Top Social

TRAVEL AND LIFESTYLE BLOGGER

Perjalanan Umrah Backpacker Keluarga dari Jakarta-Kuala Lumpur-Madinah Maret 2018

Rabu, Maret 28, 2018
Alhamdulillah …
Segala sesuatunya terjadi atas ijin Allah. Tahapan-tahapan yang saya lakukan saat pelaksanaan umrah backpacker alhamdulillah mendapat respon positif dari banyak orang.  Tulisan saya berdasarkan pengalaman saya. Banyak orang yang japri menanyakan mana yang lebih baik, apakah semuanya dihandle oleh travel atau menggunakan Umrah Backpacker (Ubepe). Kalau saya, semuanya tergantung pada diri sendiri.  


Tulisan saya kali ini akan menceritakan tentang perjalanan umrah secara bertahap mulai dari berangkat dari Jakarta, transit ke Kuala Lumpur hingga mendarat di Madinah.
 
Pesawat Saudi Airlines yang kami tumpangi 
Tepat pada Kamis, 8 Maret pukul 01.00 WIB saya sekeluarga tiba di terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Pesawat berangkat jam 5 pagi dan kami teryata tiba terlalu cepat tapi ya alhamdulillah tak pakai adegan terlambat karena ini perjalanan kami sekeluarga tanpa pendamping dari travel.

Di bandara Soekarno Hatta, kami janjian dengan Pak Ricky Dirgantara salah satu jamaah Ubepe juga. Tepat pukul 03.00 WIB, kami melakukan self check in dan satu jam kemudian kami antri memasukkan koper ke bagasi saat loket check in dibuka. Selama proses menunggu ini, anak sempat tidur selama beberapa jam dan kami bangunkan saat akan ke imigrasi.

Pas pemeriksaan di imigrasi, dua sambal botol tidak lolos karena melebihi 100 ml. Saya agak heran karena sambal bukan dalam bentuk cair tapi kenapa tak lolos ya. Sambal itu saya beli online dan baru datang siang harinya. Akhirnya dipasrahkan saja daripada beradu argumen.
 
Ayyas membawa buku untuk menulis perjalananya :) 
Usai pemeriksaan, kami agak terburu-buru untuk ke toilet dan ambil air wudhu agar dapat melaksanakan shalat subuh di pesawat. Sebetulnya saya berharap bisa shalat subuh dulu di bandara tapi teryata pukul 04.30 WIB kami sudah harus memasuki pesawat.

Dari Jakarta, kami menggunakan pesawat AirAsia. Harga tiket AirAsia ini sudah termasuk dengan harga paket umrah yang saya beli dari Ubepe MUSAHEFIZ (totalnya Rp 18,3 juta). Setelah menunaikan shalat subuh, saya langsung tertidur sebentar. Tak lama, pramugari dan pramugara menyebut nama kami berenam dan minta ditunjukkan tiket. Setelah itu, kami masing-masing diberikan paket makanan dan minuman. Setelah clingak clinguk lihat kiri dan kanan, teryata tak semua mendapat paket sarapan pagi ini. Jadi ya alhamdulillah kami tak perlu lagi repot memikirkan sarapan.

Perjalanan hampir dua jam berjalan dengan lancar. Ayyas bahkan tertidur hingga hampir tiba di Malaysia sehingga ia tak sempat sarapan (sarapannya saya bungkus dan suap setelah tiba di bandara Kuala Lumpur).

Tiba di Bandara Kuala Lumpur
Awal memasuki bandara KLIA 2, Kuala Lumpur, saya langsung mencoba mengaktifkan wifi bandara. Alhamdulillah langsung terhubung dan saya kabarkan di grup Ubepe MUSAHAFIZ bahwa kami telah tiba dengan selamat.

Sambil perjalanan menunju penggambilan bagasi, kami mendapat informasi bahwa ada dua orang (suami istri). Belum sempat saya menghubungi mereka berdua, eh teryata mereka pas ada di belakang saya. Karena mereka menggunakan seragam, jadi lebih mudah mengidentifikasi. Alhamdulillah …

Kami ber-8 langsung menuju ke imigrasi dan naik KLIA Ekspress dengan membayar 2 RM. Perjalanan dari KLIA 2 ke KLIA 1 hanya sekitar 10-15 menit dan ada sensasi yang menyenangkan saat pertama kali naik KLIA Ekspress ini.




Istirahat di sebelah sini nyaman buat tiduran :) 
Setelah mengetahui loket check in Saudi Airliness, saya sekeluarga baru sadar bahwa salah satu koper saya malah pecah. Duh, sedih karena ini koper baru kami. Suami akhirnya diam-diam pergi membeli lagi koper di bandara seharga 300 RM karena katanya tak memungkinkan lagi untuk menggunakan koper lama kami. Hikss ….

Awalnya kami sempat menunggu di kursi yang terletak di samping counter Saudi Airlines namun kemudian kami berpindah ke depan Mushalla yang terletak di lantai yang sama. LOkasinya agak nyempil tapi ada kursi jadi bisa buat tiduran dan tak perlu jauh untuk shalat dan makan siang. Pas banget di sampingnya ada KFC yang menyediakan makanan sekitar 14 RM sehingga kami pun bergantian membeli makanan.

Pesawat Saudi Airlines yang seharusnya terjadwal pukul 15.00 kemudian delay menjadi pukul 17.00. Tiga jam sebelumnya, kami sudah check in. Alhamdulillah kami check bersamaan sehingga tempat duduk kami pun berdekatan. Setelah check in, kami langsung ke bagian imigrasi dan alhamdulillah dipermudah.

Perjalanan Kuala Lumpur-Madinah
Kami menunggu tak sampai satu jam di bandara Kuala Lumpur. Saat kami tiba, pesawat Saudi Airlines telah terparkir seolah bersiap menanti kedatangan kami.  Pesawat Saudi Airlines yang kami tumpangi terdiri dari komposisi 3-4-3. Saya duduk bertiga dengan Bapak Suami dan Ayyas. Sedangkan Pak Ricky dengan Mba Farah dan Mas Ghaffar.

Ayyas tampak antusias dengan mencoba bermain games di layar yang ada di depannya. Ia pun mencoba berulangkali aneka permainan dan menonton film. Sedangkan saya? Berusaha untuk tidur karena lebih berharap perjalanan ini bisa saya lalui dengan tidur. Dalam perjalanan, pramugari menawarkan Bapak Suami untuk menggunakan kursi penumpang yang teryata kosong.



Alhamdulillah menyenangkan perjalananya

Kesempatan ini diambil oleh Bapak Suami yang memilih duduk tepat di belakang kursi saya agar Ayyas tidur lebih nyenyak dan pulas. Sebetulnya bapak meminta saya duduk menemaninya biar kayak suami istri :p, tapi saya nggak enak membiarkan Ayyas yang tidur di pangkuan bisa terbangun. Tapi yang terjadi, saat ada turbulensi, kami berdua saling berpegangan tangan. So Sweeet ….

Terpisah tempat duduk
Setelah perjalanan lebih dari 9 jam, alhamdulillah kami pun tiba di bandara Madinah Amir Muhammad bin Abdul Aziz. Ini pertama kali saya mendarat di bandara ini dan alhamdulillah bandaranya masih bersih dan nyaman. Kami tiba di bandara Madinah sekitar pukul 8 malam (Sekitar jam 12 malam waktu Jakarta).
 
Antrian di bagian imigrasi. Penuh banget kan ya ...
Pukul 8 tiba di bandara Madinah kondisi agak ngantuk dan Ayyas terlihat capek. Apalagi antrian di imigrasi sangat penuh dan panjang. Alhamdulillah Allah memberikan kemudahan bagi saya dan Ayyas untuk memotong antrian sehingga tak terlalu lama mengantre. Bahkan dalam antrian itu, saya sempat ngobrol dengan calon jamaah lain dan sempat menawarkan kami minum.

Proses di keimigrasian berjalan dengan lancar, tak ada kendala berarti. Alhamdulillah saat proses imigrasi selesai, koper-koper kami teryata telah diletakkan di suatu tempat. Pas banget Pak Mustafa dari pihak Ubepe mengatakan kalau ada yang menawari untuk di urus kopernya bilang saja tak usah karena kuatir akan dimintain uang. Nah pas kami akan menggambil koper, beberapa orang menawarkan diri untuk mengambil koper dan kami tolak.
 
Bandara Madinah  Amir Muhammad bin Abdul Aziz
Saya langsung terhubung dengan sopir bus yang menunggui kami di luar bandara. Sopir busnya berasal dari Madura dan ramah. Kami pun di antar menuju hotel ODST yang terletak sekitar 150 meter dari Masjid Nabawi. Sekitar pukul 11 malam, kami tiba di hotel ODST dan langsung makan malam (disediakan travel dalam bentuk nasi box), dan  kami istirahat agar bisa melakukan ibadah shalat di Masjid Nabawi. Alhamdulillah … Semuanya dimudahkan …





34 komentar on " Perjalanan Umrah Backpacker Keluarga dari Jakarta-Kuala Lumpur-Madinah Maret 2018 "
  1. wah sambelnya terus dikemanain ummi?iya yah padahal bukan cairan kok iso diambil..koper pecah pun mungkin dilempar2 y ummi tp alhamdulilah yah perjalanannya lancar 😻

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di buang, Bun. Lalu aku sedih :(
      tapi ambil hikmahnya juga kuatir kalau makan sambal kebanyakan bisa sakit perut :p

      Hapus
  2. Rasanya seperti ikut menikmati perjalanan mba Al. Semoga aku bisa datang ke baitullah yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin, mbaa. Semoga suatu saat nanti ya mba :)

      Hapus
  3. Alhamdulillah dilancarkan, Mbak. Jadi sambal juga gak boleh, ya? Harus sachet kali, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tuh sambalnya entah kenapa ga lolos. Alasannya lebih dari 100 ml :(

      Hapus
  4. Wah ada turbulensi juga ya, Mba Al. Enaknya lgsg ke Madinah ya. Jadi hemat waktu. Dan waktu ibadahnya makin banyak. Puas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu dia, mba Ade. Aku senang banget. Alhamdulillah mbaa

      Hapus
  5. jadi mo umroh backpacker. semoga dipermudah jadi bisa ke tanah suci

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah barokallah mbak alida dah diperkenankan menginjak tanah para nabi. aku jg mau deh

    BalasHapus
  7. Alhamdulillah, aku nunggu kesiapan mental bange yang jelas. Apalagi mengajak Babam tapi kalau niatnya baik Insha Allah aman dan tentram yah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Segalanya semoga dimudahkan perjalanannya ya mbaa :)

      Hapus
  8. Aku selalu merinding baca kisah perjalanan religi. Ditunggu lanjutannya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telah mampir dan membaca ya mba :)

      Hapus
  9. Alhamdulillah mbak, kapan ya bisa umroh bareng keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk mba Tati. Semoga kita dimudahkan ya mbaa. Aamiin

      Hapus
  10. Wah sampainya di madinah langsung ya, mbak bukan di jeddah. Semoga nanti saya bisa ke sana lagi bersama keluarga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya alhamdulillah mba. Itulah yang bikin senang juga. tak perlu capek juga :)
      Aamin doanya ya mbaa

      Hapus
  11. Ya Allah...
    Baca ini kok airmata saya jatuh ya...seakan membayangkan saya berada disana. Semoga suatu saat saya bisa mengunjungi Baitullah...Amin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya Allah Mak Tinaa. Aku padamu, Maakk :*

      Hapus
  12. Aku makin tertarik nih dengan umroh backpacker. Smoga bisa terlaksana thn dpnlah, Amiin krn tahun ini fokus ke haji orangtua dulu. Setelah itu mulai deh colek colek Mba Al utk ngepoin umroh backpakeran wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamin, Mba Dewi. Semoga dimudahkan ya mbaaa

      Hapus
  13. Alhamdulillah, bisa umroh sekeluarga, ya! Orang tua saya juga abis berkunjung ke tanah suci, tapi sayang saya belum berkesempatan :'D Semoga bisa umroh backpacker atau umroh bersama semua anggota keluarga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin insyaAllah suatu saat nanti ya mbaa :)

      Hapus
  14. Wah sambelnya gak boleh dibawa ya.
    Ooo jd sebaiknya koper2 diurus2 sendiri ya mbak?
    Untung perginya sekeluarga ya jdnya gak terlalu repot masalah koper.
    Tengkyu sharingnya mbak Al.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa aku lebih nyaman pas check in urus koper sendiri karena bisa duduk dekat dekatan mbaa

      Hapus
  15. wah harus bisa mandiri ay kalau bacpakeran spt itu, kalau ikut travel kan tinggal duduk manis

    BalasHapus
  16. Seru yaa Umrah ala backpacker, tapi bukan berarti hanya bawa tas ransel doank kan hehe. Barang bawaannya pasti segambreng juga :)

    BalasHapus
  17. Wah... aku bacanya sampai terharuuu nih. Bersejarah banget kayaknya dari awal hingga akhir tulisannya hehe. Mulai sambal sampai pecah kopor trus kudu beli baru 300 RM yah 😊 Itu jadi ga semua dpt sarapan? Alhamdulillaah mb Al dapat ya. Papanya dan si kecil keliatan bahagia banget. Mb Al juga. Mudah2an aku sekeluarga juga bisa umroh suatu hari nanti kayak mb ya aamiin.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa pas itu aku dapat sarapan, mba. Alhamdulillah jadi nggak perlu ribet :)

      Hapus

Auto Post Signature

Auto Post  Signature