Rumah Pertama Keluarga Kami

Blog ini berisi tentang kisah perjalanan, catatan kuliner, kecantikan hingga gaya hidup. Semua ditulis dari sudut pandang penulis pribadi

Rumah Pertama Keluarga Kami

Seorang teman menghampiri saya di siang hari. Saat itu, perkerjaan sedang menumpuk, deadline terasa menambah beban. “Lid, saya sudah beli rumah di Depok,” kata teman saya itu. Pandangan mata saya yang semula tertuju di layar komputer, kemudian beralih memandang wajah teman saya. “Wah, selamat ya,” kata saya. Saya tahu benar perjuangannya untuk mendapatkan rumah pribadi. Selama ini, bersama sang istri, teman saya itu memilih mengontrak. Kontrakan itu kemudian diperpanjang dari tahun ke tahun. “Capek juga kalau harus kontrak terus. Tapi kalau harus beli rumah, harga tanahnya mahal,” katanya sebelum memiliki rumah. Ya, saya membenarkan kalimat teman saya itu. Memang tak mudah memiliki rumah di Jakarta. Saya jadi teringat perjuangan saya dan suami untuk memiliki rumah di Jakarta, beberapa tahun lalu.

Setelah menikah, saya dan suami memilih mengontrak rumah yang tak jauh dari kantor saya. Hanya jalan kaki lima menit, saya pun tiba di kantor. Tapi kontrakan dua lantai yang kami tempati, terlalu mahal jika harus diperpanjang lagi. “Kalau ada rejeki, langsung beli rumah saja Chici,” kata Mama saya kala itu. Niat itu kemudian diupayakan dengan menggumpulkan uang. Setiap kali ada rejeki, dana kemudian dimasukkan ke rekening. Sambil menggumpulkan dana, kami pun mencari-cari rumah yang sesuai dengan pilihan kami.
 
Rumah yang nyaman. Sumber : Pixabay.com
Pertimbangan kami saat memilih rumah adalah lokasi, harga, tipe rumah, dan lingkungan ramah anak. Lokasi, kami mencari rumah yang tak jauh dari kantor. Kalaupun harus berkendara, maksimal satu jam. Waktu itu kantor saya di Kalibata dan kantor suami di TB Simatupang. Untuk harga, kami cari yang sesuai dengan budget kami. Kami memilih rumah yang luas dan memiliki halaman serta lingkungan yang jauh dari jalan raya agar anak bisa bermain leluasa.

Teryata memang tak mudah mencari rumah sesuai kriteria yang kami terapkan. Kami bertanya, mencari di website hingga di koran-koran tentang rumah dijual di Jakarta. Dalam sehari, kami datang di tiga hingga empat rumah. Ada rumah di kawasan Kalisari yang kami taksir. Dan teryata tak hanya kami, melainkan banyak orang. Terbukti saat kami datang, kami harus menunggu sebab ada calon pembeli yang survey rumah. Dan saat kami belum selesai survey, calon pembeli lain pun datang. Rumah itu terletak di paling pojok, memiliki lima kamar dan dua kamar mandi. Tangganya pun aman untuk digunakan balita. Kami merasa sreg sehingga memutuskan untuk mengajukan kredit di Bank. Keesokan harinya, kami menelpon pihak penjual rumah untuk memastikan rumah itu kami pilih. Tapi, harga rumahnya malah naik Rp 50 juta dari harga yang disepakati. Kami pun batal membeli rumah itu. Ah, belum jodoh!

Ada rumah warisan yang ingin dijual di kawasan Jakarta Timur. Sebenarnya saya tak terlalu sreg dengan rumah itu, karena agak terkesan kuno dan kurang rapi. Tapi memang lebih luas. Tapi karena kami sudah survey, satu keluarga pun menelpon saya dengan harapan saya menyetujui suami membeli rumah itu. Jadi, suami saya mengatakan saya-lah yang memutuskan apakah membeli atau tidak. Alhasil, handphone saya tak berhenti berdering. Setelah diskusi kami putuskan untuk tidak membeli rumah itu.   

Suatu saat, kami survey ke sebuah rumah di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Rumah itu baru ditempati dua tahun oleh sepasang suami istri. Temboknya masih bersih serta desain rumah ala Jawa modern. Kusen dan sejenisnya terbuat dari kayu jati. Lokasi rumah di pojok jalan buntu sehingga anak bisa dengan mudah berlari dan bermain. Bangunan seluas 122 cm itu berdiri di atas tanah seluas 144 meter itu membuat kami tertarik. Kami kala itu hanya memiliki dana 75 persen dari harga rumah. Suami mengatakan semuanya kepada calon penjual. Kami beruntungnya karena sisa dana boleh dicicil selama setahun tanpa bunga sama sekali. Alhamdulillah ...  

Kami bersyukur, rumah itu hingga kini masih kami tempati tanpa perubahan berarti. Hanya menambahkan kolam, tangga dan kitchen set. Selebihnya, semuanya masih sama seperti kami beli. Cat temboknya pun masih bagus.

Kepada teman saya itu, saya katakan bersyukur hingga kini ia telah memiliki rumah. Saya pun sangat bersyukur telah memiliki rumah. Walaupun sederhana, tapi setidaknya telah memiliki rumah sendiri. “Tapi cicilannya masih lama,” kata kawan saya itu. Ah, waktu berjalan dengan cepat. Saya rela menghemat pengeluaran asalkan bisa membeli rumah. Toh, rumah juga bagian dari investasi untuk masa depan. Mari menabung untuk masa depan yang lebih baik. 


 


40 nhận xét

Avatar
Mbak Avy 14:02 22/6/16

turut terharu merasakan perjuangan keluarga muda,
jadi inget saya tahun 1998 jg berjuang unt membeli rumah pertama

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 14:22 22/6/16

Alhamdulillah, mba Avy. Teryata memang tak mudah menemukan rumah idaman :)

Reply Delete
Avatar
Titis Ayuningsih 14:14 22/6/16

Wah, saya harus nabung dari sekarang nih buat beli rumah. Harganya euy :(

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 14:22 22/6/16

Iyaa, mba. Nggak terkontrol harga rumah saat ini mba

Reply Delete
Avatar
Shenisa 14:56 22/6/16

Saya juga lagi survey harga rumah di Jakarta, Mbak. Bikin mata melotot harganya... kayaknya musti sabar jadi kontraktor dulu, hehe, ngontrak aja deh. sambil nabung.

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 17:55 22/6/16

Iyaa, mba. Sudah ajaib skarang harganya, mba. Sambil kontrak bisa tuh mba sambil nyicil :). Smoga keinginannya terkabul ya mba. Amin

Reply Delete
Avatar
Hana Bilqisthi 15:36 22/6/16

wah perjuangan banget ya mba buat cari rumah :D alhamdulillah sekarang sudah dapet :D

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 17:56 22/6/16

Awalnya perjuangan untuk mendapatkan yang diinginkan, mba. Alhamdulillah. Makasih, mba Hana

Reply Delete
Avatar
Ety Abdoel 16:35 22/6/16

Hiks, punya rumah emang perjuangan banget ya Mba.

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 17:57 22/6/16

Begitulah kenyataan hidup, mba :(

Reply Delete
Avatar
nh18 16:38 22/6/16

Berbicara soal rumah pertama ...
maka yang teringat dibenak saya adalah ... NEKAT ...
ya nekat ...
kami bertekat untuk mengencangkan ikat pinggang agar bisa membayar cicilan rumah tiap bulannya
Alhamdulillah ... diberi jalan

Salam saya

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 17:58 22/6/16

Bener banget, mas. Harus nekat dan berusaha. Terima kasih telah berbagi, mas :)

Reply Delete
Avatar
Kanianingsih 18:06 22/6/16

Alhamdlh sy juga masih nyicil nih :)

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 19:22 22/6/16

Alhamdulillah.
InsyaAllah semoga dimudahkan ya, mba Kani :)
Amin amin

Reply Delete
Avatar
Ade Anita 18:19 22/6/16

Alhamdulillah...meski tidak merasakan perjuangan beli rumah tapi ikut senang dengan perjuangan siapa saja utk bisa beli rumah sendiri. Bener banget. Rumah itu bagian dari investasi

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 19:26 22/6/16

Iya, mba Ade. Alhamdulillah banget :)
Bener, mba. Harganya makin melambung, mba

Reply Delete
Avatar
Evi 20:50 22/6/16

Selamat untuk temannya dan Mbak Rach juga. Mempunyai rumah idaman setiap orang. Bus besar atau kecil tidak terlalu masalah. Yang penting kita hidup aman di dalamnya :)

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 08:33 23/6/16

Amiin,
Bener banget mba Evi. ALhamdulillah

Reply Delete
Avatar
Yasinta Astuti 21:50 22/6/16

Temennya keren ya mbak, menurut saya emang kadang kepahitan berbuah manis. Ya ngontrak emang ga selalu buruk tapi tidak leluasa dalam hal menata rumah. Rumah kan yang penting nyaman ya mbak, sebesar apapun kalau di syukuri pasti hikmah

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 08:33 23/6/16

Kata pepatah 'bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian', mba Yasinta. Hihii
Makasih mba

Reply Delete
Avatar
ira guslina 02:10 23/6/16

alhamdulillah. mencari rumah yangn nyaman buat anak2 memang susah ya mba apalagi buat yg bukan si kantong tebal. Senang mendengar kabar baiknya dan semoga dari rumah sederhana menjadi istana..

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 08:33 23/6/16

Kalau yang kantong tebel mah, bisa langsung nunjuk ya mba. Hehhee

Reply Delete
Avatar
Ibu Jerapah 02:44 23/6/16

Waah aku penasaran mba, rumah jawa modern itu yg kaya gimana ya? Googling. Hihi..
Jadi inget dulu pengen punya rumah sama ayahnya ahza. Cari sana sini.. Seru cari2 rumah itu hihi..
Tapi memang lebih baik beli daripada ngontrak terus ya mba.. Setuju bgt..
Makasih sharenya ya mbaa :*

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 08:35 23/6/16

Hayuuk main ke rumahku, mba Desi. Hihii
Terima kasih sudah berbagi

Reply Delete
Avatar
Bba 07:00 23/6/16

Makanya ada istilah home sweet home ya mak...
rumahku (apapun bentuknya) istanaku....

Reply Delete
Avatar
Nur Rochma 08:41 23/6/16

Punya rumah itu benar2 penuh perjuangan. Alhamdulillah rumahnya sesuai dgm cita2.

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 08:42 23/6/16

Alhamdulillah banget, mbaaa ;)

Reply Delete
Avatar
zata 11:37 23/6/16

setuju banget mba, meski pun sederhana, kalau nyaman dan milik sendiri rasanya asik banget :)

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 16:07 23/6/16

Ya mba Zata. Kita sendiri yang membuatnya menjadi nyaman dan asyik ;)

Reply Delete
Avatar
lianny hendrawati 12:39 23/6/16

Rumahku sekarang masih rumah mertua, pengin sih punya rumah sendiri, meski kecil tapi pasti lebih nyaman :)

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 16:08 23/6/16

InsyaAllah ya mba Lianny. Tinggal dengan mertua juga bisa jadi ladang pahala :)

Reply Delete
Avatar
Unknown 17:39 23/6/16

Ini menginspirasi saya untuk turut mengumpulkan uang untuk membeli atau membangun rumah sebelum menikah mba :)

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 07:49 24/6/16

Yuk semangat, mas
Sedikit-sedikit akan jadi bukit :)

Reply Delete
Avatar
Lina W. sasmita 18:48 23/6/16

Punya rumah di kawasan Jakarta apalagi masih di tengah kota gitu sudah hebat banget Mbak. Salut.

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 07:50 24/6/16

Alhamdulillah, Mba Lina. Makasih mba

Reply Delete
Avatar
fanny fristhika nila 23:24 23/6/16

nyari rumah di jkt memang perjuangan ya mbak.. aku ma suami agak beruntung, krn kita dikasih rumah ama ortu pas udh nikah.. walo kecil, tp ga hrs ngontrak yg penting.. dan lokasinya strategis, g jauh2 amat dr sudirman, lokasi kantor kita.. aku lbh milih gitu deh, drpd punya rumah lebih gede tp jauh bgt dr kantor.. -__-. capek di jalan mbak kalo gitu..

Reply Delete
Avatar
Rach Alida Bahaweres 07:52 24/6/16

Wah ini mah alhamdulillah banget, mba. Nggak capek di jalan. Kalau saya masih butuh perjuangan tapi alhamdulillah dijalankan dengan ikhlas. Hihiii. Makasih sudah berbagi mba

Reply Delete