Kamis, Oktober 27, 2016

Komunitas Anak Muda Peduli Sejarah

Saya masih ingat beberapa tahun lalu mengikuti perjalanan menyusuri tempat penuh sejarah. Perjalanan pertama  mengunjungi museum Taman Prasasti yang terletak di Jl. Tanah Abang, Jakarta. Museum ini berdiri di atas lahan pemakaman Kebon Jahe Kober yang sudah ada sejak tahun 1795. Setelah satu jam di Museum Taman Prasasti, kaki kemudian melangkah ke Museum Fatahillah. Saya dan beberapa orang yang ikut, tak sekedar mengunjungi kedua tempat itu. Tapi mendapat kisah-kisah tentang sejarah dalam setiap langkah.
 
Sumber foto : Pixabay.com
Mempelajari sejarah bagi saya, saat ini menjadi sangat menyenangkan. Sejarah tak hanya dipelajari dari buku-buku, tapi seperti yang saya lakukan, datang langsung ke tempat sejarah. Jika enggan sendirian datang ke tempat penuh sejarah, silakan bergabung dengan berbagai komunitas yang didirikan anak muda agar banyak yang semakin melek sejarah. Ada beberapa komunitas peduli sejarah yang didirikan oleh anak muda.

Sahabat Museum
Komunitas ini didirikan oleh Ade Purnama. Mas Adep, panggilannya mendirikan Sahabat Museum pada 31 Agustus 2002. Saya pernah bergabung dengan komunitas ini saat masih aktif komunikasi di mailing list (milis). Kala itu, setiap kali ada rencana kegiatan, selalu diumumkan melalui milis. Bagi yang berminat mengetahui fakta sejarah, bisa mengikuti Plesiran Tempo Dooloe (PTD). Pengumuman PTD ini menggunakan bahasa tempo doeoloe yang unik.
 
Sahabat Museum. SUmber : Sahabat Museum
Setiap kali melakukan kegiatan, minimal jumlah peserta mencapai 100 orang. Bahkan pernah mencapai 1000 orang sewaktu mengadakan kegiatan membahas riwayat hotel di kawasan Duta Merlin Harmoni, kawasan Kota Tua. Selain PTD, kegiatan lainnya adalah Pitong alias pindah tongkrongan. Kegiatannya tak hanya di wilayah Jabodetabek saja, melainkan juga hingga luar Jakarta seperti PTD ke Ambon dan Banda Neira, Maluku. Dedikasi yang ditunjukkan untuk mengembangkan komunitas ini membuat ia pernah mendapat tawaran beasiswa ke luar negeri, namun ia tolak.

Komunitas Historia Indonesia
Asep Kambali merupakan pendiri Komunitas Historia Indonesia (KHI) yang didirikan di Jakarta, 22 Maret 2003. Pada akhir tahun 2008 hingga awal tahun 2009, sarana yang digunakan adalah blog, twitter dan facebook. Hingga kinim komunitas ini tercatat lebih dari 23.500 orang yang tersebar di seluruh dunia. Program yang dikenal dari komunitas ini adalah Heritage Trail Pecinan Tangerang, Walking Tour Soempah Pemoeda, Tour de Busway, Wisata Malam Kota Tua dan Night at The Museum. Berbagai penghargaan telah diperoleh. Salah satunya, ‘Most Recommend Consumer Community Award tahun 2010 oleh SWA Magazine.
 
Aktifitas KHI. Sumber foto : Komunitas Historia Indonesia 
Perubahan oleh Anak Muda
Mas Adep (kelahiran Denpasar, 20 Agustus 1976) dan Kang Asep (Lahir 16 Juli 1980), merupakan dua anak muda yang memilih untuk berkarya secara positif dan menginspirasi. Mereka memilih untuk berkarya di bidang yang tak banyak dilirik. Belajar sejarah yang seringkali membosankan dan kaku, menjadi sesuatu yang menarik. Mereka mengubah sejarah menjadi sesuatu yang kreatif dan mengasyikkan. Mereka berani berbuat, berani bersikap dan berani berubah demi sesuatu yang positif.

Sejarah yang awalnya lebih identik dengan usia lanjut, sekarang menjadi sesuatu yang digemari oleh anak muda. Keduanya, bagi saya merupakan sosok yang peduli dengan bangsa, dengan cara yang awalnya dianggap sebelah mata. Sejarah, apabila lambat laun ditinggalkan orang anak muda akan membuat jati diri bangsa menjaid hilang. Jika terabaikan, anak muda menjadi tidak mengenal sejarah. Padahal berkat sejarah di masa lalu, kita ada. Belajar sejarah membuat kita menjadi penghormati perjuangan pahlawan di masa lalu.
 
Opini.id 
Komunitas anak muda, harus tetap didukung. Salah satu bentuk dukungan adalah menemukan media penyaluran aktivitas kreatif seperti Opini.id , situsnya anak muda yang punya kepedulian. Opini.id merupakan platform yang menggabungkan antara media sosial dan media berita. Pengguna bisa melakukan interaksi dengan mengajukan pertanyaan, opini, hingga melakukan voting bagi pengguna lain.  Bahasa yang digunakan ringan, tak kaku serta mudah dipahami. Materi yang diangkat juga sesuatu yang lagi viral di media sosial. Salah satunya tentang penjual nasi uduk yang berusia lanjut, mendapat berkah saat ada yang share tentang kondisinya. Materi itu membuktikan bahwa kekuatan media sosial dapat menggerakan untuk suatu komunitas ke arah yang lebih baik. 

Oh ya, bentuk dukungan Opini.id juga melalui gerakan anak muda yang bersatu seperti Jong United untuk tanggal 28 Oktober ini. Anak muda kini, bergerak melalui media sosial dalam menyalurkan aspirasi untuk kemajuan. Mereka bergerak, mempengaruhi kekuatan masyarakat sipil untuk melangkah lebih maju. 

Lalu, bagaimana bentuk dukungan teman untuk komunitas anak muda? 


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

34 komentar:

  1. wah makasih sharing soal kang asep dan kang adep :D inspiring ya :D btw, mba hana biasa bw blog mba via hape.. sekarang via komputer.. template blognya udah berubah ya.. :D makin cantik :D hana suka template yang baru.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Makasih, mba Hana ;)
      Iyaa .. lagi refreshing :)

      Hapus
  2. Di Medan juga ada komunitas anak muda yang peduli dengan sejarah. Mirip-mirip mungkin, ya. Karena lebih ke bangunan-bangunan heritage nya. Nama komunitasnya Medan Heritage, mba :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mba Molly. Bagus juga ya jika banyak yang peduli sejarah :)

      Hapus
  3. Aku kenal komunitas Historia waktu kang Asep ngasih sambutan dan sedikit menjelaskan beberapa sejarah kisah pahlawan dan menurut saya komunitas Historia Kereennnnn bangetttt masih pedulu sama sejarah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cara penyampaiannya pun pasti lebih menarik ya mba ;)

      Hapus
  4. Saya tau komunitas ini udah lama banget, pengen ikutan kegiatan keliling museum atau tempat bersejarah di Jakarta sayangnya belum nemu waktu yang pas

    BalasHapus
  5. jadi pengen ikutan komunitas anak muda di sby

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya di Surabaya juga ada komunitas seperti ini ya mba :)

      Hapus
  6. Waahh, seru nih, pengen gabung.. aku suka banget bangunan bersejarah termasuk museum, karena bagus buat foto-foto.. hadeziiinggg *dilempar granat* haha

    Harusnya di SBY juga ada nih, bangunan sejarahnya banyak.. pengen masukkin satu-satu :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahhaa motifnya keliatan ya mba Meriska. HIhiii

      Hapus
  7. asyik ya, aku juga penyuka museum, setiap ke daerah yang pertama aku cari ya museum atau cagar budaya

    BalasHapus
  8. Komunitas sejarah ini kerennn,,, dulu pernah coba ikutan sama salah satu komunitas waktu masih jomblo dan emang keren. sekarang bisanya kasih semnagat aja.. suka deh. semangat anak muda, selamat hari sumpah pemuda... :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Walau skarang udah nggak jomblo, yuk kapan-kapan kita ikut bareng, mba Ira. Hihiii

      Hapus
  9. Aku suka heritage and history. Tapi belum ikut yang manapun nih

    BalasHapus
  10. Waaah, kegiatannya keren banget ini mbak. Sekarang anak muda banyak yang peduli dengan sejarah. Anakku yang sulung aja milih jurusan Sejarah, padahal dia lulusan SMK teknik komputer jaringan, hahahaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya ketertarikan bisa tak terduga ya mba :)

      Hapus
  11. baru tau aku mb, nice info...jadi nambah wawasan

    BalasHapus
  12. Waah keren ini mah mba, komunitas peduli sejarah, anak mudah menginspirasi ini. Semoga bisa diikuti anak muda lainnya ya.

    BalasHapus
  13. Dengan ada komunitas, open trip, belajar sejarahnya jadi lebih asyik

    BalasHapus
  14. Aku suka ke musium apalagi di Jakarta banyak musium yang seru buat dikunjungi. Mau coba gabung ke komunitas-komunitas di atas deh biar ada teman keliling musium.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo nggak sendirian, jadi nggak membosankan, mba

      Hapus
  15. wah, selain Jakarta Good Guide, ada lagi komunitas menarik lainnya :) Kl Jakarta Good Guide bayar serelanya, kl ikutan sama mereka ini byr ke guide juga atau bebas saja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada bayar sesuai tujuannya mba. Beda2 :)

      Hapus
  16. Wah keren anak2 muda ini melestarikan museum.
    Btw selama tinggal di Jkt aku blm pernah ke museum nih hiks sedih, moga abis ini bisa rencanain keliling museum di jkt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk kapan-kapan ke museum mba April

      Hapus
  17. Salut saya sama mereka. Masih muda dan mencintai museum. Kerennya lagi punya aksi nyata.
    Semoga makin banyak yg suka berkunjung ke museum.

    BalasHapus