Kamis, Februari 25, 2016

Terkesan di Tangkuban Perahu eh Tangkuban Parahu ...

Bandung. Kota itu ingin selalu saya kunjungi bersama keluarga. Jaraknya yang sekitar 2-3 jam dari Jakarta (jika tidak macet) seolah memanggil setiap kali libur tiba. Namun, keinginan untuk ke Bandung selalu gagal terpenuhi karena alasan utama, tak paham akses jalan dan macet. Maklum, bagi kami Bandung akses jalan di Bandung membingungkan (hihiii) dan macet dimana-mana. Padahal, pesona Bandung seolah tiada habisnya. Saya sendiri pertama kali ke Bandung tahun 2006, bersama Mama. Sebelumnya Mama ingin ke Bandung dan bertemu temannya saat masih di Ambon dulu. Tapi keinginan itu tak kunjung terlaksana karena sakit yang diderita Mama dan akhirnya Mama meninggal dunia.

Dengan berjalannya waktu, saya dan keluarga memiliki keinginan untuk jalan-jalan ke Lembang, Bandung Jawa Barat. Keinginan itu baru tercapai pada Januari lalu saat Mas F sedang libur semester. Dan saya pun kebetulan libur di hari itu. Maklum, bekerja di media hari libur pun seringkali masuk kerja. 

Mengapa Lembang? Karena Lembang memiliki daya tarik wisata yang menarik bagi kami sekeluarga. Sabtu siang usai makan siang, mobil melaju menuju Bandung. Selama perjalanan, obrolan demi obrolan pun mengalir. Mulai dari pelajaran sekolah, kuliah hingga pekerjaan kantor. Saking keasyikan ngobrol, mobil yang seharusnya melewati tol Cipulang, bablas hingga ke arah puncak! Dan, kami pun terkena buka tutup akses menuju puncak.  
Salah satu wisata alam di Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat yang menarik dikunjungi
Tangkuban Parahu

Setelah menunggu setengah jam, mobil pun melaju melewati jalan hingga puncak pass dan melaju menuju Lembang. Teryata perjalanan tak mulus seperti yang diduga. Kemacetan luar biasa pun kami alami. Sepanjang jalan, mobil lebih banyak berhenti daripada berjalan. Sepanjang jalan, kami melihat buah walanda di jalan Cipatat sehingga kami membeli buah tersebut. Kisah tentang sawo walanda sata tuang dalam tulisan 'Ada Sawo Walanda di Cipatat'.  

Tiba di Bandung, pukul delapan malam. Itu artinya hampir delapan jam perjalanan Jakarta-Bandung! Sehingga kami kemudian memilih melaju hingga ke Lembang. Pukul setengah sepuluh malam, kami pun langsung mencari penginapan yang dekat dengan tujuan utama yakni Tangkuban Parahu. Beruntung, kami mendapat penginapan yang hanya berjarak lima menit ke Tangkupan Parahu. Keesokan harinya, usai sarapan, kami kemudian langsung meluncur ke Tangkuban Parahu. Uang untuk tiket masuk sebesar Rp 30 ribu per orang. Tiba di lokasi, saya baru tahu kalau nama yang benar adalah ‘Tangkuban Parahu’ dan bukan ‘Tangkuban Perahu’. Ini terlihat dari berbagai petunjuk dan kata-kata yang terlihat di lokasi. Mungkin karena nama ‘Parahu’ itu sudah teradaptasi menjadi bahasa Indonesia sehingga disebut ‘Perahu’. Alhasil, sekarang lebih terkenal dengan nama 'Tangkuban Perahu'

Salah satu wisata alam di Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat yang menarik dikunjungi
Tuh kan .. Tangkuban Parahu
Penamaan nama gunung itu dikisahkan berawal dari cerita legenda terjadinya Gunung Tangkuban Parahu yang dalam bahasa Indonesia artinya ‘Perahu Terbalik’. Kisah singkatnya, Sangkuriang gagal memenuhi persyaratan membuat danau dan perahu dalam semalam untuk mempersunting Dayang Sumbi. Dayang Sumbi teryata adalah ibunya sendiri. Sangkuriang marah dan menendang perahu itu hingga terbalik dan kemudian berubah menjadi sebuah gunung. Kisah itu melegenda dan tersebar dari generasi ke generasi sehingga kisah ini pula yang menjadi daya tarik pengunjung. Kepada A, saya mengajarkan tentang legenda rakyat agar ia pun paham.
 
Saat itu pukul setengah delapan pagi sehingga tak tampak banyak pengunjung. Beberapa penjual terlihat menjajakan barangnya. Ada penjual yang menjajakan di kios-kios, tapi ada juga yang datang dari satu mobil ke mobil. Pakaian yang dijanjakan adalah pakaian untuk menghangat badan. Mulai dari syal, jaket hingga penutup kepala. “Hmm menghangatkan badan? Sepertinya dari mobil, terlihat biasa saja,” pikir saya kala itu.
Salah satu wisata alam di Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat yang menarik dikunjungi
Suasana parkiran masih sepi

Salah satu wisata alam di Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat yang menarik dikunjungi
Kawah Ratu yang masih tetap indah
Ketika pintu mobil terbuka, terasa udara dingin pun mulai terasa. Awalnya dinginnya udara  tertutup kekaguman atas indahnya kawah Ratu di Tangkuban Parahu. Kawah Ratu merupakan salah satu dari sembilan kawah yang terdapat di Tangkuban Parahu. Saya terkesima melihat kawah ratu seluas 12.36 hektar yang terletak di ketinggian 1.365 meter di atas permukaan laut. Rembesan mineral mengalir di Kawah Ratu. Seharusnya kawasan itu memiliki dasar sungai yang berwarna hijau akibat endapan mineral. Tapi saya tak beruntung saat itu.

Semburan gas belerang tercium samar. Kami kemudian melangkah kaki menikmati keindahan alam di depan mata. Tawaran untuk naik kuda Rp 20 ribu per orang, tidak kami ikuti. Kami memilih berjalan kaki untuk menikmati pemandangan alam. A memegang tangan saya, “Ummi dingin,” katanya. Aduh, saya menyadari lupa membawa jaket. Padahal, setiap kali ia bepergian selalu membawa jaket frozen kesayangannya. Saya membuka tas dan menemukan jaket anti angin yang selalu tersedia di tas. Namun dinginnya udara semakin bertambah kala angin meniup kencang.

Rasa dinginnya udara sementara terhalau dengan pemandangan indah yang tersaji. Kami berjalan secara perlahan dan asyik memotret. Kami hanya bisa memotret di bibir gunung yang diindungi pagar kayu sederhana. Tangkuban Parahu sungguh luar biasa indah. Jika biasanya kami hanya melihat Tangkuban Parahu di televisi, di foto-foto yang tersebar di internet, kali ini Tangkuban Parahu tersaji di depan mata. Kami tak henti-hentinya mengucapkan syukur atas nikmat Allah SWT. Sungguh luar biasa ciptaan Allah.Tangkupan Parahu ibarat lukisan indah yang diciptakan Allah SWT. Kekaguman karena keindahan Tangkuban Parahu mulai tertutupi secara perlahan oleh kabut yang semakin tebal. Dengan datangnya kabut, udara pun semakin dingin. A menggunakan jaket hitam anti angin milik saya yang terdapat di tas. Namun teryata ia masih mengaku kedinginan. 

Salah satu wisata alam di Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat yang menarik dikunjungi
Kabutnyaa ...
Salah satu wisata alam di Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat yang menarik dikunjungi
Parkiran sudah mulai tertutup kabut
Kami mencoba menghalau dinginnya udara dengan membeli minuman panas di sebuah warung yang banyak terdapat di sekitar Tangkuban Parahu. Teh panas tersaji dalam hitungan menit. Panasnya teh ditandakan melalui uap panas yang keluar. “Tehnya cepat dingin, bu,” kata ibu penjual. Dan benar dalam hitungan kurang dari sepuluh menit, teh pun dingin. Kami pun mencoba berjalan kaki menuju Kawah Upas yang berada di kawasan Tangkuban Parahu. Tapi A meminta agar perjalanan tak diteruskan karena dia merasa kedinginan. Akhirnya saya dan A kembali ke mobil untuk menghangatkan badan sedangkan suami, Mba F dan mas G mencoba berjalan hingga ke Kawah Upas. “Nanti kalau setengah jam berjalan tak menemukan Kawah Upas kami akan balik mobil,” kata suami.

Saya setuju dengan idenya karena hanya patokan jam yang bisa diandalkan. Sinyal telepon kami sama sekali menghilang. Sehingga membuat kami sempat kesulitan menghubungi saat memilih berpisah saat saya dan A memilih berhenti di warung terdekat. Di mobil, saya meminta A untuk beristirahat sambil menghangatkan badan.

Pukul sembilan pagi, suami, Mba F dan Mas G tiba sesuai janji yang direncanakan. “Nggak sampai Kawah Upas karena kemungkinan masih jauh,” kata suami. Alhasil, hari itu kami hanya bisa melihat keindahan kawah Ratu saja. Namun, itu semua tak mengurangi kekaguman kami atas keindahan ciptaan Allah SWT. Tangkuban Parahu memiliki pengolahan tempat wisata yang baik. Lokasinya bersih, fasilitas penunjang lainnya seperti toilet pun sangat bersih dan terdapat di berbagai titik. Dengan adanya fasilitas yang bagus seperti ini, akan banyak pengunjung yang bedatangan.

Selesai dari Tangkuban Parahu, kami pun memilih ke tempat wisata lainnya yakni air panas Ciater. Jarak dari Tangkuban Parahu hanya tujuh kilometer atau sekitar 25 menit perjalanan. Air panas Ciater ini terdapat di Sumber mata air ini kabarnya berasal dari kawahTangkuban Parahu. Atau terkenal dengan nama Sari Ater. Tiba di lokasi, puluhan orang antri untuk masuk ke dalam lokasi. Tiket masuknya sekitar Rp 20 ribu sedangkan untuk menikmati kolam pemandiannya harus mengeluarkan uang Rp 80 ribu hingga Rp 200 ribu. Sebetulnya, kami lebih tertarik untuk menikmati kolam pemandiannya. Tapi karena agak mahal menurut kami akhirnya kami pun batal. Akhirnya kami pun memutuskan untuk pulang. Saat mobil keluar dari kompleks air panas ciater, hujan deras pun tiba.
Dan karena sudah waktunya makan siang, makan kami pun makan di Saung Pegkolan dan mampir di beli tahu di SPBU tahu

Sore hari, kami pun mampir sejenak di kawasan Cihampelas, Bandung dan mobil kemudian melaju kembali ke Jakarta. Bersiap menemui aktivitas sehari-hari setelah dua hari bersama keluarga tercinta di Bandung. Bandung memang mengasyikan untuk menghabiskan wkatu berlibur bersama keluarga. Saya berharap, akan ada waktunya lagi kami mengunjungi Bandung bersama keluarga.

Salah satu wisata alam di Tangkuban Parahu, Lembang, Jawa Barat yang menarik dikunjungi
Sampai jumpa lagi ...


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

31 komentar:

  1. Wah, ini baru kemarin ya jalan2nya.. Pengen juga ke sini.

    BalasHapus
  2. Iyaa, mba Leylaa. Hihii. Yuk mampir kesini, mba. Makasih ya mba Leylaaa :)

    BalasHapus
  3. aku sendiri yang orang Bandung malah ga setahun sekali ke sana hahahaa soalnya kalau weekend selalu padat pengunjung, buat sya jadi ga nyaman lagi

    The Journey

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Winda, enak loh kalo ke Tangkuban Parahu. Indah banget pemandangannya. aku datang pas wiken, mba. Tapi pagi-ppagi banget. Siangan emang udah mulai ramai :)

      Hapus
  4. foto paling bawa sama piyu padi yah :)

    BalasHapus
  5. duluuuu banet kesini waktu masih gadis :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuuuk,mba Kani datang lagi bawa anak-anak seru mbaaa :)

      Hapus
  6. pernah ke sana waktu SMP, suasananya bikin kangen krn memang cakep :-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Lia. Aku sih baru sekali dan pengen lagi kesana sekalian menjelajahi kawah-kawah lainnya :)

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
  7. Tangkuban Parahu, ya .. bukannya Tangkuban Perahu?

    Untungnya waktu berkesempatan ke Bandung, tahun 1995, saya dan teman2 sempat ke sana ...
    Aih saya belum nge-draft utk GA ini ^0^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Niar. Awalnya aku juga mengira Tangkuban Perahu eh teryata Tangkuban Parahu :)
      Yuk, ikutan GA-nya mbaa

      Hapus
  8. Ihhh..asyik lagi sepi tuh. Saat saya ke sana ramai pengunjung. Bandung memang jd favorite saya dan adik2 touring :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba Siethi, aku kesana pas lagi sepi, mba. Asyik banget menikmatinyaa. asyik tuh kalau pakai acara touring segala :)

      Hapus
  9. Btw, kenapa namanya pakai inisial, Mbak? #penasaran :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihii nggak papa, mbaa Aireni. Dulu sempat aku pake nama panggilan anak-anak. Tapi skarang aku pake inisial aja, mba. Makasih yaa

      Hapus
  10. Jangan lupa makan Indomie di warung - warung deket situ mba hihihihihihihi. Sedapppppppp.

    BalasHapus
    Balasan
    1. aiih mungkin sedepnya karna lapar dan udara dingin yaa .. Capek jalan kaki makanna jaid enaak. Makasih yaaa, mbaa :)

      Hapus
  11. Bertahun tahun tinggal di Jabar..belum pernahh dong kesitu. Parah aku

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sabar sabaar .. Masih ada waktu untuk ke sana, mbaa. Hhehehee
      Mungkin kota Bandung sendiri sudah menawarkan beragam tempat menarik ya :)

      Hapus
  12. Saya sudah lama banget gak main ke Tangkuban Parahu. Tempatnya tetap indah untuk poto-poto ya Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, mba Evi. Fasilitasnya bagus :)

      Hapus
  13. Assalamualaikum, salam kenal mbak,

    Dingin2 di tangkuban parahu enaaak minum bandrek hangat dan makan gorengan di saung2 yang banyak berjejer di lokasi wisata. Inget sama pisang goreng, bala2, gehu ...

    Jaket anti anginnya berjasa banget :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Waalaikum salam, mbaa :)
      Iya mbaa. Makanan anget dan minuman anget yang terbaik ya mbaa. Makasih ya

      Hapus
  14. Saya belum pernah ke sana, Mbak. Pengen banget. Tapi mungkin nunggu anak2 besar dulu kali, yaa... Ntar gak tahan dinginnya jadi gak asyik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Smoga ntar main kesana ya, mba
      Nggak papa ajak anak, mba. asal bawa penghangat :)

      Hapus
  15. Bandung... kota yang selalu ingin saya kunjungi karena banyak tempat yg indah

    BalasHapus
  16. Aku terakhir kalu kesana kurleb 8 thn yang lalu. Udah banyak perubahan ya..

    BalasHapus