Sabtu, Oktober 17, 2015

Jilbab, Semua Berawal Dari Niat

Setiap orang memiliki kisah tersendiri saat pertama kali menggunakan hijab. Demikian pula saya. Semua berawal saat penugasan peliputan pondok pesantren yang terdampak lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur pada 2005. Nah, saat mengetahui akan meliput di kawasan pondok pesantren, saya pun menggunakan pakaian muslimah. Saya masih mengingat hijab kala itu. Warna putih dengan renda di sisi kiri dan kanan. Tiba di lokasi, saya terkaget-kaget karena pondok pesantren yang akan saya liput teryata tidak ada. “Hanya tersisa atapnya saja, “kata seorang pria sambil menunjukkan atap bangunan berwarna biru. Usai melakukan liputan saya pun bergegas kembali ke kantor. Hijab masih terpasang di kepala saya. Tak mungkin saya melepasnya begitu saja. “Hijab ini akan selalu terpasang di kepala saya,” kata saya dalam hati.



Setiba di kantor, teman-teman bereaksi beragam. Ada yang senyum, ada yang tertawa ada juga yang berkara “Wah ada pocong,” kata salah satu teman saya. Duuuhhh … Saya hanya tertawa dan bergegas keluar biar tidak menjadi sasaran ledekan teman-teman. Namun sejak itu, saya kemudian merasa mantap menggunakan jilbab.



Awal menggunakan jilbab, mama saya membelikan jilbab paris berwarna biru. Harganya saya ingat betul, yakni Rp 40 ribu. Jilbab paris itu saya gunakan dengan model yang simpel saja. Jilbab dirapikan menggunakan tangan, pakai peniti dan jilbab saya pun jadi. Model jilbab itu saya gunakan sehari-hari.



Nah, saat ramainya jilbab beraneka model, saya pun tertarik. Buku yang berisikan beraneka model jilbab pun saya beli. “Bosan juga pakai model jilbab yang begitu-begitu saja,” pikir saya kala itu. Usai membeli jilbab, di rumah saya pun mempraktekkannya. Saya mencoba hingga empat model jilbab agar bisa digunakan sehari-hari. Usai mempraktekkan, saya memotret hasil karya saya. Hanya untuk dikonsumsi pribadi. Bukan di pajang di media sosial. Hihiii



Saat pergi bersama keluarga, saya mencoba mempraktekkan hasil karya saya. Menggunakan ciput ninja warna hitam, saya pasangkan jilbab paris berwarna merah. Senada dengan warna baju. Jarum pentul saya gunakan di kiri dan kanan hijab. Merasa sudah pas, saya pun percaya diri pergi bersama keluarga. Tapi, jilbab karya saya teryata tak bertahan lama. Di sisi kiri agak melorot jilbab bagian luarnya. Sedangkan di sisi kanan jilbab, rambut sedikiti terlihat. Duh, saya menjadi tak nyaman. Suami pun berkata singkat “Ummi itu jilbabnya gimana tuh”. Alhasil, saya pun terpaksa bolak balik bercermin untuk melihat apakah jilbab saya sudah rapi atau belum.



Dengan jadwal kerja yang lebih banyak di lapangan, tentu saya membutuhkan model jilbab yang sederhana dan nyaman digunakan. Lagi-lagi saya kembali menggunakan jilbab segiempat yang dibentuk hanya dengan peniti. Namun, saya kembali tergoda menggunakan jilbab aneka warna saat melintas sebuah toko di kawasan Depok, Jawa Barat.



Warnanya yang beraneka ragam dan model yang beraneka rupa membuat saya tertarik. Harganya kala itu Rp 100 ribu untuk tiga buah jilbab. Harga yang menurut saya masih wajar. Saya gunakan jilbab dengan peniti dan satu jarum pentul. Dan model itu yang bertahan hingga kini. Tak hanya itu saja, saya kini masih menggunakan hijab segiempat yang model sederhana. Jujur, saya kuatir jika menggunakan jilbab yang harus menggunakan peniti, bisa menganggu orang. Maklum, sebagai pengguna commuterline kerap berdesak-desakan. Kalau ada peniti yang nyembul dari jilbab dan terkena orang? Duhh… jangan sampai deh.



Lalu, apakah saya tidak tertarik menggunakan hijab syar’i? Saya tertarik. Saya senang sekali melihat perempuan menggunakan gamis panjang dan jilbab yang panjang menutup dada. Namun hingga kini saya masih belum bisa melaksanakan. Sehari-hari, saya masih menggunakan jilbab dengan baju lengan panjang dan celana jeans. Saya masih merasa nyaman menggunakan jeans karena masih terasa bebas untuk beraktivitas. Mengejar kereta, naik motor rasanya lebih praktis jika menggunakan celana. Itu menurut saya. Walaupun saya sering melihat mulismah yang menggunakan hijab syar’i tapi tak kerepotan saat di transportasi umum. Memang semua berawal dari niat.



 Eh tapi, seringkali saya juga menggunakan gamis dengan jika bersama keluarga atau acara pengajian. Bagi saya,pilihan gamis saat ini lebih beragam. Padahal dulu, tak mudah mencari gamis seukuran badan saya yang tergolong imut. Hanya saja, saya masih sering takjub dengan busana muslim syar’i yang harganya semakin selangit. Kebanyakan di atas Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah untuk gamis plus jilbab. Memang, ada juga busana muslim yang harganya di bawah harga Rp 200 ribu. Dan busana muslim yang harga di bawah Rp 200 ribu itulah yang saya pilih.


Bagi saya menggunakan busana muslim syar’i atau apapun semua berawal dari niat. Berjilbab tapi masih menggunakan celana jeans atau memilih busana muslim syar’I semua wajar saja. Asalkan dilakukan dengan pilihan tanpa tekanan dan tanpa menghakimi pilihan orang lain. Semua melalui proses. Mungkin awalnya sekedar menutup rambut, perlahan memperbaiki busana muslim yang menutup aurat. Saya kuatir, jika ada muslimah yang baru saja menggunakan jilbab, lalu dikritis habis-habisan (jilbboss kek, kayak lontong dan segala umpatan lain), muslimah itu akan berpikir seribu kali untuk memperbaiki baju muslimah yang baik. Sebaiknya, dituntun pelan, diajak baik-baik untuk menjadi semakin baik. Sama seperti para perempuan yang menggunakan jilbab, saya pun masih belajar.



Belajar memperbaiki keimanan. Belajar menggunakan baju muslimah yang baik. Belajar shalat tepat waktu dan tak bolong-bolong. Serta belajar agar mata dan hati tidak berkata nyinyir saat ada yang belum berjilbab dengan baik. Belajar agar tak hanya kepala saya yang berjilbab tapi juga hati. Semua berawal dari niat, pilihan menggunakan jilbab yang nyaman.

Tulisan ini untuk disertakan dalam Giveaway Hijab Nyaman Di Hati :)




Kamis, Oktober 15, 2015

The Hundred Foot Journey, Perjalanan Keluarga Kadams




Apa rasanya terusir dari tanah air dan membangun kehidupan mulai nol? Itulah yang dirasakan keluarga Papa Kadams (Om Puri) yang berasal dari India. Sebagai seorang suami dan bapak dari lima anak dan memiliki restoran India itulah kehidupan terbaiknya. Namun semuanya harus lenyap dalam semalam karena sekelompok orang. Dan dalam semalam, ia kehilangan mata pencaharian dan istri tercinta. Dari sinilah film “The Hundred Foot Journey” yang diproduksi tahun 2014 berawal.





Dalam kebimbangan dan keresahan ia tahu hidupnya harus berlanjut. Bersama kelima anaknya, Papa terbang ke Lumiere, sebuah desa kecil di pegunungan Perancis. Setibanya di Lumiere, Papa terpikat dengan sebuah bangunan yang usang, jelek namun berada di depan sebuah restoran Le Saule Pleureur terkenal di kota itu. Kelima anaknya tentu tak setuju. Papa yang keras kepala tentu tak mau menerima begitu saja saran anak-anaknya. Tanpa sepengetahuan kelima anak-anaknya, Papa pun membeli bangunan itu. Dan, sebagai seseorang yang asli India, Papa pun menghias restorannya dengan khas India. 

 Lalu siapa yang memasak? Adalah Hassan Kadams (Maish Dayal), anak keduanya yang memiliki bakat memasak seperti ibunya. Bakat masak yang mengalir secara alami dan menjadi andalan keluarga. Di tangan Hasan, restoran itu memiliki cita rasa India yang sarat bumbu. Namun, tak mudah membangun restoran. Tak ada yang mampir saat pembukaan restoran.   
Tak hanya itu saja, konflik terbuka pun terjadi antara Papa dan Madame Mallory (Helen Millen), pemilik restoran Le Saule Pleureur. Hasan yang berbakat memasak, mencuri perhatian Madame yang meminta Hassan bergabung dengannya. Walau awalnya, Madame Mallory seakan enggan menggakui kehebatan Hasan. Bergabung dengan Madame Mallory, membuat Hasan semakin menunjukkan bakatnya. Makanan Perancis diramu dengan bumbu-bumbu khas India. Cinta pun tumbuh di antara Hassan dan Marguerite (Charlotte Le Bon), perempuan yang juga bekerja di restoran Madame Mallory. Kehebatan Hasan mampu membuatnya berkibar di dunia internasional. Ia pun kembali terbang ke negeri orang dan menjadi koki yang membuat banyak orang berdecak kagum. Namun, berada jauh dari keluarganya membuatnya kosong.



Menonton film yang di  diproduksi oleh Steven Spielberg bersama Oprah Winfrey, juga menonton perjalanan karir seorang pria sederhana yang menjelma sebagai koki berbakat. Bagi saya, film ini adalah film keluarga yang sangat layak ditonton bersama keluarga tercinta. Kehangatan, kebersamaan dan cinta seorang bapak kepada keluarga serta cinta anak kepada orangtua menjadi pengikat dalam film ini. Dalam duka, keluarga akan tetap bersama. Jangan berharap film ini akan terasa datar tanpa humor. Papa Kadams mampu menyajikan tawa dengan caranya sendiri. 


Tak hanya itu saja, alur dalam film ini pun berjalan wajar. Tanpa ada sesuatu yang berlebihan dan alur yang terpotong. Konflik yang ada di dalam film ini tak terlalu tajam, namun mampu menunjukkan dalam setiap kehidupan, celah konflik bisa saja terjadi. Kehebatan lain dalam film ini adalah penggambilan angle yang apik saat proses pembuatan masakan. Fokus kamera saat Hasan memasukkan bumbu, mengaduk masakan hingga menyajikan, mampu membuat saya sebagai penonton ingin segera melahap masakan yang tersaji itu. Secara keseluruhan, film ini bagi saya sangat berkesan karena perpaduan berbagai kekeluargaan, tak pantanng menyerah hingga penyajian gambar yang sangat memikat mata saya sebagai penonton. Saking berkesan, saya bersama keluarga menonton film ini hingga empat kali. Hehehe

Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?



Minggu, Oktober 11, 2015

Bolu Tape Lezat


Belakangan, saya senang sekali membeli tape. Setiap kali ke kantor pada pagi dan melewati Pasar Palmerah, saya kerap membeli tape. Ada beberapa penjual tape yang menjual tape nikmat dengan harga Rp 10 ribu per kilogram. Alhasil, kerap saya membeli namun tak langsung di olah. Terkadang, tersimpan di kulkas kemudian di olah 2 atau 3 hari kemudian. 

Nah, karena tape yang dibeli Kamis belum dikonsumsi, Jumat saya langsung berniat  eksekusi menjadi makanan. Masak apa ya? Jika dibuat minuman sepertinya kurang pas. Maka, saya pun mengolah tape menjadi bolu tape. Ada beberapa persyaratan memilih tape sebelum di olah menjadi bolu.

Saya menggunakan resep dari website ricke-ordinarykitchen.blogspot.co.id. Resepnya di adaptasi dari Majalah Femina No 27 tahun 1999. Namun saya modifikasi dikit. Sumber awal menggunakan santan, saya memilih menggunakan susu kental manis. Karena bahan dasarnya adalah tape, ada beberapa persyaratan sebelum menggunakan tape. Pertama, gunakan tape yang sudah agak tua. Biasanya tak terlalu keras tapi juga tak terlalu lembut. Tape yang digunakan juga sebaiknya tidak berair. Saya pernah gunakan tape yang baru dikeluarkan dari kulkas. Entah mengapa, jadi agak bantet. Hehehh . Kalau ingin manis, penambahan gula dipersilahkan. Sesuai selera. Dan menurut saya yang paling penting adalah mengaduk adonan sampai kental.

Saat memasak bolu tape, saya lupa menaburkan keju di atas adonan. Untungnya, adona kue masih di api bawah. Jadi, sebelum saya pindahkan ke api atas, buru-buru saya taburkan keju parut sesuai selera. Oh ya, ini resepnya :

                                                                              Bolu Tape Buatan saya

Bahan :
300 gram tape singkong dibuang sumbunya
75 gram susu kental manis
180 gram tepung terigu protein sedang
1 sdt baking powder (kemarin saya lupa. Hiks)
5 butir telur (saya hanya pakai 4 butir)
180 gram gula pasir
½ sdt essence vanili
150 gram margarin dilelehkan (tunggu lelehan dingin dulu ya baru dimasukkan)
50 gram keju chedar parut

Taburan :
50 gram keju cheddar parut

Cara membuat :
1.        Loyang turban disiapkan. Namun sebelumnya oleh margarin dan taburi terigu tipis. Setelah itu panaskah oven hingga 160 derajat celcius.
2.        Tape singkong dihaluskan dan di campur dengan susu kental manis hingga rata. Sebelum dicampur susu, pastikan kalau tidak ada sumbu tape di dalam adonan. Sisihkan
3.        Kocok telur, gula pasir dan sp hingga benar-benal kental. Ini penting ya, harus kental dan adonana berwarna putih. Lalu tambahkan essence vanili. Saya menggunakan essence vanili yang di bawa dari Ambon. Padahal vanili ini dibuat di Sidoarjo. Hahahaa. Tapi bau-nya saya suka sekali.
4.        Lalu masukkan adonan tape singkong dan mixer dengan kecepatan rendah. Masukkan margarin yang sudah dicairkan secara perlahan
5.        Tambahkan campuran terigu sedikit demi sedikit. Kemudian aduk dengan spatula. Terakhir tambahkan keju parut
6.        Masukkan adonan ke dalam loyang dan masak selama 45-60 menit. Saya biasanya masak menggunakan api bawah kemudian setelah agak lama saya pindahkan ke api atas. Jangan lupa lakukan tes tusuk.
7.        Angkat dan biarkan sebentar dalam loyang sebelum dipotong-potong. Silakan menikmati J

Saya menikmati bolu tape dengan segelas the manis panas ditemani Ayyas. Nikmatnya berkumpul bersama keluarga menikmati makanan hasil karya sendiri J