Kamis, November 05, 2015

Liburan di Setu Pendongkelan




Mendengar kawasan bernama Setu Pendongkelan, tampaknya tak banyak yang tahu. Berbeda dengan Setu Babakan yang memang lebih terkenal. Saya sendiri baru tahu bahwa ada tempat bernama setu Pendongkelan saat memilih tinggal di kawasan Pasar Rebo, Jakarta Timur. Oh ya, setu Pendongkelan ini memiliki kedalaman 4 meter dan terletak di Kelurahan Tugu, Cimanggis, Depok, Jawa Barat. Jarak antara tanggul setu dengan rumah warga hanya 10 meter. Sebagai penanda, ada gapura yang bertuliskan “Setu Pendongkelan” yang terletak di depan setu. Nah, di bawah gapura, terdapat penjual sayur-sayuran. Lumayanlah menikmati setu lalu pulangnya belanja sayur. Untuk menikmati hiburan di kawasan setu Pendongkelan, harus berjalan sekitar satu kilometer. 

Karena jaraknya yang dekat saya pun kerap berkunjung ke setu Pendongkelan. Senin, 2 November 2015, saya bersama Ayyas, Papa dan Gendis pun mendatangi kawasan setu Pendongkelan. Niat awalnya, menaiki bebek-bebekan yang tersedia di kawasan ini. Saya masih ingat awal menaiki bebek-bebekan, diminta menggunakan baju pelampung. Duuh … nggak nyaman sekali. Apalagi aromanya tak sedap. Tapi ya, demi keselamatan akhirnya baju pelampung itu kami pakai. Tapi entah kenapa, kini tak ada lagi yang menggunakan baju pelampung. Dan, kami juga pun tak ditawari.



Terkait harga, jika dulu harganya Rp 5 ribu untuk seperempat jam dan Rp 10 ribu untuk setengah jam, kini ada penambahan harga. Saat ini, jika ingin menikmati fasilitas bebek-bebekan, harga untuk setengah jam Rp 15 ribu dan Rp 9000 untuk seperempat jam. Menurut saya, ini masih lebih murah daripada di tempat lain.





Waktu yang tepat untuk menaiki bebek-bebekan ini adalah pada sore hari karena udara tidak panas. Hembusan angin membuat suasana menjadi nyaman. Saat naik bebek bersama Ayyas dan Gendis, saya memilih tidak jauh kayuh bebek-bebekan dari bibir danau. “Ummi, kita sampai di sana aja, “ kata Gendis meminta agak jauh. Uhhh .. takutt …. Soalnya hanya saya saja sendirian yang kayuh. Selama berada di setu,  kami menikmati hembusan angin dan makan roti yang dibawa dari rumah dan bergalirlah obrolan antara kami bertiga.



Saya : “Dek Gendis, Dek Gama pintar ya. Ibu pergi kerja nggak nangis”

Gendis : “Mungkin Dek Gama pengen Ibu kerja terus atau pulang malam”

Ayyas : “Nggak enak loh kalo pulang malam. Aku aja nggak suka kalau ummi pulang malam. Nggak ada yang peluk aku, nggak ada yang bobok bareng aku”

Loh loh, teryata ada yang curhat. Hahhaaaa …



Usai naik bebek-bebek, kami memilih naik skuter anak dual pedal. Eh, bukan kami karena saya tak ikutan. Tapi hanya Ayyas dan Gendis. Awalnya mereka terlihat kagok naik karena belum pernah naik skuter dual pedal. Namun setelah saya ajari secara perlahan, dalam waktu singkat, mereka sangat lihai bermain skuter dual pedal. Oh ya, untuk skuter ini harga untuk 15 menit membayar Rp 5000. Asyik bermain skuter, kami pun bergegas pulang.




Bagi saya, kawasan ini sebenarnya sangat berpotensi menjadi tempat wisata yang menarik. Hanya saja kurang dikelola dengan baik. Jika saya kebersihan di sekitar danau terjaga. Begitujuga fasilitas bebek-bebek kalau di cat bersih, mungkin makin banyak yang datang. Dengan adanya saung-saung disekitar setu sebenarnya membuat suasana menjadi lebih asyik. Jika makin bagus, sering-sering ah bawa keluarga ke sini …  



   


Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar