Jumat, November 20, 2015

Saya, Emak dan Pendidikan

Menimba ilmu hingga perguruan tinggi menjadi keinginan saya. Dan tentu juga keinginan kedua orangtua. Papa saya hanya mampu menjadi sarjana muda. Sedangkan mama hanyalah lulusan SMA. Mama saya sempat kuliah, namun tak sampai selesai. Saat kuliah jurusan Jurnalistisk di Perguruan Tinggi Swasta, terbersit keinginan saya untuk melanjutkan kuliah hingga pascasarjana. Namun, tawaran bekerja freelance, membuat saya kemudian memilih bekerja sambil kuliah. Dari sinilah saya merasakan sulitnya mencari uang. Kesulitan itu membuat saya memilih satu tekad. “Saya akan kuliah lagi hanya dengan uang pribadi saya atau beasiswa,” ucap saya tahun 2001. 


Keinginan kuliah pascasarjana, masih saya pendam dalam kurun waktu yang lama. Tahun 2005, saat lulus sebagai sarjana jurnalistik, saya bertemu buku yang menginspirasi dan mendukung keinginan saya. Judul buku ini sederhana. Emak. Buku ini ditulis dengan cara bertutur, dengan bahasa yang ringan dan mengalir.  Buku yang ditulis oleh Daoed Joesoef membahas bagaimana emaknya mengajarkan banyak hal. Terutama tentang pentingnya pendidikan. Dalam buku itu, tercantum kalimat emak agar menuntut ilmu setinggi mungkin. “Allah telah berjanji akan mengajarkan kepada manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. Dengan janji ini sebenarnya Dia telah mengulurkan tangan-Nya kepada kita. Bila kita belajar berarti kita telah mengulurkan pula tangan kita kepada Tuhan agar dibimbing. Bimbingan ini tentu ada karena belajar, menuntut ilmu, adalah menjalankan ibadah. Maka pergilah mencari ilmu ke tempat dimanapun dimana ilmu itu bisa diperoleh!”. Kalimat yang di ucapkan emak ini ini didasarkan dari surat Al ‘Alaq dan sabda Rasulullah yang menandakan bahwa menuntut ilmu wajib hukumnya bagi muslimat dan untuk itu kalau perlu pergi ke Negeri Cina. Ah, saya kembali teringat keinginan saya untuk kembali kuliah.