Senin, Juli 25, 2016

Kemelut Sengketa Laut China Selatan

Selama bulan Juli, salah satu berita luar negeri yang seringkali dibahas adalah  sengketa Laut China Selatan. Jujur, awalnya saya nggak begitu ngeh dengan topik ini. Tapi karena topik beberapa kali terlihat di media sosial akhirnya saya pun mencari banyak informasi tentang sengketa Laut China Selatan.

Jadi begini, China berdalih sebagai pemilik seluruh kawasan Laut China Selatan. Dalih yang dikeluarkan oleh China ini berdasarkan buku kuno bertulisan tangan yang dijuluki ‘holy grail’. Buku ini diklaim China sudah menjadi warisan turun temurun nelayan China dan dianggap sebagai panduan navigasi tradisional yang  dikenal dengan nama ‘genglubu’.  
Sengketa Laut Selatan. Sumber foto : Sindonews
Saat membaca Sindonews.com, saya mendapat banyak informasi tentang sengketa Laut China Selatan Sindonews Gao Zhinguo, Direktur Institut China untuk Strategi Pembangunan Kelautan menyebutkan buku kuno itu seperti ‘bukti besi berlapis’. Nah teryata, klaim ini pula yang semakin memperkeruh permasalah. Amerika Serikat bahkan memperingatkan China yang dianggap melakukan tindakan provokatif.

Pengadilan arbitrase di Den Haag yang mengeluarkan putusan pada 12 Juli 2016 lalu memenangkan semua gugatan Filipina terhadap China terkait sengketa wilayah di kawasan Laut China Selatan.

Pengadilan Internasional itu memutuskan Cina tak lagi memiliki dasar hukum untuk mengklaim hak bersejarah sumber daya di Laut China Selatan.  Keputusan Pengadilan lainnya juga menyatakan bahwa klaim China bertentangan dengan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS). China juga dianggap melanggar hak-hak berdaulatdari Filiphina.
 
Pemberitaan di Sindonews

Filipina tentu menyambut baik keputusan ini. Berbeda dengan China yang tidak menerima dan memilih mengabaikan putusan Pengadilan Arbitrase Internasional. China bahkan memboikot sidang di Pengadilan Arbitrase Internasional dan menyatakan lembaga itu tak memiliki yuridis atas sengketa. Kementerian Pertahanan China bahkan mengeluarkan peryataan bahwa Angkatan Bersenjata China akan tegas menjaga kedaulatan nasional, keamanan dan kepentingan dan haknya.

Nah, China bahkan telah mengirim kapal perusak 052D Yinchuan dari sebuah pelabuhan Angkatan Laut di Sanya, Hainan. Kapal ini ini memiliki panjang 150 meter dan dilengkapi sistem senjata yang canggih dan dapat melakukan pertahanan udara. Sengketa seperti ini hingga kini belum ada jalan keluarnya. Semuanya masih proses pencarian jalan keluar. Entah kapan … 

Saya terbantu dengan pemberitaan online yang memudahkan saya untuk mencari beraneka informasi. Apalagi kalau saat memasukkan keyword, beraneka berita terkait keyword pun muncul. Nah, dengan membaca online seperti ini, saya jadi banyak tahu tentang sengketa Laut Cina Selatan.   

Referensi : 
Sindonews.com 

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

30 komentar:

  1. kayanya Indonesia sama negara tetangga juga pernah sengketa tentang wilaya seperti ini ya mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba.
      Dan sudah terjadi sejak lama perebutan wilayahnya

      Hapus
  2. Kurang mengerti juga sama pikiran China.. acuan dasar hukumnya tidak jelas, hanya berdasarkan klaim bahwa laut china selatan merupakan jalur tradisional yang digunakan oleh mereka sejak dulu. Mungkin karena merasa kuat, jadinya berbuat semena-mena??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya itulah. Salah satu yang mereka jadikan acuan, mas

      Hapus
  3. Jaman skrng emang enak ya mbak, berita terkini gak perlu nunggu koran pagi. Tiap detik ada aja yg update berita di internet :D

    Btw, mungkin krn jaman dulu nenek moyang Bangsa Cina kemana2 kali ya, jdnya mereka berpatokan pd sejarah itu. Jd penasaran sama isi buku kunonya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang akses internet bisa diperoleh dimana saja, mba April :).
      Nah aku awalnya ya penasaran jadi gugling2 mba. Makasih sudah mampir :)

      Hapus
  4. Tak paham cara pikir beberapa negara yang ngotot bertindak nakal terhadap tetangganya. Jadi terpikir pentingnya pelajaran budi pekerti. Kalau generasi muda di seluruh dunia cukup dibekali ttg budi pekerti, diharapkan saat mrk jadi orang2 penting tak ada manuver2 provokatif semacam itu.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa juga ya, mba. Budi pekerti memang sebaiknya dikenalkan sejak dini kepada anak-anak. Tapi urusan perang terkadang susah dipahami mba :(

      Hapus
  5. Perebutan area wilayah sering sekali menjadi problematika area perbatasan tak terkecuali negeri kita sering sekali menghadapinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sengketa wilayah kerap terjadi dmana-mana ya mba Siethi :(

      Hapus
  6. Lah Natuna dan Anambas di wilayah perairan Kepri di sini berlautkan sama dengan Cina yakni Laut Cina Selatan. Lalu mentang-mentang namanya Laut Cina Selatan bukan berarti punya Cina semuanya dong. Bukankah kita mengenal Zona Ekonomi Eksklusif dimana sekian mil jaraknya dari garis pantai masih merupakan wilayah negara kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya bener mba Lina. Ini yang hingga kini masih menjadi perebutan wilayah dan belum diputuskan ya mba. Itulah karena klaim China jadi nama yang dberikan ya serba China

      Hapus
  7. Lah Natuna dan Anambas di wilayah perairan Kepri di sini berlautkan sama dengan Cina yakni Laut Cina Selatan. Lalu mentang-mentang namanya Laut Cina Selatan bukan berarti punya Cina semuanya dong. Bukankah kita mengenal Zona Ekonomi Eksklusif dimana sekian mil jaraknya dari garis pantai masih merupakan wilayah negara kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh iya mba Lina. Ini yang hingga kini masih menjadi perebutan wilayah dan belum diputuskan ya mba. Itulah karena klaim China jadi nama yang dberikan ya serba China

      Hapus
  8. kekuasaan memang sering diperebutkan.
    Perlu ketegasan dari pemerintah INDONESIA

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ketegasan pula dari negara lainnya dan patuh atas putusan yang telah ditetapkan bersama ya

      Hapus
  9. Sampai segitunya China. Gagal paham sama pemikiran negara2 yang memperebutkan wilayah. Smg berakhir damai.

    BalasHapus
  10. wilayah dan perairan kita juga sering diklaim oleh negara lain sebagai kepunyaan mereka :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dan hingga kini masih terjadi ya mba :(

      Hapus
  11. Aih, yang dijadiin dasar klaim masa lalu ya ternyata. Sama seperti Israel mencaplok Palestina juga kalau begitu. Dan bikin ingatan melayang ke serangan sejumlah pasukan Kesultanan Sulu ke Malaysia beberapa waktu lalu.

    Jadi bayangin, kalau Indonesia mencaplok Malaysia, Singapura dan sebagian Filipina-Thailand dengan dasar pernah jadi bagian dari Majapahit gimana ceritanya ya? Hehehe...

    BalasHapus
  12. Pas sebelum baca artikel mba Rach ini, ada berita di tv lokal bandung pemberitaan soal laut cina selatan ini, masih nyimak nih...

    BalasHapus
  13. abis baca ini, yg ada aku lg buka peta, pengen tau laut china selatan itu yg sebelah mana :D.. maklumlah mbak, nth kenapa kalo soal geografis dan arah2, aku lgs blank gitu -__-. pdhl suka traveling..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Asyikk, jadinya tau dungs skarang mba :)

      Hapus