Sabtu, November 14, 2015

Enaknya Choco Chips Banana Bread ...



Jumat malam kemarin, hujan tiada henti. Nah saat cuaca dingin, entah kenapa ingin sekali selalu ngemil. Tapi, ngemil apa yah? Pagi hari saya sudah memasak mpek-mpek dos kesukaan Ayyas. Hmm ... masak apa lagi ya? 

Kayaknya asyik juga kalau makan kue sambil minum teh. Tapi malas juga kalau harus masak kue yang ribet. Bongkar-bongkar resep, akhirnya saya nemu resep mudah tanpa perlu mixer. Cukup mengaduk dengan spatula. Nama resepnya “Choco chips Banana Bread” ala Yoana Anandita. Resep ini saya dapat di grup Natural Cooking Club (NCC). Kebetulan bahan-bahannya hampir semua ada semua di rumah. Apalagi bahan utamanya, yakni pisang, baru saja saya beli hari Kamis. 


Resep Choco Chips Banana Bread  :



Bahan :

125 ml minyak

225 gram gula pasir

2 butir telur ayam

5 buah pisang ambon matang kerok halus

Tepung serba guna

1 sdt baking soda (saya skip)

½ sdt baking powder

3 sdm susu tawar (saya skip karena lupa. Hihii)

½ sdt vanila ekstrak

Chococips sesukanya



Cara membuat :

Panaskan oven 180 derajat. Jangan lupa untuk oleskan loyang dengan mentega dan tepung terigu. Tujuannya agar saat matang, adonan tidak akan lengket di loyang. Ambil wadah bersih, lalu masukkan gula dan minyak. Aduk rata dan kemudian masukkan telur. Setelah rata, masukkan pisang, vanili dan susu. Kemudian, masukkan tepung terigu, baking powder. Aduk rata hingga tercampur. Terakhir, masukkan choco chips sesukanya. Setelah tercampur rata, masukkan ke loyang berukuran 30x10 cm.  Masak adonan hingga 45 menit. Oh ya, tes tusuk wajib dilakukan untuk mengetahui adonan sudah matang atau tidak. Jika tak lengket, tandanya adonan sudah matang.




Tips :

1.        Pakai pisang ambon yang matang ya. Biar aroma lebih wangi dan rasanya wangi alami

2.        Saat memasukkan loyang ke oven, gunakan api bawah hingga 30 menit. Setelah kue agak menggembang, baru gunakan api atas. Bagi pengguna otang seperti saya, loyang digunakan di bawah agar mendapatkan api bawah. Setelah itu loyang digunakan di atas untuk mendapatkan api atas. Saya pernah terlalu sebentar menggunakan api bawah, langsung menggunakan api atas. Alhasil, kue bantet. Jadi, pastikan dengan baik ya adonan sudah matang atau tidak



Nah, choco chips banana bread ini, nikmat sekali dikonsumsi selagi hangat. Apalagi dikonsumsi dengan segelas teh hijau dan ditemani keluarga tercinta. Selamat menikmati



  

Kamis, November 12, 2015

FesmedAJI, Kegiatan Cerdas Memilih Media


 
Ingin menjadi presenter? Belajar tentang dokumentasi kreatif? Atau mengikuti kelas kreatif?. Datanglah di Festival Media (FesmedAJI) yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada 14-15 November di Kampus Unika Atmajaya jalan Jenderal Sudirman No 51. Kegiatan ini merupakan kegiatan tahunan yang diselenggarakan oleh AJI. Tahun ini, tema yang dipilih menurut saya sangat menarik yakni “Cerdas Memilih Media”. AJI dalam festival ini berharap masyarakat semakin cerdas memilih sumber informasi yang sesuai fakta. Banyaknya informasi yang diterima terkadang menimbulkan pertanyaan, “ini fakta atau rekayasa?”.


Beragam kegiatan mulai dari talkshow, pameran, hingga beraneka perlombaan ada di acara ini. Narasumber yang dihadirkan dalam FesmedAJI adalah mereka yang berpengalaman di bidangnya. Misalnya pada talkshow “Menjadi Presenter”, ada dua narasumber yakni Najwa Shihab dan Aiman Wicaksono yang dihadirkan. Kedua narasumber ini katanya akan memberikan tips-tips menjadi presenter. Hmm menarik kan? Jika ingin belajar menjadi presenter datanglah pada Minggu, 15 November pukul 14.00-16.00 WIB di Ruang Yustinus 15 Kampus Atmajaya. Di hari kedua, tentu tak hanya itu saja acara yang menarik yang bisa diikuti. Ada juga kelas fotografi menggunakan gadget yang menghadirkan Arbain Rambey. 


Di workshop ini, peserta akan mempelajari bagaimana memanfaatkan smartphone tak hanya sekedar komunikasi saja. Hmm sepertinya menarik juga diikuti…

Kegiatan di Sabtu, 14 November juga menarik diikuti. Salah satunya kelas “Pelatihan Menulis Blog”. Kalau masih saja kesulitan menulis di blog, kegiatan ini bisa menjadi pilihan. 

Mendaftarlah untuk mengikuti kelas yang akan diselenggarakan pukul 10.00-12.00 WIB. Tak hanya workshop saja, FesMedAJI ini juga ada beraneka perlombaan menarik. Bagi yang memiliki adik atau keponakan atau anak yang tertarik menjadi jurnalis, bisa ikut lomba jurnalis cilik. Hadiahnya keren juga? Sepeda! Asyikk …. Lomba penulisan online pers mahasiswa juga ada di FesMedAJI. Lomba ini berhadiah uang senilai Rp 5 juta.   

Tertarik?
Silakan langsung buka website http://festival-media.aji.or.id/. Oh ya, jangan lupa daftar untuk mengikuti kegiatan. Maklum, dari kegiatan di tahun-tahun sebelumnya, selalu saja ramai. Daaan, acara ini gratis dan benar-benar gratis. Tanpa dipungut biaya sama sekali.

Kesaksian Korban Kekerasan Seksual 1965



Mendengarkan video ini dari youtube 




Kesaksian seorang perempuan berusia 70 tahun di Pengadilan Rakyat Internasional mengenai peristiwa 1965 di Den Haag, Belanda. Dia dipaksa mengaku sebagai simpatisan PKI atau anggota Gerwani. 

Ibu itu berkata :
Saya merenungi, mengapa saya dapat perlakukan seperti ini. Setelah tiga hari, saya di keluarkan di bawa ke kantor. Kembali pertanyaan yang sama, kamu kenal lelaki ini tidak. Saya tidak punya jawaban yang lain. Saya tidak kenal pak, tidak kenal. Lalu saya disuruh pilih, kamu mengaku terkait gerilya politik atau saya ditelanjangi. Akhirnya kami ditelanjangi, disaksikan mereka. Lalu laki-laki itu juga ditanya, seperti saat kami bertemu. Akhirnya kami disuruh memilih, kamu pilih, kamu pilih mengaku kenal dan melakukan gerakan gerilya politik atau kamu saya telanjangi. tetapi toh akhirnya kami ditelanjangi. Dalam keadaan saling telanjang disaksikan mereka yang ada di situ. Kami ditanya, tanyakan lagi, kalian memilih, saya posisikan duduk berpangkuan atau mengaku kalau kalian melakukan gerilya politik. Saya hanya bisa menangis, karena jawaban saya tidak pernah mereka dengarkan. (jeda)   

Penderitaan yang dia alami membekas hingga kini.... 

Senin, November 09, 2015

Pantai Liang, Luar Biasaaaa ....



Merasakan hembusan angin sepoi-sepoi kala tidur di pasir putih sambil mendengarkan bunyi ombak, ah betapa nikmatnya. Itulah yang saya rasakan September 2015 saat berkunjung ke Pantai Liang yang terletak di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat air yang bersih bening.  Tak ada sampah seperti pantai-pantai lain yang saya kunjungi. Kalaupun ada, hanyalah daun yang tertiup angin, jatuh di hamparan laut. Pantai Liang memang menawarkan pemandangan alam yang mempesona. Pantai ini pernah dinobatkan oleh UNDP sebagai pantai terindah di Indonesia tahun 1990.






Dari Ambon, saya sekeluarga menggunakan mobil sewaan selama satu jam untuk menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer. Satu hari, mobil disewa dengan harga Rp 500 ribu sudah termasuk sopir. Sebelum tiba di pantai Liang, kami melewati pantai Natsepa. Pantai Natsepa juga menawarkan pemandangan laut yang indah, namun kami memilih melanjutkan perjalanan ke pantai Liang. Tiba di pantai Liang pukul 14.00 WIT, tampaknya masih terlalu panas untuk berenang. Teriknya matahari di Ambon, terasa menyengat. Ah, saya tak bawa sunblock. Sambil menunggu panas agak reda, kami memilih makan pisang goreng dipadu sambal. Eh, makan pisang goreng sama sambal? Ya, di Ambon, sejak kecil sudah terbiasa makan pisang goreng atau singkong goreng dipadu sambal. Rasanya nikmat karena baru digoreng. Pedas-pedas gurih. Nah, pisang goreng ini bisa dengan mudah ditemui di pantai Liang. Harganya hanya Rp 1000 per biji. Bisa ditebak, hanya dalam hitungan menit pisang goreng pung lenyap tak bersisa.   



Usai makan pisang, segera saja kami memilih berenang di laut. Rasanyaaaa … hmm segar. Airnya yang bening, membuat kami betah berenang. Ya, walau tak jauh-jauh dari bibir pantai berenang terasa menyenangkan. Walau tak membawa ban renang, tak perlu ragu karena bisa disewa dengan harga Rp 10 ribu. Oh ya, jangan lupa naik di jembatan pantai Liang. Jembatan ini kerap dijadikan ajang foto-foto atau banyak juga yang memilih lompat dari atas jembatan itu ke laut.   






Ke pantai Liang, tak lengkap jika tak memakan rujak. Rujak di pantai Liang memiliki khas kacang gorengnya lebih banyak. Kacang yang goreng hanya diulek kasar. Jumlah kacang pun lebih banyak daripada gula merah. Rasanya gurih manis karena kacang dipadu dengan gula merah. Untuk satu porsi rujak harganya Rp 10 ribu. Porsinya menurut saya terlalu sedikit karena kenikmatannya buat nambah dan nambah lagi. Bagi saya, rasanya semakin nikmat jika menggunakan cabai. Habis makan pisang, kami kembali berenang.



Merasa cukup berenang hampir dua jam, kami pun segera bilas badan. “Ayo dek mandi dulu,” kata saya kepada Ayyas. “Emang mau mandi dimana,” kata mama Su, tante saya. Ya tentu saja saya bilang mandi di kamar mandi. Namun mama Su mengatakan kalau tak ada air sehingga tak mungkin bilas. Tak percaya, saya pun ke kamar mandi. Di depan kamar mandi berjejer dirijen-dirijen yang bisa menampung 5 liter air. Teryata, jika ingin bilas harus membeli air seharga Rp 2000 satu dirijen. Itu belum termasuk ongkos masuk kamar mandi seharga Rp 2000. Di dalam kamar mandi yang amat sederhana, tak ada penerang. Gelap, lembab dan kotor. Pasir bertaburan di lantai-lantai kamar mandi. Tak ada perbedaan antara kamar mandi pria dan perempuan. Sehingga saya kaget saat ada pria di dalam kamar mandi. Ayyas hampir saja tak mau bilas di kamar mandi, namun akhirnya mau. Dan saat mandi, ada laba-laba berukuran raksasa. Terburu-buru, kami pun bilas sesegera mungkin. Sayang ya, pantai dengan pemandangan luar biasa indah tapi kamar mandinya seperti itu.




Setelah dari pantai Liang, kami tertarik melihat morea (belut raksasa) yang berada di Desa Wai. Jarak darI Desa Liang ke Desa Wai hanya ditempuh dalam waktu 15 menit. Tiba di lokasi hanya ada papan bertuliskan “Selamat Datang di Air Waiselaka” dan bergambar morea. Teryata morea-morea ini ni berada di kolam air jernih dengan air setinggi 30 centimeter. Morea ini tampak asyik bermain walaupun banyak ibu-ibu yang mencuci bajunya di sekitarnya. Saya sempat heran, apakah air sabun tidak akan merugikan kesehatan si belut? Tampaknya, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Kami juga mendapat kesempatan melihat morea makan telur oleh pawangnya. Oh ya, bagi pengunjung diharapkan memberi uang seadaanya untuk pemeliharaan morea itu. Puas berjalan-jalan, sepanjang jalan pun kami tertidur. Dalam tidur kami berharap akan kembali ke pantai Liang. Harapan yang diharapkan menjadi kenyataan.