Rabu, November 25, 2015

Berkat Bimbingan Guru


Jika sebelumnya saya menulis ucapan terima kasih kepada guru saya. Kali ini saya ingin mengucapan terima kami kepada bunda-bunda saat Ayyas masih duduk di Taman Kanak-Kanak (TK) Al Biruni. Kepada guru di TK, saya memanggilnya Bunda, Ayyas belajar banyak hal. Bunda di TK Ayyas sangat memperhatikan Ayyas. Kasih sayang yang diberikan kepada Ayyas begitu tulus. Bunda pun sangat responsif untuk melaporkan perkembangan Ayyas di sekolah. Pernah suatu hari, Ayyas mimisan di sekolah. Guru dengan sigap langsung menyampaikan ke saya saat saya menjemput Ayyas. Walaupun Ayyas belum bisa membaca saat TK, tidak ada paksaan yang Ayyas terima. Ini sesuai dengan yang saya dan suami inginkan. TK adalah sarana untuk bermain dan bergembira.


Terima Kasih , Guru



Tulisan ini adalah rangkaian ucapan terima kasih saya di hari Guru tanggal 25 November. Pertama, saya ingin berterima kasih guru Bahasa Indonesia saya saat duduk di kelas 3 SMA. Beliaulah yang menyadari keinginan saya untuk menulis. Kepada saya, dia berkata,”Alida, jadilah jurnalis. Kamu senang sekali menulis”. Dan atas dukunganya pula saya kemudian memilih menjadi jurnalis. Walaupun, kegemaran saya menulis sudah muncul sejak kelas 2 sekolah dasar.



Saya ingin berterima kasih kepada Bapak Zaenal Arifin Emka, dosen saya di Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Almamater Wartawan . Dosen saya ini yang mengajarkan menjadi jurnalis yang lurus dan berdedikasi. Saya ingat usai shalat dzuhur di mushala kampus saya bertanya kepadanya tentang sulitnya menjadi jurnalis yang ‘lurus’ serta tidak menerima amplop. Pak Zaenal berucap,”Mungkin tak banyak. Tapi kita harus bisa”. Mungkin Pak Zaenal lupa dengan kalimat ini. Tapi saya masih mengingatnya, hingga kini.   



Saya ingin berterima kasih kepada almarhum Pak Zainuddin, mentor saya di bidang fotografi. Awalnya, pak Zen, begitu saya memanggilnya, adalah atasan saya. Tapi kemudian saya belajar banyak hal tentang fotografi dari Pak Zen. Mulai dari belajar foto, menyiapkan pameran foto, menyiapkan rapat dewan juri dan sebagainnya. Pak Zen tergolong keras untuk hasil foto. Caranya menyeleksi foto saya adalah dengan membuang foto yang jelek. Jika ada 10 foto yang disodorkan, 9 foto pasti dibuang. Bahkan tidak ada sama sekali yang menurutnya bagus dan saya harus berulangkali memotret. “Jangan mengandalkan photoshop untuk edit foto,” kata Pak Zen.



Saya ingin berterima kasih kepada Ibu Liestianingsih. Bu Lies, saya memanggilnya, adalah dosen pembimbing skrispsi saya. Dari bu Lies, saya belajar banyak tentang feminisme yang kemudian dimasukkan di dalam skrispsi saya di tahun 2005. Bahan-bahan skripsi saya peroleh di kampus Universitas Airlangga berdasarkan informasi dari Bu Lies. Diskusi demi diskusi dengan bu Lies, menambah wawasan saya.  



Saya ingin berterima kasih kepada Prof Muhammad Mustofa, pembimbing tesis saya. Saya masih ingat dengan segala keterbatasan saya atas ilmu kriminologi, Prof Mus, nama panggilannya, membimbing saya. Setiap kali pertemuan dalam bimbingan demi bimbingan, pertanyaan demi pertanyaan saya ajukan dan dijawab Prof Mus. Jawaban yang mudah dicerna bagi otak saya. Saya sempat mengeluh dan ingin menyerah, apalagi sidang terakhir saya masih harus koreksi tesis dan diberikan waktu empat hari untuk koreksi. Jika tidak lolos, saya tidak bisa di wisuda tahun itu juga. Tapi saat Prof Mus akhirnya menyetujui tesis saya, saya mencium tangannya. Senang sekali akhirnya bisa lulus tesis.   



Tulisan ini memang sederhana. Tapi bagi saya, ini bukti ucapan terima kasih saya kepada para guru. Di luar nama-nama itu semua, saya sangat berterima kasih atas semua guru yang telah membantu saya, membimbing saya penuh kesabaran. Semua ilmu yang diberikan sangat berharga hingga kini. Tanpa bantuan para guru, saya tidak akan seperti ini. Selamat hari Guru, 25 November. Sekali lagi, terima kasih  


Senin, November 23, 2015

Everest, Perjuangan Pendaki Bertahan Hidup





Saya termasuk golongan penikmat film berdasarkan kisah nyata. Film berdasarkan kisah nyata yang terakhir saya nonton adalah film berjudul ‘Everest  yang bercerita tentang kisah nyata tragedi pendakian tahun 1996. Kisah ini menceritakan ekspedisi yang dipimpin Robert Edwin Hall Hall (Jason Clarke) melalui Adventure.Mereka menemani para pendaki yang memiliki tujuan berbeda untuk mendaki gunung Everest pada Februari 1996. Para pendaki itu adalah Michael Groom (Thomas W. Wright), Harold (Martin Henderson), Dough Hansen (John Hawkes), Yasuko Namba (Naoko Mori), Beck Weathers (Josh Brolin) serta jurnalis Jon Krakuer (Michael Kelly). Kala Yasuko Namba (Naoko Mori) ditanya alasan mendaki Everest ia menjawab singkat. “Saya sudah mendaki enam gunung, saya ingin ke tujuh,” katanya. Rob memiliki satu janji kepada istrinya Jan Hall (Keira Knightley), pulang untuk melihat anaknya lahir.