Selasa, Februari 07, 2017

Salah Jurusan? Yuk Baca Buku Unstoppable Hopes

Pernahkah teman merasa salah mengambil jurusan kuliah? Dan hal ini baru disadari pada saat selesai kuliah. Lalu, ketika selesai kuliah munculah penyesalan demi penyesalan karena apa yang dilakukan tidak tepat. Pernahkah merasa demikian?.

Syukurlah saya tidak berada dalam kelompok itu. Mengapa saya bersyukur? Karena sejak saya SMP saya sudah mengetahui ketertarikan saya pada suatu bidang dan ketika SMA saya semakin mantap dengan pilihan saya untuk kuliah. Saya juga bersyukur orangtua saya memberikan kebebasan bagi saya untuk memilih jurusan sesuai pilihan saya. Akhirnya, saya bersyukur masih bisa bekerja sesuai dengan pilihan saya hingga kini. Ada teman yang mungkin sama seperti, namun ada juga yang tidak.
 
Desain buku Unstoppable
Lalu, bagaimana jika kita salah jurusan? Apa yang harus kita lakukan?. Apakah kita hanya bisa melamun dan menyesali saja?. Buku berjudul “Unstoppable Hopes (A Guide Bok for The Wrong Faculty Student)” karya Gloria Morgen, mungkin menjadi salah satu panduan menapak hidup. Salah jurusan merupakan cap yang diberikan kepada mahasiswa yang berkuliah di jurusan yang bukan passionnya. Padahal, dengan melakukan sesuatu sesuai passion, segalanya menjadi menyenangkan.   

Dalam buku itu, Gloria menulis, salah jurusan ibarat sebuah pertandingan. Pilihannya hanya ada dua yakni menang atau mati. Kalau memilih mati, selamanya akan diingat sebagai pecundang. Tapi jika tak ingin diingat sebagai pecundang, pertandingan harus dimenangkan. Lalu, bagaimana memenangkan pertandingkan?

Gloria memberikan kisah kelinci dan kura-kura untuk mengilustrasikan. Kelinci dan kura-kura berlomba selama tiga hari berturut-turut. Hari pertama, kelinci dan kura-kura bertanding di hutan yang berhasil dimenenangkan oleh kelinci. Menurut kura-kura, lomba lari di hutan itu tidak adil sehingga kelinci ditantang kura-kura untuk bertanding di perairan. Hari kedua, pertandingan di perairan itu dimenangkan oleh kura-kura. Kelinci baru menyadari keterbatasan bahwa dia tak bisa bisa berlari di perairan. Akhirnya, untuk mengetahui siapa yang paling hebat di antara mereka, mereka sepakat berlomba lagi. Hari ketiga mereka berlomba di dua tempat sekaligus yaitu di hutan dan perairan. Akhirnya, kura-kura dapat melewati perairan dengan lancar sedangkan kelinci mengalami kesulitan. Kura-kura tidak tega melihat kelinci hampir tenggelam sehingga kura-kura mempersilahkan kelinci duduk di tempurungnya sembari melewati perairan. Setelah itu, kelinci berbalas budi dengan menggendong kura-kura untuk diajak berlari hingga garis finis. Di garis finis inilah, mereka menyadari bahwa mereka sama-sama hebat tapi di bidang yang berbeda. Kisah sederhana ini teryata tepat untuk menumbuhkan percaya diri.

Lalu, bagaimana untuk menemukan kehebatan kita sehingga kita semakin percaya diri?. Gloria memberikan enam hal yang bisa dilakukan yakni :
Ask Yourself
Ask The Right People
Set Your Personal Goals
Trials and Error
Find The Role Models
Hang Out with Your Own Peer
Keenam hal itu Gloria ungkap dalam buku setebal 155 halaman. Tak hanya itu saja, Gloria juga menjelaskan tentang soft skill yang harus dimiliki agar semakin menemukan talenta. Salah satunya adalah antusias. Antusiasme ini penting untuk berinteraksi dengan orang. Salah satu tanda antusiase ini dengan melihat matanya dan caranya bercerita.

Membaca buku ini tak hanya berisi tips tapi juga menceritakan pengalaman hidup Gloria. Bahasa yang digunakan sangat mudah dicerna. Ia juga melakukan wawancara dengan berbagai tokoh seperti Dewi Lestari yang juga salah jurusan. Ia menulis tentang kekalahan demi kekalahan yang dialami hingga dapat mencapai kesuksesan di usia muda seperti sekarang. Dia selalu berusaha untuk mencari perbedaan sehingga menjadi kandidat yang diperhitungkan. Dua pertanyaan yang selalu ia tanyakan pada dirinya yakni, apa yang membedakan saya dengan orang lain? mengapa seseorang harus membayar mahal untuk mendapatkan saya?.
 
Sumber : Glowforindonesia,org
Lalu siapakah Gloria? Saya mengenalnya saat kami sama-sama terpilih sebagai dua di antara enam orang yang berkunjung ke Malaysia karena menang lomba resensi buku. Saat pertama kali mengenal, saya melihat ia adalah pribadi yang antusias. Saat saya dan mungkin teman lain sudah terlihat capek, ia masih saja tampak segar dan mengajukan pertanyaan demi pertanyaan. Di Malaysia saya baru mengtahui bahwa ia telah menerbitkan buku yang menarik ini. Gloria merupakan Duta Perdamaian Internasional oleh Eubios Ethic Institute dan International Peace and Development Ethic Centers di tahun 2015. Ia merupakan Top 32 Anak Muda Inspirasional di Indonesia oleh UNFPA 2015. Gloria telah memberikan dampak positif melalui Glow for Indonesia, organisasi sosial yang dibentuknya sejak 28 Oktober 2012.  

Selamat membaca, teman-teman ... 

Judul Buku : Unstoppable Hopes (A Guide Bok for The Wrong Faculty Student)” karya Gloria Morgen
Karya : Gloria Morgen 
Penerbit : Bhuana Ilmu Populer (Kelompok Gramedia)



    


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

71 komentar:

  1. kereen sangaat punya buku sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Lingga yuuk kita bikin buku yuk. Hihiii

      Hapus
  2. Untuk harga di kisaran berapa mba?

    BalasHapus
  3. ini aku banget wkkwkw meski salah jurusan tetep dijalani.

    BalasHapus
  4. Wajib baca nih, soalnya saya dan suami seniman yang pernah kuliah Manajemen heheh tapi gpp gausah nyesel yang penting rezekinya halal dan berakah. Tfs ya Mak

    BalasHapus
  5. aku n suami termasuk yg ga ngejalanin ilmu pas kuliah nih.nyasar malah dapet jodoh :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba Inna malah dapat jodoh. Hihii

      Hapus
  6. Aku termasuk salah jurusan nggak ya? haha pengin masuk arsitektur tapi akhirnya kuliah informatika.
    Eeh dapat suami :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya ampun teryata banyak yang salah jurusan malah dapat jodoh ya. Hehhee

      Hapus
  7. Aku dulu juga salah jurusan. Berhubung sayang kalau ngulang kuliah, dilulusin cepat2 sambil banyak ikut aktifitas di kampus

    BalasHapus
  8. Trials and error itu harus dilewatin setiap manusia deh sepertinya ya :D

    BalasHapus
  9. Aku juga salah jurusan tapi ada aja hikmahnya, sekarang aku udah kuliah lagi di jurusan yg aku mau, udah kelar, tinggal nyari duet buat s2, kadang emang kita butuh merasakan banyak hal terlebih dulu,agar bisa menetapkan pilihan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Semoga bisa meneruskan ya S2, mba :)

      Hapus
  10. Bukunya keren, Mbak. Aku malah sekarang balik ke ilmu-ilmu yang aku dapatkan jaman kuliah dengan jadi blogger ini.

    BalasHapus
  11. Nggak salah jurusan sih..tapi pas kerja nggak begitu sesuai ma background ilmu. Jadi banyak teori2 kuliah yang nggak kepake..

    BalasHapus
  12. Waaw...kirain tadi yang nulis orang bule.
    Hiihhii...

    Buku inspiratif.
    Apakah ini berdasarkan pengalaman pribadi sang penulis, mba..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa namanya kayak bule yaa. Hehhehe. Iya bener mba Lendy ;)

      Hapus
  13. Yey template baru. Lebih enakan mba, jd enak baca bacinya ;)
    *galfok

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah mba Shona. Makasih. HIhih

      Hapus
  14. Xixixix.. Salam kenal ya mbak..

    Saya juga merasakan hal yang sama. Salah masuk jurusan.. Akhirnya saya rasa sia sia niii kuliah malah kerja kemana gtu.. Tp semua kalau kita syukuri akan terasa nikmat ya mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah sudah terasa manfaatnya ya :)

      Hapus
  15. Semoga bisa ketemu sama Gloria :)

    BalasHapus
  16. Hihihi aku ngga pernah ngerasa salah jurusan, tapiii... kok kayaknya ilmu pas kuliah ngga kepake yaa XD

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mungkin terpakai secara tak kita sadari ya mba Sandra :)

      Hapus
  17. Meski gak kuliah saya jadi tahu ingin ya :)

    BalasHapus
  18. Saya mengalami salah jurusan bukan ga tahu sih.tp karens terpaksa.sebenarnya jurusan yg mau kuambil psikolog. Tetapi kondisi biaya,aku kerja dulu.dua tshun kerjacpunya uang cukup...tapi hrs cari kampus yg ritmetnya ngikutin jam kantor.jadinya aku masuk jurusan informatika komputer...pdhl mual bgt sama materinya wkwk.cuma demi karir,kuambil hingga kelar

    BalasHapus
  19. Aku kira mbak Gloria itu bule mbak, hehe...
    Resensinya on point banget nih, bikin penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak bule, mba. Indonesia tulen. Hiihi

      Hapus
  20. Wah ada crita klinci kura2nya juga ya, tp beda dari cerits biasanya yg adegan curang lomba lari

    BalasHapus
  21. Wah.. menyentuh cerita si kura-kura dan kelinci. Jadi ingat adik-adik saya, mereka konsul ke saya tentang jurusan yang ingin mereka ambil. Saya sih ngarahinnya selain melihat passion harus merhatiin peluang kerjanya nanti. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah bener. Passion yang terbaik ya mba :)

      Hapus
  22. Tema buku yang menarik, jurusan apapun yang kita pelajari bisa jadi modal dasar, karena minat dan passion kita akan selalu berkembang. Banyak contoh orang sukses yang tidak memiliki latar belakang pendidikan yang sesuai :)

    BalasHapus
  23. Waaa tosss Mba Alida, aku pun dari kecil udah tau mau jd apa, jd gak salah jurusan hihi.. Bener jg ya mba orang yg antusias kliatannya jd selalu positif.. Ini jd reminder buat aku jg nih.. Tfs mba.. :)

    BalasHapus
  24. Aku suka bingung dan mikir keras kalau udah di kelas, apa aku salah jurusan ya? Sering banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semoga aja nggak salah jurusan ya mba :)

      Hapus
  25. Wah bagus nih bukunya,ini aku banget waktu kuliah pada masa pertengahan akan sekitar semester 3-4. Berasa salah jurusan tapi udah terlanjur keluar uang banyak kalau pindah jurusan hahahha. Akhirnya sadar juga ini the best way dari Allah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. IYa asal kita langsung melakukan yang terbaik ya mba :)

      Hapus
  26. Hebat banget! Dari merasa salah jurusan bisa berbalik menjadi hal positif. Waktu kuliah aku ambil jurusan favoritku tapi saat kerja malah asik jadi blogger, ga nyambung >,<

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahha dibuat jadi nyambung aja ya mba Helena ;)

      Hapus
  27. berarti memang harus yakin dan percaya pada kemampuan diri ya mba...aku kadang berpikir salah ambil jurusan akuntasi waktu S1 hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Skarang sudah sukses berarti nggak salah jurusan ya mba Indah. Hehehe

      Hapus
  28. Saya punya teman seangkatan yang merasa salah jurusan. Dia hanya bertahan satu semester. Selanjutnya malah tidak kuliah lagi. Disitu saya merasa sedih.
    Ada beberapa lagi yang merasa salah jurusan, tapi tahun berikutnya coba ikut UMPTN. Tidak berhasil. Tidak menyerah, bahkan makin semangat. Lalu ambil kuliah, di swasta. Jadi dobel. Pagi sampai malam.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua ada pertanggungjawabannya ya mba :)

      Hapus
  29. Pengen bacalah bukunya, karena awalnya saya salah jurusan juga, tapi sekarang saya mencoba menikmatinya, dan mengambil sisi positif dari kesalahan ini. Semoga saya bertahan, dan mendapatkan generasi yang gemilang! Amin ya Allah

    BalasHapus
  30. Hebat Mba Gloria!

    Mba Lid juga keren deh, menang resensi buku dan hadiahnya ke Malaysia. wow!

    btw saya salah jurusan loh, tapi sekarang kudu move-on karena meski saljur, lulus juga. wkwkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. HIhihi
      Salahjurusan tapi kece banget mba Arina

      Hapus
  31. Haduh. Suka sedih kalo ngomongin jurusan, aku ndak ngerasa salah jurusan karena temennya enak sih. Cuma tiap ngeliat orang lain punya passion ya gimana gitu ya rasanya. Ngerasa kayak kok ya hidupku ngikutin alur aja :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Smoga selalu ada pilihan terbaik ya mba :)

      Hapus
  32. Gloria ini cerdas banget ya. Keren banget. Kalau masalah salah jurusan saya sih enggak. Salah jurusan mungkin karena dulunya belum punya target yang panjang atau passion-nya belum ada. Buku yang bagus banget ini untuk memotivasi mereka yang ngerasa salah jurusan.

    BalasHapus
  33. Aku termasuk salah jurusan juga nih kayaknya. Sayangnya udah belasan tahun berlalu hihi... Yasudahlah, enjoy aja dengan yang udah ada sekarang. Andai buku ini udah ada pas aku masih SMA dulu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak keliatan mba kalau salah jurusan. Hehhee

      Hapus
  34. Buku nya keren.. di Gramedia ada gak ya? atau harus beli online?
    Eh, cerita ttg kelinci dan kura-kura versi di atas baru pertama kali saya baca. Waktu kecil taunya kura-kura yang menang gara-gara kelinci yang sombong berleha-leha selama pertandingan, hihihi. Ternyata ada versi kura-kura dan kelinci bekerjasama. Jd punya tambahan cerita untuk dongengkan adik sy ^_^

    BalasHapus
  35. Kadang aku masih suka kepikiran sih. Saat ini, aku salah jurusan atau memang akunya males belajar? Aku punya ketertarikan di bidang Teknologi. Tapi di mata kuliah yang berhubungan dengan teknologi sebagai penggerak perekonomian (bisa dibilang matkulnya lebih ke arah hitung-hitungan), aku gagal di mata kuliah tersebut. Padahal, aku udah mantap sama pilihanku sendiri. Huhuhu :(

    Harga bukunya nggak nyampai 50 ribu, ya? Oke, nanti aku coba cari di Gramedia, deh. :)

    Kayaknya ini kunjungan pertamaku di mari, deh. Salam kenal ya, mbak! Jangan lupa kunjungi balik. Hehehe :)

    BalasHapus