Senin, November 23, 2015

Everest, Perjuangan Pendaki Bertahan Hidup





Saya termasuk golongan penikmat film berdasarkan kisah nyata. Film berdasarkan kisah nyata yang terakhir saya nonton adalah film berjudul ‘Everest  yang bercerita tentang kisah nyata tragedi pendakian tahun 1996. Kisah ini menceritakan ekspedisi yang dipimpin Robert Edwin Hall Hall (Jason Clarke) melalui Adventure.Mereka menemani para pendaki yang memiliki tujuan berbeda untuk mendaki gunung Everest pada Februari 1996. Para pendaki itu adalah Michael Groom (Thomas W. Wright), Harold (Martin Henderson), Dough Hansen (John Hawkes), Yasuko Namba (Naoko Mori), Beck Weathers (Josh Brolin) serta jurnalis Jon Krakuer (Michael Kelly). Kala Yasuko Namba (Naoko Mori) ditanya alasan mendaki Everest ia menjawab singkat. “Saya sudah mendaki enam gunung, saya ingin ke tujuh,” katanya. Rob memiliki satu janji kepada istrinya Jan Hall (Keira Knightley), pulang untuk melihat anaknya lahir.




Perjalanan menunju puncak ini menunjukkan karakter masing-masing pendaki. Namun, perbedaan karakter tidak menjadi inti dari film ini. Bagi saya, film ini lebih menonjolkan ganasnya alam di gunung Everest. Dinginnya udara, kuatnya hembusan angin hingga minimnya oksigen merupakan tantangan bagi para pendaki. Tentu saja, pemandangan yang indah tanpa didukung jalan cerita yang apik dan dimainkan dengan baik, tidak akan menjadi satu film yang utuh dan menarik. Film ini juga menceritakan betapa pentingnya perencanaan. Kapan harus naik gunung, kapan harus berada di puncak dan kapan harus turun dari puncak merupakan harga ‘mati’ yang tak bisa ditawar. Saat pos demi pos berhasil dilewati dan 8 dari 10 pendaki berhasil naik dan menyentuh puncak gunung, bukan berarti masalah selesai. Masalah muncul saat Dough yang terlambat tiba di puncak tidak mau kembali ke pos dan memaksa Rob menemaninya. Dough tidak ingin mengulang kegagalannya yang pertama. Rob menyanggupi. Sebagian pendaki lainnya beranjak turun ke pos terdekat. Kebahagiaan terpancar di wajah Dough saat berhasil mencapai puncak gunung Everest. Namun keputusan ini  teryata membawa bencana. Awan gelap muncul, para pendaki pun terjebak. Disinilah drama muncul. Drama emosional muncul saat percakapan antara Rob dan istrinya Jan. Bayangkan saja, bagaimana jika ini adalah percakapan terakhir dengan pasangan?. Dan bagi saya, penentuan film ini lebih ditekankan pada pertanyaan “Siapakah yang bertahan hidup?”.




Film ini berlokasi di Nepal, tepatnya di kaki bukit gunung Everest. Jika dibandingkan antara film Everest dan Vertikal Limit, saya lebih memilih film Vertical Limit sebagai film terbaik. Bagi saya, film Vertikal Limit adalah paket lengkap antara keganasan alam, konflik antara pendaki tersaji baik dan endingnya yang tak nanggung. Namun, film Everest bisa menjadi salah satu alternatif pilihan tontonan.Di akhir film, penonton menyaksikan tayangan kolase foto-foto para pendaki yang diceritakan di film ini.

Sejak tahun 1953 ketika Sir Edmund Hillary dan Tenxing Norgay mencapai puncak, Everst menjadi incaran para pendaki. Ribuan pendaki telah menaklukkan puncak gunung tertinggi bumi yakni 8.848 meter di atas permukaan laut 

Ingin menonton trailernya? Silakan ... 

Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar