Top Social

TRAVEL AND LIFESTYLE BLOGGER

Asyik juga Naik Kereta Api Bandara Kualanamu

Jumat, Oktober 30, 2015

Naik kereta api bandara? Hmm … saya belum pernah. Sepengetahuan saya, nantinya pada tahun 2017 akan dibangun kereta api bandara di Bandara Soekarno Hatta. Kini, satu-satunya kereta api bandara  adalah kereta api Bandara Kuala Namu, Deli Serdang, Sumatera Utara. Kereta api bandara ini telah tersedia sejak tanggal 25 Juli 2013.  Beruntung, pada tanggal 27 dan 28 Oktober 2015, saya berkesempatan menggunakan kereta api bandara Internasional Kuala Namu. Kesempatan itu saya peroleh saat mendapat undangan Komnas Perempuan “Konferensi Nasional Pemulihan Pengembangan Konsep dan Prinsip Pemulihan dengan Pendekatan Due Diligence” yang diselenggarakan di Universitas Sumatera Utara, Medan.


Dari Jakarta, saya menggunakan pesawat Batik Air pukul 09.30 WIB menuju Bandara Kualanamu. Perjalanan menggunakan pesawat terbang saya tempuh selama dua jam. Tiba di Bandara Kualanamu, saya mengikuti rute petunjuk arah ke stasiun bandara. Banyak sekali petunjuk yang memudahkan saya ke stasiun bandara. Pembelian tiket kereta api bandara dapat dilakukan di conter yang tersedia di bandara. Harga tiket bandara adalah Rp 100 ribu untuk perjalanan selama 40 menit. Agak mahal menurut saya. Tapi, ya untuk pengalaman pertama, setidaknya tak masalah. Saat membeli tiket mendapat kartu masuk dan kertas bukti pembayaran.

Suasana di dalam stasiun kereta api berlantai dua ini luas dan rapi. Saat masuk ke dalam stasiun kereta yang telah menjelma namanya menjadi Airport Railway Station (ARS), kesan modern pun terlihat. Meja informasi dan pembelian tiket digabung menjadi satu di sebuah meja berbentuk oval memanjang. Atap stasiun tinggi sehingga terlihat semakin luas. Terdapat dua eskalator yang terada di ruangan utama itu. Ruang tunggu berada di belakang ruangan utama.  Saya sempat kuatir tak ada colokan listrik, namun kekuatiran saya tak terbukti. Di beberapa tempat terdapat colokan listrik bagi para penumpang. Kereta api bandara kualanamu tersedia sejak pukul 4 pagi di stasiun Medan dan terakhir pukul 21.30 dari Stasiun Kuala Namu. Saran saya sebaiknya memeriksa jadwal keberangkatan kereta bandara agar tak terlambat.




Kereta api bandara kualanamu ini klaim selalu datang tepat waktu. Terbukti, kereta api datang tepat waktu sesuai jadwal yang tertera di tiket. Pukul 12.10, kereta api menuju stasiun Medan tiba. Tak ada saling berebutan untuk memasuki kereta api. Semuanya antri dengan rapi. Ah, andaikan naik commuterline selalu tertib seperti ini, tentu menyenangkan. Penumpang teryata tak banyak yang memilih kereta api bandara. Masih banyak kursi kosong yang tersedia. Oh ya, di tiket pun tersedia nomor tempat duduk. Tapi tampaknya, sama seperti saya, para penumpang duduk tak sesuai nomor kursi.

Selama perjalanan, mata dimanja dengan suasana pemandangan sawah. Juga tampak rumah-rumah disepanjang rel kereta api. Saat berada di persimpangan, kereta sempat berhenti untuk menunggu kereta lain lewat. Hmm, menyenangkan perjalanan saya kali ini. Tiba di Stasiun Medan, suasananya tidak semewah stasiun bandara kereta api Kualanamu. Stasiun Medan ini merupakan cagar budaya yang telah berdiri selama 135 tahun. Tepat, 40 menit kemudian, kereta saya tiba di stasiun yang berdiri di atas area seluas 70.004 m2. Dari stasiun Medan, saya dijemput kawan-kawan saya dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Medan. Keesokan harinya, saat kembali ke Jakarta, saya pun memilih mengunakan kereta api bandara untuk tiba di Bandara Kualanamu. Tak sabar rasanya menantikan kereta api bandara Soekarno Hatta tiba. Namun harapan saya, harga tiketnya lebih murah dibandingkan kereta api bandara Kualanamu.




Sabtu di Taman Wisata

Minggu, Oktober 25, 2015

Sudah lama ingin kembali berkunjung ke Puncak, Jawa Barat. Tapi dengan segala kemacetan dan bla bla bla, akhirnya keinginan itu pun tertunda. Nah, tanggal 24 Oktober, kantor suami menyelenggarakan family gathering PT Yakult di Taman Matahari di Puncak, Jawa Barat. Perjalanan yang dari kantor PT Yakult ke Taman Matahari sekitar hampir empat jam. Kemacetan yang terjadi, merupakan penyebab utama lamanya perjalanan ke lokasi. Taman Matahari berlokasi di Jalan Raya Puncak KM 77-78 Cilember, Jogjogan, Cisarua.




Harga tiket masuk cukup terjangkau yakni Rp 25 ribu. Itu pun sudah dapat berbagai permainan gratis yakni sepeda wisata, perahu karet, waterboom, dan paddle boot. Tiba di lokasi, setelah pengarahan dari pihak panitia dan permainan awal, kami sekeluarga akhirnya mengunjui berbagai permainan dan fasilitas yang ditawarkan. Permainan pertama yang kami coba adalah perahu karet. Lokasinya tidak jauh dari Rumah Manado, tempat kumpul family gathering. Walaupun berada di Puncak, kawasan ini menurut saya masih terasa panas. Apalagi saat memilih permainan di luar ruangan, panasnya sangat terasa. Saat mencoba perahu karet, pengunjung harus antri karena banyaknya pengunjung yang mencoba permainan secara gratis ini. Waktu yang diberikan untuk permainan ini sekitar 5-10 menit saja. 





Usai mencoba perahu karet, kami penasaran dengan fasilitas arung jeram yang ditawarkan. Biayanya memang lebih mahal dari harga yang ditawarkan dari permainan lain di Taman WIsata Matahari  yakni Rp 25 ribu per orang. Dikarenakan musim kemarau, arus air pun tidak deras. Arung jeram hari itu teryata kurang digemari. ‘Setelah water park gratis, hampir 70 persen lebih milih kesana,” kata Indra pendamping arung jeram kami. Akhirnya saya, Farah dan Ayyas memilih mencoba arung jeram. Batu-batu besar sempat membuat Ayyas kuatir. Tapi kemudian dia menikmati permainan ini. Arung jeram ini dapat ditempuh sepanjang 600 meter. Oh ya, jangan kuatir baju basah karena arus yang tak deras ini. Namun sepatu harus dicopot jika tak mau basah. Saran saya sebaiknya jika memilih menggunakan arung jeram menggunakan sandal gunung. Setelah menempuh perjalanan 600 meter di sungai, kami pun harus menempuh perjalanan 600 meter dengan berjalan kaki ke lokasi awal. Agak menyesal  tidak membawa sandal karena jalanan panas karena sengatan matahari. “Lebih berkeringat jalan daripada di arung jeram, “ kata Farah. Hmm, ada benarnya juga.




Penasaran dengan fasilitas di Taman Matahari, suami mengusulkan menaiki mobil wisata. Sudah bisa ditebak, saya, Ayyas, Farah dan Papa tentu saja setuju. Untuk menikmati mobil wisata, pengunjung harus membayar Rp 10 ribu per orang selama 10 -15 menit. Tak perlu antri karena banyak sekali mobil wisata yang kosong dan siap dipilih . Sepanjang perjalanan, kami akhirnya makin tahu fasilitas apa saja yang ditawarkan di tempat wisata seluas hampir 30 hektar ini.  



Capek berkeliling, kami mencoba permainan lain. Hmm… apalagi yaaa. Saya tertarik mencoba belajar tarian chacha gratis. Saat membaca kata gratis, wah saya langsung bersemangat. Tapi ya, hanya saya saja yang semangat menari. Selebihnya, hanya menonton saya menari. Pengajarnya bernama Pak Deni yang sudah tiga bulan mengajarkan tarian chacha secara gratis. “Siapa yang mau menari bisa ke sini pada Sabtu hingga minggu,” kata Pak Deni. Belajar gratis dimulai pukul 11.00 hingga pukul 16.00 WIB. Oh ya, gerakannya gemulai banget. Badannya sepertinya lentur tak ada kaku sama sekali. Beda dengan saya yang sudah lama tak menari. Hihiiihii ….. Saya ingin mencoba bioskop 4D. Namun batal ketika lihat tempatnya seperti tidak terawat. Kursinya biasa saja dan harus bayar Rp 15 ribu.




Mencoba panjat dinding? Hmm sepertinya menarik. Akhirnya, Farah dan suami pun mencoba panjat dinding dengan membayar Rp 10 ribu per orang. “Pas ada tanjakan yang paling atas butuh tenaga lebih besar,” kata suami. Oh ya, saya baru ngeh kalau ada berbagai tawaran panjat dinding dan jaraknya pun saling berdekatan. Teryata diselenggarakan oleh perusahaan yang berbeda.Terakhir, kami mencoba perahu karet secara gratis. Duuh, capeknya keliling …. Baju renang yang di bawa dari rumah teryata hanya mengendap di tas ransel yang kami bawa.

Bagi saya, tempat wisata ini menarik dicoba. Kalau mau rekreasi hemat, bayar Rp 25 ribu kemudian mencoba permainan gratis yang ditawarkan disana. Makanan silakan bawa dari rumah. Sepertinya berenang di waterpark bisa menjadi pilihan utama. Bawa makanan dan tikar juga untuk menghemat pengeluaran.



Namun jika ingin menikmati berbagai permainan, siap-siap menghabiskan anggaran bisa sampai Rp 100 ribu per orang. Harga yang ditawarkan di setiap permainan mulai Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. Makanan yang ditawarkan beragam. Mulai makanan sunda, padang, dan berbagai makanan siap tersedia dengan harga terjangkau. Untuk oleh-oleh, di sana tersedia beraneka makanan ringan seperti keripik, kue dan souvenir. Ada juga bunga yang ditawarkan mulai harga Rp 20 ribu Rp 12 ribu. Pulangnya, kami semua tertidur di dalam bis. Alhamdulillah, berkesempatan jalan-jalan bersama keluarga



  







  






Jilbab, Semua Berawal Dari Niat

Sabtu, Oktober 17, 2015
Setiap orang memiliki kisah tersendiri saat pertama kali menggunakan hijab. Demikian pula saya. Semua berawal saat penugasan peliputan pondok pesantren yang terdampak lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur pada 2005. Nah, saat mengetahui akan meliput di kawasan pondok pesantren, saya pun menggunakan pakaian muslimah. Saya masih mengingat hijab kala itu. Warna putih dengan renda di sisi kiri dan kanan. Tiba di lokasi, saya terkaget-kaget karena pondok pesantren yang akan saya liput teryata tidak ada. “Hanya tersisa atapnya saja, “kata seorang pria sambil menunjukkan atap bangunan berwarna biru. Usai melakukan liputan saya pun bergegas kembali ke kantor. Hijab masih terpasang di kepala saya. Tak mungkin saya melepasnya begitu saja. “Hijab ini akan selalu terpasang di kepala saya,” kata saya dalam hati.



Setiba di kantor, teman-teman bereaksi beragam. Ada yang senyum, ada yang tertawa ada juga yang berkara “Wah ada pocong,” kata salah satu teman saya. Duuuhhh … Saya hanya tertawa dan bergegas keluar biar tidak menjadi sasaran ledekan teman-teman. Namun sejak itu, saya kemudian merasa mantap menggunakan jilbab.



Awal menggunakan jilbab, mama saya membelikan jilbab paris berwarna biru. Harganya saya ingat betul, yakni Rp 40 ribu. Jilbab paris itu saya gunakan dengan model yang simpel saja. Jilbab dirapikan menggunakan tangan, pakai peniti dan jilbab saya pun jadi. Model jilbab itu saya gunakan sehari-hari.



Nah, saat ramainya jilbab beraneka model, saya pun tertarik. Buku yang berisikan beraneka model jilbab pun saya beli. “Bosan juga pakai model jilbab yang begitu-begitu saja,” pikir saya kala itu. Usai membeli jilbab, di rumah saya pun mempraktekkannya. Saya mencoba hingga empat model jilbab agar bisa digunakan sehari-hari. Usai mempraktekkan, saya memotret hasil karya saya. Hanya untuk dikonsumsi pribadi. Bukan di pajang di media sosial. Hihiii



Saat pergi bersama keluarga, saya mencoba mempraktekkan hasil karya saya. Menggunakan ciput ninja warna hitam, saya pasangkan jilbab paris berwarna merah. Senada dengan warna baju. Jarum pentul saya gunakan di kiri dan kanan hijab. Merasa sudah pas, saya pun percaya diri pergi bersama keluarga. Tapi, jilbab karya saya teryata tak bertahan lama. Di sisi kiri agak melorot jilbab bagian luarnya. Sedangkan di sisi kanan jilbab, rambut sedikiti terlihat. Duh, saya menjadi tak nyaman. Suami pun berkata singkat “Ummi itu jilbabnya gimana tuh”. Alhasil, saya pun terpaksa bolak balik bercermin untuk melihat apakah jilbab saya sudah rapi atau belum.



Dengan jadwal kerja yang lebih banyak di lapangan, tentu saya membutuhkan model jilbab yang sederhana dan nyaman digunakan. Lagi-lagi saya kembali menggunakan jilbab segiempat yang dibentuk hanya dengan peniti. Namun, saya kembali tergoda menggunakan jilbab aneka warna saat melintas sebuah toko di kawasan Depok, Jawa Barat.



Warnanya yang beraneka ragam dan model yang beraneka rupa membuat saya tertarik. Harganya kala itu Rp 100 ribu untuk tiga buah jilbab. Harga yang menurut saya masih wajar. Saya gunakan jilbab dengan peniti dan satu jarum pentul. Dan model itu yang bertahan hingga kini. Tak hanya itu saja, saya kini masih menggunakan hijab segiempat yang model sederhana. Jujur, saya kuatir jika menggunakan jilbab yang harus menggunakan peniti, bisa menganggu orang. Maklum, sebagai pengguna commuterline kerap berdesak-desakan. Kalau ada peniti yang nyembul dari jilbab dan terkena orang? Duhh… jangan sampai deh.



Lalu, apakah saya tidak tertarik menggunakan hijab syar’i? Saya tertarik. Saya senang sekali melihat perempuan menggunakan gamis panjang dan jilbab yang panjang menutup dada. Namun hingga kini saya masih belum bisa melaksanakan. Sehari-hari, saya masih menggunakan jilbab dengan baju lengan panjang dan celana jeans. Saya masih merasa nyaman menggunakan jeans karena masih terasa bebas untuk beraktivitas. Mengejar kereta, naik motor rasanya lebih praktis jika menggunakan celana. Itu menurut saya. Walaupun saya sering melihat mulismah yang menggunakan hijab syar’i tapi tak kerepotan saat di transportasi umum. Memang semua berawal dari niat.



 Eh tapi, seringkali saya juga menggunakan gamis dengan jika bersama keluarga atau acara pengajian. Bagi saya,pilihan gamis saat ini lebih beragam. Padahal dulu, tak mudah mencari gamis seukuran badan saya yang tergolong imut. Hanya saja, saya masih sering takjub dengan busana muslim syar’i yang harganya semakin selangit. Kebanyakan di atas Rp 200 ribu hingga jutaan rupiah untuk gamis plus jilbab. Memang, ada juga busana muslim yang harganya di bawah harga Rp 200 ribu. Dan busana muslim yang harga di bawah Rp 200 ribu itulah yang saya pilih.


Bagi saya menggunakan busana muslim syar’i atau apapun semua berawal dari niat. Berjilbab tapi masih menggunakan celana jeans atau memilih busana muslim syar’I semua wajar saja. Asalkan dilakukan dengan pilihan tanpa tekanan dan tanpa menghakimi pilihan orang lain. Semua melalui proses. Mungkin awalnya sekedar menutup rambut, perlahan memperbaiki busana muslim yang menutup aurat. Saya kuatir, jika ada muslimah yang baru saja menggunakan jilbab, lalu dikritis habis-habisan (jilbboss kek, kayak lontong dan segala umpatan lain), muslimah itu akan berpikir seribu kali untuk memperbaiki baju muslimah yang baik. Sebaiknya, dituntun pelan, diajak baik-baik untuk menjadi semakin baik. Sama seperti para perempuan yang menggunakan jilbab, saya pun masih belajar.



Belajar memperbaiki keimanan. Belajar menggunakan baju muslimah yang baik. Belajar shalat tepat waktu dan tak bolong-bolong. Serta belajar agar mata dan hati tidak berkata nyinyir saat ada yang belum berjilbab dengan baik. Belajar agar tak hanya kepala saya yang berjilbab tapi juga hati. Semua berawal dari niat, pilihan menggunakan jilbab yang nyaman.

Tulisan ini untuk disertakan dalam Giveaway Hijab Nyaman Di Hati :)




The Hundred Foot Journey, Perjalanan Keluarga Kadams

Kamis, Oktober 15, 2015



Apa rasanya terusir dari tanah air dan membangun kehidupan mulai nol? Itulah yang dirasakan keluarga Papa Kadams (Om Puri) yang berasal dari India. Sebagai seorang suami dan bapak dari lima anak dan memiliki restoran India itulah kehidupan terbaiknya. Namun semuanya harus lenyap dalam semalam karena sekelompok orang. Dan dalam semalam, ia kehilangan mata pencaharian dan istri tercinta. Dari sinilah film “The Hundred Foot Journey” yang diproduksi tahun 2014 berawal.





Dalam kebimbangan dan keresahan ia tahu hidupnya harus berlanjut. Bersama kelima anaknya, Papa terbang ke Lumiere, sebuah desa kecil di pegunungan Perancis. Setibanya di Lumiere, Papa terpikat dengan sebuah bangunan yang usang, jelek namun berada di depan sebuah restoran Le Saule Pleureur terkenal di kota itu. Kelima anaknya tentu tak setuju. Papa yang keras kepala tentu tak mau menerima begitu saja saran anak-anaknya. Tanpa sepengetahuan kelima anak-anaknya, Papa pun membeli bangunan itu. Dan, sebagai seseorang yang asli India, Papa pun menghias restorannya dengan khas India. 

 Lalu siapa yang memasak? Adalah Hassan Kadams (Maish Dayal), anak keduanya yang memiliki bakat memasak seperti ibunya. Bakat masak yang mengalir secara alami dan menjadi andalan keluarga. Di tangan Hasan, restoran itu memiliki cita rasa India yang sarat bumbu. Namun, tak mudah membangun restoran. Tak ada yang mampir saat pembukaan restoran.   
Tak hanya itu saja, konflik terbuka pun terjadi antara Papa dan Madame Mallory (Helen Millen), pemilik restoran Le Saule Pleureur. Hasan yang berbakat memasak, mencuri perhatian Madame yang meminta Hassan bergabung dengannya. Walau awalnya, Madame Mallory seakan enggan menggakui kehebatan Hasan. Bergabung dengan Madame Mallory, membuat Hasan semakin menunjukkan bakatnya. Makanan Perancis diramu dengan bumbu-bumbu khas India. Cinta pun tumbuh di antara Hassan dan Marguerite (Charlotte Le Bon), perempuan yang juga bekerja di restoran Madame Mallory. Kehebatan Hasan mampu membuatnya berkibar di dunia internasional. Ia pun kembali terbang ke negeri orang dan menjadi koki yang membuat banyak orang berdecak kagum. Namun, berada jauh dari keluarganya membuatnya kosong.



Menonton film yang di  diproduksi oleh Steven Spielberg bersama Oprah Winfrey, juga menonton perjalanan karir seorang pria sederhana yang menjelma sebagai koki berbakat. Bagi saya, film ini adalah film keluarga yang sangat layak ditonton bersama keluarga tercinta. Kehangatan, kebersamaan dan cinta seorang bapak kepada keluarga serta cinta anak kepada orangtua menjadi pengikat dalam film ini. Dalam duka, keluarga akan tetap bersama. Jangan berharap film ini akan terasa datar tanpa humor. Papa Kadams mampu menyajikan tawa dengan caranya sendiri. 


Tak hanya itu saja, alur dalam film ini pun berjalan wajar. Tanpa ada sesuatu yang berlebihan dan alur yang terpotong. Konflik yang ada di dalam film ini tak terlalu tajam, namun mampu menunjukkan dalam setiap kehidupan, celah konflik bisa saja terjadi. Kehebatan lain dalam film ini adalah penggambilan angle yang apik saat proses pembuatan masakan. Fokus kamera saat Hasan memasukkan bumbu, mengaduk masakan hingga menyajikan, mampu membuat saya sebagai penonton ingin segera melahap masakan yang tersaji itu. Secara keseluruhan, film ini bagi saya sangat berkesan karena perpaduan berbagai kekeluargaan, tak pantanng menyerah hingga penyajian gambar yang sangat memikat mata saya sebagai penonton. Saking berkesan, saya bersama keluarga menonton film ini hingga empat kali. Hehehe

Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?



Bolu Tape Lezat

Minggu, Oktober 11, 2015

Belakangan, saya senang sekali membeli tape. Setiap kali ke kantor pada pagi dan melewati Pasar Palmerah, saya kerap membeli tape. Ada beberapa penjual tape yang menjual tape nikmat dengan harga Rp 10 ribu per kilogram. Alhasil, kerap saya membeli namun tak langsung di olah. Terkadang, tersimpan di kulkas kemudian di olah 2 atau 3 hari kemudian. 

Nah, karena tape yang dibeli Kamis belum dikonsumsi, Jumat saya langsung berniat  eksekusi menjadi makanan. Masak apa ya? Jika dibuat minuman sepertinya kurang pas. Maka, saya pun mengolah tape menjadi bolu tape. Ada beberapa persyaratan memilih tape sebelum di olah menjadi bolu.

Saya menggunakan resep dari website ricke-ordinarykitchen.blogspot.co.id. Resepnya di adaptasi dari Majalah Femina No 27 tahun 1999. Namun saya modifikasi dikit. Sumber awal menggunakan santan, saya memilih menggunakan susu kental manis. Karena bahan dasarnya adalah tape, ada beberapa persyaratan sebelum menggunakan tape. Pertama, gunakan tape yang sudah agak tua. Biasanya tak terlalu keras tapi juga tak terlalu lembut. Tape yang digunakan juga sebaiknya tidak berair. Saya pernah gunakan tape yang baru dikeluarkan dari kulkas. Entah mengapa, jadi agak bantet. Hehehh . Kalau ingin manis, penambahan gula dipersilahkan. Sesuai selera. Dan menurut saya yang paling penting adalah mengaduk adonan sampai kental.

Saat memasak bolu tape, saya lupa menaburkan keju di atas adonan. Untungnya, adona kue masih di api bawah. Jadi, sebelum saya pindahkan ke api atas, buru-buru saya taburkan keju parut sesuai selera. Oh ya, ini resepnya :

                                                                              Bolu Tape Buatan saya

Bahan :
300 gram tape singkong dibuang sumbunya
75 gram susu kental manis
180 gram tepung terigu protein sedang
1 sdt baking powder (kemarin saya lupa. Hiks)
5 butir telur (saya hanya pakai 4 butir)
180 gram gula pasir
½ sdt essence vanili
150 gram margarin dilelehkan (tunggu lelehan dingin dulu ya baru dimasukkan)
50 gram keju chedar parut

Taburan :
50 gram keju cheddar parut

Cara membuat :
1.        Loyang turban disiapkan. Namun sebelumnya oleh margarin dan taburi terigu tipis. Setelah itu panaskah oven hingga 160 derajat celcius.
2.        Tape singkong dihaluskan dan di campur dengan susu kental manis hingga rata. Sebelum dicampur susu, pastikan kalau tidak ada sumbu tape di dalam adonan. Sisihkan
3.        Kocok telur, gula pasir dan sp hingga benar-benal kental. Ini penting ya, harus kental dan adonana berwarna putih. Lalu tambahkan essence vanili. Saya menggunakan essence vanili yang di bawa dari Ambon. Padahal vanili ini dibuat di Sidoarjo. Hahahaa. Tapi bau-nya saya suka sekali.
4.        Lalu masukkan adonan tape singkong dan mixer dengan kecepatan rendah. Masukkan margarin yang sudah dicairkan secara perlahan
5.        Tambahkan campuran terigu sedikit demi sedikit. Kemudian aduk dengan spatula. Terakhir tambahkan keju parut
6.        Masukkan adonan ke dalam loyang dan masak selama 45-60 menit. Saya biasanya masak menggunakan api bawah kemudian setelah agak lama saya pindahkan ke api atas. Jangan lupa lakukan tes tusuk.
7.        Angkat dan biarkan sebentar dalam loyang sebelum dipotong-potong. Silakan menikmati J

Saya menikmati bolu tape dengan segelas the manis panas ditemani Ayyas. Nikmatnya berkumpul bersama keluarga menikmati makanan hasil karya sendiri J

Auto Post Signature

Auto Post  Signature