Senin, Agustus 24, 2015

Ujung Genteng Memang Paling Ujung

Kemanakah saat liburan dua hari? Di waktu yang sesingkat itu, Ujung Genteng mungkin bisa menjadi salah satu alternatif tujuan berwisata bersama keluarga. Terpesona foto indahnya Ujung Genteng di berbagai blog, membuat saya sekeluarga pun memutuskan segera ke Ujung Genteng. Untuk mencapai Ujung Genteng, kami menggunakan fasilitas Wave sebagai penunjuk arah.

Saat di pintu tol, diinformasikan jika pintu tol Puncak Ciawi tutup. Akhirnya, kami memutuskan melalui rute Sukabumi-Pelabuhan Ratu-Ujung Genteng. Walaupun hari itu longweekend (15-17 Agustus 2015), jalanan lancar. Tak ada kemacetan sepanjang jalan. Namun kendala perjalanan baru diperoleh saat menempuh perjalanan dari Lido menuju Sukabumi. Jalan dari Lido menuju Sukabumi teryata macet total. Beberapa kendaraan pun berbalik arah. Termasuk kami yang kemudian memutuskan melalui jalur alternatif Sukabumi. 
 




Namun, perjalanan jalur alternatif luar biasa berkelok. Tanjakan dan turunan hampir kami temui sepanjang perjalanan. Apabila kami menggunakan mobil manual, ini tentu tidak menjadi masalah. Tapi menggunakan mobil matic 1200 cc di tanjakan? Wah, bikin hati berdebar-debar. Apalagi saat suami berkata “Duh, bisa nggak ya tanjakannya?”. Alhasil, saya pun semakin deg-degan. Posisi tangan kiri suami sudah siap-siap ke gigi rendah. Karena selama melaju di kendaraan rata, posisi gigi di D. Dan memang benar, saat tanjakan, mobil pun tampak mengeluarkan suara khasnya. Saat tanjakan berhasil dilampui kami pun serentak mengucapkan “Alhamdulillah”. Saat jalur turunan, suami pede mengenderai kendaraan. Kami pun tenang-tenang saja.

Jalur yang kami tempuh kebanyakan adalah hutan dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Jarak antara rumah saling berjauhan. Mungkin karena lahan yang masih banyak kosong. Pukul 14.00 WIB, kami sekeluarga tiba di Pelabuhan Ratu. Usai makan dan shalat ashar, mobil pun melaju hingga Ujung Genteng. Dan, pukul 16.00 WIB, kami pun tiba di Ujung Genteng






Ekspektasinya bisa bekejar-kejaran di pasir putih di antara deburan ombak sambil menikmati semilir angin. Tapi, sepanjang pantai lebih banyak terlihat karang. Laut sedang surut saat kami tiba. Jarak antara bibir pantai dengan darat pun jauh. Kami harus melewati jalan berkarang sambil sesekali memandang ke bawah, kuatir menginjak makhluk laut.

Sekolah Dasar Ayyas




Senin, 27 Juli 2015, hari pertama Ayyas masuk sekolah dasar di kawasan Depok, Jawa Barat. Beberapa minggu sebelum masuk sekolah dasar, saya dan Ayyas mulai mempersiapkan berbagai kebutuhan yang harus dibawa di sekolah. Jumlahnya tak sedikit. Ada 19 item yang harus dipersiapan dan di bawa untuk diletakkan di kelas. Mulai dari baju ganti, sikat gigi, berbagai peralatan menulis, gunting, kertas origami, kuas, crayon dan sebagainnya. Berbagai peralatan itu, dimasukkan di dalam keranjang yang nanti diletakkan di laci tempat duduk sekolah.

Malam sebelum masuk sekolah, semua peralatan itu saya masukkan dengan rapi di tas. Saya merasa beruntung bisa menemani Ayyas di hari pertama masuk sekolah. Di depan pintu masuk sekolah, kepala sekolah dan beberapa guru sudah menunggu orangtua dan murid yang masuk sekolah. Ayyas awalnya terlihat kaku. Tak ada senyum di wajahnya saat masuk sekolah. Kemungkinan dia masih belum merasa nyaman di sekolah baru. Saya menemani dia saya dan teman-temannya berkumpul. Setelah itu, saya berkenalan dengan para orangtua murid dan guru. Nah, saat saya hendak pulang, mendadak Ayyas memeluk saya. “Aku cuma ingin sama ummi,” kata Ayyas menangis dengan suara pelan. Saya mencoba meyakinkan dia bahwa asyik teman-temannya. Tapi dia masih menangis dan memeluk saya. Saat gurunya datang, kemudian mengalihkan perhatian Ayyas dan membawa Ayyas berkumpul dengan teman-temannya. Saya pulang dengan perasaan menduga2 Ayyas apa mampu beradaptasi atau tidak. Saya ingin tahu bagaimana reaksi Ayyas saat pulang. Alhamdulillah, saat pulang Ayyas tersenyum bahkan tertawa bahagia. Dan, saya pun bahagia.

Keesokan harinya, saya pun datang ke sekolah Ayyas. Saya menunggunya sejak pukul 10.00 hingga pukul 13.00 saat Ayyas pulang. Saya nanya Ayyas mau pulang dengan ummi naik motor atau naik mobil dengan mobil jemputan. Dan Ayyas bilang, dengan ummi. Akhinya, pulang saya membonceng Ayyas dengan motor. Agak deg2an, sepanjang jalan saya berdoa kami sehat selamat sampai rumah .

Saya masih terbiasa mengantar atau menjemput Ayyas saat masih TK. Kini, setelah Ayyas SD terkadang ingin juga sesekali antar. Biar tetap dekat dengan Ayyas. Biar ada kegiatan juga jika libur. Tapi teryata masih banyak yang harus dipikirkan. Misalnya kalau dengan mobil jemputan, secara teratur dia djemput dengan ketepatan waktu. Tapi jika dengan saya, bisa jadi Ayyas bangun malah siang. Dan terkadang menangis. Ini pernah terjadi saat saya memutuskan untuk mengantar Ayyas sekolah. Jam sekolah dia menjadi tidak tertib.

Sudah hampir dua minggu ini, Ayyas sekolah. Dia selalu tambah bahagia dan bersemangat. Pulang sekolah walaupun sudah sore, dia masih minta belajar. Saya terkadang harus membatasi karena kuatir dia terlalu bersemangat hingga kelelahan. Tapi malamnya, Ayyas pun masih minta belajar mengulang pelajaran hari ini dan belajar pelajaran besok.

Saya senang selama ini Ayyas baik-baik saja. Semoga selalu semangat. Allah melindunginya. Amin

Nikmatnya Kukis



Masak apa ya? Itu sekelebat pertanyaan yang terlintas di kepala saya. Nah, Rabu, 24 Mei saya dan Ayyas memilih memasak Kukis Hias. Namanya hias, berarti harusnya ada hiasan beraneka warna. Nah, niat saya memang demikian, tapi ah lihat nanti. Akhirnyaaa, saya pun hanya memasak kukis dan tanpa di hias icing sugar. Hahhaaa. Ah, sudahlah, yang penting bahannya nggak banyak dan membuatnya pun tak sulit. Kali ini, saya memakai resep Kukis Hias ala Fatmah Bahalwan. 

Kukis Hias
oleh Fatmah Bahalwan

Bahan Kukis
100 gram gula halus
300 gram mentega
4 butir kuning telur
500 gram tepung terigu protein sedang
20 gram maizena
1 sdt vanila essens (saya skip)

Cara membuatnya :
1.       Kocok mentega dan gula halus hingga lembut.
2.       Masukkan kuning telur satu per satu dan dikocok lagi hingga tercampur rata
3.       Masukkan terigu, maizena dan vanila, aduk rata sampai bisa dibentuk. Bila adonan masih lunak, tambahkan terigu 1-3 sdm.
4.       Giling adonan di atas meja dengan ketebalan tertentu, misalnya 5mm. Cetak dengan cetakan kukis, pindahkan ke loyang.
5.       Oven dengan suhu 140 Celcius selama kurang lebih 30 menit atau sampai keemasan
6.       Keluarkan, biarkan dingin dalam loyang.
7.       Hias bagian atas kukis dengan royal icing warna yang diinginkan. Biarkan kering atau oven dengan suhu 100 derajat celcius selama 15 menit. Angkat

Catatan :
Saya terlalu percaya diri mampu memasak kukis ini. Jadi, tanpa membaca dengan lengkap cara membuatnya, saya langsung memasukkan gula halus dan tepung terigu menjadi satu. Lalu saya masukkan juga kuning telur dan mentega. Setelah itu baru saya sadar, bahwa seharusnya kocok mentega dan telur terlebih dahulu. Rasanya kuatir kukis ini bakalan gagal. Apalagi tepung terigunya hampir setengah kilo dan ini produk kukis pertama saya. Tapi saya memutuskan untuk memasukkan semua bahan menjadi satu. Alias menggunakan metode All in One. Saya mengaduknya menggunakan mikser kecepatan rendah, dan tepung terigu pun bertebaran di mana-mana. Hahhaaa. Akhirnya saya mengaduknya dengan menggunakan spatula dan kemudian dilanjutkan mengaduk dengan tangan.

Setelah tercampur rata, saya pun mencetaknya dengan cetakan kukis yang saya beli seharga Rp 30 ribu dan Rp 15 ribu. Dan, teryata butuh ketelatenan ya untuk mencetak kukis ini. Apalagi Ayyas yangs ejak awal bilang mau bantu saya, malah memilih asyik bermain (walau sebelumnya dia yang mengayak gula halus dan sempat mencetak kukis awalnya). Dan akhirnya, kukis saya pun tercetak semua. Namun kedepan, kalau kukis mau dicetak harus di atur dengan rapi sehingga bisa muat banyak kukis untuk dipanggang.

Saya memasak dengan suhu 150 derajats celsius dan belum sampai 30 menit, kukis saya sudah berwarna kekuningan dan aromanyaaa, mmhh luar biasa harum. Saking penasaran dengan rasa dan harumnya, dalam kondisi panas saya pun memakan kukis perdana. Dan rasanyaaa ….. luar biasa nikmat. Ayyas pun tak henti-hentinya memakan kukis ini. Bahkan dia pesan untuk di bawa ke sekolah. Lain kali, saya akan memasak kukis ini lengkap dengan hiasan icing. Nanti saya akan share hasilnya disini