Ayyas Naik Panggung!

Blog ini berisi tentang kisah perjalanan, catatan kuliner, kecantikan hingga gaya hidup. Semua ditulis dari sudut pandang penulis pribadi

Ayyas Naik Panggung!

Kaget, senang, bangga. Mungkin itulah perasaan yang saya dan suami alami. Betapa tidak, saat anak lain mungkin merasa takut naik ke panggung, Ayyas malah inisiatif naik ke panggung. Tanpa kami minta. Ini terlihat pada Minggu, 7 Juni 2014 di Pejaten Village Mall. Sore hari ada aksi dance Larva, tokoh kartun yang sedang populer. Pembawa acara kemudian menanyakan siapa yang ingin naik ke panggung untuk mendapatkan hadiah. Ayyas kemudian bertanya, “aku pengen naik ke atas (panggung),” katanya. Suami pun mengiyakan. Kemudian, dia pun maju dan naik ke panggung. Oh, ingin rasanya saya berteriak kegirangan karena percaya dirinya tinggi. Di panggung, ia berkumpul dengan 10 anak lain yang merebutkan hadiah.

Kuis yang dilontarkan sebetulnya sederhana. Saat pembawa acara menanyakan dimana kaki, maka anak pun harus menunjukkan kakinya. Ayyas berhasil hingga berkurang menjadi enam orang. Tapi kemudian pertanyaan “dimana mata kaki?, Ayyas menunjukkan mata kemudian kaki. Alhasil, Ayyas pun harus turun panggung. Saya memeluknya dan berkata bahwa dia hebat. Saya pikir mungkin dia hanya akan mau menonton saja. Tapi kemudian, pembawa acara menanyakan siapa saja yang mau ikut goyang ala Larva, Ayyas pun mengangkat tangan dan segera maju. Ah, saya tertawa melihat tingkahnya. Suami saya pun demikian. Tertawa bahagia tentunya.  Kali ini kuisnya, anak-anak diminta untuk joget heboh ala Larva. Awalnya diberikan contoh dan kemudian anak-anak mengikuti. Tapi kemudian, anak-anak diminta untuk joget. Nah, Ayyas asyik berjoget tapi tak heboh. Dia menggerakkan tangan dan badan. Saya tersenyum melihatnya. Dan, lagi-lagi Ayyas harus menerima kenyataan bahwa dia harus turun tanpa membawa hadiah. Saya peluk dia dan dia pun berkata,” Aku pengen dapat hadiah,”. Saya katakan bahwa lain kali akan ikut lagi. Setelah kuis dilakukan, kini sesi foto bersama Larva. Ayyas awalnya mengaku takut. “Larva itu nggak seram. Malah lucu,” kata saya. Dia pun kemudian memilih untuk maju dan berfoto bersama Larva. Bahkan dua kali!

Saat pembawa acara mengatakan akan ada rehat 30 menit, Ayyas masih ingin tetap mengikuti. Tapi kala itu sudah pukul 19.00 WIB. Terlalu malam bagi kami. Untunglah, Ayyas mengikuti saran kami. Bagi saya, pengalaman hari Minggu kemarin adalah sesuatu yang membahagiakan. Saya dan suami ingin Ayyas menjadi percaya diri. Tidak kenal takut tapi juga sopan. Ketika anak muncul keinginan untuk naik dan berhadapan dengan banyak orang yang tidak dia kenal, itu menunjukkan keberaniannya.

Sebetulnya kami pernah sampaikan agar Ayyas tak malu  atau tak mau menjawab saat ditanya oleh saudara atau teman. Teryata, saran kami di dengar. Setiap kali ditanya, ia dengan lugas menjawab tanpa rasa takut. Tapi tentu pertanyaan itu dijawab dengan baik. Sebagai orangtua, kami mungkin tidak boleh menjadi otoriter dan memaksa kehendak kepada anak. Tapi ada hal-hal mendasar yang perlu diajarkan bagi anak sejak dini. Misalnya agar anak tak takut, percaya diri serta menghormati sesama. Jika ini dilakukan anak, betapa bahagianya orangtua.


Jakarta, 8 Juni 2014 

Đăng nhận xét