Rabu, Januari 13, 2016

Belajar Profesi di Kidzania

Seorang pria mendekati mobil saat saya sekeluarga tiba di parkiran Gedung SCBD. “Mau ke Kidzania?, “ kata petugas parkir. Dalam hati saya bertanya, dari mana pria itu bisa menebak. Saya melihat jam yang melingkar di tangan. Teryata masih pukul 08.30 WIB. Suasana di tempat parkiran pun masih banyak yang kosong. Hanya terlihat beberapa mobil saja yang terparkir. Hmm… pantesan dia bisa menduga kalau kami akan ke Kidzania. Memang hanya Kidzania yang buka untuk pembelian tiket sejak pukul 08.00 WIB. Sedangkan Mall di SCBD baru buka pada pukul 10.00 WIB. “Iya. Pintu masuk terdekat dimana?,” kata saya. 

Kami kemudian ditunjukkan akses parkir dekat pintu masuk mall. Suasana di dalam mall masih tampak lenggang. Hanya terlihat petugas mall dan beberapa pegawai toko yang bersiap sebelum toko dibuka. Kami kemudian langsung naik ke ground floor. Dari ground floor (GF) langsung naik ke lantai 6, lokasi Kidzania. Nah, di Kidzani ini teryata sudah banyak yang antri untuk masuk. Padahal Kidzania baru buka pada pukul 09.00 WIB. 



Sebelum masuk, petugas di Kidzania menyampaikan bahwa tidak boleh membawa makanan dan minuman dari luar. Kecuali air putih karena di dalam Kidzania teryata tersedia kran untuk air minum. Sanck ringan pun tak diijinkan masuk. Alhasil, kami harus menghabiskan snack dan roti yang di bawa ke rumah sebelum masuk ke area. Pengunjung juga diberikan gelang keamanan sebelum masuk. Oh ya, ada dua sesi waktu sebelum ke Kidzania yakni pukul 09.00-14.00 dan sesi kedua pukul 15.00-20.00 WIB. Jadi, kalau kita datang pukul 11.00 WIB tetap saja harus keluar dari area pada pukul 14.00 WIB. Ini dikarenakan satu tiket hanya berlaku untuk satu sesi. Di Kidzania, anak-anak akan 'bekerja' dan kemudian mendapat upah berkat pekerjaan yang di lakukan. 


Membuat Mie di Pabrik Mie
Selama di Kidzania, kami mengunjungi delapan tempat. Di lantai satu, kami ke laboratorium Yakult, pembuatan roti, belajar menjadi polisi dan menjadi pemadam kebakaran. Di lantai dua, kami datang ke pabrik mie, lalu ke pabrik teh, pabrik wafer, belajar membuat obat dan menjadi pilot. 


Awal datang, kami langsung ke lantai dua. Di lantai dua, kami ke pabrik mie. Di tempat itu, anak-anak diajarkan bagaimana cara membuat mie. Mulai dari menggiling adonan hingga memasukkan mie ke dalam kemasan. Saat pulang, anak-anak diberikan mie satu bungkus namun dikemas di dalam tas yang unik.  Tempat kedua yang kami kunjungin yakni belajar proses pembuatan the di pabrik teh. Di sana, anak-anak diajak melihat tanaman teh hingga distribusi teh ke konsumen. Penasaran proses pembuatan obat, membuat kami ke langsung ke apotik. Anak-anak praktek langsung menghaluskan obat dan memasukkan ke dalam kemasan obat untuk siap didistribusikan. 

Pabrik Obat 
Dalam pengamatan dan diskusi dengan A, ada beberapa tempat yang menarik. Pertama adalah laboratorium Yakult. Saat datang, anak-anak menggunakan jas putih bak peneliti dan diberikan penjelasan singkat tentang proses penelitian. Kemudian setelah itu, anak-anak diajak ke ruang laboratorium dan melihat bakteri menggunakan mikroskop. Nantinya, ada beberapa pertanyaan yang harus dijawab anak-anak dan dipresentasikan di depan anak-anak yang lain. Di laboratorium Yakult ini, usia maksimal untuk masuk adalah enam tahun. Serunya lagi, pas sudah selesai, anak akan mendapat uang 20 kidzos (mata uang Kidzania), sertifikat, pin dan sebotol Yakult. Jadi, anak-anak mendapat ilmu pengetahuan dan saat pulangnya anak-anak mendapat banyak oleh-oleh. Upah di Yakult 20 kidzos ini tergolong besar karena rata-rata hanya memberikan upah 5 hingga 10 kidzos. 
Tulis nama dulu sebelum masuk

Yakult di Kidzania
Meneliti di laboratorium Yakult
Menarik juga saat anak-anak ke kantor polisi. Di kantor polisi, anak-anak diajarkan melihat penjahat menggunakan CCTV dan menangkap penjahat! Ceritanya, setelah mengiterogasi penjahat dan menjebloskan penjahat ke penjara, anak-anak pun kembali ke kantor polisi. Mendadak, alarm pun menyala. “Wah, penjahatnya kabur,” kata polisi. Anak-anak kemudian berlarian berkeliling mengejar penjahat. Saat penjahat tertangkap, kemudian beramai-ramai mereka menjebloskan ke penjara. Uh, ngos-ngosan juga saat ikut lari mengejar penjahat itu. 
Polisi-polisi Cilik

Hore,.. berhasil menangkap penjahat

Kalau menurut A, yang juga menarik saat menjadi pemadam kebakaran. Saat usai memadamkan api (apinya hanya pura-pura ya), anak-anak dikumpulkan. Namun tak lama kemudian, alarm berbunyi, api pun kembali menyala dan mereka berlarian untuk memadamkan api. “Aku pikir apinya sudah selesai, ummi,” kata A.  Kami juga ke simulasi penerbangan yang terletak di lantai dua. Hanya saja, para orangtua tidak bisa melihat langsung. Apabila ingin melihat, orangtua harus ke lantai satu dan mengamati melalui CCTV. Sayangnya, visualnya kabur sehingga tak jelas. Itu pun kita hanya melihat visual anak tanpa tahu bagaimana simulasi itu berlangsung. "Seru banget ummi. Tadi pesawatnya jatuh," kata A. Duh, jangan sampai ya pesawat jatuh. Untung saja hanya simulasi ....

Setelah bermain selama lima jam, A tak terlhat letih. Padahal mereka semangat datang dari satu tempat ke tempat lainnya. Usai pulang, A berhasil menggumpulkan uang sekitar 130 kidzos. Uang tersebut kemudian ditambah sisa uang kidzos saat kunjungan setahun lalu. Uang tersebut kemudian ditukar dengan bando seharga 200 kidzos. Oh ya, di Kidzania sulit menemukan stop kontak. Jadi, siap-siap saja membawa power bank. 

Oh ya, karena kami datang saat musim liburan, suasananya tak seramai biasanya. Mungkin karena harganya yang juga lebih mahal. Di musim liburan harga tiket untuk anak Rp 250 ribu, sedangkan untuk orang dewasa Rp 200 ribu. Di Kidzania, semua tempat ada nama sponsornya. Jadi, jangan heran kalau berbagai merk tersebar dimana-mana. Untuk memotret, hanya bisa dilakukan dari luar. Nanti ada petugas dari Kidzania yang memotret anak satu per satu. Jika ingin membawa pulang, maka harus membayar Rp 90 ribu. "Beli tiga gratis satu, bu," kata petugas. Hmm... menurut saya masih saja mahal. 

Jika ke tempat ini, seperti mengajarkan anak untuk mempraktekkan berbagai profesi. Jika sebelumnya ada profesinya yang ia tak tahu, kemudian bisa menjadi tahu dan kemudian ikut merasakan walau hanya sekitar 20 hingga 25 menit. Sebaiknya, mengajak anak yang berusia di atas enam tahun sehingga lebih mengerti. Pengalaman membawa A saat usia lima tahun, dia belum begitu menikmati. Pulangnya A berkata,"Aku ingin menjadi pilot, Ummi," katanya. Saya memeluknya. Semoga Allah mengabulkan cita-cita terbaiknya. Amin ....





Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

18 komentar:

  1. asik bgt ya, pengen kesini sekeluarga. anak saya udah pernah sih tp dari sekolahan sama temen2..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Kania. Seru deh menikmati beragam profesi disana :). Sejauh ini sih anakku enjoy. Makasih, mba

      Hapus
  2. Mahal jg yah.. Anakku 3, bisa habis sejuta hehe. Tapi mereka pasti senang ke pabrik yakult karena doyan banget yakult..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba. Kalau pas musim liburan lebih mahal. Tapi nggak banyak orang. Kalau hari biasa rame dan harga lebih murah. Iya, mba. Anakku ya doyan banget ama Yakult :). Makasih mba

      Hapus
  3. Ya Allah kereen ...
    Coba dinGorontalo ada kayak gini..

    Membuka cakrawala berfikir anak tantang dunia profesi^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yaaa.. semoga di Gorontalo ada ya, mba :). Tapi bisa juga ke Jakarta untuk main kesini, mba :). Makasih ya mba sudah berkunjung.

      Hapus
  4. bermain sambil mengenal profesi? pasti seru dan anak-anak pasti menyukainya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul banget, mba. Ini anakku nagih ke sana lagi. Padahal udah dua kali dia kesana. Hihi. Makasih mba

      Hapus
  5. Jepara blm adaaaa

    serunya jd bs buat belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba. Kayaknya baru di Jakarta aja, mba :). Iya sejauh ini seru. Makins eru kalau harganya lebih di murahin. Hihii

      Hapus
  6. Apa-apa dijual ya Mbak. Foto saja segitu harganya. Kemahalan, sih memang. Tapi pengalamannya super keren.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Niar. Makanya lebih asyik poto sendiri aja hanya saja kita nggak bisa akses masuk sampai di dalam. Liar dari luar aja :)

      Hapus
  7. kidzania mmg selalu gak pernah sepi ya.. tempat yg selalu diminati

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba Lia :). makasih ya sudah mampir

      Hapus
  8. wah asyik banget ya, kalau dulu waktu kecil ada kaya gini seneng banget. Jadi pengen kecil lagi hihii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekarang juga bisa kok datang. Tapi ya nggak bisa main. Hehhee. Makasih mba

      Hapus
  9. wah keren ya penegn bawa anak2 kesana :))

    BalasHapus