Top Social

TRAVEL AND LIFESTYLE BLOGGER

Pengalaman Mengunjungi Pameran Lukisan Senandung Ibu Pertiwi

Rabu, Agustus 16, 2017
Salah satu kegemaran saya yang kemudian terabaikan adalah datang ke museum dan menikmati aneka hasil karya seni yang dipamerkan. Namun, hampir lima tahun kegemaran saya itu tak pernah saya lakukan karena beragam alasan. Tapi, ketika tahu bahwa di Galeri Nasional ada pameran lukisan koleksi Istana Kemerdekaan Indonesia berjudul ‘Senandung Ibu Pertiwi’ yang dipamerkan sejak tanggal tanggal 2 hingga 30 Agustus 2017, saya pun langsung berkunjung.  

Sebelum datang ke pameran lukisan itu, harus mendaftarkan diri terlebih dahulu di https://www.bek-id.com/pertiwi/. Nanti ada pilihan tanggal yang bisa dipilih beserta jam kedatangan. Ketika memilih tanggal dan jam, akan tampak berapa jumlah slot yang tersedia. Setelah itu, kita diminta untuk memasukkan data dan email untuk konfirmasi. Walaupun harus registrasi terlebih dahulu, semua proses itu harus dilakukan agar bisa menikmati pameran lukisan secara nyaman.

Galeri Nasional tempat pameran 

Saya datang ke Galeri Nasional pada hari Rabu, 16 Agustus 2017. Akses menuju lokasi cukup mudah yakni naik commuterline dan turun di stasiun Sawah Besar kemudian dilanjutkan mengunakan ojek online dengan hanya membayar Rp 5000. Mudah kan?

Pameran lukisan berjudul ‘Senandung Ibu Pertiwi ini merupakan bagian dari peringatan HUT Proklamasi Kemerdekaan RI ke 72. Pameran lukisan koleksi Istana Kepresidenan ini adalah yang kedua yang dipamerkan. Setahun lalu diadakan pameran lukisan berjudul ‘Goresan Juang Kemerdekaan’. Tahun ini ada 48 lukisan dari 41 perupa pilihan empat kurator yang dipamerkan.
Lukisan-lukisan itu di kumpulkan berdasarkan empat tema yakni pemandangan alam, dinamika keseharian, tradisi dan identitas serta mitologi dan religi.

Oh ya, ada beberapa larangan yang harus dipatuhi agar dapat memasuki ruang pameran yakni merokok, menggunakan jaket, membawa anjing peliharaan, tongsis, makan dan minum di ruang pameran, tas ransel serta dilarang membawa kamera. Walaupun tak boleh membawa tas ransel, tapi ada tas kecil yang dipinjamkan Galeri Nasional dan dapat digunakan oleh pengunjung. Semua informasi ini dapat diperoleh di website http://jadimandiri.org. Pengunjung yang datang kemudian menyimpan tas dan di loker yang disediakan. Setelah itu, masing-masing pengunjung mendapat cap di punggung tangan. 

Pengunjung mendapat cap di tangan
Saat pertama kali datang di ruang pameran yang berada di Gedung A Galeri Nasional, saya dan pengunjung lainnya langsung disuguhkan lukisan raksasa dalam bentuk digital berukuran 294 x 450 cm berjudul Perkawinan Adat Rusia karya pelukis abad ke 19, Konstantin Egorovick Makosvsky. Mengapa lukisan dalam bentuk digital? Karena tak memungkinkan untuk memamerkan lukisan aslinya. Bayangkan, untuk memindahkan lukisan ini membutuhkan delapan  hingga 12 orang hanya untuk proses penurunan lukisan ini. Belum lagi segala proses lainnya yang berpotensi membuat lukisan menjadi rusak sehingga kurator memutukan untuk tak memamerkan lukisan aslinya. Namun, walaupun versi digital, keindahan lukisan ini sudah sangat membuat saya terkagum-kagum. Setelah menikmati lukisan Perkawinan Adat Rusia, saya pun memasuki ruang-ruang pameran yang terbagi dalam empat tema itu.

Pemandangan Alam
Tema lukisan yang pertama dilihat adalah Pemandangan Alam. Lukisan karya Raden Saleh berjudul Harimau Minum merupakan lukisan yang paling tua yang dipamerkan di pameran lukisan ini yakni tahun 1863. Lukisan ini sangat detail dan terkesan hidup. Helai demi helai daun terlukis dengan sangat baik. Ada gradasi sinar matahari yang membuat kesan suasana misterius.

Pemandangan alam  karya Abdullah Suriosubroto
Lalu ada lukisan Pantai Flores (1942) karya Basoeki Abdullah yang dilukis berdasarkan  lukisan cat air karya Soekarno saat  menjalani pengasingan oleh pemerintah Belanda di Flores.  Sepulang dari pengasingan, Soekarno meminta Basoeki Abdullah menyalin lukisan di kanvas berukuran besar menggunakan cat minyak. Saat saya melihat lukisan karya Abdullah Suriosubroto berjudul Pemandangan Sekitar Merauke, saya jadi teringat lukisan pertama saya (dan mungkin kebanyakan orang lainnya) saat pertama kali melukis pemandangan. Lukisan gunung yang berada di antara sawah dan aliran sungai. Entahlah, apakah lukisan Abdullah ini yang merupakan inspirasi untuk melukis pemandangan gunung? Bisa jadi iya karena lukisan ini dibuat pada tahun 1930.

Dinamika Keseharian
Aktivitas keseharian menjadi salah satu  tema pameran lukisan. Misalnya lukisan berjudul Lelang Ikan (1963) karya Itji Tarmizi yang memotret aktifitas masyakat di tempat pelelangan ikan yang melibatkan tengkulak dan nelayan. Tampak hampir seluruh nelayan memandang ke arah tengkulak dengan tatapan tak suka. Nelayan hingga kini masih menjadi salah satu profesi yang masih digeluti masyarakat Indonesia. Tak hanya nelayan saja, tapi kehidupan keseharian petani juga berhasil dilukis dengan baik oleh Rudolf Bonnet yang melukis Bekerja di Sawah di Bali (1954).

Suasana di pameran lukisan
Ada lagi lukisan berjudul Pendjual Sate karya Lee Man Fang (1958). Awalnya saya mengira lukisan itu menggambil latar belakang masyarakat Cina. Tapi dugaa saya keliru karena lukisan itu dibuat di Indonesia. Lee Man Fang merupakan pelukis istana keturunan Cina sehingga menggabungkan unsur Cina di dalam lukisan. Ini terlihat dari huruf kanji yang terletak di kiri lukisan serta pemilihan payung Cina dalam lukisan. Tak hanya pelukis Cina saja yang hasil karyanya menjadi koleksi lukisan istana. Ries Mulder, pelukis berdarah Belanda melukis Penjual Ayam (1945) yang menggambarkan potret warga Indonesia yang masih mengandalkan hidupnya dari profesi sebagai penjual ayam.

Siapa yang tak kenal Tino Sidin? Sudah pasti hampir sebgaian besar orang mengenal Tino Sidin. Lukisan Tino Sidin berjudul Ketjintaan (1963) melukiskan seorang remaja yang menggembala tiga kambingnya. Lukisan ini diberikan khusus kepada Seokarno. Hal ini terlihat dari tulisan tangan di pojok kanan atas lukisan yang bertulis ‘ditujukan untuk Bapak Soekarno’. Oh ya, Tino Sidin merupakan pelukis sekaligus penasehat spiritual Soekarno.  

Lukisan karya Tino Sidin
Tradisi dan Identitas
Koleksi istana sebenarnya memiliki lebih dari 50 lukisan dengan tema kebaya dan keragamannya. Namun di pameran lukisan ‘Senandung Ibu Pertiwi’ hanya beberapa saja lukisan yang dipamerkan. Karya lukisan itu lebih berfokus pada penggunaan kebaya yang merupakan ciri khas perempuan Indonesia. Ada lukisan yang dilukis berdasarkan imajinasi pelukis. Namun ada juga yang menggunakan model perempuan Indonesia. Lukisan Thamdjidin berjudul Wanita Berkebaya Hijau (1955) merupakan imajinasi pelukis untuk menggambarkan kecantikan perempuan Indonesia menggunakan kebaya hijau.

Lukisan bertema Tradisi dan Identitas 
Ini berbeda dengan lukisan berjudul Tiyul (1952) karya Sudarso dan Potret Sumilah (1949) karya Soedibio merupakan lukisan dengan perempuan Indonesia yang menjadi modelnya. Kebaya yang digunakan perempuan-perempuan merefleksikan asal perempuan itu. Ini sesuai dengan keputusan pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1827 yang menetapkan penduduk harus berpakaian sesuai latar belakang etnis. Kebaya dipilih menjadi pakaian sehari-hari karena dianggap paling nyaman digunakan di iklim tropis seperti di Indonesia. Di tahun 1940-an, laki-laki menggunakan jas dan peci hitam sebagai seragam. Hanya saja tak ada lukisan laki-laki menggunakan jas dan peci hitam yang dipamerkan di pameran lukisan ini. Hanya ada satu lukisan laki-laki menggunakan pakaian penari laki-laki Kalimantan Timur karya Wardoyo.

Lukisan di kiri dan kanan 
Hanya ada perempuan berkebaya saja yang dipamerkan. Misalnya judul lukisan Haimah Gadis Aceh (1951) karya Dullah yang menggambarkan perempuan berkebaya Aceh berwarna hitam. Kebaya Aceh yang digunakan berbeda dengan kebaya Toraja dalam lukisan berjudul Gadis Toraja (1957) karya Henk Ngantung. Kebaya Aceh berlengan panjang sedangkan kebaya Toraja hanya berlengan pendek.

Mitologi dan Religi
Lukisan bertema mitologi hanya berisikan dua lukisan karya Basoeki Abdullah yang berjudul Njai Roro Kidul (1955) dan Gatotkaca dengan Anak-anak Arjuna, Pergiwa-Pergiwati (1955). Dari kedua lukisan itu, lukisan Njai Roro Kidul yang menurut saya paling menyita perhatian pengunjung. Beberapa kali terlihat pengunjung tampak asyik berselfie dengan background lukisan Njai Roro Kidul.

Pengunjung asyik berselfie di depan lukisan Njai Roro Kidul 
Lukisan itu, menggambarkan sosok Nyai Roro Kidul (perempuan cantik yang digambarkan sebagai penguasa pantai dan laut selatan) yang berada di antara ombak-ombak menggunakan gaun malam hijau yang terbuat dari sutra. Jika biasanya lukisan Nyai Roro Kidul menggunakan perhiasan, kali ini Nyai Roro Kidul hanya menggunakan kalung mutiara saja. Namun lukisan itu tampak sangat powerfull dan bernuansa mistis. Lukisan Njai Roro Kidul ini pernah menjadi ilustrasi majalah Varia di tahun 1961. 

Mitologi dan Religi
Keberagaman agama dan kepercayaan tergambar dalam pameran lukisan bertema Mitologi dan Religi. Agama Islam tampak pada lukisan Ahmad Sadali yang berjudul Kaligrafi (1980). Lukisan ini terinspirasi saat subuh dan menyelipkan ayat Al Quran dari surat Al Imron, Surat Ibrahim dan Surat Al Kahfi dalam lukisan. Ahmad Sadali merupakan perupa asal Bandung yang melukis kaligrafi tanpa memasukkan representasi sosok manusia dalam lukisannya. PIlihan warnanya adalah warna-warna natural seperti coklat yang mereflreksikan ketenangan. Lukisan Sudarso berjudul Madonna (1955) merupakan representasi dari agama Katolik yang mengambarkan Bunda Maria. Sedangkan kepercayaan terhadap Dewi Sri dalam lukisan berjudul Sesajdi Dewi Sri (1953) karya Ida Bagus Made Poleng.   
Lukisa Kaligrafi. Sumber : Katalog lukisan
Soekarno Sang Kolektor Lukisan
Sokarno memiliki selera yang tinggi dalam memilih koleksinya. Kebanyakan pelukis favorit Sokarno adalah pelukis naturalis seperti Basuki Abdullah, Lee Man Fong dan Dullah. Namun berdasarkan Warta Berita Bug Karno Edisi Khusus yang ikut dipamerkan di Galeri Nusantara, Soekarno memiliki pelukis favorit yang paling diburu. Setelah Belanda mengakui kedaulatan RI pada akhir Desember 1950, Soekarno kembali menempati Istana Merdeka. Karena merasa Istana itu kosong, ia kemudian memerintahkan lukisan di salah satu rumah di Salemba di ambil. Lukisan itu sangat mengesankan Soekarno karena menggambarkan persatuan bangsa-bangsa Asia Afrika yang disimbolkan melalui leong Barongsai, lembu Nandi, Sphinx, gajah putih, harimau dan banteng. Namun lukisan itu tak lagi ada. Ketika bertemu dengan sang pelukis, teryata keberadaan lukisan itu pun tak diketahui. Akhirnya Ernest sang pelukis diminta melukis kembali dan hasil lukisannya seperti telaga Toba (1952) dan Pemandangan Sekitar Gunug Galunggung (1956) menjadi koleksi lukisan Soekarno. 

Datang ke Pameran lukisan 'Senandung Ibu Pertiwi' ini membuat saya semakin memahami keberagaman Indonesia dengan segala aktifitas masyarakat, agama dan kepercayaan dan masih banyak lagi. Walaupun lukisan itu dibuat pada abad ke 19, namun hingga kini masih sesuai dengan perkembangan jaman. Jangan lupa datang ke Galeri Nasional ya untuk melihat pameran lukisan Senandung Ibu Pertiwi yang masih akan berlangsung hingga 30 Agustus 2017.

Jangan lupa datang ya ke Galeri Nasional

41 komentar on "Pengalaman Mengunjungi Pameran Lukisan Senandung Ibu Pertiwi "
  1. Waw saya lagi cuti jadi kemarin Suami saja yang ke Galnas, btw tfs ya Mba semoga suatu saat saya bisa ikut pameran hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamin mba Sandra. Hayuk masih ada waktu buat mampir ya mba ke GAleri Nasional :)

      Hapus
  2. Keren smua lukisany y mba,, baru tau juga klo bung Karno jago lukis,,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Utie. Kita jadi belajar sejarah ya mba :)

      Hapus
  3. Ahhh mauuu kesanaaa, mupeng bisa jalan2 liat karya seni rupa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba. Nggak rugi deh ke Galeri Nasional :)

      Hapus
  4. Aku tuh taunya pelukis jaman dulu hanya Basuki Abdullah. Ternyata banyak yg keren2 lainnya ya. ^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau datang ke sini jadi makin tahu ya mba Ade :)

      Hapus
  5. Lukisannya cakep-cakep ya...biasanya kalau liat lukisan saya jadi ngantuk soale adem juga suasananya hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahha mimpinya bisa kunjungi tempat wisata ya :)

      Hapus
  6. Selalu takjub saat mengunjungi museum atau galeri seni, selalu membuat haru dalam hati. Aku jg mau ahh datang ke pameranny.

    BalasHapus
  7. Cocok neh buat Me Time kalau lagi libur kerja, udah lama ngak lihat lukisan dan main ke museum :)

    BalasHapus
  8. Saya blm pernah datang ke pameran lukisan. Paling ke musium. Keren2 lukisannya

    BalasHapus
  9. Kenapa gak boleh bawa jaket ya?

    Slalu suka melihat lukisan. Kaya berkelana ke dunia lain

    BalasHapus
  10. Keren galnas dan lukisan-lukisannya. Oh, pak Tino Sidin itu penasehat spiritual bung Karno ya. Baru tahu.. Lukisan Nyai Roro Kidul itu pemikat banget. Terima kasih sharingnya mak.

    BalasHapus
  11. Bagus nih buat anak-anak, jadi edukasi sejarah juga kan. Kapan-kapan mau berkunjung kesana

    BalasHapus
  12. Masih penasaran sebenarnya saya sama setiap lukisan pameran, pengin tahu behind the story-nya tapi durasi kunjungan membatasi. Semoga beberapa hari ini bisa ke sana lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mas. Smoga bisa datang lagi ya mba

      Hapus
  13. Aku jarang banget ke museum. Bisa dibilang nyaris ngga pernah sengaja datang ke museum. Padahal di museum dan pameran ini banyak hal yang bisa didapat.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa bisa banyak belajar sejarah loh mba :)

      Hapus
  14. Lukisan di sana selain berharga Krn nilai seninya jd berharga Krn nilai historisnya ya mbk Al

    TFS

    BalasHapus
  15. Eh nggak boleh bawa kamera ya? Waktu terakhir ke situ kebetulan sama kurator-nya dan kita masuk situ kayanya pas mau deket tutup. Tapi si kurator bawa kamera dan aku malah difoto2in sa dia lhooo...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mba. Nggak boleh membawa kamera :)

      Hapus
  16. Lukisannya cantik2. Aku paling suka sama yang Nyi Roro Kidul

    BalasHapus
  17. aku yang ga gitu ngerti lukisan jadi terbantu dengan pemandu dan bisa menikmati pameran lukisan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget. Aku kahirnya ya nempel ke pemandu buat nanya-nanya :p

      Hapus
  18. Galeri nasional kita tambaaah cantik ya mbaaa

    BalasHapus
  19. Lukisan nya keren keren semua pasti ya mba. terbuka umum kah ini

    BalasHapus
  20. lukisannya keren keren mbak ... dan trnyata ada juga lukisan nyi roro kidul

    BalasHapus
  21. Bagus2 ta mba...cita karya seninya begitu kerasa bgt saat ada di area pameran

    BalasHapus
  22. Jadi kangen sama alm pak Tino Sidin. Dulu acaranya jadi salah satu favorit saya :)

    BalasHapus
  23. Mb dari dulu aku selalu pnasaran tiap liat lukisan nyi roro kidul seakan kyk ada kekuatan magis gitu

    BalasHapus
  24. Anakku yg kls 7 demen melukis nih. Aku belum sempat kepengen ajak keluarga juga nih ke Galeri nasional. Sabtu enak kali ya malam mingguan di galeri menikmati indahnya aneka lukisan :)

    BalasHapus

Auto Post Signature

Auto Post  Signature