Senin, Januari 09, 2017

Hadiah Perjalanan 3D2N ke Malaysia Karena Ngeblog [Bagian 2]

Terima kasih teman-teman yang sudah membaca dan berkomentar di postingan saya sebelumnya. Kali ini saya ingin berbagi juga tentang kegiatan selama di Melaka. Bagi yang belum baca, silakan baca disini tentang bagian pertama.

Stadhuys Hingga Museum Laksamana Cheng Hoo
Nah, setelah puas makan siang, kami kembali ke kawasan Rumah Merah yang ada bangunan Stadhuys. Oh ya, sebelumnya saya sempat singgung soal bangunan Stadhuys. Bangunan seluas 49.200 kaki persegi ini ini dibangun oleh pemerintah Belanda pada tahun 1650-an setelah mengambil alih Melaka dari Portugis pada tahun 1641. Bangunan setinggi empat tingkat ini telah menjadi pusat Belanda sehingga tahun 1824 termasuk menemaptkan ke kediaman GUbernur Belanda sehingga di awal kurun ke 18, pemerintah Inggris menggunakannya. Warna asal bangunan ini berwarna putih, namun pada  1820-an di ubah menjadi warna merah disebut Bangunan Merah. Stadhuys ini telah banyak mengalami perubahan sejak diambil alih oleh British. Ciri-ciri seni bina Belanda seperti dinding batu yang tebal dan pintu yang besar masih dikekalkan. Di bagian lantau bangunan terdapat sistem perparitan yang dialirkan ke Sungai Melaka.  Di ruang pejabat Gubernur terdapat hiasan ukiran kayu keras yang berbentuk bunga. Ruang tidur di bagian atas bangunan dihiasi dengan lukisan mitologi Cina. Menarik kan?
 
Muzium Cheng Ho di Melaka 
Pas tiba di kawasan Stadhuys, saya, Mba Hana, Mba Herva dan Mba Ina menunaikan shalat Duhur dan Ashar di Surau Warisan Dunia. Surau ini diresmikan pada tangga 22 Mei 2009. Awalnya kami mengira bahwa bangunan itu adalah museum karena saat masuk, tampak aneka foto masjid-masjid di berbagai tempat. Lalu ada di bagian tengah ruangan ada beduk. Saya tak tahu apakah beduk ini hanya sebagai hiasan atau tidak. Teryata, ruangan shalatnya terletak di samping kiri dan kanan surau. Tempatnya tak terlalu besar namun menjadi pilihan tempat shalat. Setelah shalat, kami langsung berjalan ke arah Jonger Street.  Ini merupakan wilayah Chinatown untuk kuliner dan bangunan bergaya Cina yang measih terjaga keasliannya. Ada tugu sederhana yang menandakan bahwa tempat itu adalah Jongker Street. Di dalamnya ada toko oleh makan-makan namun harganya tergolong mahal, bagi kami. Akhirnya kami hanya berkeliling toko itu tanpa membeli. Kami berempat, saya Mba Herva, mba Ina dan Mba Hana kemudian berjalan dan menemukan Muzium Budaya Cheng Ho. Di dalam museum, terdapat miniatur patung Laksamana Cheng Ho serta replika kapal yang di tumpangi. Banyak juga buku-buku yang terdapat di dalam museum itu.
Sebagian isi museum Laksamana Cheng Ho
Di dalam museum ada pameran foto dan miniature aneka peninggalan Laksaman Cheng Ho, namun pengunjung harus membayar 10 RM dan tak ada pemandu yang menemani di dalam. Ah, gagal deh saya mendapat informasi banyak tentang Laksamana Cheng Hoo . Akhirnya kami berempat kembali berjalan menyusuri jalan. Dan serunya di sebelah kiri jalan ada tempat grafiti yang keren-keren! Grafiti itu dilukis di dinding bangunan dengan aneka gambar. Warna-warnanya sangat menarik yakni merah, putih dan kuning. Kami pun berpuas-puas diri berfoto di antara grafiti cantik itu.  
 
Pemandangan di bibir sungai 


Grafitinya cakep kan? 

Berfoto cantik di grafiti

Puas berfoto-foto, kami kemudian berjalan di pinggir sungai yang banyak terdapat kafe-kafe. Sudah dapat dipastikan, kafe-kafe itu pasti akan menjadi tempat yang romantis di malam hari. Kafe-kafe ini menawarkan aneka kuliner hingga akses wifi tanpa batas dengan pemandangan sungai yang bersih. Tak terasa, kami mengelilingi dan berhenti di bangunan berwarna merah yang bertuliskan ‘Melaka World Heritage City. Declared by UNESCO  on 7th July 2008’. Di kawasan itu banyak motor yang parkir di kawasan itu. Saya dan teman-teman pun puas-puasin foto di sana. Kayaknya nggak sah datang ke Melaka tanpa foto di sana.

Setelah itu, kami pun kembali ke kawasan Rumah Merah. Awalnya kami berempat mengira semua kawasan telah kami datangi, teryata dugaan kami salah. Tak lama, mba Belinda datang dan mengatakan, “Mba, coba deh ke bukit bisa lihat pemandangan Kota Melaka dan ada bangunan bersejarah juga,” katanya. “Jauh nggak?,” kata saya. “Agak menanjak tapi nggak rugi deh,” kata Mba Belinda. Mmh … boleh juga nih. Akhirnya saya, Mba Hana, Mba Herva kemudian  bergegas ke bukit. Teryata perjalananya memang melelahkan, apalagi kami sudah berkeliling sebelumnya. Rasa haus pun melanda. Akhirnya saya membeli satu botol air mineral seharga 1 RM. Botol minum saya ketinggalan di bus. 

Tangga menuju reruntuhan Gereja ST Paul
Sesampai di atas, ada reruntuhan Gereja ST. Paul. Ini merupakan runtuhan gereja Katolik yang awalnya merupakan chapel yang dibangun pada tahun 1521 oleh kapten Portugis, Duarto Choelho, sebagai tanda kesyukuran karena selamat dari serangan musuhselama berada di Laut Cina Selatan. Menara gereja ini dibina oleh Portugis telah dimusnahkan pada tahun 17545 tetapi temboknya diperkuat dan dijadikan sebagai kubu pertahanan. Semasa pemerintahan British, gereja ini dijadikan sebagai gudang penyimpan peluru untuk menyerang Jawa dari tahun 1810-1811. Bristih pernah mendirikan tiang bendera yang tinggi dan mengganti nama bangunan ini menjadi Bukit Bendera. Namun, nama ini kemudian tidak dikenal dan bendera British pun diturunkan. Di dalam gereja itu banyak prastasti berukuran raksasa dengan ukiran tulisan yang tidak saya pahami. Ada juga logo-logo yang ada di prastasti itu. Jika ingin membeli cinderamata, juga bisa dibeli disini karena banyak penjualnya. Setelah berkeliling di kawasan gereja, kami pun kembali ke Rumah Merah.

Reruntuhan gereja 

Reruntuhan gereja bisa dijadikan tempat foto menarik. Seperti yang dilakukan mba Herva dan Mba Hana
 “Yuk kita makan lagi,” kata Miss Yusti. Wah senang banget. Bahagia banget selama liburan nggak  perlu ribet soal jalan-jalan hingga urusan makan. Jumat sore, kami makan diThe Original Mille yang terletak di Melaka. Tepatnya di dekat kawasan Pahlawan Walk. Restoran itu menyajikan menu khusus mille crepe. Alhamdulillah setelah selama ini hanya bisa memandang, kali ini bisa mencicipi miles  crepe yang terkenal. Rasanya, enaaaakkk….

Nah, setelah kenyang, kami menuju Kuala Lumpur. Sepanjang perjalanan pulang itu, saya baru bisa tertidur pulas. Rasnaya ngantuk sekali. Kombinasi antara kenyang dan capek setelah puas berjalan-jalan. Tak terasa sekitar pukul 9 malam kami tiba di hotel. Hotel tempat kami menginap di Hotel Royal, hotel berbintang yang terletak di depan Sungei Wang, pusat pembelajaan. Jujur, pas tiba di hotel saya masih mengantuk dan perut belum terasa lapar. Namun ajakan Miss Yusti untuk makan malam, tampaknya rugi kalau ditolak! Hahhaaaa ….. Kami makan di rumah makan 24 jam yang berada di belakang hotel. Rumah makan itu ramai dan menyajikan makanan halal. Saya makan Tom Yam Seafood dan minum teh tarik. Benar-benar mengenyangkan dan enak. Setelah makan malam, kami kembali ke hotel untuk merajut mimpi indah sebelum agenda hari kedua.

Hari Kedua : City Tour Malaysia dan Seminar Datuk Alan
Setelah hari pertama tanpa membeli oleh-oleh, kami langsung bergegas ke Sunge Wang. Plaza ini seperti ITC jika di Indonesia. Jadi ya baru buka pada pukul 10.00 WIB. Padahal pukul 11.00 WIB kami sudah harus tiba di hotel untuk berjalan-jalan. Alhasil, kami berenam nekat ke Sunge Plaza. “Biasanya ada toko oleh-oleh di pinggiran yang sudah buka,” kata Miss Yusti. Penasaran, kami pun mencoba mendatangi Sungei Wang dan ada satu tempat yang menjual oleh-oleh khas Malaysia dengan harga terjangkau. Gantungan kunci dijual dengan harga 7 RM untuk 6 buah. Tempelan kulkas dijual dengan harga 10 RM. Cermin dua sisi jika yang lain jual seharga 20 RM, dia hanya jual seharga 10 RM. Harga dan kualitasnya bagus, semakin murah belanja tentu makin banyak promonya.

Tiba di hotel, kami bersiap melakukan city tour. Tempat yang pertama kami kunjungi adalah Cocoa Boutique. Tempat ini merupakan tempat penjualan coklat yang terletak di pusat kota. Namun harganya cukup mahal bagi saya (dan juga bagi beberapa teman yang ikut kegiatan itu). Misalnya cokelat 350 gram harganya 49.50 RM (1 RM = 3040). Akhirnya ya setelah pulang, saya tidak membeli cokelat dari toko itu. Teryata, harga cokelat di supermarket di sana lebih murah.  Jadi, ya lebih baik membeli di supermarket itu. Oh ya, ada pelayan yang keren kayak artis Korea. Saya meminta ijin untuk memotretnya. namun dia menolak. Akhirnya ya batal deh motret. HIhiii.
 
Cocoa Buoutique
Setelah asyik cuci mata, kami langsung berfoto dengan latar belakang ikon Malaysia yang terkenal yakni Petronas. Ke Malaysia tapi nggak foto dengan latar belakang ini, tampaknya tak sah!. Kami foto bergantian dengan pengunjung lain. Setelah itu, mobil meluncur ke Istana Negara. Saat kami tiba, udaranya sangat panas. Matahari terasa membakar kulit. Saking panasnya, saat sesi foto bersama, saya kesulitan membuka mata. Mungkin karena panas, tak banyak yang berkunjung di Istana Negara itu. Soalnya yaa, memang panas banget.
 
Panas banget di Istana Negara
Setelah berpanas-panasan ria, kami langsung makan siang di Restoran Bali yang terletak tak jauh dari Gedung MEILILEA di Kuala Lumpur. Saya makan sepiring berdua dengan Mba Belinda karena banyak banget porsinya. Nah, setelah makan, kami diajak berkunjung di gedung MEILILEA. DI laintai satu, ada showroom produk MEILILEA yang ditampilkan Mulai drai produk kosmetik hingga miinuman organik yang terkenal. Penataannya sangat menarik dan suasananya sangat menyenangkan.

Kemudian di lantai 5, kami berkunjung ke kantor Stellavings. Penataan ruangannya sangat didominasi warna pink. Lihat sofanya, jadi pengen duduk lama. Di lantai itu juga ada ruangan untuk spa yang sangat menarik. Nah selama proses berkunjung itu, perasaan saya was-was karena petir terdengar kuat sekali dan hujan deras. Saya kuatir besok pas berangkat juga akan hujan deras. Miss Yusti sepertinya tahu kekuatiran saya. “Tenang aja. Besok semoga cuaca tenang,” katanya. Saya jadi merasa lebih tenang. Nah setelah puas berkeliling, kami diajak turun ke lantai 3 dan mengikuti seminar motivasi yang diberikan langsung oleh Datuk Allan. Saat kami datang, ruangan sudah penuh terisi. 
Showroom MELILEA
Wah saya kuatir nih nggak kebagian tempat. Tapi eh teryata kami disediakan tempat duduk di bagian paling depan. Wah, jadi merasa tersanjung. Hihii. Materi presentasi Datuk Allan sangat kaya ilmu pengetahuan. Datuk Allan menceritakan bagaimana ia mengembangkan usaha MEILILEA, filosofi dibalik nama MEILILEA, hingga menunjukkan bagaimana transformasi yang berhasil dikembangkan setelah memilih berbisnis dan juga menggunakan MEILILEA. Saya pribadi merasa tak ada jarak dengan Datuk Allan. Ia dengan ramah menyapa para peserta. Setelah seminar, tim dari MEILIELA memberikan kejutan ulangtahun untuk Datuk Allan yang berulangtahun. Wah, kejutannya penuh dengan joget joget dan nyanyi. Hal yang paling seru lainnya, sambil Datuk Allan beryanyi, ia melempar poster yang berisi foto dan tandatangannya. Wah, semua orang yang ada di sana langsung berebutan untuk mendapatkan poster itu. Serunya ya pas bagian rebutan poster. Hahhaaa. Ah, sungguh pengalaman yang berkesan. Capek, bahagia dan seru, semua jadi satu!
 
Adegan joget joget. Hihii 
Tak terasa, keesokan harinya kami pun harus kembali ke Jakarta. Senang sekali pengalaman ini bisa kami nikmati dengan gembira. Dan semua tim di tour sangatlah kompak!. Seringkali kami tertawa karena menertawakan kejadian-kejadian lucu yang kami alami. Walaupun baru pertama jumpa, jadi berasa udah mengenal lama. Pulang dari Malaysia, kami masih komunikasi membahas banyak hal. Semoga kebahagiaan ini menular juga ke teman-teman ya. Terima kasih  :) 


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

36 komentar:

  1. Seneng banget ya Mba, bisa dapat hadiah 3D2N ke Malaysia. Mudah2an ceritanya bisa menjadi penyemangat blogger2 lainnya. :)

    BalasHapus
  2. Wah. Seru. Alhamdulillah gratis pula ya mak

    BalasHapus
  3. keliatan..kaya masih gadis..foto depan istana, gaya banget... mba alida tuh ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kan aku masih gadis, mba Novaaa. HIhihii

      Hapus
  4. Duch jadikangen, duduk leyeh2 di belakang homestay di pinggiran sungai malaka ini

    BalasHapus
  5. wah selamat ya mbak berkat ngeblognya sangat berkesan ya...pingin banget nih

    BalasHapus
  6. Pingiiin bgt ke Melaka juga nih mba belum kesampaian.. Banyak peninggalan sejarah ya di sana.. Seruu bgt bisa jalan2 gratis yah mba.. Alhamdulillah yah.. :D

    BalasHapus
  7. Ih keren, Mbak. Jadi, Mbak Lidha bersama tim Melilea, ya ke Melaka?
    Berarti Melilea itu dari Melaka, ya .... eh benar nggak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa aku ke sana di temanin miss Yusti dari Stellavings sekaligus pihak dari Meililea. Yaap bener Meililea dari Melaka :)

      Hapus
  8. Keren kali bah kalian kak, jalan-jalan free dari ngeblog...selamat ya..semoga kedepannya bisa menang lagi :) semoga nyasar ke Denmark ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku aminin yang kencenggg mba Dewi! Aaaaamiiiinnn :)

      Hapus
  9. Wah selamat mba :D cerita perjalanannya seru, apalagi gratis hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itulah. Bahagia banget kalau gratis :p

      Hapus
  10. terkesan dengan sungainya, bersih :)

    BalasHapus
  11. seruuuu banget bisa jalan jalan gratisss :D
    aku juga pengeeen >.<
    sungainya cake bersih banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaamin mba. Semoga terwujud yaaa. IYaa bersih pakai banget :)

      Hapus
  12. Ngos-ngosan nggak mba naik tangganya? Hahaha tangga St. Paul ampun2 deh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. NGgak ngos2an sih mba Nita. Tapi haus banget Hahhaa

      Hapus
  13. Wuah keren mbak, bisa jalan2 gratis berkat ngeblog. Seru ya perjalanannya. Pasti jadi salah satu pengalaman yang tak terlupakan :)

    BalasHapus
  14. Wah senangnya bisa liat peninggalan sejarah masa lampau :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa belajar sejarahnya aku sukaaa banget :)

      Hapus
  15. Ya Allah...pengen bangeet hadiah ngeblog bisa ngebilang gratisss.doain dong, mba

    BalasHapus
  16. aaah keren banget, foto nya bagus-bagus mbak jadi kangen pengen ke Malaysia lagi udah 4 tahun yang terakhir kesana :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, aku baru ke Malaysia lagi setelah 8 tahun. Hihihii

      Hapus
  17. Senangnya, bisa ke LN karena ngeblog


    aku jugaa mau :)

    BalasHapus
  18. Waktu ke Malaysia aku blm sempat ke istana negara itu, bahkan ke cocoa ga berani, kantong backpacker cuma bisa naik turun trem doang wkwk

    BalasHapus
  19. Senengnyaaaaa..... aku termasuk yg jarang berani ikut lomba yg hadiahnya jalan2. Khawatir bgt pas gak dapat izin dr kantor. Wkwkwk... aslinya sih mupeeeeng... Selamat ya Mbak.

    BalasHapus