Jumat, Oktober 30, 2015

Asyik juga Naik Kereta Api Bandara Kualanamu


Naik kereta api bandara? Hmm … saya belum pernah. Sepengetahuan saya, nantinya pada tahun 2017 akan dibangun kereta api bandara di Bandara Soekarno Hatta. Kini, satu-satunya kereta api bandara  adalah kereta api Bandara Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Kereta api bandara ini telah tersedia sejak tanggal 25 Juli 2013.  Beruntung, pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2015, saya berkesempatan menggunakan kereta api bandara Internasional Kuala Namu. Kesempatan itu saya peroleh saat mendapat undangan Komnas Perempuan “Konferensi Nasional Pemulihan Pengembangan Konsep dan Prinsip Pemulihan dengan Pendekatan Due Diligence” yang diselenggarakan di Universitas Sumatera Utara, Medan.


Dari Jakarta, saya menggunakan pesawat Batik Air pukul 09.30 WIB menuju Bandara Kualanamu. Perjalanan menggunakan pesawat terbang saya tempuh selama dua jam. Tiba di Bandara Kualanamu, saya mengikuti rute petunjuk arah ke stasiun bandara. Banyak sekali petunjuk yang memudahkan saya ke stasiun bandara. Pembelian tiket kereta api bandara dapat dilakukan di conter yang tersedia di bandara. Harga tiket bandara adalah Rp 100 ribu untuk perjalanan selama 40 menit. Agak mahal menurut saya. Tapi, ya untuk pengalaman pertama, setidaknya tak masalah. Saat membeli tiket mendapat kartu masuk dan kertas bukti pembayaran.

Suasana di dalam stasiun kereta api berlantai dua ini luas dan rapi. Saat masuk ke dalam stasiun kereta yang telah menjelma namanya menjadi Airport Railway Station (ARS), kesan modern pun terlihat. Meja informasi dan pembelian tiket digabung menjadi satu di sebuah meja berbentuk oval memanjang. Atap stasiun tinggi sehingga terlihat semakin luas. Terdapat dua eskalator yang terada di ruangan utama itu. Ruang tunggu berada di belakang ruangan utama.  Saya sempat kuatir tak ada colokan listrik, namun kekuatiran saya tak terbukti. Di beberapa tempat terdapat colokan listrik bagi para penumpang. Kereta api bandara kualanamu tersedia sejak pukul 4 pagi di stasiun Medan dan terakhir pukul 21.30 dari Stasiun Kuala Namu. Saran saya sebaiknya memeriksa jadwal keberangkatan kereta bandara agar tak terlambat.




Kereta api bandara kualanamu ini klaim selalu datang tepat waktu. Terbukti, kereta api datang tepat waktu sesuai jadwal yang tertera di tiket. Pukul 12.10, kereta api menuju stasiun Medan tiba. Tak ada saling berebutan untuk memasuki kereta api. Semuanya antri dengan rapi. Ah, andaikan naik commuterline selalu tertib seperti ini, tentu menyenangkan. Penumpang teryata tak banyak yang memilih kereta api bandara. Masih banyak kursi kosong yang tersedia. Oh ya, di tiket pun tersedia nomor tempat duduk. Tapi tampaknya, sama seperti saya, para penumpang duduk tak sesuai nomor kursi.

Selama perjalanan, mata dimanja dengan suasana pemandangan sawah. Juga tampak rumah-rumah disepanjang rel kereta api. Saat berada di persimpangan, kereta sempat berhenti untuk menunggu kereta lain lewat. Hmm, menyenangkan perjalanan saya kali ini. Tiba di Stasiun Medan, suasananya tidak semewah stasiun bandara kereta api Kualanamu. Stasiun Medan ini merupakan cagar budaya yang telah berdiri selama 135 tahun. Tepat, 40 menit kemudian, kereta saya tiba di stasiun yang berdiri di atas area seluas 70.004 m2. Dari stasiun Medan, saya dijemput kawan-kawan saya dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan. Keesokan harinya, saat kembali ke Jakarta, saya pun memilih mengunakan kereta api bandara untuk tiba di Bandara Kualanamu. Tak sabar rasanya menantikan kereta api bandara Soekarno Hatta tiba. Namun harapan saya, harga tiketnya lebih murah dibandingkan kereta api bandara Kualanamu.




Minggu, Oktober 25, 2015

Sabtu di Taman Wisata


Sudah lama ingin kembali berkunjung ke Puncak, Jawa Barat. Tapi dengan segala kemacetan dan bla bla bla, akhirnya keinginan itu pun tertunda. Nah, tanggal 24 Oktober, kantor suami menyelenggarakan family gathering PT Yakult di Taman Matahari di Puncak, Jawa Barat. Perjalanan yang dari kantor PT Yakult ke Taman Matahari sekitar hampir empat jam. Kemacetan yang terjadi, merupakan penyebab utama lamanya perjalanan ke lokasi. Taman Matahari berlokasi di Jalan Raya Puncak KM 77-78 Cilember, Jogjogan, Cisarua.




Harga tiket masuk cukup terjangkau yakni Rp 25 ribu. Itu pun sudah dapat berbagai permainan gratis yakni sepeda wisata, perahu karet, waterboom, dan paddle boot. Tiba di lokasi, setelah pengarahan dari pihak panitia dan permainan awal, kami sekeluarga akhirnya mengunjui berbagai permainan dan fasilitas yang ditawarkan. Permainan pertama yang kami coba adalah perahu karet. Lokasinya tidak jauh dari Rumah Manado, tempat kumpul family gathering. Walaupun berada di Puncak, kawasan ini menurut saya masih terasa panas. Apalagi saat memilih permainan di luar ruangan, panasnya sangat terasa. Saat mencoba perahu karet, pengunjung harus antri karena banyaknya pengunjung yang mencoba permainan secara gratis ini. Waktu yang diberikan untuk permainan ini sekitar 5-10 menit saja. 





Usai mencoba perahu karet, kami penasaran dengan fasilitas arung jeram yang ditawarkan. Biayanya memang lebih mahal dari harga yang ditawarkan dari permainan lain di Taman WIsata Matahari  yakni Rp 25 ribu per orang. Dikarenakan musim kemarau, arus air pun tidak deras. Arung jeram hari itu teryata kurang digemari. ‘Setelah water park gratis, hampir 70 persen lebih milih kesana,” kata Indra pendamping arung jeram kami. Akhirnya saya, Farah dan Ayyas memilih mencoba arung jeram. Batu-batu besar sempat membuat Ayyas kuatir. Tapi kemudian dia menikmati permainan ini. Arung jeram ini dapat ditempuh sepanjang 600 meter. Oh ya, jangan kuatir baju basah karena arus yang tak deras ini. Namun sepatu harus dicopot jika tak mau basah. Saran saya sebaiknya jika memilih menggunakan arung jeram menggunakan sandal gunung. Setelah menempuh perjalanan 600 meter di sungai, kami pun harus menempuh perjalanan 600 meter dengan berjalan kaki ke lokasi awal. Agak menyesal  tidak membawa sandal karena jalanan panas karena sengatan matahari. “Lebih berkeringat jalan daripada di arung jeram, “ kata Farah. Hmm, ada benarnya juga.




Penasaran dengan fasilitas di Taman Matahari, suami mengusulkan menaiki mobil wisata. Sudah bisa ditebak, saya, Ayyas, Farah dan Papa tentu saja setuju. Untuk menikmati mobil wisata, pengunjung harus membayar Rp 10 ribu per orang selama 10 -15 menit. Tak perlu antri karena banyak sekali mobil wisata yang kosong dan siap dipilih . Sepanjang perjalanan, kami akhirnya makin tahu fasilitas apa saja yang ditawarkan di tempat wisata seluas hampir 30 hektar ini.  



Capek berkeliling, kami mencoba permainan lain. Hmm… apalagi yaaa. Saya tertarik mencoba belajar tarian chacha gratis. Saat membaca kata gratis, wah saya langsung bersemangat. Tapi ya, hanya saya saja yang semangat menari. Selebihnya, hanya menonton saya menari. Pengajarnya bernama Pak Deni yang sudah tiga bulan mengajarkan tarian chacha secara gratis. “Siapa yang mau menari bisa ke sini pada Sabtu hingga minggu,” kata Pak Deni. Belajar gratis dimulai pukul 11.00 hingga pukul 16.00 WIB. Oh ya, gerakannya gemulai banget. Badannya sepertinya lentur tak ada kaku sama sekali. Beda dengan saya yang sudah lama tak menari. Hihiiihii ….. Saya ingin mencoba bioskop 4D. Namun batal ketika lihat tempatnya seperti tidak terawat. Kursinya biasa saja dan harus bayar Rp 15 ribu.




Mencoba panjat dinding? Hmm sepertinya menarik. Akhirnya, Farah dan suami pun mencoba panjat dinding dengan membayar Rp 10 ribu per orang. “Pas ada tanjakan yang paling atas butuh tenaga lebih besar,” kata suami. Oh ya, saya baru ngeh kalau ada berbagai tawaran panjat dinding dan jaraknya pun saling berdekatan. Teryata diselenggarakan oleh perusahaan yang berbeda.Terakhir, kami mencoba perahu karet secara gratis. Duuh, capeknya keliling …. Baju renang yang di bawa dari rumah teryata hanya mengendap di tas ransel yang kami bawa.

Bagi saya, tempat wisata ini menarik dicoba. Kalau mau rekreasi hemat, bayar Rp 25 ribu kemudian mencoba permainan gratis yang ditawarkan disana. Makanan silakan bawa dari rumah. Sepertinya berenang di waterpark bisa menjadi pilihan utama. Bawa makanan dan tikar juga untuk menghemat pengeluaran.



Namun jika ingin menikmati berbagai permainan, siap-siap menghabiskan anggaran bisa sampai Rp 100 ribu per orang. Harga yang ditawarkan di setiap permainan mulai Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. Makanan yang ditawarkan beragam. Mulai makanan sunda, padang, dan berbagai makanan siap tersedia dengan harga terjangkau. Untuk oleh-oleh, di sana tersedia beraneka makanan ringan seperti keripik, kue dan souvenir. Ada juga bunga yang ditawarkan mulai harga Rp 20 ribu Rp 12 ribu. Pulangnya, kami semua tertidur di dalam bis. Alhamdulillah, berkesempatan jalan-jalan bersama keluarga