Top Social

TRAVEL AND LIFESTYLE BLOGGER

Menjadi Ibu Bijak Mengelola Keuangan Keluarga

Kamis, Juli 27, 2017
Sebelum menikah, saya termasuk orang yang memilih membelanjakan gaji untuk membeli baju, tas dan sepatu. Hampir setiap minggu, saya dan sahabat saya selalu ke pusat pembelanjaan. Niat awal hanya sekedar cuci mata selepas capek liputan. Tapi pulang-pulang malah bawa dua tas berisi barang belanjaan. Kala itu saya belum memikirkan untuk investasi. Kalaupun ada uang lebih, biasanya saya simpan untuk dijadikan tabungan. Tapi tabungan ini biasanya hanya bertahan sebentar karena saya gunakan untuk jalan-jalan. Ehem ...

Yuk jadi ibu bijak dalam mengelola keuangan
Setelah menikah, saya kemudian tak lagi sibuk membelanjakan gaji untuk beli keperluan diri sendiri. Keuangan kemudian terbagi untuk keperluan keluarga, terutama anak. Saya kemudian belajar sedikit demi sedikit untuk mengelola keuangan. Awal menikah, saya dan suami sempat tinggal di kost. Kemudian kami kontrak rumah di kawasan Kalibata. 

Karena biaya kontrak rumah yang mahal, Mama saya berharap agar kami segera bisa membeli rumah sendiri. Hal itu juga sesuai dengan keinginan suami. “Kita kontrak satu tahun saja. Nabung sebanyak-banyaknya untuk beli rumah,” kata suami. Alhamdulillah, kami tepat memenuhi target hanya setahun kontrak rumah dan bisa membeli rumah dengan cara mencicil selama setahun.

Perencanaan keuangan saya kemudian semakin tertata dengan diawali komunikasi dengan suami. Saya dan suami kebetulan sama-sama pasangan yang terbuka tentang keuangan. Walaupun saya sering juga siih belanja buku diam-diam dan simpan di loker kantor. Hehhee. Setiap kali menginginkan sesuatu, kami selalu nabung. Selama ini saya hidup dengan gaji bulanan yang dijatah suami untuk segala keperluan. Jadi, sebagian gaji suami untuk kepentingan keluarga. Sebagian lagi untuk investasi dan anak-anak. Sedangkan gaji saya dikelola untuk investasi dan tabungan. Tapi tetap saja saya kuatir pengelolaan keuangan kami belum tepat. Kekuatiran ini dikarenakan saya tak ingin masa tua saya harus bergantung pada orang lain dan tak bebas secara finansial.
  
Suasana worskhop yang menarik
Sebetulnya, saya sempat berharap bisa datang ke financial planner bersama suami untuk merancang lebih baik keuangan keluarga. Harapan ini kemudian terwujud pada Selasa, 25 Juli 2017 di Restoran Attarine, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Walaupun hanya saya yang di undang sebagai blogger, itu membuat saya senang karena saya ingin tahu lebih banyak tentang perencanaan keuangan. Apalagi tema yang dibahas sangat relevan dengan keinginan saya yakni Perencanaan Keuangan Keluarga

Acara dibuka oleh Ibu Adhe Hapsari, Director of Corporate Communications Visa for Indonesia, Vietnam, Cambodia. Menurut Ibu Adhe, acara ini diharapkan dapat mampu meningkatkan informasi tentang perencanaan keuangan bagi perempuan khususnya kaum ibu. Setelah itu, acara langsung dilanjutkan dengan workshop yang disampaikan oleh Mba Prita Hapsari Gozie, Financial educator. 

Menggunakan baju putih dan jilbab kuning keemasan, workshop diawali dengan identifikasi permasalahan keuangan Ada empat masalah yang menyebabkan keuangan tak terencana dengan baik yakni bad habit, debt size, inflation hingga high lifesyle. Masih banyak orang yang lebih mementingkan penampilan mewah dan mengikuti tren fashion sehingga perencanaan keuangannya beratakan. Duh ….
 
Keseruan acara 
Perencanaan keuangan yang tak baik juga tampak dalam ‘kalender’ keluarga. Biasanya awal bulan dan menganggap uang masih banyak, maka memilih untuk jajan di mall. Bahkan tak jarang makan-makan di restoran. Namun takkala tanggal tua tiba, memilih membawa bekal dari rumah dengan alasan penghematan. Padahal kalau hari biasa lebih milih jajan di luar. Tak hanya itu saja, saat tanggal tua lebih memilih untuk menggesek kartu kredit. Dan kalaupun ada tagihan kartu kredit, selalu lebih memilih untuk membayar minimun tagihan. Hal ini semakin diperburuk dengan kondisi bahwa 18 persen masyarakat memiliki hobi berhutang. Selain itu, sebanyak 32 persen memiliki gaya hidup tinggi. 

Lalu, bagaimana cara untuk mencapai kondisi ideal? Langkah pertama yang harus dilakukan adalah financial check up. Mba Prita menjelaskan bahwa ada empat peringkat sehat keuangan adalah tidak sehat, sehat, mandiri dan sejahtera. Keuangan dikatakan tidak sehat jika pengeluaran lebih besar daripada penghasilan sertasering berutang kartu kredit dan tidak memiliki aset. Duh, jangan sampai ya teman berada dalam kondisi seperti ini. Kondisi keuangan dikatakan sehat jika pengeluaran sama dengan penghasilan namun sering terlambatmembayar lunas tagihan kartu kredit serta memiliki investasi walaupun minimal. Tahapan ini tentunya lebih banyak daripada kondisi tak sehat. Lalu, apa yang disebut dengan kondisi keuangan mandiri? 

Keuangan dikatakan mandiri apabila penghasilan lebih besar daripada pengeluaran. Selain itu, ketika seseorang berada dalam kondisi keuangan mandiri juga ditandakan tidak memiliki utang kartu kredit dan memiliki investasi maksimal. Kondisi ini menurut saya sangat ideal untuk diterapkan. Kondisi yang sangat bagus tentunya jika keuangan kita berada dalam kondisi sejahtera. Keuangan yang sejahtera ini artinya penghasilan lebih besar daripada pengeluaran. Tak hanya itu, kondisi sejahtera itu juga artinya kita memiliki penghasilan pasif dari aset. Selain itu, tak memiliki utang dan rajin berderma. Nah, kondisi ini yang bisa dikatakan sebagai kondisi bebas financial. Siapa yang tak ingin? Saya sih ingin banget…  
 
Mba Prita menyampaikan materi workshop
Setelah itu, mba Prita menampilkan tabel aset dan kewajiban. Sebelumnya mba Prita memberikan ilustrasi seperti ini “Jika seseorang memiliki tiga rumah. Satu rumah dihuni Senin-Jumat. Satu rumah lagi di huni saat weekend dan satu lagi hanya sesekali dihuni. Apakah itu disebut aset investasi atau aset konsumsi?”. Ada yang menjawab aset konsumsi dan ada yang menjawab aset investasi. Nah, jawaban yang benar adalah aset konsumsi. Hal ini juga sama dengan kendaraan yang selama ini digunakan hanya pada akhir pekan (seperti saya). Jika rumah yang dimiliki kemudian dikontrakkan atau mobil disewakan maka hal ini disebut sebagai aset investasi. Teryata, ini dua hal yang berbeda ya?

Hal menarik yang kemudian disampaikan oleh mba Prita adalah tentang jenis pos pengeluaran. Ada empat jenis pengeluaran yakni :

Wajib dan Tetap
Pengeluaran ini tak bisa ditunda seperti cicilan pinjaman, uang sekolah, uang Asisten Rumah Tangga (ART), gaji sopir dan pembayaran premi asuransi. “Nggak mungkin kan kita menunda membayar gaji ART,” kata mba Prita

Wajib dan Fluktuatif
Jenis ini seperti listrik dan telepon kemudian biaya makan atau dapur. Selain itu juga biaya makan atau dapur serta transportasi. Untuk tabungan dan investasi juga dimasukkan di pos pengeluaran wajib dan fluktuatif

Tidak Wajib dan Tak Tetap
Pengeluaran untuk biaya pembayaran internet, TV Kabel, les anak, pembelian majalah dan koran dimasukkan ke bagian ini. Ini tandanya pengeluaran ini bisa tidak dikeluarkan setiap bulan.

Tidak Wajib dan Fluktuatif
Sepertinya segala sesuatu terkait gaya hidup dimasukkan dalam jenis pengeluaraan ini. Pengeluaran ini meliputi biaya hiburan, hadiah dan angpau hingga liburan.
 
Penting banget untuk merencanakan keuangan keluarga
Langkah Kedua yang harus dilakukan ada memiliki dana darurat. Mungkin banyak yang bertanya seberapa penting sih dana darurat. Jadi gini, kita itu tak pernah tahu apa yang akan terjadi besok atau lima tahun mendatang. Sehingga segala sesuatu harus disiapkan. 

Dana darurat memiliki empat manfaat yakni untuk persiapan biaya dokter, biaya obat dan biaya rumah sakit yang tidak bisa ditunda. Manfaat kedua adalah menyiapkan saat terjadi musibah bencana alam, kemalingan atau kematian. Terjadinya PHK secara mendadak dapat terbantu jika adanya dana darurat. Peralatan rumah rusak? AC harus diganti? Kalau ada dana darurat, semua pengeluaran mendadak itu bisa ditangani dengan baik

Lalu, bagaimana kondisi kesehatan keuangan? Asyiknya saat datang ke acara ini juga dilakukan pemeriksaan kesehatan keuangan. Caranya, semua peserta diberikan kertas pemeriksaan kesehatan keuangan. Kertas itu terdapat dua bagian yakni pengeluaran yang meliput gaji, keuntungan usaha dan bonus/honor. Kemudian bagian ditotal dan dibagi untuk biaya pengeluaraan yang meliputi sedekah, cicilan hutang, dana darurat, biaya hidup, gaya hidup dan investasi. “Nggak usah isi soal pemasukan. Tapi coba tulisa berapa persen pengeluaran yang dilakukan,” kata Mba Prita. Nah, pas mba Prita sampaikan begitu saya jadi binggung. Soalnya saya nggak pernah menghitung dalam persen melainkan langsung nilai.

Mba Prita kemudian meminta kita menutup kertas pemeriksaan kesehatan keuangan dan mencocokkan dengan data ideal. “Siapa yang mendekati angka ideal alokasi keuangan?,” kata mba Prita. Wah teryata ada salah stau peserta worksop yang sangat tepat pembagiannya. Nah teryata alokasi ideal yang tepat adalah :
Zakat : 5%
Menabung Dana Darurat : 10%
Biaya Hidup : 30%
Cicilan Pinjaman : 30%
Investasi : 15%
Gaya Hidup : 10%  
Foto bersama teman-teman blogger
Nah, teryata merencanakan keuangan keluarga walaupun terlihat mudah teryata harus pandai diatur ya agar tak merugi. Bagaimana perencanaan keuangan teman-teman? 
72 komentar on "Menjadi Ibu Bijak Mengelola Keuangan Keluarga "
  1. ini yang sedang aku cari karena pengaturan keuangan keluarga dan aku sebagai bendaraha belum terlalu sehat mba kadang tidak sehat namun cenderung stabil sehingga untuk alokasi investasi masih minim seminim-minimnya 🤣😂
    baiklah setelah ada rumus ini akh mau terapin ah izin foto y mba yang alokasi idealnya 🙏🏻😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, bahaya kan kalau investasinya minim, mba

      Hapus
  2. Wih lengkap aat Mbak Lid.

    Kondisi keuangan dikatakan sehat jika pengeluaran sama dengan penghasilan namun sering terlambatmembayar lunas tagihan kartu kredit serta memiliki investasi walaupun minimal.

    Kalaupun jumlahnya minim, kalau memenuhi hal di atas, masih kategori sehat, ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nulis lengkap biar makin banyak yang terinspirasi mba. Iya mba itu termasuk kategori sehat

      Hapus
  3. ibu itu menteri keuangan ya, hrs pintar atur keuangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. bener banget mba Tira. Penting banget perempuan ya menjaga keuangan

      Hapus
  4. Alhamdullilah, menabung setahun bisa beli rumah. Memang mengelola keuangan harus tertata, beryntung bisa ikut workship ini.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya tapi harus super menghemat tuh mba ENi. Aku juga terbantu banget dengan ikut workshop ini mba

      Hapus
  5. Keren jd pengen ikutan acr seperti ini :)

    BalasHapus
  6. Ngakak baca bagian "Belanja buku diam-diam dan disimpan di loker kantor". Itu sayaaa.. duluuu.. skrg udah gak ngantor. Wkwkwkwk. Aku suka baca gambaran tentang kesehatan keuangan. Abis ini mau ikut ngitung alokasi idealnya aahhh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aslinya sih bawa pulang juga nggak papa. Tapi waktu itu malu karena sering beli buku melulu. Hehhee
      Langsung yuk ikutin itung alokasi ideal :)

      Hapus
  7. klo asuransi itu termasuk dana darurat ga ya mba?
    Keuanganku masih belum tercatat rapih ni,dulu mah rajin banget nyatet2in, sekarang mah boro2, wkwk...
    TFS mba jadi terbuka ni

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asuransi masuk di bayaran wajib dan tetap mba. Kalau darurat kan yang tak wajib dikeluarkan setiap bulan :)

      Hapus
  8. Wah betul juga, harus nyiapin dana darurat juga ya buat jaga-jaga kalo ada keperluan lain yang mendadak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Sedia payung sebelum hujan :)

      Hapus
  9. Haaah, kalo aku kayaknya masih jauh dr ideal. Haha *curcol

    BalasHapus
  10. Perincian.. persentase saya catat mba.. coba bulan depan lebih disiplin.. diantara keuangan yang mirat marit he2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Aku juga jadi semangat nih buat lebih bijak mengelola keuangan :)

      Hapus
  11. Wah berartikeuanganku msh belum sehat besar pe geluaran daripada pemasukan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Berarti kita juga haris smeakin bagus nih ya mba merencanakan keuangan :)

      Hapus
  12. Karena suami org akuntansi, saya dibuatkan cashflow nya. Jadi saya tinggal ikutin budget yg kita arrange bersama. Tapi kita naro budget asal aja.. sesuai kebutuhan trus nambah2 dikit. Nah pas ada presentasenya gini, makin terarah deh. Coba aah itung2 lagi..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren nih idenya mba Ufi. Mau langsung dipraktekkan

      Hapus
  13. presentase2 yang ada jadi acuan nih mulai gaji bulan ini. dan mulai semangat nabung juga investasi. thanks sharingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pengen hitung ulang juga ama suami :)

      Hapus
  14. Aku juga baru tahu ternyata Financial Check up itu dilakukan tiap tahun, bukan per trimester :)) berarti aku kerajinan yak :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah tapi kan bagus biar bisa diantisipasi lebih awal yaa

      Hapus
  15. Wuih.. ilmu baru. Dulu pas ada kartu kredit, aku ati... banget. Berusaha ngelunasin sebelum jatuh tempo. Takut kena ribanya. Eh.. sekarang tutup aja. Lebih nyaman. Belanja bulanan juga sekarang pindah ke warung. Gak ngemall lagi. Dulu meuni boros bangettt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbaa. Aku juga kuatir kena riba. Alhamdulillah tak ada lagi cicilan karena kuatir riba juga

      Hapus
  16. Belanja pakaian itu saya banget waktu dulu. Sama makanan juga sih hehehehe. Sekarang kalau mau beli sesuatu mikir dulu. Eh, kecuali gajian deh, suka kebablasan sedikit hehehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau kebablasan dikit nggak papa deh. Hehhee

      Hapus
  17. ada istilah, istri adalah menteri keuangan di dalam keluarga. Ya meskipun urusan keuangan sebaiknya dibahas bersama pasangan, tetapi memang jaid istri juga harus bijak mengelola keuangan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Harus bisa nih buat keuangan keluarga terjaga baik :)

      Hapus
  18. Aku menanti acara ini ada lg mbak, keuangan aku pun msh acak2an... Tp tetep sih ada uang dapur dan uang tabungan serta celangan ngetrip dipisah semua... Berusaha selalu belajar jd ibu bijak... Yg penting yg tergoda sm utang piutang ya mbak Al, apalagi sm CC

    BalasHapus
  19. Baru belakangan kami -saya dan suami- berfikir keras untuk menabung. Selama ini gaji berdua habia gitu-gitu aja tanpa perencanaan yang jelas. Menurut saya juga memang penting bgt berdiskusi dengan financial planner begini Mbak, jadi tahu arah pencapaian ke depan.

    BalasHapus
  20. Widihhh rame banget yang dateng yakkk, pasti seru banget bisa hadir disana

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYaa seru karena emang acaranya juga keren mas

      Hapus
  21. Artikelnya menginspirasi sekali mbak krn aku masih blm bisa mwngatur keuangan dengan baik. Akan aku pelajari langkah2 yg mbak share ya, tq....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih juga telah membaca mba :)

      Hapus
  22. Acara ini sangat seru dan banyak ilmunya ya mba, Alhamdulillah saya semangat semangat untuk menjdi ibu bijak dalam mengelola keuangan.

    BalasHapus
  23. Beruntung ya bisa aikutan WS kmrn, aku bulan ini mau aplikasikan mbak. Moga bisa ikutan WS lanjutannya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. aku juga mau nih ikutan financial workshop tahap selanjutnya. Soalnya manfaatnya banyak banget

      Hapus
    2. Waah,komplit mbak. Langsung aku orat-oret buat cek keadaan finansial keluarga. Hiksss...
      Nyaris ga sehat.

      Mau mulai diterapkan rumusnya ini sambil belajar.

      Hapus
  24. Seorang ibu dituntut tidak saja handal me-manage keluarga tetapi juga keuangan. Tips dari mbak Prita coba saya praktekkan walaupun belum sempurna pelaksanaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga berhasil untuk mencoba ya mba Dennise :)

      Hapus
  25. Walaupun dua-duanya (suami dan istri) sama-sama kerja tetap aja harus pintar mengelola keuangan yaa, biar bisa nabung dan investasi untuk anak-anak dan hari tua.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Kalau nggak wah bisa sia sia saja uangnya nggak menghasilkan

      Hapus
  26. Wohoo... dana darurat penting vanget ya mba. Dan kadang sering lupa karena terpakai buat ini dan itu. Untungnya suami care sama yg satu inim jari utusan emak2 ngatur keuangan jadi terbantu. Makasih mba alida tipsnya tepat banget dibaca abis nerima slip gaji suami.. eh kok slipnya aja.. #langsungnyarisuami..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya. Aku dan suami agak mengabaikan sih soal dana darurat ini. Hihiii. Semangat yaa

      Hapus
  27. Ibu rumah tangga merangkap semuanya yaa... Harus pintar-pintar membagi makasih infonya mba jadi harus makin jeli nih

    BalasHapus
  28. informasi yg penting banget. saya baru tahu ternyata prosentasenya seperti itu ya, makasih banyak mba Alida. salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga bar tahu pas datang ke acara kemarin, mba. Terima kasih juga sudah mampir ya mba :)

      Hapus
  29. Senenga banget ikut acara ini kita bisa belajar tenang keuangan banget. Aku yang kadang cuek mencatat sekarang jadi rajin mencatat demi keuangan lebih baik aheeyy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah iya. Harus dicatat ya walau susah dilakukan ya mba

      Hapus
  30. Naah ini.. harus banyaaak ya mbaaa belajar lagi kelola finansial

    BalasHapus
    Balasan
    1. Penting banget mba buat belajar finansial :)

      Hapus
  31. Kok aku kayak ketampar-tampar baca ini, aku dari remaja agak boros, dan kebawa nih smpe skrg.hikz

    BalasHapus
  32. Nah, bener banget tuh mbak ketika kita terbuka dengan pasangan perihal keuangan akan lebih memudahkan kita dalam menangani masalah keuangan yang akan datang sih ya. Duhh mumet emang kalau sudah ngobrolin duit ini, yukk ahh aku pun juga mau belajar dan belajar lagi biar ketularan bijak dong

    BalasHapus
  33. Aku nyerahin urusan keuangan semuanya ke suamiku soalnya aku gak bisa ngatur uang hehe...

    BalasHapus
  34. senenggg bisa ikutan acara ini kmaren ya mba Lid, nambah bgt ilmu soal keuangan aku..

    BalasHapus
  35. Aku yang bekum nikah aja masih bingung cara ngatur uang. Biasanya aku gunakan untuk beli make up, perawatan, beli baju, sepatu, dan tas sampe aku dibilang boros sama ibuku. Aku tipe orang yang nggak bisa hemat.

    nurazizahkim.blogspot.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk kita belajar ya mba kelola dana :)

      Hapus
  36. Haduh Kayaknya perlu sering-sering ikut pelatihan kayak gini saya Mbak Lida hehwhw..pentinggg buat emak-emak

    BalasHapus

Auto Post Signature

Auto Post  Signature