Selasa, Maret 08, 2016

Berbagi Kasih Sayang Melalui Sedekah

Siapa bilang harta ga dibawa mati?
Dibawa kok.. Manfaat dan pahalanya! ^_^

#Aksi-Bagi-Baju-Bekas-Berkah
#Pelosok-Dusun
#MCK-untuk-Dhuafa
#Aksi-Makan-Gratis -Dhuafa

BismiLLAH..
Mohon doa yaaa..
Pada 6 Maret, kami akan beraksi di Desa pojok klitih Kecamatan Plandaan. Tak seberapa jauh dari kawasan wisata Cinet, Jombang. Menuju ke desa ini.. kami tak membawa motor roda 3.. medan yang cukup berat. Kami membawa 1 mobil operasional dan menyewa 1 pick up untuk membawa 400 lembar baju bekas layak pakai dan 1000 Porsi Bakso serta minuman.

****
Kalimat-kalimat ini saya terima melalui pesan whatsapp di telepon genggam saya. Pengirimnya adalah Yana Nurliana, Koordinator Rombong Sedekah. Dari Mba Yana, saya mengetahui bahwa desa itu terdiri dari 14 Dusun namun tak semua keluarga mampu memiliki WC. Dan tingkat kecelakaan jarena buang air di pinggir sungai cukup tinggi apalagi bagi para pemula. Dengan adanya kebutuhan tersebut, Mba Yana melalui Rombong Sedekah menggumpulkan dana dari donator untuk digunakan membangun tiga hingga lima bilik WC yang direncanakan dibangun.  

Saya mengenal Mba Yana setahun silam saat mencari informasi tentang profil kegiatan islami untuk program Ramadhan. Dari pencarian itu, saya ketahui bahwa apa yang dilakukan Mba Yana adalah bentuk kasih sayang yang ia berikan kepada sesama. Dari Mba Yana, saya ketahui bahwa kasih sayang tak hanya diberikan kepada orang yang kita kenal. Tapi juga bisa kepada orang yang tak kita kenal sekalipun. Sebuah bentuk kasih sayang tanpa syarat dan batas. 

Ini yang dilakukannya dan rombongannya saat menginisatif penggumpulan dana untuk aksi jamaah jumat makan gratis. Setiap Kamis, ia selalu memberikan informasi tentang nama mesjid yang akan menjadi tempat aksi makan gratis jamaah shalat Jumat. Seperti yang ia lakukan pada Jumat, 4 Maret. Pihak Yana menggumpulkan dana untuk kebutuhan 400 porsi untuk aksi di Mesjid Baitul Amin, Perak, Jombang, Jawa Timur. Masjid ini berada di jalur provinsi yang banyak dilintasi musafir yang singgah untuk shalat.

Ada tiga aksi yang dilakukan Mba Yana sebagai bentuk kasih sayang kepada sesama. Pertama adalah ‘Program Memakmurkan Mesjid’,’Perangi Riba dan ‘Program Sosial’. Pada program ‘Memakmurkan Mesjid’ dilaksanakan dengan aksi resik mesjid hingga memberikan aksi jumat makan gratis. Di program ‘Perangi Riba’ ada aksi bebaskan hutang riba. Sedangkan pada ‘Program Sosial’ ada aksi baju bekas, aksi berah rumah dhuafa hingga aksi terkait MCK (mandi, cuci, kakus).

Aksi ini telah dilakukan sejak lima tahun lalu. Tepatnya saat ia pindah dari Balikpapan ke Jombang. Awalnya ia melakukan aksi seorang diri. Lama kelamaan, teman-temannya yang dari Balikpapan kerap memberikan amanah kepadanya. Awalnya ia membagikan 100 kue setiap hari Jumat. Kemudian lanjut memberikan 100 kotak kue. Kemudian meningkat menjadi 100 kotak makanan berat. Aksi ini berlanjut menjadi membuat ‘rombong makan’ (gerobak) makanan gratis. Sampai sekarang, aksi ini ia lakukan berpindah-pindah. Dari satu mesjid ke mesjid lainnya. Baginya, memberi makan orang lain membuat kebahagiaan padanya begitu nyata. Dari sinilah ia mulai melakukan sedekah Jumat untuk memuliakan sedekah kepada sesama.

Aksi sedekah Jumat. Foto oleh Yana
Beraneka makanan disediakan. Foto oleh Yana
Kepada saya, ia mengatakan latarbelakang awal aksi adalah untuk memakmurkan mesjid. Itulah mengapa, lebih banyak kegiatan yang dilakukan di mesjid. Ia ingin, banyak masyarakat yang ke mesjid sehingga mesjid menjadi lebih ‘hidup’. Saat awal aksi, ia mengatakan kerap kali dituduh melakukan kampanye untuk jadi lurah. “Teryata susah memberi tanpa pamrih karena dianggap sesuatu yang aneh,” katanya. Dana yang diperoleh pada semua aksi adalah sedekah dari para donator. Donator tak hanya di wilayah Jombang, tapi juga seluruh Indonesia. Ia aktif mengirimkan informasi aksi melalui facebook hingga whatsapp. Bahkan, donator lokal pun lebih banyak mengetahui dari sosial media.

Pada aksi sosialnya, ia menceritakan kisah dua perempuan lanjut usia yang membutuhkan MCK. Kedua perempuan itu adalah Mbah Kasti dan Mak Yah. Mbah Kasti adalah perempuan lanjut usia yang hidup dengan 2 anak yang memiliki keterbatasan mental. Mbah Kasti selama ini buang air di kantong plastik dan membuangnya ke sungai. Sedangkan Mak Yah (80 tahun), seorang Dhuafa yang hidup sebatang kara, pedagang sayuran di pasar yang hidup dengan keuntungan 5-10 ribu rupiah per hari yang harus berjalan kaki 5 kilometer untuk bertahan hidup. MCK yang dimilikinya sangat tidak layak. Saat saya mengetahui cerita ini, saya seperti merasa kurang bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah. Mba Yana kemudian membagikan informasi ini kepada para donatur untuk bersama-sama membantu kesulitan yang dialami Mbah Kasti dan Mak Yah. Ia melaporkan berbagai perkembangan bantuan yang telah dilakukan kepada Mbah Kasti dan Mak Yah.  

Mbah Kasti dan keadaan rumahnya. Foto oleh Yana 
Di daerahnya, ia bergerak dalam diam. Tak banyak yang tahu jika ia akan melakukan aksi. Pernah suatu hari saat akan membagi-bagikan makanan di pelosok dusun, ia membawa gerobak. Namun warga hanya menatap dan hanya makan setelah takmir mesjid menutup doa dan menyuruh jamaah makan. Antriannya mudah diatur. Para jamaah shalat jumat itu berulangkali mengucapkan terima kasih. “Itu berharga banget,” katanya. Ini berbeda jika aksi dilakukan di kota. Antrianya sulit di atur dan berulangkali minta nambah. Bahkan mangkok atau gelas setelah pakai berserakan dimana-mana. Walaupun tak diminta, tak ada ucapan terima kasih yang terlontar. Ah, betapa kerendahan hati dan kesopanan perilaku masih tertanam dalam diri dhuafa di desa-desa. Aksi Yana dan rekan-rekannya pernah ditolak karena beraneka alasan.

Bagi saya, apa yang telah dilakukan oleh Mba Yana adalah berbagi kasih sayang melalui sedekah. Sedekah kepada orang yang tak pernah ia jumpai sebelumnya. Sedekah yang tak pernah ia tahu nama. Kasih sayang yang ia berikan tak hanya bermanfaat saat itu, tapi juga bertahan lama dan membekas. Saya ingat ia pernah minta maaf kepada saya karena selalu mengirimkan pesan melalui whatsapp untuk melakukan aksi donasi. Saya heran. Mengapa ia harus marah? Bukankah saya yang harusnya berterima kasih karena telah diajak berbuat baik?

Untuk menjaga dan sebagai bentuk tanggungjawabnya kepada para donatur, ia selalu mengirimkan bukti aksi yang telah dilakukan. Bukti itu berupa foto hingga video. Menjaga kepercayaan para donatur untuk mau berbagi kepada sesama itu tak mudah. Tapi, berbagi kasih sayang kepada sesama, harus dilakukan.  


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

16 komentar:

  1. Heuheu kok sedih bacanya..adeuhh. ngingetin buat sedkah terutama buat yang disekitara kita dulu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Innayah. Ini juga jadi pengingat buat diri aku, mba :)

      Hapus
  2. salut banget mbaaak.. Semoga semangat selalu dalam menebar kebaikan

    BalasHapus
  3. Barakallah. Semoga berkesinambungan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Amin. Makasih, mba Niar :)

      Hapus
  4. Menarik nih, tapi ya gitu tantangannya pasti banyak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya begitulah, kakak Anggara. Untuk berbuat baik, tantangannya emang banyaak :)

      Hapus
  5. tiap 3 bulan sekali aku slalu ngebersihin lemari dari baju2 yang udh ga kepakai tapi masih layak.. dan suka bingung mw didonasi kemana... ujung2nya malah diikhlasin ke pemulung.. kalo ada org kyk mbak yana ini di jkt, udh pasti bakal aku ikutin :)..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Fanny, iya ya. Tapi sapa tahu pemulung juga membutuhkan, mba :). Makasih mba

      Hapus
  6. trimakasih sudah mengingatkan mba

    BalasHapus
  7. Ehmm...Mungkin karena masyarakat sudah sering mendapatkan bantuan dari para calon2 yang ingin duduk di kursi pemerintahan, Mbak makanya ketika ada orang yang justru ingin memberi tanpa pamrih disamakan dengan yang memberi demi kepentingan tertentu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sepertinya demikian, mba :)
      makasih sudah mampir mba

      Hapus
  8. Terima kasih Mbak sudah mengingatkan melalui kisah inspiratif ini...

    BalasHapus