Suka Duka Jadi Jurnalis

Blog ini berisi tentang kisah perjalanan, catatan kuliner, kecantikan hingga gaya hidup. Semua ditulis dari sudut pandang penulis pribadi

Suka Duka Jadi Jurnalis


Menjadi jurnalis sudah menjadi cita-cita saya sejak masih kecil. Tante saya cerita, dulu saya selalu berpura-pura menjadi jurnalis setiap kali bermain. Saya biasanya pakai sisir yang seolah-olah mic untuk mewawancara teman.  Saat masih SMP di Ambon, bacaan saya majalah GATRA yang kelak menjadi tempat saya bekerja selama delapan tahun.

Apa yang saya rasakan ketika berhasil kerja di media yang saya inginkan sejak dulu? Bahagia tentu saja. Walaupun rasa capeknya liputan sejak dulu hingga kini masih terasa, entah kenapa saya masih menyukai profesi saya sebagai jurnalis. Mungkin karena belum ada tawaran kerja lain ya? Hiks ...
 
Sumber foto : pixabay.com
Selama menjadi jurnalis, ada banyak pengalaman yang saya rasakan. Ada suka duka jadi jurnalis yang sejak dulu saya rasakan. Tapi jujur, sejak awal kalau di tanya jadi jurnalis capek atau nggak, saya akan bilang capek. Mengapa? Karena kami jurnalis harus tetap standby.

Harus Standby 24 Jam
Seperti saya bilang di atas, jadi jurnali situ harus standby 24 jam. Nggak percaya ? Saya sering di telpon jam 12 siang untuk konfirmasi tulisan liputan. Belum lagi harus standby menjaga narasumber yang kerap kali tak mau di wawancara padahal kami sangat butuh konfirmasi darinya.

Siap ditugaskan kemana saja
Emang boleh menolak penugasan ? Selama menjadi jurnalis lapangan, saya harus siap ditugaskan di mana saja. Misalnya ini waktu baru tiba dari kota Lamongan, belum juga istirahat tiba-tiba sudah di telepon untuk liputan ke Madura. Dan beberapa kali ini terjadi.

Makan tak Teratur
Susah jadi jurnalis karena jujur makannya tak teratur. Pun kadang juga makan semabarangan nggak perhatiin 4 sehat 5 sempurna. Boro-boro perhatiin gizi, bisa makan aja sudah alhamdulillah. Mengapa ? Karena dulu kuatirnya kalau pas makan, tiba-tiba narasumber pergi, siapa yang tanggung jawab hayo? Tapi sekarang saya lihat jurnalis televis yang live dan standby di satu tempat, disediakan makanan oleh pihak kantor di tempat ia liputan. Sudah enak kan ?

Mudah Stres
Kerja jadi jurnalis itu jadi mudah stres karena deadline dan tekanan yang besar dan harus di hadapi. Kalau dulu kerja di majalah deadline hitungan jam atau kadang hari. Tapi kalau kerja di televisi, deadlinenya bisa hitungan detik. Nggak percaya? Itulah yang terjadi kalau ada breaking news. Dan ini mau nggak mau bikin mudah panik trus stres. Kalau saya biasanya supaya nggak stress, saya alihkan dengan mendengarkan musik atau nulis blog. Jangan sampai stres bisa buat nggak bagus pekerjaannya.

Tapi kerja sebagai jurnalis itu juga ada senangnya kok. Saya bisa mendapat banyak kenalan mulai dari pejabat hingga warga dengan menjadi jurnalis. Nggak nyangka kan bisa berhadapan langsung dengan Presiden, Wakil Presiden, duduk ngobrol dengan para menteri. Selain itu juga bisa datang ke berbagai tempat dan bertemu dengan berbagai kalangan yang menginspirasi.

Selain itu, saya juga bisa mendapatkan berbagai informasi yang ter update karena mendapat informasi langsung dari tim lapangan. Kalau soal keliling negara karena jadi jurnalis, dengan sedihnya saya katakan bahwa itu tak terbukti di saya. Hahhaha. Saya belum menikmati keliling negara-negara selama jadi jurnalis. Mungkin belum rejeki saya ya tapi ya saya percaya ada rejeki lain yang selalu menunggu saya dan itu saya akui bermanfaat bagi saya.
  

1 ટિપ્પણી

Avatar
Herva Yulyanti 22/7/19 09:58 AM

Ummi, aku dulu kecil juga sama suka pake sisir ngomong sendiri di halaman rumah depan sampe mendiang ibu dianggap aku ini ya aneh wkwkwk sayang banget aku gagal sih jadi reporter tapi alhamdulilah bisa berjodoh ketemu Ummi :)

Reply Delete