Kamis, Oktober 15, 2015

The Hundred Foot Journey, Perjalanan Keluarga Kadams




Apa rasanya terusir dari tanah air dan membangun kehidupan mulai nol? Itulah yang dirasakan keluarga Papa Kadams (Om Puri) yang berasal dari India. Sebagai seorang suami dan bapak dari lima anak dan memiliki restoran India itulah kehidupan terbaiknya. Namun semuanya harus lenyap dalam semalam karena sekelompok orang. Dan dalam semalam, ia kehilangan mata pencaharian dan istri tercinta. Dari sinilah film “The Hundred Foot Journey” yang diproduksi tahun 2014 berawal.





Dalam kebimbangan dan keresahan ia tahu hidupnya harus berlanjut. Bersama kelima anaknya, Papa terbang ke Lumiere, sebuah desa kecil di pegunungan Perancis. Setibanya di Lumiere, Papa terpikat dengan sebuah bangunan yang usang, jelek namun berada di depan sebuah restoran Le Saule Pleureur terkenal di kota itu. Kelima anaknya tentu tak setuju. Papa yang keras kepala tentu tak mau menerima begitu saja saran anak-anaknya. Tanpa sepengetahuan kelima anak-anaknya, Papa pun membeli bangunan itu. Dan, sebagai seseorang yang asli India, Papa pun menghias restorannya dengan khas India. 

 Lalu siapa yang memasak? Adalah Hassan Kadams (Maish Dayal), anak keduanya yang memiliki bakat memasak seperti ibunya. Bakat masak yang mengalir secara alami dan menjadi andalan keluarga. Di tangan Hasan, restoran itu memiliki cita rasa India yang sarat bumbu. Namun, tak mudah membangun restoran. Tak ada yang mampir saat pembukaan restoran.   
Tak hanya itu saja, konflik terbuka pun terjadi antara Papa dan Madame Mallory (Helen Millen), pemilik restoran Le Saule Pleureur. Hasan yang berbakat memasak, mencuri perhatian Madame yang meminta Hassan bergabung dengannya. Walau awalnya, Madame Mallory seakan enggan menggakui kehebatan Hasan. Bergabung dengan Madame Mallory, membuat Hasan semakin menunjukkan bakatnya. Makanan Perancis diramu dengan bumbu-bumbu khas India. Cinta pun tumbuh di antara Hassan dan Marguerite (Charlotte Le Bon), perempuan yang juga bekerja di restoran Madame Mallory. Kehebatan Hasan mampu membuatnya berkibar di dunia internasional. Ia pun kembali terbang ke negeri orang dan menjadi koki yang membuat banyak orang berdecak kagum. Namun, berada jauh dari keluarganya membuatnya kosong.



Menonton film yang di  diproduksi oleh Steven Spielberg bersama Oprah Winfrey, juga menonton perjalanan karir seorang pria sederhana yang menjelma sebagai koki berbakat. Bagi saya, film ini adalah film keluarga yang sangat layak ditonton bersama keluarga tercinta. Kehangatan, kebersamaan dan cinta seorang bapak kepada keluarga serta cinta anak kepada orangtua menjadi pengikat dalam film ini. Dalam duka, keluarga akan tetap bersama. Jangan berharap film ini akan terasa datar tanpa humor. Papa Kadams mampu menyajikan tawa dengan caranya sendiri. 


Tak hanya itu saja, alur dalam film ini pun berjalan wajar. Tanpa ada sesuatu yang berlebihan dan alur yang terpotong. Konflik yang ada di dalam film ini tak terlalu tajam, namun mampu menunjukkan dalam setiap kehidupan, celah konflik bisa saja terjadi. Kehebatan lain dalam film ini adalah penggambilan angle yang apik saat proses pembuatan masakan. Fokus kamera saat Hasan memasukkan bumbu, mengaduk masakan hingga menyajikan, mampu membuat saya sebagai penonton ingin segera melahap masakan yang tersaji itu. Secara keseluruhan, film ini bagi saya sangat berkesan karena perpaduan berbagai kekeluargaan, tak pantanng menyerah hingga penyajian gambar yang sangat memikat mata saya sebagai penonton. Saking berkesan, saya bersama keluarga menonton film ini hingga empat kali. Hehehe

Postingan ini diikutsertakan dalam Evrinasp Second Giveaway: What Movie are You?



Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar