Selasa, Desember 08, 2015

Saya, Jurnalis dan Pemilu

Besok, 9 Desember 2015, di 269 daerah diselenggarakan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Karena bertempat tinggal di Jakarta Timur, saya pun tidak memilih. Saya ingat sejak memiliki hak untuk memilih sejak berusia 17 tahun, saya memilih untuk masuk dalam golongan putih (golput). Memang bukan sesuatu yang membanggakan. Namun kala itu saya merasa belum memiliki pilihan untuk dipilih. Namun pada tahun 2014, saya kemudian dengan sadar memilih apa yang saya anggap terbaik. 





Sebagai jurnalis, saya kerap melakukan peliputan politik. Sejak 2006, saya lebih banyak melakukan peliputan di salah satu partai politik. Namun bukan berarti saya tidak melakukan peliputan di partai politik lain. Namun porsi terbanyak memang di salah satu partai politik itu. Berbagai kegiatan yang dilakukan di partai politik itu saya ikuti. Saya ingat tahun 2006, di undang meliput di kawasan Cibubur, Jakarta Timur. Undangan meliput pada pukul 07.00 WIB, namun janjian dengan rekan narasumber ke lokasi pada pukul 06.00 WIB. Liputan itu tentang kampanye akbar di bumi perkemahan. Sialnya, saya ketiduran di kantor karena semalam deadline mengerjakan penugasan. Hmm, saya sih memang sering tidur di kantor dan itu hal biasa di tempat saya dulu. Saat ditelepon, saya terkejut melihat jam yang melingkar di tangan. Tanpa mandi  dan hanya sikat gigi dan ganti baju, saya pun meluncur ke tempat janjian dengan narasumber. Saya bersyukur berhasil tampil rapi dan sopan di hadapan narasumber. Maafkan ya .... . Jujur, saya orang yang selalu tepat waktu saat liputan. Tapi waktu itu, saya khilaf ... 


Kerap melakukan meliput di satu partai politik membuat saya memiliki akses untuk melakukan peliputan mendalam. Melakukan wawancara dengan konstituennya, para pengurus dan ketua saya bisa lalui. Jika ada rencana kegiatan, saya pun selalu dikabari. Apabila saya membutuhkan nomor telepon salah satu pengurus, saya kerap di bantu. Maklum, kebutuhan untuk meliput cepat dan tepat selalu menjadi rutinitas. Namun bukan berarti kerap meliput saya tidak seimbang dalam peliputan. Ketika partai tersebut sempat ‘terbelah’ saya melakukan wawancara dengan pihak pro dan kontra. Tanpa terbebani dengan praduga “Nanti kalau saya wawancara si A, si B ngggak bakalan mau saya liput lagi”. Tapi saya ingat saat melakukan wawancara dengan pihak kontra, saya diajak ngobrol ngalur-ngidul hingga dua jam sebelum narasumber ini mau berbicara sesuai dengan penugasan saya. Namun sejak dia mengetahui saya netral, dia kerap memberikan informasi kepada saya. “Mba Alida, sudah tahu belum kalau ....,” bunyi pesan pendeknya kepada saya. 


Bagi saya, melakukan peliputan partai politik jurnalis tetap harus netral. Menolak pemberian uang atau barang yang dapat mempengaruhi pemberitaan. Sejak dulu dan hingga kini, saya tidak pernah menerima pemberiaan uang atau barang dari partai politik yang saya liput. Reputasi dan dedikasi adalah ‘harga mati’ yang harus dipegang seorang jurnalis.



Oh ya, untuk besok, jangan ragu memilih. Pergunakan hati nurani dan akal sehat.   




Sumber foto : http://www.antarasumbar.com/        


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

3 komentar:

  1. yang susah itu memang netral itu ya mbaa.. saya liat kok banyak bgt jurnalis yang memihak satu sisi saja

    BalasHapus
  2. Hallo mba, mungkin ada. Tapi kalau dikatakan banyak saya tidak tahu berapa jumlahnya. Memang sulit tapi seharusnya ini bisa dilakukan karena jurnalis bekerja untuk informasi kepada masyarakat. Terima kasih sudah mampir, mba :)

    BalasHapus
  3. Apa lagi sekarang memang tergantung sama atasannya ada yg ikut gabung di parpol...dijamin berita jadi nggak berimbang huhu

    BalasHapus