Top Social

TRAVEL AND LIFESTYLE BLOGGER

Lian Gogali, Perempuan Agen Perdamaian dari Poso

Jumat, November 10, 2017
Tak mudah untuk merajut luka akibat konflik antar golongan. Namun Lian Gogali, perempuan berusia 37 tahun ini menggumpulkan perempuan-perempun korban konflik Poso kemudian mendirikan Sekolah Perempuan Mosintuwu dan mendorong gerakan perempuan dalam pembangunan desa-desa di Kabupaten Poso.

Saya mengenal Lian Gogali pada tahun 2013 saat membaca profilnya disebuah media massa nasional. Komunikasi antara saya dan Lian kemudian berlanjut melalui sambungan telepon karena saya di Jakarta dan Lian di Poso. Dua tahun lalu, tepatnya tahun 2015 media tempat saya melakukan peliputan profilnya di Poso. Kiprahnya yang menginspirasi membuat saya ingin segera berjumpa dengannya dan ngobrol tentang kiprahnya.
 
Lian Gogali 
Beruntung, Senin, 6 November 2017 saya terhubung dengannya melalui whatsapp. “Saya akan penerbangan dari Poso ke Jakarta. Kita ketemu di Wisma PGI untuk ngobrol, bisa?” katanya. Sehari kemudian, sepulang kerja saya langsung menemuinya di Wisma PGI Jalan Teuku Umar, Jakarta. Setelah menunggu hampir satu jam, saya pun bertemu dengannya.

Walau baru pertama kali bertemu, saya merasakan seperti berjumpa dengan sahabat lama yang terpisah jarak dan waktu. Kami kemudian duduk dan ngobrol di sudut ruangan Wisma PGI yang nyaman. Ia menceritakan kesibukannya selama di Jakarta mengikuti pertemuan dengan teman selama dua hari. “Besoknya saya harus ke Surabaya untuk mengikuti agenda lain,” katanya.  Pertemuan selama 1,5 jam itu menceritakan tentang kiprah ia selama ini dan berbagai upayanya agar Poso bangkit.

Lian Gogali adalah perempuan Poso yang mengisiniasi perdamaian kepada perempuan saat konflik Poso. Lian mendirikan Sekolah Perempuan Mosintuwu dan membangun kepercayaan antar kelompok perempuan, melatih perempuan untuk tak ragu menyampaikan pendapat dan mengajarkan kesetaraan gender.

Semua bermula saat ia masih tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana Fakultas Budaya dan Agama Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta  yang melakukan penelitian terkait kekerasan dan politik ingatan. Selama hampir 1,5 tahun ia bolak balik Jogjakarta-Palu untuk melakukan penelitian kepada perempuan korban Poso.     

Lian Gogali mewawancarai banyak perempuan sebagai respondennya. Ada kisah seorang ibu yang bersembunyi selama tiga hari di toilet bersama anak. “Saya menemukan bahwa perempuan mengalami kekerasan berlapis akibat konflik tersebut,” ungkap Lian. Cerita awal yang muncul memang lebih menceritakan tentang permusuhan antar kelompok yang bertikai. Namun berkat ketekunannya ia menemukan kisah-kisah perempuan yang saling menolong antar kelompok yang bertikai. Kisah-kisah itu kemudian dia rangkum dan membuatnya yakin bahwa perempuan adalah agen perdamaian.

Salah satu kegiatan Sekolah Perempuan. Sumber : Mosintuwu.com
Penelitian-penelitian itu kemudian ia tulis menjadi tesisnya bertema konflik Poso di Fakultas Budaya dan Agama Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Ketika ia merasa ‘tugasnya’ selesai, ia dihadapkan dengan pertanyaan yang berulangkali disampaikan kepadanya. “Lalu abis nulis penelitian apa yang dilakukan?,” kata salah satu responden yang kerap ditemuinya. Pertanyaan itu dan kemudian kisah-kisah perempuan yang menjadi korban konflik semakin tergiang-ngiang di kepalanya. Lian dihadapkan pada dua pilihan, menetap di Jogjakarta atau memulai sesuatu yang baru di Poso. Namun untuk meninggalkan Jogjakarta pun mudah.

Ia telah memiliki pekerjaan tetap di Jogja dan berada dalam kondisi hamil tanpa suami. Pulang ke Poso, baginya, berarti harus siap dengan ‘kutukan sosial’ yang akan dilekatkan pada dirinya. Namun setelah melalui pertimbangan panjang, ia memilih kembali pulang ke Poso dengan segala resiko yang harus dihadapi. Baginya, semua ini adalah perjalanan spiritual yang harus dilewati dalam kehidupannya.

Tahun 2010 ia mendirikan Sekolah Perempuan (SP) yang bernama Mosintuwu –dari bahasa Poso yang artinya “hidup bersama”. Walaupun namanya Sekolah Perempuan, jangan bayangkan Sekolah Perempuan dilaksanakan di bangunan khusus. Sekolah Perempuan adalah ruang alternatif belajar membentuk peradaban berpikir yang baru sehingga perempuan terlibat dan mampu menyampaikan pendapatnya. Pilihannya menggunakan  kata ‘Sekolah’ untuk menguatkan unsur pendidikan dalam aktifitas itu. Pendidikan, seperti yang tertulis di independen.or.id memberi ruang bagi seseorang untuk mengembangkan diri.

Mengapa perempuan? Lian melihat perempuan adalah agen perubahan perdamaian. “Perempuanlah yang pertama kali memunculkan pasar yang kemudian mempertemukan kelompok yang bertikai,” kata Lian kepada saya. Peran perempuan di Poso semakin terpinggirkan pasca konflik. Padahal perempuan Poso dulunya memiliki peran yang sangat penting.

Perempuan merupakan pemimpin spiritual karena mampu melahirkan dan dianggap sebagai sumber kehidupan. Perempuan Poso dulunya yang menentukan kapan tanggal pernikahan dan kapan waktu yang tepat untuk menanam padi. Selain itu, perempuan Poso dulunya adalah tabib yang mampu mengobati dan tahu segala jenis obat. Perempuan  Poso juga sebagai hakim karena mampu memberikan keputusan yang bijak dan mampu bernegosiasi dengan baik untuk mengambil keputusan

Namun pada era kolonial, empat peran perempuan itu hilang. Dan hanya laki-laki yang mendapatkan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Pasca konflik, peran perempuan semakin terpinggirkan.

“Sekolah Perempuan didirikan untuk membangun peradaban di Poso pasca konflik agar damai dan adil,” ungkap Lian panjang lebar. Perempuan katanya, memiliki kekuatan untuk mengubah menjadi lebih kehidupan yang lebih baik.

Lian bersama tim kemudian datang dari satu rumah ke rumah lainnya untuk mengajak perempuan yang berasal dari berbagai latar belakang agama dan yang hanya mampu menempuh pendidikan maksimal SMP (Sekolah Menengah Pertama).

Para perempuan diajak ngobrol tentang permasalahan yang mereka hadapi dan diberi kesempatan untuk mengungkapkan solusi yang diinginkan. Bagi saya, apa yang dilakukan ini adalah upaya Lian untuk memberikan kesempatan perempuan untuk menyatakan pendapatnya.

Penolakan bergabung sebagai anggota Sekolah Perempuan muncul karena menganggap bahwa mengikuti Sekolah Perempuan membuat perempuan tak memperhatikan urusan rumah tangga.
Muncul pula asumsi bahwa jika ikut SP, ibu-ibu berbicara lebih lantang dan melawan. “Beberapa sempat mengancam lewat SMS,” ungkapnya.
 
Lian Gogali bersama anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu. Sumber : Mosintuwu.com
Setelah terkumpul 80 orang yang berasal dari 14 desa, Sekolah Perempuan itu pun dijalankan. Permasalahan muncul karena perempuan korban konflik itu hadir dengan membawa trauma dengan ketakutan atas konflik yang dihadapi. Dan ketika bertemu dengan kelompok lain, trauma itu pun muncul. Kegiatan tidur bersama-sama selama tiga hari agar lebih membaur pun gagal total. Tak ada pun yang mau melakukan kegiatan itu. “Mereka trauma dan takut. Bahkan ada yang takut dibunuh,” kata Lian.

Perempuan-perempuan itu datang dengan kondisi marah karena menjadi korban konflik. Saat pertama kali dipertemukan, para nggota tak mau saling bertatap muka bahkan duduk saling berjauhan. “Kalau istilah ibu-ibu, mereka pengen saling gigit,” ungkapnya.

Lama kelamaan, secara perlahan, melalui pendidikan perempuan diajarkan tentang toleransi dan perdamaian serta kesetaraan gender. Lian mengundang akademisi, budayawan, tokoh masyarakat, dan kaum perempuan untuk mendiskusikan kebutuhan bahan kurikulum. Lantas materi yang masuk dielaborasi Lian dengan bantuan Jhon Lusikooy, seorang akademisi yang juga aktivitis sosial di Tentena.

Sekolah Perempuan pun dilaksanakan selama setahun untuk setiap angkatan. Dalam sebulan dilakukan 4 kali pertemuan. Dan setiap kali pertemuan berlangsung selama 5-6 jam. Tempat dilaksanakan Sekolah Perempuan dilakukan di setiap desa di rumah warga secara bergiliran. “Kadang juga Sekolah Perempuan dilakukan di pasar atau di dapur. Semuanya fleksibel,” kata Lian.

Perempuan anggota Sekolah Perempuan dilibatkan dalam penentukan jadwal sekolah, lokasi sekolah hingga materi yang akan dibahas namun tetap berdasarkan kurikulum yang telah dibuat. Kurikulum menitikberatkan pada banyak hal termasuk terkait agama, toleransi, perdamaian, gender dan hak atas tanah.

Lian Gogali. Sumber foto : Tempo.co
Kurikulum Sekolah Perempuan Institut Mosintuwu disusun dalam sembilan komponen, yaitu: 1) Agama, Toleransi dan Perdamaian; 2) Gender; 3) Perempuan dan Budaya; 4) Kesehatan Seksual dan Hak Reproduksi; 5) Perempuan dan Politik; 6) Ketrampilan Berbicara dan Bernalar; 7) Hak Layanan Masyarakat; 8) Hak ekonomi, sosial dan budaya dan Hak Sipil Politik; dan 9) Ekonomi Solidaritas.

Bahasa yang digunakan saat penyampaian materi adalah bahasa yang mudah dipahami oleh seluruh anggota Sekolah Perempuan. Namun tak semuanya proses belajar di Sekolah Perempuan belajar lancar. “Sekolah bisa batal ketika ada yang pesta atau kegiatan lain,” kata Lian.

Berkat ketekunan, kerja keras Lian dan didukung seluruh anggota Sekolah Perempuan, dampak positif pun semakin terasa. Perubahan paling nyata, menurut Lian, dirasakan para perempuan peserta SP sendiri. Setelah mengikuti Sekolah Perempuan itu lama kelamaan mereka mulai paham, saling menghormati dan terbuka terhadap perbedaan agama.

Angkatan kedua kemudian dilaksanakan dengan melibatkan lebih banyak lagi perempuan yakni 100 orang yang berasal dari 24 desa. Jika angkatan pertama membahas tentang perdamaian dan toleransi, angkatan kedua fokus pada isu kesetaraan gender, hak-hak perempuan. “Sekolah perempuan tak hanya mengurusi soal perdamaian saja melainkan harus menjernihkan sejarahnya sendiri,” katanya lagi.  

Wisuda Sekolah Perempuan Mosintuwu. Sumber foto : Mosintuwu.com
Melalui Sekolah Perempuan, Lian membangun interaksi antar perempuan untuk membangun kepercayaan yang dulu sempat hilang. Kini, Sekolah Perempuan telah memasuki angkatan ketiga yang lebih menitikberatkan pada kekuatan perempuan di bidang ekonomi, budaya, sosial, dan politik.

Sekolah Perempuan awalnya digagas untuk pemulihan dan perdamaian pasca konflik bersenjata di Poso dengan perempuan sebagai agen perubahan. Sejalan waktu, ide bergulir menjawab tantangan terkini, yaitu peran aktif perempuan dalam pembangunan desa untuk menyambut UU tentang Desa No 6 tahun 2014 yang dipercaya menjadi alat perjuangan yang penting bagi pemajuan perempuan dan masyarakat pada umumnya. Isi kurikulum pun telah menjalani perubahan sejak angkatan pertama Sekolah Perempuan karena mengikuti perubahan tantangan di lapangan.

Berkat dedikasinya, 20 Maret 2015, Lian mendapat penghargaan Coexist Prize di Skirball Center, Universitas New York, Amerika Serikat. Penghargaan internasional dari Coexist Foundation yang bermarkas di Inggris itu diberikan kepada mereka yang dianggap sebagai unsung hero, sosok tidak dikenal yang bekerja dan memperjuangkan isu perdamaian serta gerakan interfaith. 

Institut Mosintuwu juga mendapatkan Maarif Award 2016 dari Maarif Institute karena dianggap berhasil mengorganisir kelompok perempuan dan anak-anak korban konflik di Kabupaten Poso dalam membangun kehidupan perdamaian, dan mendorong gerakan perempuan dalam pembangunan desa-desa di Kabupaten Poso.

Kini, perempuan-perempuan lulusan Sekolah Perempuan Mosintuwu kini telah bangkit dari trauma akibat konflik dan menjadi agen perubahan. Perempuan, seperti yang termuat di independen.id dilatih untuk melawan ketakutan untuk berpikir kritis. Perempuan-perempuan lulusan Sekolah Perempuan pun telah banyak terlibat dalam proses pengambilan keputusan di pemerintah.

Saya dan Lian Gogali 
Irna, salah satu anggota Sekolah Perempuan Mosintuwu saat diwisuda pada 7 November 2015 mengatakan, “Saya tidak tamat SD. Tapi, di Sekolah Perempuan, saya mengalami banyak perubahan dan saya belajar banyak. Saya juga belajar banyak tentang toleransi antar umat beragama. Sekarang saya dipercaya menjadi ketua RT,” kata Irna seperti dikutip dari website Mosintuwu.

Lian merupakan perempuan yang menebar pesan perdamaian dan berhasil membuat perempuan menjadi agen perubahan. 



Sumber referensi :
http://www.mosintuwu.com/
78 komentar on "Lian Gogali, Perempuan Agen Perdamaian dari Poso"
  1. Inspiratif bnget perempuan ini berani judulnya tambah lagi daftar kekaguman orang2 baik,,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Utie. Semoga menginspirasi ya apa yang sudah dilakukan oleh mba Lian

      Hapus
  2. Lian itu pendobrak masa. Semangat menambah ilmu dan berbagi kepada para perempuan harus diacungi jempol dan patut ditiru. Meskipun ga tamat SD tapi ia dipercaya menjadi pemimpin warga. Hebat!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dia berhaisl membuat ibu2 yang nggak tamat SD untuk maju dna itu terbukti

      Hapus
  3. Inspring bgt Mbak, bener memang perempuan itu agen perubahan. Kekuatan perempuan itu kasat mata tapi nyata adanya

    BalasHapus
  4. Luar biasa yang dilakukan mbak Lian. Meskipun dirinya juga mengalami konflik pribadi, tetapi tetap berjuang mewujudkan mimpi. Semoga menginspirasi kita untuk terus berbuat baik pada sesama. Salut ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Perjuangan itu yang harus menginspirasi kita ya mba :)

      Hapus
  5. Kalau dengar nama kota "Poso" emang yang langsung terbayang kejadian kerusuhan itu mbk Al. Wah salut sama Lian, bisa memberi pemahaman tentang toleransi dan perdamaian kepada ibu2. Ibu2 ini emang menurutku penting utk "dipegang" soalnya mereka kan yg berperan besar ngajarin anak2nya. TFS

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah. Tapi sayangnya dulu perempuan tak mendapat tempat untuk bersuara mba

      Hapus
  6. Jasi ingat masa aku muda wkekwk, setidaknya aku sepemikiran dengan Lian. Wanita seolah remeh temeh karena budaya banyak tidak berpihak,tapi sesungguhnya di rahimnya ada semesta

    BalasHapus
    Balasan
    1. Skarang kan juga masih muda, mba Eni. Hehhehe
      Padahal perempuan sangat powerfull ya mba :)

      Hapus
  7. Wow, Salut membaca perjalanan hidup Lian dan sekolah perempuan di Poso. Ia mengajarkan kemampuan praktis pada ibu-ibu di sana, ga hanya pelajaran sekolah. Aku share ya ke teman yang ada di sana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih telh berbagi, mba Helena :)

      Hapus
  8. Lian Gogali, benar-benar perempuan hebat. Sungguh besar perjuangannya mendirikan sekolah perempuan, terutama pesertanya orang-orang yang sudah trauma.

    Dan ini merupakan salah satu pahlawan, iya, Lian Gogali salah satu pahlawan saat ini..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Eri.
      Membangikan perempuan yang alami trauma itu yang tak mudah ya mba

      Hapus
  9. Wanita inspiratif banget karena ga mudah bangkit dari trauma...Kerennnnn banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Amel. SMoga makin banyak yang terinspirasi ya

      Hapus
  10. Wah...luar biasa sekali perjuangan mba Lian ini, memperjuangkan demi apapun juga. Sangat menginspirasi sekali buat siapa saja

    BalasHapus
  11. Wah...luar biasa mba Lian ini, memperjuangkan demi apapun juga. Seorang peremouan yg menebar pesan perdamaian, sangat menginspirasi sekali buat siapa saja

    BalasHapus
  12. Waah.. Idenya keren banget. Butuh keberanian dan dana yg mgkn ga sedikit utk membangun sekolah perempuan di poso. Tapi memang butuh banyak perempuan2 model mba lian ini.

    Masih banyak perempuan2 di pelosok yg butuh edukasi. Inspiring.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Ade Ufi.
      Tak mudah loh untuk melakukan seperti yang dilakukan oleh mba Lian dan itu padahal diperlukan :)

      Hapus
  13. Suka sama perempuan tangguh seperti Lian Gogali. Inspiratif sekali dan dapat dituliskan dengan baik. Terimakasih ya mbak :)

    BalasHapus
  14. Inspiratif banget mbak, trauma pasca konflik memang butuh kepercayaan diri untuk tampil kembali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan itu membutuhkan waktu yang lama ya mbaaa

      Hapus
  15. Wanita hebat, cuma bagian yang hamil tanpa suami maksudnya suaminya pergi atau gimana mba? Maaf agak kepo. Semoga makin banyak perempuan hebat yang bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. DIa memutuskan tidak menikah, mba :)
      Iya perempuan yang mengispirasi banyak orang ya mba

      Hapus
  16. Saluteee! Kagum dan bangga pada sosok Mbak Lian, benar-benar perempuan berani tangguh dan perkasa :) nice post mbak Alida, terima kasih sudah berbagi ya .. salam kenal dari Kota Bondowoso

    BalasHapus
  17. Yunike Damayanti12 Nov 2017 23.45.00

    Saya baru ini mendengar tentang Lian Gogali. Hidupnya dan perjuangannya tidak mudah. Urusan perempuan ternyata tidak melulu 'me time' tapi bisa juga melakukan hal-hal besar dan berdampak positif buat banyak orang. Terimakasih sudah mengenalkan sosok inspiratif ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak perempuan yang menginspirasi mba yang smoga bisa menularkan semangat bagi yang lain

      Hapus
  18. Perlu banyak perempuan inspiratif seperti Lian Gogali ini di Indonesia, setelah baca ini, spiritnya pasti menular ke banyak perempuan termasuk aku :)

    BalasHapus
  19. Suka banget aku sama sosok seperti ini. Benar memang menginspirasi banyak orang itu bisa dimana saja dari belahan bumi ini. Agar perempuan dapat terbuka mengungkapkan apa yang dirasakannya

    BalasHapus
  20. Ini mah keren dan Inspiratif banget mba. Sukaaaa. Tulisan yang menarik neh.

    BalasHapus
  21. Terima kashih saring tulisannya inspiratif, salut samaLian Gogali yang terjun langsung ke akar permasalahan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Jadi terbantu banyak orang ya mba

      Hapus
  22. Perempuan memang mudah dijadikan korban kalau bukan perempuan sendiri yang bangkit dan berjuang sulit mendapat perubahan, kagum dengan Lian yang begitu tangguh, semoga semakin banyak sosok perempuan sepertinya

    BalasHapus
  23. Waaah perempuan hebat dan menginspirasi sekali. Btw nama depannya sama denganku hehehe :D

    BalasHapus
  24. Ilmu yang dipelajari saat kuliah di Jogja jadinya sangat bermanfaat untuk kemanusiaan. Salut untuk Mbak Lian Gogali.

    BalasHapus
  25. Setuju dengan istilah "Perempuan Pembawa Perdamaian" perempuan diciptakan dengan kelebihan rasa, dengan rasa maka lebih peka terhadap lingkungan sekitarnya. Sosok Inspiratif, Thanks Mba Al sudah memperkenalkan sosok Lian Golali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kepekaan itu memang lebih banyak dilakukan oleh perempuan ya mba :)

      Hapus
  26. Serem ya konflik Paso dan Ambon dulu tapi beritanya sedikit karena tekanan orde baru.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beritanya banyak mbaa.
      Banyak media yang meliput informasi ini. Bahkan setlaah 10 tahun aku ke Ambon untuk khusus liputan ini selama 10 hari :)

      Hapus
  27. Inspiratif sekali wanita ini (Lian). Ini baru dinamakan Kartini modern. Membuat perubahan yang signifikan terhadap kaumnya sendiri. Sekolah bukan hanya "duduk" di bangku sekolahan, tapi belajar bersama tanpa melihat perbedaan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ish aku suka kalimatmu mba. Sekolah bukan hanya "duduk" di bangku sekolahan, tapi belajar bersama tanpa melihat perbedaan.

      Hapus
  28. Wah beruntung banget ya, ketemu perempuan yang menginspirasi. Strong melebihi superman

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah jadi terinspirasi ya mbaaa

      Hapus
  29. Kisahnya Inspiratif sekali, mbak. Isu-isunya sangat bermanfaat bagi perempuan dan bisa diterapkan di segala zaman, khususnya tentang menyebarkan perdamaian dan toleransi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener banget mba. SMoga makin banyak yang kemudian terinspirasi

      Hapus
  30. Wahh... spechless mau nulis apa. Karena mba rach mengemasnya lengkap dan apik.

    Terlepas dari itu semua Indonesia ini butuh sosok seperti Lian Golali.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kaish sudah mampir dan membaca ya mba :)

      Hapus
  31. Mba Lian keren banget ya, sosok yang sangat menginspirasi. Kartini jaman now ;D

    BalasHapus
  32. Inspiratif banget Sosok ini, senang bgt ya bisa ketemu dia mba

    BalasHapus
  33. Dari fotonya, Lian terlihat sosok yg sangat ramah dan bersemangat. Cantik ya... Usia kepala 3 tapi sangat aktif. Sampai bisa membuat sekolah perempuan dan bak pahlawan wanita di Poso. Salut!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku juga salut dengan kiprahnya mba

      Hapus
  34. Keren nih, jadi motivasi bacanya. Terlebih bisa kenalan langsung dengan orangnya ya, Teh..

    BalasHapus
  35. Perempuan hebat, inspiratif. semoga Poso sekarang makin membaik & terus mengejar ketertinggalan ya mba.
    Masih suka sedih kalo ingat tragedi dahulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. InsyaAllah sekarang semakin maju dan sellau damai, mba :)

      Hapus
  36. Inspiratif banget ditengah konflik pribadinya ia mampu memilih jalan mana yang akhirnya membuka kesempatan perempuan di POso, merinding bacanya. Ummi beruntung banget bisa kenal sosok inpiratif mba Lian ini :)

    BalasHapus
  37. Sosok perempuan yang sangat inspiratif. :D

    BalasHapus
  38. Lian Gogali keren, menginspirasi banget :)

    BalasHapus
  39. Keren ya..jarang orang yg mau berbuat seperti dia :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Smoga makin banyak yang terinspirasi ya mba

      Hapus

Auto Post Signature

Auto Post  Signature