Senin, November 09, 2015

Pantai Liang, Luar Biasaaaa ....



Merasakan hembusan angin sepoi-sepoi kala tidur di pasir putih sambil mendengarkan bunyi ombak, ah betapa nikmatnya. Itulah yang saya rasakan September 2015 saat berkunjung ke Pantai Liang yang terletak di Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Sepanjang mata memandang, hanya terlihat air yang bersih bening.  Tak ada sampah seperti pantai-pantai lain yang saya kunjungi. Kalaupun ada, hanyalah daun yang tertiup angin, jatuh di hamparan laut. Pantai Liang memang menawarkan pemandangan alam yang mempesona. Pantai ini pernah dinobatkan oleh UNDP sebagai pantai terindah di Indonesia tahun 1990.






Dari Ambon, saya sekeluarga menggunakan mobil sewaan selama satu jam untuk menempuh perjalanan sejauh 40 kilometer. Satu hari, mobil disewa dengan harga Rp 500 ribu sudah termasuk sopir. Sebelum tiba di pantai Liang, kami melewati pantai Natsepa. Pantai Natsepa juga menawarkan pemandangan laut yang indah, namun kami memilih melanjutkan perjalanan ke pantai Liang. Tiba di pantai Liang pukul 14.00 WIT, tampaknya masih terlalu panas untuk berenang. Teriknya matahari di Ambon, terasa menyengat. Ah, saya tak bawa sunblock. Sambil menunggu panas agak reda, kami memilih makan pisang goreng dipadu sambal. Eh, makan pisang goreng sama sambal? Ya, di Ambon, sejak kecil sudah terbiasa makan pisang goreng atau singkong goreng dipadu sambal. Rasanya nikmat karena baru digoreng. Pedas-pedas gurih. Nah, pisang goreng ini bisa dengan mudah ditemui di pantai Liang. Harganya hanya Rp 1000 per biji. Bisa ditebak, hanya dalam hitungan menit pisang goreng pung lenyap tak bersisa.   



Usai makan pisang, segera saja kami memilih berenang di laut. Rasanyaaaa … hmm segar. Airnya yang bening, membuat kami betah berenang. Ya, walau tak jauh-jauh dari bibir pantai berenang terasa menyenangkan. Walau tak membawa ban renang, tak perlu ragu karena bisa disewa dengan harga Rp 10 ribu. Oh ya, jangan lupa naik di jembatan pantai Liang. Jembatan ini kerap dijadikan ajang foto-foto atau banyak juga yang memilih lompat dari atas jembatan itu ke laut.   






Ke pantai Liang, tak lengkap jika tak memakan rujak. Rujak di pantai Liang memiliki khas kacang gorengnya lebih banyak. Kacang yang goreng hanya diulek kasar. Jumlah kacang pun lebih banyak daripada gula merah. Rasanya gurih manis karena kacang dipadu dengan gula merah. Untuk satu porsi rujak harganya Rp 10 ribu. Porsinya menurut saya terlalu sedikit karena kenikmatannya buat nambah dan nambah lagi. Bagi saya, rasanya semakin nikmat jika menggunakan cabai. Habis makan pisang, kami kembali berenang.



Merasa cukup berenang hampir dua jam, kami pun segera bilas badan. “Ayo dek mandi dulu,” kata saya kepada Ayyas. “Emang mau mandi dimana,” kata mama Su, tante saya. Ya tentu saja saya bilang mandi di kamar mandi. Namun mama Su mengatakan kalau tak ada air sehingga tak mungkin bilas. Tak percaya, saya pun ke kamar mandi. Di depan kamar mandi berjejer dirijen-dirijen yang bisa menampung 5 liter air. Teryata, jika ingin bilas harus membeli air seharga Rp 2000 satu dirijen. Itu belum termasuk ongkos masuk kamar mandi seharga Rp 2000. Di dalam kamar mandi yang amat sederhana, tak ada penerang. Gelap, lembab dan kotor. Pasir bertaburan di lantai-lantai kamar mandi. Tak ada perbedaan antara kamar mandi pria dan perempuan. Sehingga saya kaget saat ada pria di dalam kamar mandi. Ayyas hampir saja tak mau bilas di kamar mandi, namun akhirnya mau. Dan saat mandi, ada laba-laba berukuran raksasa. Terburu-buru, kami pun bilas sesegera mungkin. Sayang ya, pantai dengan pemandangan luar biasa indah tapi kamar mandinya seperti itu.




Setelah dari pantai Liang, kami tertarik melihat morea (belut raksasa) yang berada di Desa Wai. Jarak darI Desa Liang ke Desa Wai hanya ditempuh dalam waktu 15 menit. Tiba di lokasi hanya ada papan bertuliskan “Selamat Datang di Air Waiselaka” dan bergambar morea. Teryata morea-morea ini ni berada di kolam air jernih dengan air setinggi 30 centimeter. Morea ini tampak asyik bermain walaupun banyak ibu-ibu yang mencuci bajunya di sekitarnya. Saya sempat heran, apakah air sabun tidak akan merugikan kesehatan si belut? Tampaknya, hal ini sudah menjadi kebiasaan. Kami juga mendapat kesempatan melihat morea makan telur oleh pawangnya. Oh ya, bagi pengunjung diharapkan memberi uang seadaanya untuk pemeliharaan morea itu. Puas berjalan-jalan, sepanjang jalan pun kami tertidur. Dalam tidur kami berharap akan kembali ke pantai Liang. Harapan yang diharapkan menjadi kenyataan.

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar