Top Social

TRAVEL AND LIFESTYLE BLOGGER

Film My Generation : Mencoba Membaca Isi Hati Remaja

Rabu, Oktober 25, 2017
Saya sering mendengar bahwa tak mudah untuk menjalin komunikasi dengan remaja. “Apa yang kita pikirkan berbeda dengan apa yang remaja pikirkan,” kata salah seorang sahabat saya. Benarkah? Saya mengakui bahwa menjalin komunikasi dengan remaja termasuk gampang-gampang susah. Saya pernah memperlakukan itu ke Mba Farah, anak remaja saya yang waktu itu duduk di bangku SMA. Setiapkali dia belum tiba di rumah karena belajar di sekolah bersama teman, saya selalu menghubungi. Padahal dia selalu bilang ke saya kalau pulang agak telat. Tapi ya saya tetap saja panik jika dia pulang telat walaupun tak lebih dari setengah jam. Tapi kemudian Mba Farah sampaikan ke saya “Ummi, aku bukan anak-anak lagi. Aku pasti ngabarin ke Ummi,” katanya. Maklum, terlalu banyak informasi yang membuat saya kuatir dengan perkembangan anak remaja kala itu.

Saya selalu berusaha untuk menjalin komunikasi terbaik dengan anak. Misalnya menanyakan materi sekolah, kegiatan teman-temannya dan masih banyak lagi. Saya bersyukur komunikasi dengan anak berjaan dengan baik. Tapi pernah pulang sekolah langsung masuk kamar dan tak ingin diganggu, saya dan suami memutuskan untuk tak menganggu dan menghormati keputusannya. Tapi keesokan harinya, setelah dia siap bercerita, maka dia akan ceritakan kepada saya dan suami.
 
Picture by : pixabay.com
Saya pernah membaca di Tabloid Nova tentang tiga cara membangun komunikasi dengan remaja. Usia remaja di antara usia 10 tahun hingga 15 tahun telah memiliki fungsi analitis yang lebih matang ketimbang usia kanak-kanak. Agar remaja usia rentang 10-15 tahun, psikolog dan dosen dari Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung, Efnie Indriane menyarankan agar orangtua mau berusaha lebih keras agar dapat menjadi sahabat yang menyenangkan bagi anak-anak remaja. Apa saja tipsnya?

Bersedia Mendengarkan
Anak remaja tak suka didikte dan lebih senang didengarkan. Selain itu, anak remaja pun tidak suka didikte dan lebih menyukai segala keluhannya didengarkan. Saya termasuk orangtua yang harus belajar mendengarkan dari anak remaja karena kebiasaan saya yang seringkali berbicara secara terus menerus. Hanya saja, belakangan sudah mulai dikurangi karena permintaan anak. Hhehee ...

Terima Apa Adanya
Menerima semua cerita anak remaja dengan apa adanya, jangan sampai apa yang dikatakan si anak remaja dihakimi secara sepihak oleh orangtuanya. Terkait ini, saya mengira masih ada kaitannya dengn poin pertama bahwa orangtua juga harus belajar untuk mendengarkan. Karena, jika anak remaja sedang cerita sesuatu lalu orangtuanya menyela sambil menuduh yang tidak-tidak, ia akan cenderung menarik diri dari orangtuanya di kemudian hari. Dampaknya apa? Anak remaja pun merasa kapok untuk menyampaikan kepada orangtuanya.

Tulus Menjadi Sahabat Remaja
Pendekatan secara pertemanan dengan anak menurut saya susah-susah gampang. Paling penting bagi saya adalah mengerti “posisi’. Kapan harus menjadi teman, dan kapan harus bersikap tegas menjadi orangtua. Pendekatan harus dilakukan dengan cara tulus, dari hati ke hati agar ada pembicaraan dan komunikasi anak remaja dan orangtua

My Generation, Film Tentang Isi Hati Remaja
Ada banyak kegiatan yang kemudian dapat dilakukan agar komunikasi dengan anak remaja berjalan dengan baik. Salah satunya melalui nonton film. Tapi, film yang ditonton sebaiknya mengandung pesan positif yang dianggap mampu mendekatkan hubungan antara orangtua dan anak remaja.
 
Empat tokoh di film

Sejak bulan lalu, saya mendapat informasi bahwa 9 November, premier fim My Generation diputar di seluruh bioskop-bioskop di Indonesia. Mungkin ada yang penasaran tentang film itu. Begitupula saya yang berulangkali melihat lagi trailernya dan mengikuti promosi film ini dari waktu ke waktu. Film yang disutradarai oleh Upi ini memperkenalkan empat bintang baru yakni Bryan Langelo, Arya Vasco, Alexander Kosasie dan Lutesha. Empat bintang baru ini seolah ingin menghadirkan semangat baru di bilantika film Indonesia yang pemain utamanya loe lagi, loe lagi. Kehadiran bintang baru yang masih berusia muda seolah memberikan harapan positif bahwa regenerasi itu harus dan telah dilakukan. “Talent-talent ini akan menjadi the next generation dari film Tanah Air yang memiliki modal dasar yang cukup untuk diasah,” kata Adi Sumarjono, Produser IFI Sinema.

Upi tak membiarkan artis remaja-remaja ini bermain ‘sendiri’. Maka muncullah arti-artis senior yang kemampuannya tak perlu diragukan lagi di dunia perfilman. Sebut saja Tyo Pakusadewo, Ira Wibowo, Surya Saputra, Joko Anwar, Indah Kalalo, Karina Suwandhi dan Aida Nurmala.  

Film “My Generation” ini menceritakan empat anak SMU yakni Zeke, Konji, Suki dan Orly. Cerita berawal dari kegagalan keempatnya berangkat liburan karena membuat video yang menjadi viral karena memprotes perilaku guru. Film ini kemudian secara perlahan mencoba untuk mengungkapkan satu persatu sikap keempat anak remaja ini. Orly misalnya dikenalkan sebagai perempuan yang kritis, pintar dan berprinsip. Ia adalah pemberontak jika ada label-label negatif yang diberikan kepada perempuan. Sedangkan Suki adalah perempuan yang memiliki krisis kepercayaan diri dan sayangnya memiliki orangtua yang semakin menumbuhkan sikap ketidakpercayaan diri yang ia alami.
 
Tiga artis di konpres film
Dua anak remaja pria lainnya yakni Zeke dan Konji memiliki perbedaan sifat. Zeke termasuk sangat royal pada sahabat-sahabatnya serta termasuk sosok remaja yang easy going. Namun di luar itu, ia termasuk remaja yang memendam ‘luka’ kepada kedua orangtuanya. Hampir senada dengan ketiga sahabatnya yang memiliki ‘masalah’ dengan orangtua, Konji juga bisa dikatakan bermasalah dengan orangtua yang dinilai kolot dan terlalu over protective.    

Segala problematika yang dialami oleh keempat remaja ini dirangkum setelah melalui masa survey selama hampir dua tahun. Membutuhkan waktu selama satu tahun untuk mengerjakan film, Upi juga mencoba memasukkan berbagai percakapan-percakapan ala millenia.

Setelah mengetahui sinopsis film ini, saya penasaran untuk mengetahui apakah seperti itukah yang diinginkan oleh anak remaja dan tak terkesan berlebihan? Apakah film ini mampu menghadirkan dengan baik remaja dan segala problematikanya? Bagaimana keempat bintang baru ini mampu memainkan film ini?

Bagi saya, film ini sebaiknya ditonton antara anak dan orangtua. Setelah menonton film ini, komunikasi dengan anak kemudian diintensifkan. Penasaran dengan film ini? Jangan lupa menonton langsung film My Generation pada tanggal 4 November di bioskop kesayangan.

  
24 komentar on "Film My Generation : Mencoba Membaca Isi Hati Remaja"
  1. wajib ditonton y ummi buat siapapun karen menggambarkan kondisi zaman now :) *akankah ummi mengajakku nonton?:D

    BalasHapus
  2. saah satu film yang di tunggu ni mbak hehe.. gak sabar tgl 9 nnti

    BalasHapus
  3. Topik topik film zaman sekarang makin banyak aja ya mbak. Saya masih setia sama film yang membahas agent-agent gitu. Hhaahhaha

    BalasHapus
  4. saya jadi penasaran ama film ini.

    BalasHapus
  5. Dan merasa Emak Jaman Now, ga sabar pengen nonton pelem ini, udah aku buletin dikalender tanggalnya Maak,

    BalasHapus
  6. Wah, harus diagendakan buat nonton nih

    BalasHapus
  7. Sebaiknya emang ortu dan anak remajanya nonton bareng. Abis itu kelar nonton duduk bersama, sambil makan mendiskusikan film ini. Moga2 film ini emang sesuai harapan ya mbk. Ada pesan yg bisa disampaikan, bukan sekadar cerita ttg remaja yg memberontak.

    BalasHapus
  8. Aku pun ga sabar untuk segera nonton my generation ini.. ^^

    BalasHapus
  9. Sudah banyak sekali ajaran yang diterima anak anak zaman sekarang dan kalau Kita tidk mampu masuki dunianya mama ajaran Kita dianggap angin lalu oleh mereka

    BalasHapus
  10. saya langsung nyari trailernya di yotube, seru kayaknya sebagai ibu di generasi millenial kita kudu paham ya gimana cara menyikap kids jaman now

    BalasHapus
  11. Aku udah lama banget ga nonton hahhaa. Kayaknya punya anak mending main sm anak... Tpi karena rayyan udah 1 tahun kayaknya seru juga nih nonton filmnya ini sm anak ... Hehehe

    BalasHapus
  12. Punya anak remaja gak gampang yaaa, aduh aku harus banyak belajar, walau masih lama, persiapan ilmunya harus dari sekarang ya Ummi Alida.

    BalasHapus
  13. Wah..ada film remaja jaman now nih 😊 Orangtua harus bisa mendampingi anak sebagai orangtua riil dan sahabat. Anak2 sekarang makin tinggi daya khayalnya tapi tinggi juga kreativitasnya. Kan zaman generasi Z nih mbak Alida. Kalau mau nonton film ini kayaknya mesti ditemenin nih anak2 kita. Pakaiannya agak terbuka soalnya hehe.

    BalasHapus
  14. Moms zaman now wajib nonton ya. Moms zaman olds wajib memahami perubahan anak2 generasi millenials. 😄

    BalasHapus
  15. Menjadi tema mereka adalh langkah terbaik u. Seumuran reaja mngekang malah bukan mid sayang bs ambil ibrahnya d sini,, plg tdk kita sg Tua hrs mananam nilai agama sjk kecil klak dewasa tdk akn apt d film

    BalasHapus
  16. Tipsnya bagus, mba buat bekal saya yang sebentar lagi si Abang jelang remaja. Mgkn disesuaikan dengan karakter remaja masing2 kali ya?

    Intinya memang menjalin komunikasi mesra tuh kunci keharmonisan RT. Ma kasih infonya mba

    BalasHapus
  17. film wajib tonton nih buat wiken bareng adik2ku yg masih sekolah dan mamahku, biarpun umurnya uwes 53 tapi mamah jaman now bangeeet

    BalasHapus
  18. Kudu lebih sabar dan nyediain telinga lebih lebar nih kalo anak2 udah remaja. Jiwa pemberontaknya keluar

    BalasHapus
  19. Ish semakin penasaran deh sama film My Generation.. biasaya film ka upy selalu bagus, semoga film ini juga bagus, apalagi sudah dari hasil penelitian yang cukup lama. Hidup film Indonesia.. kapan kita nonton bareng mba :)

    BalasHapus
  20. Aku deg-degan juga jadinya nunggu Boo sama Mika jadi remaja. Tantangan banget ya mba.. Tapi bener juga kalo kita sebagai ortu mesti dengerin anak. :) Filmnya kayaknya seru ya mba jadi bisa tau apa yg dipingin anak-anak remaja sebenarnya..

    BalasHapus
  21. Sebagai orang tua, aku penasaran dgn film ini tapi aku akan lihat dulu apakah anak remajaku akan siap dgn film ini karena takutnya anak ku blm dpt mengambil pelajaran dr film ini dan khawatirnya nnt malah berpikir bhw tindakan2 yg terjadi dlm film Mba Upi ini adalah hal2 yg dpt dia lakukan juga.

    BalasHapus
  22. Aku mau nonton serombongan almamaterku dan guru nya juga mba. Kebetulan bioskop sebelah sekolah dan mau di booking. Jaman dulu aku sekolah gtu pas masih ada nomat. Karena klo hari senin kita pulang cepet. 1 theater isinya guru ama anak murid hihihi. Harus dengan orang tua atau guru supaya imbang

    BalasHapus
  23. Mbaa, aku sempat baca status siapa gitu yang kontra dengan film ini karena melihat trailernya yang katanya nggak banget, aku juga jadi penasaran seperti apa film ini nantinya, semoga bisa menjawab segala keraguan dan pesannya dapat ya mba

    BalasHapus
  24. Berdasarkan pengalaman dengan si sulung, komunikasi sama remaja memang masanya tarik-ulur. Bahkan saya merasanya, pihak ortu harus lebih banyak pake "mendengar". Kadang mereka cuma butuh didenger bukan dinasihatin. BTW, saya kok miss ya ada film ini?

    BalasHapus

Auto Post Signature

Auto Post  Signature