Senin, Oktober 10, 2016

Batik Pesisir, #BatikIndonesia antara Tradisi dan Inovasi

Batik Pesisir?
Saya jarang mendengar nama batik pesisir. Saya hanya tahu nama batik berdasarkan asal daerahnya. Batik Pekalongan, Batik Kudus dan lain-lain. Namun kemudian saya ketahui bahwa ada yang dinamakan batik pesisir, dan ada yang dinamakan batik keratonan. Batik keratonan dibuat di daerah keraton seperti Cirebon, Yogyakarta dan Solo. Batik Keraton lebih banyak dipakai oleh anggota kerajaan pada masa dulu. Sedangkan batik pesisir berasal dari daerah pantai seperrti Indramayu, Tuban dan Madura. Masyarakat pesisir lebih banyak terpengaruh pada budaya luar seperti India, China, Arab, Persia, Turki dan negara-negara lain.
 
Pameran batik pesisir di Bentara Budaya Jakarta
Saat ada pameran Selisik Batik Pesisir yang diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta mulai tanggal 4 hingga 9 Oktober, saya tertarik untuk mengetahui lebih banyak tentang batik pesisir. Jumatt, 7 Oktober sepulang kerja, saya mendatangi lokasi pameran. Saat masuk ke ruang pameran, lembaran kain terpajang di Bentang Budaya Jakarta. Di sisi kanan ada beraneka kain dengan aneka warna serta motif Batik Bengkulu tersaji. Di bagian tengah, batik-batik  khas Madura menunjukkan pesonanya. Sisi kiri ruangan, tersaji beraneka kain dari Tuban, Jawa Timur. Mata saya tertuju pada sehelain kain batik raksasa berwarna hitam putih yang berisi aksara Arab. Saya mencoba membaca tulisan yang tertulis pada kain tersebut. Tapi saya gagal.

“Itu isi gurindam XII,” kata Pak Muhardi, Kepala Seksi, Konservasi dan Preparasi Museum Negeri Bengkulu kepada saya. Mungkin karena melihat saya yang terlihat mencoba memahami isi kain itu. Kain besurek karya Dudung Alie Syahbana ini membuat sehelai kain yang berisikan karya Raja Ali Haji degan aksara Jawi. Saya kemudian tertarik untuk lebih banyak tahu tentang batik Bengkulu. Menurut Pak Muhardi, batik Bengkulu dinamakan besurek. Besurek berarti sesuatu yang ditulis. Jadi, kain besurek berarti kain yang dituliskan. Kain besurek dikenal di Bengkulu saat masuknya Islam ke Bengkulu yakni pada abad ke 16. Batik tulis ini terbuat dari bahan benang kapas. Tulisan-tulisan di kain besurek berisikan kaligrafi Arab namun tak memiliki makna. Kaligrafi Arab tersebut kemudian dipadupadankan dengan lingkungan alam. Maka tak heran, saya menjumpai kain besurek yang menggabungkan bulan, kembang cengkeh hingga burung punai dengan aksara Arab. Pada dasarnya motif tradisional yang berkembang menggambarkan hubungan manusia dengan alam serta sang pencipta. Saat dulu, hanya masyarakat dari kalangan mampu saja yang lebih banyak menggunakan kain besurek.
 
Kain Besurek yang dipamerkan
Pak Muhardi kemudian menceritakan bahwa kain besurek kerapkali digunakan saat upacara terkait siklus hidup manusia di Bengkulu. Mulai dari kelahiran, pernikahan, hingga kematian. Kepada saya, Pak Muhardi menunjukkan sebuah kain warna merah yang dipamerkan di pameran tersebut. Menurutnya, kain itu digunakan pada upacara cukur rambut bayi usia tujuh hari. Warna merah hati dengan tulisan putih melambangkan sifat religius. Ketika acara akikah, anak diletakkan di kain besurek, kemudian diayunkan sambil mendendangkan lagu.  Saat upacara pernikahan, terdapat tradisi ziarah ke kubur. Saat ziarah itu, calon pengantin menggunakan kain besurek yang berwarna biru atau cokelat kehitam-hitaman berukuran 225x105 cm. Motifnya kain besurek adalah aksara arab dipadukan dengan kembang melati serta pola garis.

Kain besurek ini juga digunakan perempuan yang akan meratakan giginya sebelum menikah. Awalnya saya mengira tradisi ini tak berlangsung lagi hingga kini. Tapi teryata, tradisi ini masih hingga kini dilestarikan. Perempuan yang menjalani upacara akan meletakkan kain besurek di pundaknya. Saat meninggal, kain besurek digunakan untuk menutup jenasah sebelum jenasah dimandikan. Pewarnaan kain besurek berasal dari bahan-bahan alami. Warna biru berasal dari daun timbuak yang menghasilkan biru kehitam-hitaman. Sedangkan penggunaan getah gambirmampu menghasilkan warna merah marun.

Pak Muhardi mengatakan, hingga kini kain besurek memiliki 38 kain besurek yang dipamerkan di Museum Negeri Bengkulu. Hanya saja, tak diketahui usia kain-kain yang menjadi koleksi museum itu. “Pas penggandaan koleksi, pemiliknya hanya bilang kalau itu koleksi dari nenek moyangnya. Kami susah mengetahui usia kain,” kata Pak Muhardi kepada saya. Namun diperkirakan, usia kain paling tua adalah 100 tahun-an karena berasal dari tiga generasi ke atas saat koleksi ini diperoleh pada tahun 1980-an.

Batik Tuban, Pelestarian dari Generasi ke Generasi
Di pameran itu, saya kemudian berkenalan dengan Bu Sari, pengrajin dari Desa Gaji, Kecamatan Kerek, Tuban. Bu Sari kala itu sedang menjual batik khas Tuban, Jawa Timur. “Alhamdulillah beberapa jualan saya laku,” katanya. Kepada saya, Bu Sari menceritakan sejak kecil telah berada di lingkungan batik. Sang ibu adalah penenun batik. Dari ibunyalah, ia kemudian belajar menjadi penenun batik, padahal di lingkungannya sudah jarang orang yang mau belajar menenun batik. Masyarakat Tuban mengenal batik dengan sebutan batik gedog. Gedog berasal dari bunyi dog-dog yang berasal dari alat menenun kain tenun. Proses pembuatan batik gedog Tuban membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.
 
Bu Sari, pengrajin batik Tuban
Bu Sari mulai menenun batik sejak usia 20 tahun, telah menjadi buruh celup di usaha batik. Tujuh tahun lalu, ia kemudian memilih untuk membuka usaha sendiri. Jika dulu ia hanya punya empat karyawan di rumah, kini sudah ada 10 karyawan yang bekerja di rumah dan 30 pengrajin yang mengerjakan batik di rumah masing-masing.

Total, hingga kini, sudah 15 tahunia berprofesi sebagai jurangan batik. Produk utamanya adalah kain batik tulis dengan bahan dari kain katun putih atau tenun gedhog. Bu Sari juga banyak yang membuat batik dengan bahan pewarna alam seperti indigo, mahonidan tingi. Motif ini kemudian digabung dengan motif kembang wuluh, ganggang pedot, tekuk dengkul, gringsing, klapa sekanther, panji ori, nam kathil dan lainnya. Harganya bervariasi, mulai dari Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta.


Melestarikan Batik Pamekasan Karena Tergiur Kemajuan Lingkungan Sekitar
Melestarikan batik dari generasi ke generasi merupakan salah satu cara agar batik tetap dikenal. Namun ada juga yang memilih melestarikan #batikIndonesia karena awalnya tergiur kesuksesan tetangga. Itulah yang dialami Pak Badrudin, pengrajin batik Pamekasan, Madura. Pak Badroddin adalah pembatik dari DusunPodhek, Kabupaten Pamekasan, Madura yang lebih banyak mengandalkan penjualan rutin di pasar khusus batik. Kepada saya, ia mengaku tertarik sebagai pengrajin batik Pamekasan karena tujuh tetangganya mampu memiliki rumah, mobil hingga naik haji. Tiga keuntungan material itulah yang membuat Pak Badrodin akhirnya luluh saat pamannya meminta ia berbisnis batik pada tahun 2010.
 
Pak Badroddin dengan kain produksinya
Awalnya, ia produksi sendiri batik Pamekasan, kemudian ia jual dari satu pedagang ke pedagang lainnya. Ia hanya berjual dua kali dalam seminggu. Jika dulu ia memproduksi sendiri, kini ia dibantu 10 karyawan. Harga batik yang dijual bervariasi. Mulai dari Rp 115 ribu hingga Rp 2,5 juta. Mahalnya harga batik juga dikarenakan kecilnya ukuran canting yang kecil sehingga pengerjannya juga lebih lama. Ciri khas batik adalah pemilihan warna yang menonjol. Apabila warna merah, maka warna merah akan sangat menonjol. Begitu juga saat wrana coklat ataupun warna yang lain. Sedangkan untuk motif, motif bunga yang paling banyak disukai. Dalam sebulan, ia mampu menjual hingga 90 lembar kain batik Pamekasan.  Untuk harga kain batik yang mahal berukuran 2x50 meter, butuh waktu lima bulan pengerjaan.

Inovasi Kain Besurek, Batik Pamekasan dan Batik Tuban
Jurnal Al Azhar Undonesia Seri Pranata Sosial Tahun 2012, memuat studi inovasi produk dan motif seni batik pesisiran seperti Tuban menemukan bahwa inovasi produk kurang berkembang, inovasi tergantung dari pemilik dan pelanggan atau pasar. Rata-rata inovasi hanya untuk kepentingan kain, selendang, kaos dan belum memiliki peruntungan khusus untuk fashion. Sedangkan kreativitas penggunaan bahan baku dan produk belum berkembang. Menurut jurnal tersebut, aktor dan faktor penggerak yang meliputi pemilik, pelanggan, pemerintah dan pekerja batik serta akademisi belum berkoodinasi dengan baik. Hal ini tentu menjadi salah satu kendala dalam proses inovasi batik Tuban.

Bagi saya, kini batik Tuban semakin membuat inovasi demi inovasi untuk melestarikan budaya batik. Salah satu penandanya yakni semakin banyak pengrajin yang masih bertahan hingga kini. Batik Tuban mewakili kreatifitas yang tak masih mengandalkan bahan dasar alami.

Corak batik Pamekasan 
Sedangkan kain besurek semakin berinovasi dan melibatkan berbagai pihak. Jika dulu kain besurek lebih banyak digunakan pada upacara-upacara terkait siklus hidup manusia, kini kain besurek digunakan pada berbagai kegiatan. Inovasi demi inovasi kemudian dilakukan agar kain besurek semakin dikenal. Pada periode Gubernur Razie Yahya tahun 1989-1994, Gubernur mendorong penggunaan kain besurek di setiap instansi pemerintah. Pak Muhardi mengatakan, pada kegiatan Museum Negeri Bengkulu, para kepala museum diwajibkan menggunakan kain besurek. Kain besurek kini mengabungkan berbagai unsur-unsur baru misalnya bunga raflesia, huruf kaganga dan lain-lain. Huruf kaganga ini mirip dengan aksara incung di Kerinci. Saat membaca koran Kompas edisi Minggu, 21 Agustus 2016, ada peneliti aksara Kaganga dari Universitas Bangkulu, Sarwit Sarwono mengatakan sejauh ini ada 8-10 huruf dari sekitar 23 huruf kaganga yang dikenal di Bengkulu yang sudah diaplikasikan sebagai motif batik. Huruf kagangan yang ada di batik merupakan hurup lepas dan tidak menjadi motif yang bersambung.
 
Batik Tuban 
Lalu, bagaimana dengan batik Pamekasan? Batik Madura sudah semakin berkembang dan tak hanya berkutat di warna-warna berani saja, melainkan juga mengembangkan batik yang berwana gelap seperti hitam, coklat, biru tua dan warna-warna pastel. Batik pesisir masih memiliki daya tarik di mata masyarakat. Pengenalan ini juga bisa dilakukan dengan sosialisasi kepada berbagai kalangan dengan berbagai cara. Dengan pengenalan batik pesisir secara komprehensif, dan kerjasama dari berbagai pihak, batik pesisir sebagai salah satu #BatikIndonesia akan semakin dikenal. Seperti dikatakan Pak Muhardi,"Pameran seperti ini yang diharapkan membuat batik semakin terkenal," katanya.   

Sumber :
Jurnal Al Azhhar Indonesia Seri Pranata Sosial, Vol.1 No 4 September 20112


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

59 komentar:

  1. Indonesia itu kaya banget ya Mba.. Bahkan dari satu hal, batik saja, bisa bermacam-macam. Tak hanya dibedakan dari ciri khas tiap daerah saja, bahkan peruntukannya pun dibedakan juga. Mulai dari corak, warna.. Ya Allah..bangga banget deh jadi orang Indonesia.. Kreatifnya luar biasa. :)

    BalasHapus
  2. Kain Besurek syakeep banget y mba ^^ banyak juga jenis batik y taunya batik jawa tengah doank *kurangpiknik* nice info mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa kain besurek cakepnya luar biasaa

      Hapus
  3. Batik pesisir ternyata banyak juga motif dan coraknya ya, mbak

    BalasHapus
  4. Baru tahu juga mbak soal batik pesisirm biasanya tahunya itu macam btik dr asalnya dan coraknya kaya sidamukti gt,heh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Awalnya aku pun demikian hihii
      Sekarang jadi tahu mbaa

      Hapus
  5. batik emang udah membumi di indonesia.. hampir semua orang punya kain batik.. minimal jarik buat gendongan..he2

    tapi kini batik lebih banyak motif dan bahannya lebih halus.. lebih banyak model.. gak cuma bwahan.. tapi baju2 trendy juga.. cocok dipkai semua umur..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang inovasi makin dikembangkan mba :)

      Hapus
  6. cantik-cantik batiknya, tiap daerah beda dan khas batiknya ^__^

    BalasHapus
  7. Keren ya batik itu mak semua daerah punya ciri khasnya sendiri2. Aku suka banget pake batik klo ngajar mak pa lg skr modelnya lucu2 :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Muridnya pasti senang punya pengajar yang keren karena pakai batik. Hihii

      Hapus
  8. Aku juga baru tahu mbak sama Batik Pesisir ini dan motifnya bagus-bagus ya. Apalagi yang dari Tuban itu, bagus motifnya.

    BalasHapus
  9. Cantik - cantik banget motif Batik Pesisir ini ya mba, kebetulan aku juga lagi suka nambah pakaian dengan nuansa Batik...okay banget nih dijadiin referensi :)

    BalasHapus
  10. Luar biasa memang ya Indonesia. Kaya banget!! Sampe batik pun (ternyata) banyak jenisnya. Sama kaya kamu mba, ak juga taunya cuma batik2 standard macam cirebonan, yogya,.. Nggak tau kalau ada batik pesisir.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa
      Mungkin banyak juga yang belum aku ketahui mba

      Hapus
  11. Saya selalu terpikat dgn batik..motifnya cantik2. Bangga sebagai bangsa yg memiliki seni dan warisan budaya batik ini

    BalasHapus
  12. Ayo, mba ke Tuban, bisa keliling ke pengrajinnya. Yang terkenal sih di Kerek, meski sebenarnya tersebar di kecamatan-kecamatan lain. Untuk motif pada dasarnya sama, misal burung Hong, kembang waluh, dsb. Saat ini motif batik saling mempengaruhi. Misal ada motif dari Madura yang dibuat sama atau dikombinasikan dengan motif sini. Termasuk motif kontemporer.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah semoga kesampean maen ke Tuban ke pengrajinnya

      Hapus
  13. baru tau ada batik pesisir, tapi mbaa, itu foto pertama yg paling atas, batik warna merahnya, bener2 ga bisa ngalihin mata ! ^o^.. cakepnya bangeeetttt.. pasti mahal yaa...

    BalasHapus
  14. Inilah warna-warni Indonesia, batik pun beragam dan tiap daerah ada ciri khasnya. Saya punya batik Madura, warna-warnanya emang cerah pun motifnya bervariasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya aku juga punya beberapa batik Madura mba

      Hapus
  15. Banyak banget ternyata ya jenis batik itu. Saya sih milih batik cuma dari pola dan bahannya saja. Gak fanatik dengan jenis batik tertentu. Soalnya menurut saya, semua batik Indonesia itu cantiiik...

    BalasHapus
  16. Wow batik pesisir dan batik tuban ternyata bagus-bagus ya.. Saya jadi pingin punya.

    BalasHapus
  17. Indonesia memang kaya dg ragam batiknya ya mba. Kadang suka ga ngeh bedanya dimana

    BalasHapus
  18. Mau batiknyaaa..

    Suka banget sama batik.. Kalau lihat batik mata udah susah diem, lihat sana sini.. Itu kalau pas mood banget. kalau ndak, cuma diem dan berharap yg ngajakkin lihat batik, pengertian hihi

    BalasHapus
  19. Subhanallah... koleksi batiknya beragam ya mbak. Hwehh.. filosifi kain batik besureknya jga khas hee.
    Jadi mupeng heheee

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka filosofi dari kain besurek mba :)

      Hapus
  20. Klo dicermati daerah2 batik memang lebih banyak di pesisiran lho mbak. Sukses ya semoga menang

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa mba
      Aaamin doanyaa, mba
      Makasih banyak mba :)

      Hapus
  21. kain batik besureknya kece2 ya mba..aku suka tuh yg warna hitam2..elegan gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semua kece kece mba
      Iya hitamnya emang kece nan elegan euy

      Hapus
    2. Aku suka batik apa aja da pernah belajar gebatik tulis dan itu susaahhhh ciiinn.

      Hapus
  22. Indonesia kaya akan batik ya, bagus2. Di tempat kami di Pati juga ada batik khasnya, namanya Batik Bakaran. Instansi pemerintah wajib memakainya kalau hari Kamis. :)

    BalasHapus
  23. Wah nggak nyangka ternyata di BBJ ada acara pameran batik juga. Kukira BBJ cuma buat acara-acara show yang berbau sastra atau seni musik gitu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyak acara mba. Pernah pameran produk makaan dan minuman juga

      Hapus
  24. Indonesia memang kaya akan budaya ya, Mbak. Batiknya cantik-cantik ...semoga banyak pengusaha batik yang semakin sukses ya...

    BalasHapus
  25. kain2 batik itu bagusnya dikoleksi ya mbak. kyknya gak tega buat dipotong2 & dijadikan baju. Pantas saja ada yg smp mahal banget krn harus memotong beberapa kain untuk jadi satu baju...

    BalasHapus
  26. Buat kami yang di luar Jawa, batik itu sama, dari Jawa tapi ternyata motifnya pun macam2 ya Mbak .... negara kita kaya benar ....

    BalasHapus
  27. bagus bagus batiknya...jadi pengen...

    BalasHapus
  28. Baru tahu ada istilah batik pesisir aku mbak :) dan ternyata punya ciri khas tersendiri ya..TFS

    BalasHapus
  29. Saya pun tahunya, batik dari Pekalongan, Solo dan Yogya kalau di luar Jawa belum mengenalnya, setelah baca postingan ini jadi tau deh karya anak bangsa budaya batik ada di Bengkulu, Tuban dan istilah batik pesisir mbak

    BalasHapus
  30. Setahu saya, kalau batik pesisir, motifnya lebih detail, dan warna alam pesisir juga menjadi inspirasinya, kaya laut, langit, biru keabu-abuan.
    Batik Solo dan Yogya beda dengan batik Pekalongan

    BalasHapus