Theme Layout

[Rightsidebar]

Boxed or Wide or Framed

Theme Translation

Display Featured Slider

Yes

Featured Slider Styles

[Boxedwidth]

Display Trending Posts

yes

Display Instagram Footer

yes

Dark or Light Style

[Light]
Uncategorized

Bisnis Sewa Tas




Mau tampil mentereng, tentenglah tas merek beken. Tak perlu beli jika kantong cekak. Dengan sistem sewa, duit hemat, gengsi pun dapat.

Dior. Toscano. Versace. Prada. Merek-merek beken itu tak asing lagi di mata wanita kalangan atas. Ke mana pun kaki melangkah, rasanya tak afdol bila tidak menenteng tas karya perancang top dunia itu. Meski harus dibeli dengan harga selangit, tak masalah demi gengsi.

Tetapi, jika gonta-ganti tas merek beken, kantong pun bisa jebol. Apalagi, biasanya tas hanya dipakai sekali. Setelah itu jadi pajangan. Bagaimana menyiasati agar bisa menyandang tas bergengsi tanpa menguras kocek? Dewi Hendrawan punya cara jitu.

Wanita 30 tahun itu tak perlu repot-repot membeli tas berbagai merek. Jika perlu, ia cukup datang ke persewaan tas Smart Diva. Satu merek bisa sekali pakai, berikutnya ganti merek lain. Siapa yang tahu bahwa tasnya barang sewaan.

Sejak mengetahui ada tempat persewaan, ia memilih menyewa ketimbang membeli setiap kali butuh tas. Manajer artis itu kali pertama menyewa tas merek Dior Rp 500.000 sehari. “Saya butuh untuk menghadiri ulang tahun teman. Semua tamunya orang terkenal,” ujar Dewi.
Di pesta bertabur selebriti itu, ia harus tampil berkelas. Toh, tidak ada satu pun pengunjung pesta mengetahui bahwa ia menenteng tas sewaan. “Saya nggak bilang siapa-siapa,” ucap Dewi setengah berbisik. Lagi pula, tas mahal yang ditenteng Dewi tidak distempel “sewa”.

Kini perempuan kelahiran Jakarta, 1 Agustus 1976, itu mengaku sering gonta-ganti tas merek terkenal. Untuk itu, ia harus bolak-balik ke Smart Diva. “Lebih baik sewa tapi asli daripada beli tapi palsu,” ungkap Dewi.
Sebelumnya, Dewi pernah memiliki tas Toscano seharga Rp 2 juta. Tetapi ia tidak sempat merawatnya. Akibatnya, tas itu tak dapat dipakai lagi. “Susah banget menjaga kualitas tas,” Dewi mengeluh. Tak mengherankan, ia sekarang lebih suka menyewa ketimbang membeli dan merawat tas berkualitas tinggi.
Pemilik Smart Diva, Amanda Sari, menyatakan bahwa sewa-menyewa tas merek terkenal sudah jamak bagi sejumlah wanita kelas menengah atas Jakarta. Budaya ”irit” itulah yang menginspirasi Amanda untuk membuka gerai persewaan tas. Untuk menjalankan bisnisnya, ia merangkul Jessica Schwarze, sahabatnya.
Amanda dan Jessica merintis bisnis persewaan tas beken, pertengahan tahun ini. Mereka hanya menyediakan merek dunia yang sudah ngetop di kalangan jetset, macam Versace, Prada, Chole, LV, Tod’s, YSL, Balenciaga, dan Fendi.

Awalnya Amanda dan Jessica adalah penggemar tas. Lantaran tas berharga jutaan rupiah itu hanya sekali dua kali dipakai, puluhan koleksi tasnya hanya menjadi pajangan. Setelah berburu informasi di internet, terbersitlah ide untuk membuat gerai persewaan tas. Situs-situs luar negeri seperti Bag Borrow or Steal dan From Bag To dijadikan rujukan.

Semula, banyak yang mencibir usaha yang dirintis dua wanita itu. “Gila aja, tas kok disewakan,” ucap Jessica, menirukan komentar beberapa orang. Tetapi niat mereka sudah mantap. Tak peduli anjing menggonggong, kafilah tetap berlalu. “Ini yang pertama kali di Indonesia,” ujar Jessica mantap.
Dengan modal Rp 100 juta, mereka mulai berburu tas-tas merek ternama. Tak perlu ke luar negeri, cukup mendatangi Plaza Indonesia dan Plaza Senayan. Setelah terkumpul 20 jenis tas, layanan persewaan tas pun dipublikasikan. Para calon pemesan bisa mengakses situs http://www.smart-diva.com.
Setelah menemukan tas yang diinginkan, cukup dengan menelepon, lalu pesanan segera diantar. Basecamp tempat persewaan adalah di rumah Amanda di Perumahan Pondok Indah, Jakarta. Kala itu, setiap akhir pekan, lima hingga 10 orang memesan tas.

Lantaran pelanggan makin berjibun, sejak 18 September lalu, Smart Diva membuka gerai di Jalan Bangka Raya, Jakarta Selatan. “Supaya lebih bergengsi,” ucap Jessica. Di gerai itu tersedia sekitar 50 item tas yang bisa disewa. Harga sewanya bervariasi, tergantung klasifikasi yang diberikan.
“Kami membaginya menjadi tiga tingkatan,” kata Jessica. Tingkat pertama adalah couture, yakni tas-tas yang harganya di atas Rp 10 juta. Selanjutnya kelas diva, dengan harga Rp 5 juta hingga Rp 10 juta. Terakhir kelas princess, yang ditujukan bagi tas seharga Rp 5 jutaan.

Jenis tas couture nilai sewanya sekitar Rp 1,8 juta per bulan. Diva dibanderol sekitar Rp 900.000 per bulan, sedangkan princess memiliki tarif sekitar Rp 550.000 per bulan. Ada keistimewaan lain apabila menyewa tas selama sebulan. “Bisa ditukar dengan jenis lain selama tiga kali dalam sebulan,” ungkap Jessica.
Selain itu, harga sewa juga tergantung mereknya. Misalnya merek Versace Metallic, yang harganya Rp 20 juta, dapat disewa dengan harga sekitar Rp 1,750 juta per dua minggu. Maklum, tas merek itu pernah digunakan Madonna. Ada juga merek Fendi Lace Embroidery Bag seharga Rp 30 juta, kesayangan artis Jessica Simpson, yang bisa disewa seharga Rp 2.500.000 per dua minggu.

Paling eksklusif, tas merek Hermess, yang harga jualnya Rp 120 juta, dapat disewa dengan harga Rp 6 juta per bulan. Jessica pernah menyewakan tas merek Lois Vuitton Bucket Bag, yang harganya Rp 30 juta, Rp 3 juta per dua hari. “Setelah itu, tas tersebut kami jual seharga Rp 28 juta,” tutur wanita cantik kelahiran Jakarta, 13 April 1973, itu.

Mereka yang tak sempat mendatangi gerai bisa mengunjungi gerai maya di situs Smart Diva. Di situs ini terdapat formulir khusus untuk penyewaan tas. “Bisa juga formulir itu difaks,” kata Jessica. Persyaratan untuk menyewa tas ini tergolong mudah. Cukup mengisi formulir pendaftaran serta menyertakan fotokopi KTP/paspor dan berdomisili di Jakarta.

Kini Smart Diva telah memiliki 120 pelanggan, dengan jumlah item tas sebanyak 27 buah. Setiap bulan dilakukan pembaruan jenis tas. Mayoritas penyewa berasal dari golongan menengah ke atas. Mulai mahasiswa, eksekutif muda, hingga ibu-ibu rumah tangga. “Pokoknya, segala lapisan masyarakat,” ujar Jessica.
Rach Alida Bahaweres

Baca selengkapnya »
by
0 Comments
Uncategorized

Maut Mengintai Wartawan

Irak merupakan ranjau pembunuhan terbesar: 60 nyawa wartawan melayang. Tapi Filipina merupakan negeri, di mana nyawa wartawan jadi incaran para koruptor. ATTACK ON THE PRESS IN 2005 Editor: Bill Sweeney Penerbit: Committee to Protect Journalist, New York, 2006, 311 halaman TAHUN 2005 merupakan saat paling menyedihkan bagi para wartawan. Ada 24 negara yang memenjarakan sekitar 125 wartawan sepanjang tahun itu. Malah, menurut data CPJ, lebih dari 100 jurnalis terbunuh saat melakukan tugas jurnalistiknya kurun 2003-2005. Profesi wartawan di banyak negeri terkadang sangat tidak aman. Berbagai ancaman membayangi gerak-gerik mereka. Mulai penyensoran bahan berita, ancaman penangkapan, intimidasi, hingga pembunuhan. Itulah hasil kajian Komisi Perlindungan Jurnalis, CPJ, terhadap profesi wartawan selama 24 tahun. Buku hasil studi kasus itu mengungkap secara terperinci berbagai tindak kekerasan terhadap wartawan di berbagai pelosok negeri. Mulai Irak, Cina, dari Uzbekista

Baca selengkapnya »

Menikmati Senam

Begini awal mula saya memilih mengikuti kelas senam. Jika masuk siang, agenda saya teratur. Bangun, antar anak ke sekolah, usai bantu masuk, leyeh-leyeh , jemput anak dan berangkat kerja. Permasalahannya, leyeh-leyeh bisa sampai dua jam sebelum menjemput anak. Nah, akhirnya saya memilih untuk mendaftar senam. Kebetulan di kawasan Kalisari, ada sebuah studio senam yangs elalu ramai dan khusus wanita. Sebelum mendaftar, saya sengaja datang untuk mengetahui bagaimana sih aktivitas di studio senam di sana. Teryata asyik! Keesokan harinya, saya datang bersama pengasuh Ayyas. Biar nggak sendirian. Nah teryata saat saya ke sana pertama kali saya tidak lihat bahwa harus menggunakan sepatu. Alhasil, saya dan pengasuh Ayyas ikut kelas senam Body Language (BL) tanpa sepatu. Kami berkenalan dengan beberapa orang. Instruktur senamnya ramah dan tak segan memperbaiki posisi kita ketika posisi tubuh kita kurang tepat. Untuk biaya per kedatangan bagi kelas BL adalah Rp 20 ribu. Sedangkan u

Baca selengkapnya »

Tugas Malam

Rabu, 21 Mei di malam hari. Ayyas tak juga terlelap. Sebelumnya, ia merengek agar saya tak ke kantor. Padahal seharian saya bersama dia. Hari ini saya bertugas untuk piket malam. Ayyas merasa sedih karena malam itu ia tidur dengan pengasuhnya. Bukan dengan saya atau bapaknya. Sang bapak sedang dinas ke luar kota. Tapi rengekan itu kemudian hilang. Ia melepas saya dengan senyum. Mencium tangan saya dan berkata,”Hati-hati, Ummi”. Saya memeluknya dan merasakan kebesaran hatinya melepaskan saya pergi. Sebelum pergi kerja, saya dan Ayyas bermain. Kami tertawa, saling memandang dan berpelukan. “Ummi cinta Ayyas,” kata saya padanya. Dia pun berkata demikian. Kami pun berpelukan. Dia meminta saya bermain tebak-tebakan. “Sudah lama sekali kita tidak main tebak-tebakan,” katanya. Tapi sebelum bermain tebak-tebakan, kami bermain saling pandang. Caranya mudah. Kami harus saling pandang, tapi tidak boleh saling berbicara. Mulut harus tertutup rapat. Ah, pada permainan ini saya kalah. Saya

Baca selengkapnya »
[name=Rach Alida Bahaweres] [img=https://2.bp.blogspot.com/-nU7vyrF6_rE/WWw9fpyD9kI/AAAAAAAADWA/7zfkXenvrN8MH6Q4lAACPTciMJaet1lGACLcBGAs/w345-h245-c/Alida.png] [description= Saya Alida. Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com] (facebook=https://www.facebook.com/rach.bahaweres) (twitter=https://twitter.com/lidbahaweres) (instagram=https://www.instagram.com/lidbahaweres)

Follow @lidbahaweres