sampai akhir dan aku pernah mendengar sendiri dari beberapa sodara yang tinggal alam di wilayah Arab soal budaya yang Kak Alida tuliskan diatas ternyata benar adanya ya.

Reply Delete
Avatar
Suciati Cristina 07:36 20/4/21

Mba wajahnya Arab dan seperti temenku mba. Ayahnya ada keturunan arab, di ambon. Dia harus nikah sama darah arab juga, keluarga besarnya bener2 besar. Silsilahnya kayak tercatat jelas runut 😆
Oh iyaa mba lidha lahir di jateng ya. Arab Indonesia banget ikii ayu tenan

Reply Delete
Avatar
Keke Naima 19:32 20/4/21

Mbak, kok seru banget sih ini ceritanya. Menelusuri silsilah keluarga. Saya belum pernah kepikiran begini. Tetapi, jadi pengen juga ya tanya-tanya ke keluarga.

Reply Delete
Avatar
Ida Raihan 05:42 21/4/21

Tadinya Mbak Rach Alida tu saya kira ya keturunan Padang. Orang Padang kan banyak yang mirip orang Arab. Ternyata emang ada keturunan Arab ya Mbak. Barokallah ya Mbak.

Reply Delete
Avatar
Dewi Rieka 12:26 21/4/21

Senang banget ya Mbak Lidha menemukan buku yang isinya mengungkapkan jati diri keluarga, jadi bisa ditelusuri asal usulnya, tahu sejarahnya..

Reply Delete
Avatar
Lidya Fitrian 15:33 21/4/21

Unik juga latar belakang keluarganya mbak Alida, ada Arab, Maluku ya. Syukurlah bisa menemukan ebuku tentang mencari identitas orang Hadrami di Indonesia jadi bis atau sejarah masa lampaunya ya.
Baca buku sejarah kaya gini jadi membuka wawasan juga ya mbak, jadi tahu juga nih ada ada kelas komunitas Hadrami

Reply Delete
Avatar
Alfa Kurnia - pojokmungil.com 15:41 21/4/21

Menyusuri kehidupan imigran di Indonesia memang menarik ya, Mbak. Apalagi untuk keturunannya bisa mengetahui sejarah nenek moyang tentu jadi ilmu yang berharga.

Reply Delete
Avatar
Naqiyyah Syam 17:31 21/4/21

Silsilah keturunan arab menarik juga ya dibahas, tentunya makin semangat untuk membaca buku lagi. Aku ada keluarga keturunan arab, ganteng banget hahahh

Reply Delete
Avatar
April Hamsa 17:41 21/4/21

Kangen baca buku yang menceritakan sedikit banyak soal sejarah kyk gini, jadi tahu tentang masa lampau kehidupan nenek moyang kita dahulu seperti apa.

Reply Delete
Avatar
Hidayah Sulistyowati 20:26 21/4/21

Aku waktu SMA karena sekolah Islam, punya banyak teman orang Arab, tapi asalnya beda-beda. Ada yang dari Yaman, Pakistan, ada lagi, tapi gak tahu dari mana. Pokoknya ya tahunya dari Arab. Mereka masih model pernikahan aja dijodohkan, dan kalo bertamu, cewek gak boleh gabung dengan cowok. Jadi temen cewek itu gabung sekelas dengan cowok baru ketika masuk SMA.

Membaca kisah sejarah yang bisa mengorek asal usul kita pasti menarik ya Mbak

Reply Delete
Avatar
Lina W. Sasmita 20:28 21/4/21

Orang-orang Yaman dahulu terutama pendahulunya beremigrasi bukan untuk mencari kekayaan atau penghidupan yang layak melainkan untuk berdakwah menebarkan ajaran ISlam secara damai.

Reply Delete
Avatar
diane 22:24 21/4/21

Buku yang menarik kak..Apalagi ada hubngannya dengan jati diri kita sendiri ya.. Ternyata udah pernah ke SUmenep ya kak..hehe DI Sumenep aku tinggal deket sama Kampung Arab..teman-teman juga banyak yang dari situ..Marganya macem-macem ya..

Reply Delete
Avatar
echaimutenan 22:26 21/4/21

AKu baru tahu golongan harami mak. bisa tercatat rapi dengan bahasa yang gampang ya mak ternyata kalau kita baca di sini
jadi lebih mudah mengerti sejarah dan silsilah

Reply Delete
Avatar
Dee_Arif 22:27 21/4/21

wah bukunya menarik ini mbak
aku juga punya darah arab meski dari keturunan ibu
aku juga pengen tahu nih tentang asal usul orang Arab
jadi pengen baca bukunya

Reply Delete
Avatar
tantiamelia.com 22:35 21/4/21

Aku kok penasaran pengen dirimu mengulas lebih dalam lagi ya Alidha,

Aku suka banget mengulik sejarah seperti ini, dan kalau di keluarga besar Bapak, untunglah ada beberapa sepupu dan om yang jurnalis dan penulis, mereka mau bersusah payah mencari para pinisepuh, tinggal di mana, gimana ceritanya dan juga ada sertifikat keturunan kalo ga salah dari kesultanan Banten

Reply Delete
Avatar
Nia K. Haryanto 23:20 21/4/21

Wah seru ya. Pastinya deh, Mbak Alida penasaran dengan silsilah keluarga besar. Aku juga begitu. Kata mama sih, aku juga ada keturunan Tionghoa-nya. Tapi udah jauh memang. Tapii ya gitu, aku juga penasaran dengan silsilah ini.

Reply Delete
Avatar
Rahmah 'Suka Nulis' Chemist 23:28 21/4/21

Sekaligus mengubah mindset negatif kalau orang Arab itu banyak negatifnya
Aku dari kecil gitu soalnya
Padahal lo setiap negara memang punya karakter warga negaranya masing-masing

Reply Delete
Avatar
Ade UFi 09:40 24/4/21

Kakek ade (dari Mama) juga berasal dari keturunan Arab di Ambon, Mba. Menikah dengan orang Palembang. Jadi semua peninggalannya di Palembang. Baca review buku ini , jadi kepo mau menulusuri juga keturunan Aba (Kakek Ade) yang di Ambon.

Reply Delete
Avatar
Nặc danh 09:33 2/7/24

Assalamualaikum, maaf Alida, saya tertarik dengan babak anda dari marga Bamahry, saya Ghazie Bamahry, asal ambon dan sekarang berdiam di ternate, bagaimana saya bisa melanjutkan komunikasi dengan Anda? trims salam

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 11:29 8/7/24

Halo kak Ghazie. Bisa melalui email beta ee di lidbahaweres@yahoo.com. Danke :)

Reply Delete
Avatar
Nặc danh 09:34 2/7/24

Gha

Reply Delete