Top Social

TRAVEL AND LIFESTYLE BLOGGER

Bahagia Saling Berbagi

Minggu, September 13, 2015


Membaca Majalah Intisari edisi Agustus 2015, saya tertarik membaca kisah berjudul Dinding Kopi. Dikisahkan ketika wisatawan lagi asyik menikmati kopi, datanglah seorang pria bayu dan duduk di meja kosong. Kepada pramusaji yang memesan dua cangkir kopi. “Yang satu untuk di dinding”. Sang pria itu hanya disuguhi satu cangkir namun ia membayar untuk dua cangkir. Setelah si pria itu pergi, si pramusaji menempelkan selembar kertas kecil bertuliskan Segelas Kopi di dinding kafe. Tak lama dua pria masuk dan melakukan hal yang sama. Dua kopi dinikmati, dan memesan Segelas Kopi di dinding kafe. Para wisatawan hanya bisa bertanya di dalam hati mengetahui hal itu.

Seminggu kemudian, saat datang ke kafe, mereka melihat seorang lelaki tua masuk ke dalam kafe dengan pakaian kumal dan kotor. Setelah duduk ia melihat ke pelayan dan berkata “Satu cangkir kopi dari dinding”. Pramusaji menyuguhkan segelas kopi. Setelah menghabiskan kopi, lelaki lusuh itu pergi tanpa membayar. Sang pramusaji mendarik satu lembar kertas dari dinding lalu membuangnya ke tempat sampah. Teryata cara itu adalah cara penduduk kota saling menolong.

Di Indonesia budaya saling tolong menolong menurut saya cukup bagus. Kemarin saya membaca kisah hidup seorang perempuan yang menyediakan makanan gratis kepada lansia setiap hari Jumat. Dana yang digunakan untuk makanan itu diperoleh dari keuntungan usaha yang ia gagas. Jika sebelumnya pada hari Jumat, ia hanya mampu memberi makan 10 lansia, kini bisa mencapai 100 lansia yang menikmati makanan gratis darinya. Luar biasa!

Salah satu budaya tolong menolong juga digagas Yana Nurlina, koordinator Rombong Sedekah. Setiap Kamis, Yana menyampaikan di media sosial kepada siapapun yang mau bersedekah rombong makan gratis untuk jamaah sholat Jumat. Biasanya, Yana menyertakan menu makanan yang akan dibagikan pada hari Jumat nanti dengan target porsi. Pengumuman ini juga disertai nama mesjid yang jamaahnya akan diberikan makanan gratis, serta nomor rekening jika ada yang transfer. Nantinya, Yana akan mengirimkan laporan beserta foto hasil pemberian makanan jumat kepada para jamaah.

Saat saya di Banjarnegara, Jawa Tengah pada April 2015, usai shalat para jamaah shalat Jumat dibagikan kue secara gratis. Kami yang menunggu pun ditawarin makan kue gratis. “Silakan ambil, ini gratis kok,” kata salah seorang pria menawarkan kue kepada kami. Anak-anak pun dengan senang hati menerima. “Aku mau ini saja,” kata Viki,” keponakan saya. Ada sekitar tiga kardus yang berisikan beraneka kue. Untuk minuman pun diberikan gratis. Bagi saya secara pribadi, walaupun terkesan sederhana, pemberian tulus itu membuat hati senang.

Di wilayah perumahan saya, beberapa ibu-ibu menggagas pemberian sedekah bagi anak yatim piatu. Setiap yang mau menyumbangkan tidak dipaksa. Siapapun mau menyumbangkan dan berapa nilainya terserah. Kabarnya, jumlah penyantun dan anak yatim piatu yang menerima bantuan pun bertambah.  

“Our own happines must include the happines of others”
          

Rencana Pensiun

Sabtu, September 12, 2015


Dia tampak gelisah. Monitor komputer di meja kerjanya hanya dipandangnya saja. Sesekali ia menggerakkan mouse komputer miliknya. Tumpukan berkas yang harus ditanda tangani tergeletak belum di sentuh. “Saya mendadak mikir rencana pensiun saya,” kata Dia.

Kegelisahaan ini yang kemudian menuntutnya untuk berpikir alternatif pekerjaan lain sebelum memasuki masa pensiun. Namun mencari alternatif pekerjaan lain, tentu berarti keluar dari zona nyaman. Selama ini, ia terbiasa berangkat kerja langsung ke kantor. Begitu juga pulang kerja ia tak pernah mampir kemana-mana tapi langsung pulang ke rumah. “Tapi
saya yakin saya bisa keluar dari zona nyaman ini,” katanya.

Kepada sahabatnya, ia mengaku rekan kerja seusianya juga merasakan hal yang sama. Ada rekan kerjanya yang mulai investasi apartemen, investasi emas untuk masa depan hingga memiliki mini market. “Tapi ada juga yang masih mencari jawaban seperti saya ini,” ungkapnya.

Tapi Dia mengaku sudah berpikir beberapa alternatif  pekerjaan lain yang bisa dilakukan sebelum ia pensiun hingga pensiun kelak. Mulai dari usaha makanan, usaha kost-kostan hingga kontrakan. Dia pernah membuat keciput, makanan khas . Tanggapan yang diterima positif karena keciputnya dinilai enak. “Tapi membuatnya capek juga,” katanya sambil tersenyum.

Ada alternatif keinginan yang belum terlaksana. “Saya ingin membuat baso kerbau atau baso ikan,” katanya. Membuat baso kerbau bukan sesuatu yang mudah. Daging kerbau yang alot tentu membutuhkan pengolahan yang berbeda dengan daging sapi. “Namun ini unik dan masih belum ada yang mencoba,” katanya. Alternatif lain yang ingin dicoba adalah membuat bakso ikan. Membuat bakso ikan memiliki tantangan tersendiri. “Menghilangkan amis ikan tentu tak mudah,” tambahnya.

Dia hingga kini belum memutuskan, apa alternatif yang akan di pilih. “Saya akan berusaha untuk keluarga semampu saya,” tuturnya. Keputusan apapun yang akan diambil, akan dikomunikasikan dengan istrinya. “Aku berharap yang terbaik untuk masa depan kami sekeluarga,” katanya sambil tersenyum. (RA)

Fight Song

Minggu, September 06, 2015


Lagi asyik mendengarkan lagu ini. Plis enjoy it ;)
Oh ya, saya lampirkan liriknya ya ...

Like a small boatOn the oceanSending big wavesInto motionLike how a single wordCan make a heart openI might only have one matchBut I can make an explosion
And all those things I didn't sayWrecking balls inside my brainI will scream them loud tonightCan you hear my voice this time
This is my fight songTake back my life songProve I'm alright songMy power's turned on(Starting right now) I'll be strongI'll play my fight songAnd I don't really care if nobody else believes'Cause I've still got a lot of fight left in me
Losing friends and I'm chasing sleepEverybody's worried about meIn too deepSay I'm in too deep (I'm in too deep)And it's been two yearsI miss my homeBut there's a fire burning in my bonesAnd I still believeYeah I still believe
And all those things I didn't sayWrecking balls inside my brainI will scream them loud tonightCan you hear my voice this time
This is my fight songTake back my life songProve I'm alright songMy power's turned on(Starting right now) I'll be strongI'll play my fight songAnd I don't really care if nobody else believes'Cause I've still got a lot of fight left in me
A lot of fight left in me
Like a small boatOn the oceanSending big wavesInto motionLike how a single wordCan make a heart openI might only have one matchBut I can make an explosion
This is my fight songTake back my life songProve I'm alright songMy power's turned on(Starting right now) I'll be strongI'll play my fight songAnd I don't really care if nobody else believes'Cause I've still got a lot of fight left in me
Now I've still got a lot of fight left in me 

Sebagai Seorang Ibu yang Bekerja

Jumat, September 04, 2015


Ini perdebatan lama. Perdebatan usang. Selalu saja ada pertanyaan “Pilih mana. Jadi ibu bekerja atau ibu di rumah atau ibu bekerja di rumah?” Sejak dulu saya memilih sebagai ibu bekerja. Kenapa? Bukan karena saya tidak sayang kepada anak sehingga saya memilih bekerja. Apa karena bekerja jadi tak sayang anak ? Oh tidak. Saya bekerja karena ini pilihan saya dan disepakati bersama keluarga. Walaupun saya bekerja, sejak dulu saya menghabiskan waktu dengan anak saat saya di rumah. Pulang kerja mungkin capek, tapi capek itu reda saat melihat senyum anak. Senyum itu reda saat memeluk anak dan mendengarkan ceritanya. Jika saya bekerja, anak tak segan menelpon. Saya pun sebaliknya. Menelponnya untuk sekedar bertanya apapun. Saat saya pulang kerja, dia selalu minta belajar bersama, memeluknya saat dia hendak tidur. Untuk makan, saya sering menyuapnya, menemaninya bermain dan selalu bersamanya.

Saat anak masih kecil, dia pernah menangis saat saya pergi kerja. Saya memilih memeluknya, menemaninya hingga tangisnya reda baru kemudian pergi kerja. Beberapa hari lalu, saat saya berangkat kerja, Ayyas terbangun dan menangis pela. “Aku cuma mau saya ummi,” tangisnya pelan. Saya memeluknya dalam tidur, menghapus air matanya dan berkata “Nanti kita main lagi ya, dek. Ummi kerja dulu”. Sang suami pun mengambil alih untuk menangani Ayyas. Inilah peran suami istri bekerja sama mengasuh anak.

Ada teman saya awalnya bekerja kemudian memilih berhenti kerja untuk menemani anaknya. Saya, sebagai sahabatnya memeberikan dorongan semangat atas apapun pilihannya. Kita tak berhak menghakimi ketika ada yang memutuskan bekerja atau tidak bekerja.

Bagi saya, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika memutuskan untuk memilih sebagai ibu bekerja :
1.       Keputusan sebagai ibu bekerja di ambil berdasarkan pilihan sendiri dan tanpa paksaan. Komitmen suami sangat dibutuhkan jika memilih sebagai ibu bekerja. Suami saya sangat mendukung langkah saya sebagai ibu bekerja
2.       Koordinasi dengan suami jika ada urusan anak yang tidak bisa diselesaikan. Terkadang, seorang ibu ingin mengerjakan urusannya sendiri. Ingin bisa masak, menemani anak, bersihkan rumah, kerjakan semua urusan sendiri. Capek, bu jika memilih seperti itu. Bagi tugas dengan suami agar urusan menjadi lebih mudah
3.       Jika libur atau sudah di rumah, fokus menemani anak. Urusan kantor, tinggalkan di kantor. Anak tentu butuh perhatian lebih. Janganlah fisik di rumah, tapi pikiran di kantor
4.       Kantor yang baik tentu mendukung peran kita sebagai ibu bekerja. Namun jangan mentang-mentang sebagai ibu bekerja kemudian memilih keistimewaan dibandingkan karyawan lain. Walaupun memang ada beberapa aturan dalam UU Tenaga Kerja yang mengatur tentang Perempuan Bekerja
5.       Kerjasama dengan sekolah terutama wali kelas sangat dibutuhkan. Jika ada pekerjaan rumah atau catatan penting, bisa disampaikan dengan segera ke wali kelas. Demikian pun sebaliknya. Saya beruntung sekolah Ayyas sangat mendukung koordinasi antara orangtua dan wali kelas.
6.       Lingkungan rumah yang baik adalah lingkungan rumah yang saling menjaga. Memiliki tetangga yang mau membantu ke rumah jika ada yang penting, adalah kebahagiaan tersendiri. Dan saya memiliki itu.
7.       Asisten Rumah Tangga (ART) yang baik mampu mengkomunikasikan dengan baik tentang anak saat kita tak disamping. ART yang baik juga adalah ART yang amanah dan menjaga anak dengan baik.
8.       Paling penting, selalu berdoa agar keluarga selalu dilindungi oleh Allah. Kepada siapa lagi kita berdoa?

Apapun keputusannya, ambilah dengan bijak. Tanpa tekanan dan paksaan. Demi anak, seorang ibu tentu tahu mana yang harus dilakukan. Suami pun demikian. Silakan mengambil keputusan ya, bu ….

Auto Post Signature

Auto Post  Signature