Minggu, Februari 14, 2016

Terima Kasih Mbah Jangkung

Mass Market BTPN
Perkenalkan, Mbah Jangkung

Namanya Harjo Sukarto. Tapi tak seorang pun di lingkungan rumah saya mengenal nama itu. Warga lebih mengenalnya dengan nama, Mbah Jangkung. Ia, dipanggil Mbah Jangkung karena tingginya yang mencapai 180 centimeter. Ditambah lagi posturnya yang kurus membuat tubuhnya menjulang. Usianya tak muda lagi. Tahun ini ia berusia 77 tahun. Namun ia masih terlihat sehat dan bugar. Sehari-hari, ia memiliki ‘seragam’ kesayangan yakni celana hitam dan kemeja berkancing berwarna hitam atau berwarna putih yang warnanya semakin memudar. Sebuah topi bermotif loreng selalu digunakan. Terkadang, ia bertelanjang dada saat berkebun. Kulitnya hitam pertanda kerap terpapar sinar matahari. Saya mengenalnya sejak tahun 2010 saat pertama kali pindah di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Mbah Jangkung adalah petani merangkap penjual sayur-sayuran yang berada di kawasan tempat saya tinggal.


Sehari-hari, mbah Jangkung mengolah tanah milih warga. Tanah itu kemudian disulap menjadi kebun sayur yang di kemudian hari berguna bagi masyarakat. “Kalau saya nggak kelola, tanah menjadi tak terawat dan penuh dengan ilalang,” kata Mbah Jangkung. Saya mengira, apa yang dilakukan adalah benar. Ia mengelola tanah warga dengan sepengetahuan dan izin pemilik tanah. Dan ia pun membayar sewa tanah yang ia kelola. Tanah yang diolah kemudian tumbuh menjadi sayur mayur berwarna hijau tertata rapi sehingga sedap dipandang. Apabila tanah itu ‘menganggur’, bisa jadi malah menjadi tak terawat dan bisa menjadi rumah bagi hewan-hewan penganggu. Aih, membayangkan saja sudah membuat bulu kuduk saya berdiri.

Di tangan, Mbah Jangkung, tanaman yang ditanam beragam. Mulai dari kangkung, bayam, kemangi, cabe hingga pohon pisang. “Kalau mau sayur, ambil saja,” kata Mbah Jangkung. Tawaran Mbah Jangkung ini bukan berarti membuat orang memetik seenaknya tanpa membayar. Saya misalnya, kalau ingin memasak sayur tak perlu berjalan jauh. Cukup berjalan kaki, menyebutkan jenis sayuran yang diinginkan, mengambil sayuran yang dipetik Mbah Jangkung kemudian membayar saat itu juga. Ya, Mbah Jangkung adalah penyelamat ketika keinginan untuk memasak sayur. Siapa yang tak tergiur mengkonsumsi sayuran yang dipetik langsung dari kebun?. Mengkonsumsi sayuran segar tentu bagus untuk kesehatan.  

Terkadang Mbah Jangkung tak pernah mau menerima uang. Pernah saya akan memasak sayur bayam bening untuk keluarga. Saya kemudian berjalan menuju sawah dan bertemu Mbah Jangkung yang saat itu sedang menyiran tanaman.

“Mbah, ada bayam cabut?,” kata saya.
“Ada, nak. Mau berapa banyak?,” kata Mbah Jangkung
“Sedikit aja, Mbah. Buat makan semalam,” kata saya

Mbah Jangkung kemudian memotong sayur dan kemudian memberikan bayam yang jumlahnya sangat banyak. Saat saya mau memberi uang, eh Mbah Jangkung menolak. Saya kemudian memaksa memberikan uang namun ditolak. Setelah adegan tolak-menolak itu terjadi, uang pun akhirnya berpindah ke tangan Mbah Jangkung.

 
BTPN Mass Market
Mbah Jangkung mencabut bayam
Mbah Jangkung tergolong orang yang tidak membatasi penggambilan sayur di kebun yang ia kelola. Ia mengijinkan warga untuk mengambil sayur walaupun ia tak ada di kebun itu. Tapi selama ini, apabila ada warga yang mengambil, mereka tetap membayar apabila bertemu Mbah Jangkung. Dengan adanya ijin mengambil sayur ini, sebuah keberuntungan bagi warga. Termasuk saya dan keluarga.  

Saya masih ingat suatu malam, almarhum mama mengatakan ingin memakan mie berkuah dengan sawi hijau. “Sudah lama mama nggak makan mie kuah tapi pakai sawi,” kata mama kala itu. Waduh, dimana membeli sayur malam hari pukul 9 malam?. Kalaupun ada, biasanya sudah layu. Saya kemudian mengingat kalimat Mbah Jangkung untuk mengambil sayur jika diperlukan. Dikarenakan mama yang susah makan dan kemudian ingin makan, saya bersama mama pun ke sawah ditemani senter besar untuk memetik sawi. Kami berjalan kurang dari 3 menit dan tiba di kebun sayur milik Mbah Jangkung. meter Sawi pun kemudian diolah bersama makan mie berkuah. Keesokan harinya, apabila bertemu Mbah Jangkung kemudian kami pun membayar.

Saya pun terbantu jika ingin memasak pepes dan membutuhkan daun pisang, saya bisa mengambilnya di kebun Mbah Jangkung. Daun pisangnya berwarna hijau dan berdiameter lebar sehingga terasa pas digunakan untuk membungkus ikan yang akan dimasak menjadi pepes. Tak hanya itu saja, di kebun Mbah Jangkung juga ditanam cabe. Cabe-cabe yang ditanamnya merah menggoda. Daripada repot-repot membeli cabe di warung, saya lebih memilih memetik cabe dari kebun Mbah Jangkung.Terkadang, Mbah Jangkung menawari pisang matang yang dipetik dari kebunnya. Saya pun tak melewatkan kesempatan membeli pisang dari Mbah Jangkung.

Saudara saya yang tinggal di Sawangan, Depok, Jawa Barat bahkan kerap datang ke tempat tinggal saya dan membeli bayam segar dan kemudian di olah menjadi keripik bayam. Jika ada saudara yang datang, saya pun kerap menawarkan oleh-oleh berupa sayuran segar dari kebun Mbah Jangkung. Tawaran itu tentu dianggap sebagai tawaran menarik.

Sudah sejak tahun 1980-an, Mbah Jangkung sudah mengolah tanah yang berada di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Kepada saya, ia bercerita pada mulanya ia hanyalah orang yang mengambil sayur dan menjual kepada warga. Sayur-sayur itu ia ambil dari petani yang mengolah tanah warga. “Tapi saya ingin juga bisa belajar menanam sayur,” katanya. Secara otodidak dibantu petani, ia kemudian belajar menanam sayuran. Mulai dari menyebarkan benih, menyiram sayur, mengusir hewan penganggu, dan sebagainnya. Ia menjadi pengamat dan kemudian langsung mempraktekkan apa yang dipelajari.

Tanaman pertama yang ia tanam adalah singkong, jagung dan kemudian ubi, kentang dan kacang tanah. Mbah Jangkung kemudian menanam sayur-sayuran. Tahun berganti, tanah yang diolah Mbah Jangkung menjadi lebih subur, sayurannya lebih hijau dan beraneka ragam sayuran pun tumbuh. Dahulu, di tangan Mbah Jangkung, ia mengolah tanah seluas tiga hektar yang ia sewa sebulan Rp 30 ribu kepada pemilik tanah. Mbah Jangkung bekerja keras menanam sayur dann itu semua dilakukan setiap hari tanpa henti. Sayur hasil tanamannya kemudian dijual oleh anak-anaknya dari rumah ke rumah. Selain itu, juga dijual oleh pedagang sayur.



Kegiatan Mbah Jangkung sehari-hari

Kerja kerasnya membuahkan hasil. “Alhamdulillah, hasil penjualan sayur bisa buat beli rumah di kampung,” katanya bangga. Di kampung, rumahnya di huni keluarganya. Ia memilih tinggal di gubuk yang terletak sekitar 60 meter dari kebunnya.

Kini, tanah yang dikelola sedikit demi sedikit telah berganti menjadi bangunan rumah-rumah mewah. Hanya tersisa sekitar 600 meter yang masih digunakan untuk menanam sayuran. Dengan ukuran tanah yang semakin sedikit, pendapatannya pun semakin menurun. Uang hasil penjualan sayur masih harus dikurangi untuk membeli bibit bayam sebesar Rp 30 ribu sebotol, bibit kangkung Rp 25 ribu sebotol, sawi Rp 20 ribu sebotol dan bibit sayuran lainnya. Jika hujan deras, sebagian tanamannya terendam hujan. Belum lagi sempat ada hama ulat bulu yang merusak tanamannya. Jika ini terjadi, pendapatannya pun semakin sedikit. “Sekarang yang penting buat makan saja sudah bersyukur,” katanya. Mbah Jangkung, dengan keterbatasannya yang dimiliki, tak pernah mengeluh. Ia masih bercerita penuh senyum dan tertawa lepas jika menceritakan masa jayanya dulu.

Sebagai Ibu Rumah Tangga merangkap pekerja swasta, saya tak perlu berjalan jauh jika membutuhkan sayur mayur untuk kebutuhan keluarga saya. Apabila menginginkan sayur, hanya dalam hitungan sekian menit, saya telah memperoleh sayuran segar. Oh ya, Mbah Jangkung pula yang kerap menjaga rumah dan memberi makan ikan jika saya sekeluarga mudik setiap lebaran. Bagi saya dan warga, Mbah Jangkung adalah mass market yang membantu meringankan pekerjaan. Membeli tanaman yang ditanam Mbah Jangkung, adalah bentuk pemberdayaan untuk kehidupan Mbah Jangkung dan keluarganya.

Selain itu, bentuk pemberdayaan yang dapat dilakukan adalah dengan menabung. Salah satunya dengan menabung di Bank. Dari beragam informasi yang saya peroleh, menabung di Bank bisa dapat memberdayakan mass market seperti Mbah Jangkung. Saya kemudian tertarik untuk mengikuti simulasi di www.menabungmemberdayakan.com. Dengan mencoba simulasi ini, saya dapat mengetahui seberapa besar dapat memberdayakan mass market.  

 
Pertama, saya login. Saya kemudian memasukkan nama, alamat email dan memilih bidang yang memberdayakan. Saya memilih, culinary. Kemudian, calon nasabah diminta untuk memilih jumlah dana dan jangka waktu untuk menabung. Saya memilih untuk memasukkan dana Rp 1 juta. Angka ini menurut saya proporsional dan tak terlalu memberatkan. Sedangkan jangka waktu yang saya butuhkan untuk menabung selama lima tahun. 

Saya penasaran, berapa dana yang dihasilkan. Teryata hasilnya di luar dugaan yakni sebesar Rp 68.354.259. Dana ini tentu ternilai besar dibandingkan jika hanya membiarkan dana mengendap begitu saja di rumah. Dengan menabung, dana tersebut dapat juga digunakan untuk modal usaha kelak. 

Wah, saya juga tak sabar untuk mengenalkan simulasi ini kepada Mbah Jangkung. Jika ia menabung hasil yang diperoleh tentu menjadi lebih besar. Menabung di usia senja? Kenapa tidak. Bagi saya, tak ada kata terlambat untuk menabung. Selain itu, banyak juga contoh pelaku usaha yang masih tetap produktif di usia lanjut. Di usia lanjut seperti itu tidak hanya membutuhkan kehidupan sehat sejahtera agar lebih produktif. Namun juga dibutuhkan ketrampilan usaha dan pendampingan. Maka, menabung merupakan salah satu cara untuk memberdayakan sesama. Dengan menabung, mass market yang selama ini membantu kita, mendapat keuntungan. Salah satunya, Mbah Jangkung. Terima Kasih, Mbah Jangkung!  





   

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

47 komentar:

  1. Di tempatku juga ada sosok seperti Mbah Jangkung ini. Tetap giat bekerja meski sudah tua.

    BalasHapus
  2. Iya, mba. Katanya kalo nggak kerja jadi capek gitu. Mungkin karena sudah sering bekerja ya

    BalasHapus
  3. wah patut diacungi jempol mbah jangkung ini, tapi justru dg bekerja hidupnya lebih berarti

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa. Kalau ada yang prustasi hidup kayaknya harus belajar ama mbah Jangkung :). Makasih, mba

      Hapus
  4. Keren usaha mbah Jangkung, selain membantu warga juga membantu kelestarian lingkungan dg menanam :-D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul. Apalagi skarang sudah jarang ya anak muda yang bertani, mas :)

      Hapus
  5. enak banget kalo deket kebun kaya itu ya cii... bisa langsung petik sayuran segar.. di tempatku adanya tukang sayur keliling :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Eda. Itu dulu pas di samping rumahku. Tapi samping rumahku udah dijadiin rumah. Tapi sawahnya deket banget ama rumahku. Orangnya juga baek :). Makasih, Ida :)

      Hapus
  6. Semoga Mba Jangkung senantiasa sehat dan dimudahkan segala urusannya.

    BalasHapus
  7. wah, asyik ya kalau bisa langsung dapat sayur segar begitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa bener, mbaa. Lebih menyehatkan juga. Hehhe

      Hapus
  8. Di kampung halaman saya Purworejo, banyak juga petani kayak mbah Jangkung ini. Meski hasilnya sedikit, mereka tetap semangat bertani...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya, mba Skarang tak mudah ya mencari petani yang seperti itu :. makasih sudah mampir, mba

      Hapus
  9. di perkotaan kayaknya sudah jarang banget sosok seperti mbah jangkung ini ya? tapi di pasar rebo masih ada ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada, mbaa. Di daerahku masih ada. Perbatasan ama Depok, mba. Tapi dia nanam itu di Pasar Rebo :. Makasih mba

      Hapus
  10. Ini di sekitar ps rebo mba? Sebelah mana ya? Tampaknya sudah padat semu. Semoga mbah jangkung diberikan rejeki terus ya mba 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Kalisari, mba. Iyaa banyak yang mulai berubah menjadi pohon, mba :)

      Hapus
  11. Keren banget Mbah Jangkung. di usianya masih giat bekerja. Semangat Mbak :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya. Yang masih muda harus banyak bersyukur tetap usaha mba. Biar nggak kalah ama mbah Jangkung :)

      Hapus
  12. Aku juga punya tetangga tanam sayur begini, buat dijual di pasar. Tapi aku boleh ambil sesukaku, katanya. Nggak pernah kuambil juga sih, kasihan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya masing-masing ada aturannya kali ya, mba. Kalau ditempatku, biasanya di ambil trs bayar kalau ketemu Mbah Jangkung. Buat yang di sekitar :)

      Hapus
  13. Wiih, mestinya si mbah ini cocok jadi foto model ya, tinggi menjulang gitu *model petani*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hhahaa . Oh ya bener, mba. Bisa jadi model untuk usaha sampingan. Ini si Mbah pose sendiri. Hihii

      Hapus
  14. Wih keren ya mbah jangkung ini..pasti orang disekitar terbantu banget kalo lagi butuh sayuran segar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, Iyaa mba Agnes :)
      Saya sendiri juga terbantu :)

      Hapus
  15. Mbah jangkung ini orangnya rajin dan dingin tangan. Alias kalau menanam sessuatu pasti jaddi gitu.
    Keren usaha nya ya, sampe bisa buat beli rumah hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga pernah dengar ada yang namanya ' panas tangan' dan 'tangan dingin' jika menanam, mba :) . Aku tergoolong 'tangan panas'. Nanam nggak jadi-jadi. Hihii

      Hapus
  16. Meski sekarang sudah menurun pendapatannya, tapi tetep semangat ya Mbak beliaunya. Salut :)

    BalasHapus
  17. Semoga mbah Jangkung diparingi kesehatan juga rejeki agar selalu menjadi tokoh inspirasi di kampungnya.Sukses untuk lombanya ya mbak

    BalasHapus
  18. salut sama Mbah Jangkung, usia tidak menjadi penghalang beliau untuk bekerja dan tetap produktif *jempol*

    semoga Mbah Jangkung selalu diberi kesehatan, amin..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, Irawati. Amin. Makasih mba :)

      Hapus
  19. Salam buat mbah jangkung, kalo deket sama aku tak ajak ngeliwet sambil kita ngomongin budidaya sayuran mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Oh ya bener ya. Ntar harus kenalan tuh kapan2 ama mba Evrina :). Makasih, mba

      Hapus
  20. Salut sama orang yg tetap gigih bekerja meski usia semakin renta. Semoga selalu dilimpahi kesehatan utk beliau

    BalasHapus
  21. Wah... bisa bebas ambil sayur sendiri.... baik hati sekali ya mbak. dan yang jelas orang yang ikhlas menerima rejeki. Salam kenal mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Susindraa. Emang baik dan tak disalahgunakan pula oleh warga, mbaa :) Salam kenal kembali :)

      Hapus
  22. waaah baik banget Mbah Jangkung ... *terharu :') *

    BalasHapus
  23. kaya apotik..hi2.., kebun buka 24 jam... tapi bedanya bayar belakangan...
    mbah jakung kategori orang ikhlas... semoga hidupnya makin berkah..

    sukses buat kontesnya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin. Iyaa alhamdulillah ada yang ngerawat apotik hidupnya, mba. Amin doanya. Makasih mbaa :)

      Hapus
  24. luar biasa yah di jaman seperti ini masih ada yang bekerja gak pake itung2an

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah. Emang baik, dan hasil yang ia peroleh pun terbaik, mas :)

      Hapus
  25. Itu dijakarta masih ada kebun sayur gitu mba, paling salut sama orang2 kayak mbah jangkung itu, soalnya aku juga suka banget menanam :D

    BalasHapus