Kamis, Desember 15, 2016

Yuk Dukung Gerakan Nasional Non Tunai!

Pernah merasakan antri panjang saat beli tiket kartu harian berjaminan saat akan naik commuterline? Lalu, pas mau bayar, teryata penjaganya nggak punya uang kembalian. Duh ribet kan?! Saya mengalaminya pekan lalu, dan bukan sekali saya alami tapi beberapa kali. Saya memang pengguna setia commuterline sehingga memiliki kartu pembayaran non tunai (uang elektronik). Pernah juga karena hilang. Tapi kadang pagi saat buru-buru ke kantor teryata saya baru sadar bahwa kartu elektronik saya tertinggal.

Alhasil saya harus membeli kartu harian berjaminan di loket. Sialnya banyak yang juga antri membeli atau mengembalikan tiket harian berjaminan. Setelah antri teryata saya baru sadar kalau saya nggak ada uang recehan. Hanya tersisa uang Rp 100 ribu di dompet. Padahal untuk perjalanan Pondok Cina-Palmerah pulang pergi, hanya membutuhkan uang Rp 8000. “Apa nggak ada uang pas?,” kata penjaga loket. Saya menggeleng. Saya lalu bertanya ke orang yang antri di belakang saya. Teryata mereka pun tak ada uang kecil. Saya kemudian keluar dari antrian dan menukar uang. Untungnya ada tukang ojek yang bersedia menukar uang. Saya melihat jam tangan, sudah pukul 05.30 WIB. ‘Duh telat nih,” pikir saya. Seharusnya saya sudah melakukan sepertiga perjalanan, tapi belum juga berangkat dari stasiun tujuan. Saya kemudian antri lagi untuk membeli kartu harian berjaminan. Sore hari sepulang kerja saya harus mengembalikan kartu harian jaminan untuk mendapatkan uang jaminan. Lagi-lagi antrian terjadi lagi.
 
Antrian membeli Kartu Harian Berjaminan 
Berbeda saat saya menggunakan kartu elektronik, biasanya tanpa ribet dan mudah. Pas di gerbang masuk langsung tap in, saya pun sudah siap menunggu commuterline datang menjemput. #eaaa ...Tanpa antri di loket pembelian kartu dan tak perlu ribet juga antri saat mengembalikan kartu. Mudah dan tanpa ribet!. Kenyaman pun saya rasakan saat menggunakan kartu pembayaran non tunai.

Semua karena saya selalu membawa uang elektronik yang merupakan kartu pembayaran non tunai. Selama ini saya merasakan manfaat setiap kali menggunakannya. Satu kartu untuk bermacam kegunaan. Uang elektronik itu saya beli sudah lama dan selalu saya gunakan tak hanya naik commuterline saja. Saat lebaran tahun ini, saya sekeluarga mudik ke Kudus, Jawa Tengah. Saya merasakan betapa kemudahan dan kecepatan terjadi saat menggunakan uang elektronik. Saat itu antrian terjadi pada jalur kendaraan pembayaran tunai. Nah karena saya punya uang elektronik, mobil kemudian dikemudikan di jalur gardu tol otomatis.
 
Tap Kartu Elektronik di pintu tol 
Pembayaran tarif tol menggunakan kartu lebih singkat, hanya sekitar 3 detik. Sementara transaksi tunai perlu 8 detik. Saat musim mudik lebaran kemarin tentu antrian yang panjang bisa terhindar dengan menggunakan uang elektronik. Kala itu, kami tap in di pintu tol Cikarang Utama. Pembayaran tol ini berlaku di semua gerbang tol GTO dan non GRO rute tol Cipali. Rutenya adalah Cikarang-Palimanan, Cikarang-Purbaleunyi dan Palimanan Purbaleunyi. Apalagi ada diskon 20 persen dari kartu elektronik yang kami gunakan. Jadi, jika seharusnya membayar Rp 109 ribu namun hanya membayar Rp 87.200. Menggunakan kartu elektronik kala mudik teryata bisa mengurangi kemacetan dan dapat diskon pula. Siapa yang tak senang?.


Lebih cepat pakai uang elektronik
Uang elektronik ini tak hanya saya gunakan saat naik commuterline dan di gardu tol, tapi juga saat makan di restoran bersama keluarga. Terakhir, saya gunakan saat makan bersama Papa, Suami dan Ayyas. Kebetulan kala itu saya tak membawa cukup uang tunai di dompet dan saya memilih untuk menggunakan uang elektronik. Keluarga senang, hati pun tenang.
 
Membayar Uang Elektronik untuk membeli makan 

Saya memang pengguna setia uang elekronik. Awalnya saya menggunakan uang elektronik saat commuterline tak lagi menggunakan karcis. Daripada saya harus sering antri setiap kali masuk atau keluar stasiun, saya memilih menggunakan uang elektronik. Awalnya saya hanya menggunakan uang elektronik untuk pembayaran commuterline saja. Namun kemudian saya memilih menggunakan uang elektronik yang menawarkan berbagai kemudahan dan dapat digunakan dimana saja. Ya seperti kartu elektronik yang saya gunakan sekarang. Ini merupakan bentuk dukungan terhadap Gerakan Nasional Non Tunai! 

Apabila saldo di uang elektronik hampir habis, pengisian saldo biasanya saya lakukan di minimarket atau stasiun kereta. Terkadang juga di Anjungan Tunai mandiri (ATM) yang memiliki fasilitas untuk isi saldo uang elektronik. Setelah menggunakan uang elektronik, saya merasakan keuntungannya. Dua diantaranya adalah :

Mempermudah dan mempercepat transaksi 
Misalnya saja saat akan menggunakan commuterline, saya tak perlu antre untuk membeli tiket harian berjaminan terlebih dahulu. Jadi langsung tap in. Pas di tol pun jadi tak perlu antre karena pembayaran di pintu tol cenderung lebih cepat. Bagi pengguna setia commuterline atau selalu membawa kendaraan melewati tol sebaiknya menggunakan uang elektronik.  

Uang elektronik sangat fleksibel
Dengan menggunakan uang elektronik ini, saya langsug memasukkan anggaran khusus penggunaan dana untuk commuterline atau juga dana cadangan. Maksimal dana yang disimpan di uang elektronik Rp 1 juta. Uang elektronik ini juga bisa digunakan siapa saja untuk keperluan keluarga.   

Nah, agar penggunaan uang elektronik menjadi nyaman, ada beberapa hal yang saya lakukan :

Cek Saldo
Saya biasanya mengisi dana dengan jumlah tertentu untuk kebutuhan selama satu bulan. Tapi saya juga rajin cek saldo di uang commuterline. Untuk penggunaan uang elektronik dalam satu hari saya menghabiskan Rp 8000 untuk pulang pergi. Dalam satu bulan berarti sekitar Rp 176 ribu untuk commuterline. Nah, pengecekan itu saya sering lakukan sebelum tap in. Jadi, kalau dana kurang dari  Rp 11 ribu, saya langsung isi ulang di stasiun daripada terkena denda. Terkadang setiap tap in dan tap out saya perhatikan angka yang tertera untuk mengetahui berapa dana yang terpotong dan sisa saldo. 

Simpan Uang Elektronik di Gantungan ID
Uang elektronik tidak menggunakan pin dan tak ada nama yang tertera di kartu. Jadi saya menyimpannya di tempat yang kerap saya bawa kemanapun. Jadi sekarang saya memiih memasukkan uang elektronik di gantungan id card. Jadi, kalau mau pakai bisa langsung digunakan.

Uang elektronik diterbitkan oleh bank dalam bentuk kartu prabayar. Desainnya menarik. Bank penerbit itu diantaranya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berupa e-money, PT Bank Rakyat Indonesia yang disebut Brizzi, PT Bank Negara Indonesia (Persero) dan PT Bank Central Asia Tbk dengan nama Flazz.

Saat saya membaca koran Kompas Minggu, 4 Desember 2016 saya baru tahu bahwa Bank Mandiri juga menerbitkan uang elektronik yang bisa digunakan setelah mengunduh aplikasinya di telepon seluser yakni e-cash. Pada Januari-September 2016, kartu e-money yang beredar sebanyak 8,2 juta kartu dengan dana mengendap Rp 386 miliar. Pada periode itu terjadi 264,5 9 juta transaksi dengan nilai Rp 2,549 trilyun. Sedangkan untuk e-cash sampai dengan September 2016 sudah digunakan 1,7 juta pengguna. Padahal setahun sebelumnya e-cash masih digunakan 444.986 pengguna.

Puas makan setelah membayar dengan uang elektronik

Dibandingkan negara-negara ASEAN, penggunaan transaksi pembayaran berbasis elektronik yang dilakukan masyarakat Indonesia relatif masih rendah, sementara dengan kondisi geografi dan jumlah populasi yang cukup besar, masih terdapat potensi yang cukup besar untuk perluasan akses layanan sistem pembayaran di Indonesia. Untuk itu, Bank Indonesia bersama perbankan sebagai pemain utama dalam penyediaan layanan sistem pembayaran kepada masyarakat perlu memiliki visi yang sama dan komitmen yang kuat untuk mendorong penggunaan transaksi non tunai oleh masyarakat dalam mewujudkan LCS.

Kampanye Gerakan Nasional Non Tunai (GNTT) gencar dilakukan oleh pemerintah. Kampanye ini sebenarnya telah dilakukan pada Kamis 14 Agustus 2014 di Jakarta. Harapannya, kampanye ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat, pelaku bisnis dan juga lembaga-lembaga pemerintah untuk menggunakan sarana pembayaran non tunai dalam melakukan transaksi keuangan yang mudah, aman dan efisien. 

Saya mendukung Gerakan Nasional Non Tunai. Kamu juga kan?

Referensi

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

31 komentar:

  1. Memang lebih enak ya, nggak perlu repot perkara kembalian,tapi bank ku ada nggak ya....

    BalasHapus
  2. Wah, di Lampung udah bisa belum ya digunakan kayak gini?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik ya kalau sudah bisa digunakan di Lampung :)

      Hapus
  3. Duh mba alida. Kebayang udah susah antri terus harus keluar barisan dgn tangan hampa. Hikss. Saya juga pernah ketinggalan kartu multitrip dan memang jadi lebih kama..

    BalasHapus
  4. dukung bangte beginian mah

    BalasHapus
  5. Aku juga mulai cashless nih mba, bner gk sih istilahnya yaa hhee
    Jadi buat naik busway sdh pakai emoney, kalo naek gojek paki gopay, tinggal sedia uang buat jajan2 ditmpat yg blm pakai uang elektronik.

    BalasHapus
  6. Aku penyuka alat bayar non tunai banget. Sayang di jogja penerapannya blm merata ntah krn sdm atau apa. pernah ada kejadian bikin bete. Udah top up flazz buat bayar bensin. Padahal di pomnya ada stand falzznya tp ditolak sm petugas. Ga bisa, cash aja katanya :(

    BalasHapus
  7. aku banget ni mak, malas bawa duit dalam dompet sukanya non tunai..lebih mudah dan kalo belanja nggak repot dengan unag kembalian yang nantinya diganti permen :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ih sebel kan kalau uang diganti permen

      Hapus
  8. Aku juga suka pakai non tunai mba.. praktis dan aman!

    BalasHapus
  9. Suamiku sempat 2 bulan di Jakarta bulan lalu tapi skrg udah tugas diluar Jkt lagi, norak banget cerita2 naik kereta & bus pake kartu hahahaah. Sempet salah2 pula.

    BalasHapus
  10. Lebih simple dan mudah ya mba, tinggal tap aja hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba. Langsung bebas naik kereta ;)

      Hapus
  11. Aku mendukung banget nih gerakan non tunai. Sekarang pakai tunai kalo cuma bebelian di pedagang tradisional kayak pasar atau warungan aja. Selebihnya udah gesek atau pakai m banking.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyik nih aku bisa ditraktir mba Dewi. Hihii

      Hapus
  12. Hidup jadi lebih simple dan ngak ribet yaaa

    BalasHapus
  13. iya mba aku belanja pakai non tunai biar cepat aja, trs ga bawa recehan apalagi kadang suka diminta sumbangan gak jelas, klo ditanya sumbangin ke mana, si mbanya ga bisa jawab, bikin malas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah itu kan. Mending yang jelas aja yaaa :p

      Hapus
  14. Aku anaknya juga sukanya cashless,hihi. Cashless lwbih ringkes dan aman.

    BalasHapus
  15. Smart money wave is my way, hehe.. Setuju mbak

    BalasHapus
  16. Saya sih dukung gerakan ini. Kalau bawa uang tunai, suka naronya sembarangan. Di celana, di tas, di mana-mana pokoknya. Banyak tercecer trus lupa

    BalasHapus