Sabtu, Desember 03, 2016

Sensasi Makan Siang di Bis Kuning Universitas Indonesia

Hampir setiap hari masuk wilayah Universitas Indonesia di Depok, saya baru tahu bahwa ada kafe yang berada di dalam bus kuning. Bus kuning ini adalah alat transportasi di kawasan Universitas Indonesia. Kalau naik bis kuning (bikun) tidak dikenakan biaya alias gratis. Nah, lalu apa jadinya jika biskun disulap menjadi kafe?

Karena penasaran, saya pun datang bersama Papa dan Mas Ghaffar ke Universitas Indonesia (UI). Kebetulan jarak dari rumah ke UI tak begitu jauh. Saya memilih naik ojek online sedangkan mas Ghaffar dan Papa naik motor. Sekalian ngantar mas Ghaffar naik kereta dari stasiun UI ke stasiun Senen. Saya sampai duluan karena Mas Gahffar dan Papa harus ke bengkel karena ban motor kempes. Saya sempat mencari-cari dimana sih posisi Bikun kafe ini. Saya hanya tahu kalau lokasinya di kawasan Fakultas Hukum.  Akhirnya setelah nanya ke mahasiswa  Fakultas Hukum, lokasi bikun di seberang masjid UI. Tepatnya di samping parkiran motor Fakultas Hukum UI. 

Penampakan Bis Kuning 

Rabu, November 30, 2016

Inspirasi Astra di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA)

Berkumpul bersama keluarga di hari Sabtu atau Minggu adalah kebahagiaan. Namun, terkadang saya masih harus bekerja di hari libur. Alhasil, saya sekeluarga harus berinisiatif mengatur waktu agar dapat berkumpul di akhir pekan. Seperti Sabtu sore pekan lalu, sepulang kerja saya sekeluarga janjian di Stasiun Pancasila, Jagakarsa, Jakarta. Jika sebelumnya kami lebih banyak menghabiskan waktu di kolam renang, kini kami sepakat untuk menghabiskan sore yang cerah di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Membayangkan berkumpul bersama keluarga di taman terbuka dengan suasana yang sejuk tentu menyenangkan. Kebetulan, saya juga penasaran dengan RPTRA.  

RPTRA Ciganjur Berseri

Selasa, November 29, 2016

Resensi Buku Seberapa Berani Anda Membela Islam?

Sebuah buku berwarna kuning kecoklatan dengan ilustrasi seorang pria berpeci putih menghadap ke arah masjid. Judul bukunya ‘Seberapa Berani Anda Membela Islam?”. Dari judulnya, seolah mengusik relung hati saya paling dalam. Pertanyaan yang sungguh belum pernah saya tanyakan kepada diri saya sendiri tentang keberanian atas nama agama. Namun pertanyaan itu datang dari sebuah buku setebal 274 halaman.

Saya penasaran bagaimana definis berani yang ingin disajikan Nai’m Yusuf sebagai seorang penulis?. Na’im menyajikan esensi sikap berani yang secara bahasa disebut ar-Rujulah (kelaki-lakian atau berani). Kata ar-Rajul adalah sinonim dari kata adz-dzakar yang bermakna perempuan. Kata ar-Rajul dalam Al Quran disebutkan sekitar 45 kali. Di antara makna ar-Rajulah adalah, Allah menggambarkan para nabil dan rasul dengan kata rijal untuk membawa risalah dakwah dengan segala tantangan dan kesulitan di jalannya. Ra-Rujullah memiliki makna lebih luas dari ‘laki-laki’-anonim perempuan- mengingat betapa banyak perempuan yang lebih berprestasi dari laki-laki dalam beberapa posisi sulit.
 
Buku Seberapa Berani Anda Membela Islam