Sabtu, Desember 26, 2015

Perjalanan Mencari Kebahagiaan



Sebuah kisah dalam kehidupan tak selamanya manis. Terkadang pahit, namun mau tak mau harus dialami. Takkala kisah tak manis itu hadir dalam kehidupan, sebuah pencarian pun dilakukan. Pencarian tentang kebahagiaan. Dan, ada berbagai cara melakukan pencarian kebahagiaan. Salah satunya melalui perjalanan. Melalui buku berjudul “Passport to Happiness. 11 Kota 11 Cerita Mencari Cinta” karya Ollie, ia membagi perjalanannya mencari kebahagiaan.






Kesebelas kota yang ia datangi adalah Ubud, Dublin, Moskow, London, Seoul, Paris, Marrakech, Istanbul, Almaty, Alezandria dan New York City. Di Ubud, buku berjudul Eat, Pray, Love membawanya ke Ubud untuk menemui Ketut Liyer, tokoh Medicine Man dalam buku itu.  Pertemuan Ollie dengan Ketut Liyer membuatnya memikirkan sebuah kalimat yang diucapkan Ketut Liyer.


“Jika kamu ingin tinggal, bisa …., jika kamu ingin pergi, juga bisa … “lanjut Ketut Liyer. Kalimat yang bermakna bahwa, tak ada yang bisa diprediksi karena masa depan ditentukan oleh diri sendiri.



Perjalanannya ke Seoul membuat Ollie mengetahui kebahagiaan yang dicari di Seoul lebih banyak dilihat dari penampilan. Bukalah halaman 68 dalam bab yang berjudul ‘How to Love Your Self in Seoul’. Dalam bab ini terungkap bahwa di Seoul, penampilan memiliki peran penting untuk mendapat pengakuan lebih secara sosial dan juga untuk mendapakan pekerjaan. Perempuan atau laki-laki yang lebih cantik atau lebih tampan akan mendapatkan peluang lebih besar dalam mendapatakan pekerjaan yang bergengsi di sebuah perusahaan. Di berbagai sudut kota, terdapat poster-poster iklan yang bergambar ‘before and after’ orang-orang yang menjalani operasi plastik. Bahkan, ada promo diskon buy 1 get 1 di periode tertentu. Prosedur yang bisa dilakukan antara lain pembentukan kelopak mata, operasi perbaikan hidung, bibir, hingga rekonstruksi wajah. Operasi plastik ibarat ke salon untuk potong rambut bagi orang Indonesia. Sampai kapan kebahagiaan seperti ini yang dicari? Entahlah.  




Memiliki teman baru dalam melakukan perjalanan, dilakukan Ollie di Marrakech. Kisah ini ia tuangkah dalam bab berjudul ‘From Moscow with Love’. Di Marrakech, ia bertemu Soufiane, seseorang yang pernah ia temui di Universitas Cadi Ayyad. Kala itu, Soufiane menjadi salah satu volunteer acara.  Bersama Soufiane, ia menjelajah hingga ke Ben Youssef Medrasa, sekolah asrama untuk belajar Al Quran sejak tahun 1500-an. Traveling is about the art of making new friend.


Takkala kebahagiaan telah dicapai, bagaimana cara membagi kebahagiaan penuh cinta?. Dalam “Share the Love in Almaty”, Ollie menceritakan kisahnya saat memberikan kuliah social media for social good di kelas yang berisi 20 orang di kota Almaty, sebuah kota di Kazakhstan. Para pesertanya adalah pria-pria Afganistan yang tertantang untuk menulis kebahagiaan keluarga di media sosial. Sesuatu yang jarang terdengar dari Afganistan. Afganistan yang selama ini lebih banyak terdengar tentang bom, peperangan dan penembakan. Melalui media sosial pula, kebahagiaan itu pun menular.



Dalam buku setebal 168 halaman ini, Ollie seolah membagikan alternatif lain mencari kebahagiaan. Buku ini ditulis dengan bahasa tutur sehingga mudah dicerna. Pembaca tak hanya diajak membaca kisah Ollie, namun diajak mengetahui berbagai keindahan serta tempat yang menjadi tujuan Ollie. Ollie mencoba menghadirkan unsur sosial dan budaya di tempat yang ia tuju. Buku ini menjadi semakin lengkap jika foto-foto tidak disertakan di bagian akhir buku melainkan dilampirkan di setiap tulisan sehingga memperkaya buku. Jadi, apakah anda masih mencari kebahagiaan? Buku ini bisa menjadi salah satu pilihan membaca di waktu luang.



Judul Buku : Passoprt to Happines. 11 Kota 11 cerita Mencari Cinta

Penulis : Ollie

Penerbit : Gagas Media

Cetakan pertama : 2015     

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

28 komentar:

  1. Tulisan di bukunya ini ada hubungannya nggak ya dengan keputusan ollie mengubah penampilan? Hehe, barangkali dibahas dalam bukunya.

    BalasHapus
  2. Hallo, mba Anne Adzkia. Sepengetahuan aku nggak ada. Jadi lebih kisah dia di 11 kota dalam masa 'pencarian; itu. Hehhee. Makasih udah mampir :)

    BalasHapus
  3. Wah menarik pgn baca bukunya mbak Ollie, khususnya yg ttg Korea yg lagi hits di anak muda

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, di buku ini menyinggung sedikit tentang fenomena di KOrea ini. Menurutku bisa dimaksimalkan lagi tulisan tentang Korea ini :). Makasih ya

      Hapus
  4. menarik jadi pensaran pingin baca bukunya mba ollie. 11 kota mantap aah.

    ooh iya salam kenal ya mba.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai mas Laksono Ahmad, iya seru juga tuh jalan2 ke 11 kota tapi berbeda negara. Hehhehe. Salam kenal kembali, mas :)

      Hapus
  5. mencari kebahagiaan rasanya akan terus dilakukan. Walaupun dalam setiap pencarian saya selalu berusaha bersyukur. Karena sebetulnya sudah merasakan bahagia juga :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbaa Keke Naima, bersyukur itu harus :). Makasih mba :)

      Hapus
  6. ollie memang punya perjalanan yang luar biasa, termasuk pilihannya saat ini... saya respek apapun itu
    BTW bukunya oke banget buat ngabisin liburan ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setiap orang memiliki perjalana hidup masing-masing ya, Kang Arul. Makasih sudah mampir :)

      Hapus
  7. Hehehe aku termasuk dah terhubung scr maya sejak zaman multiply ... Jd yah lumayan liat lika liku khdpnnya, walau ga pernah gamblang ceritainnya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah dulu pas pake multiply belum terhubung, mba. Sayang ya mutiply musnah dan aku ya nggak sempat angkut angkut tulisan Makasih udah mampir, mba :)

      Hapus
  8. Saya beneran pgn baca buku ini, dan penasaran dgn berbagai pilihan hidup Ollie ;-)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuuk, silakan mba. Silakan :). Makasih, mba :)

      Hapus
  9. Saya ktinggalan ni kyaknya...
    Jd pngen baca jg...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hmm biar nggak ketinggalan, mari berburu :). Makasih mas

      Hapus
  10. Kisah di Afghanistan itu unik ya, Mbak. Ternyata lelaki Afghanistan ada juga yang pengen nulis seperti itu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa, mba. Mungkin nggak semuanya memilih berjuang di jalur perang. Hanya saja mereka belum begitu paham menyampaikan tentang kehidupan mereka kepada warga dunia lainnya :). Makasih mba Niar

      Hapus
  11. jadi penasaran pengin membaca bukunya nih mbak Alida, gegara review mbak sekilas yang sukses bikin saya kepo. Peace all ^_^ Slam hangat dari Kudus ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mba Chris dari Kudus ya? Wah kampung halaman kedua bagi saya :). Salam dari Jakarta, mba. Saya setahun sekali minimal selalu ke Kudus. Hhehehe.

      Hapus
  12. Saya jadi pensaran ingin baca bukunya mbak ollie. .... Tambah lagi review mbak Alida yang bikin makin penasaran .... Eh, salam kenal ya mbak Alida :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyaakk, mas Yono Karyono. Salam kenal kembaalii ....:)

      Hapus
  13. bahagia itu sederhana ... :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, mba. Menurutku bahagia itu kita sendiri yang menciptakan. Makasih, mba :)

      Hapus
  14. Mba kasih rating berapa buat buku ini? :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seharusnya buku ini jika ditulis lebih detail dan explore banyaak, bisa dapat 8 menurutku. Tapi mungkin ama mba Ollie hanya fokus ke beberapa point saja. Makasih, mba Hana:)

      Hapus
  15. Buku ini udah aku beli sejak awal Januari lalu tapi beluuum sempat dibaca... hiks. Menurutku memang kebahagiaan itu ada di diri sendiri dan bukan pemberian ya mba :).

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah ya harus baca, mba :)
      Aku setuju, mba. Kebahagiaan dari diri sendiri

      Hapus