Minggu, Oktober 25, 2015

Sabtu di Taman Wisata


Sudah lama ingin kembali berkunjung ke Puncak, Jawa Barat. Tapi dengan segala kemacetan dan bla bla bla, akhirnya keinginan itu pun tertunda. Nah, tanggal 24 Oktober, kantor suami menyelenggarakan family gathering PT Yakult di Taman Matahari di Puncak, Jawa Barat. Perjalanan yang dari kantor PT Yakult ke Taman Matahari sekitar hampir empat jam. Kemacetan yang terjadi, merupakan penyebab utama lamanya perjalanan ke lokasi. Taman Matahari berlokasi di Jalan Raya Puncak KM 77-78 Cilember, Jogjogan, Cisarua.




Harga tiket masuk cukup terjangkau yakni Rp 25 ribu. Itu pun sudah dapat berbagai permainan gratis yakni sepeda wisata, perahu karet, waterboom, dan paddle boot. Tiba di lokasi, setelah pengarahan dari pihak panitia dan permainan awal, kami sekeluarga akhirnya mengunjui berbagai permainan dan fasilitas yang ditawarkan. Permainan pertama yang kami coba adalah perahu karet. Lokasinya tidak jauh dari Rumah Manado, tempat kumpul family gathering. Walaupun berada di Puncak, kawasan ini menurut saya masih terasa panas. Apalagi saat memilih permainan di luar ruangan, panasnya sangat terasa. Saat mencoba perahu karet, pengunjung harus antri karena banyaknya pengunjung yang mencoba permainan secara gratis ini. Waktu yang diberikan untuk permainan ini sekitar 5-10 menit saja. 





Usai mencoba perahu karet, kami penasaran dengan fasilitas arung jeram yang ditawarkan. Biayanya memang lebih mahal dari harga yang ditawarkan dari permainan lain di Taman WIsata Matahari  yakni Rp 25 ribu per orang. Dikarenakan musim kemarau, arus air pun tidak deras. Arung jeram hari itu teryata kurang digemari. ‘Setelah water park gratis, hampir 70 persen lebih milih kesana,” kata Indra pendamping arung jeram kami. Akhirnya saya, Farah dan Ayyas memilih mencoba arung jeram. Batu-batu besar sempat membuat Ayyas kuatir. Tapi kemudian dia menikmati permainan ini. Arung jeram ini dapat ditempuh sepanjang 600 meter. Oh ya, jangan kuatir baju basah karena arus yang tak deras ini. Namun sepatu harus dicopot jika tak mau basah. Saran saya sebaiknya jika memilih menggunakan arung jeram menggunakan sandal gunung. Setelah menempuh perjalanan 600 meter di sungai, kami pun harus menempuh perjalanan 600 meter dengan berjalan kaki ke lokasi awal. Agak menyesal  tidak membawa sandal karena jalanan panas karena sengatan matahari. “Lebih berkeringat jalan daripada di arung jeram, “ kata Farah. Hmm, ada benarnya juga.




Penasaran dengan fasilitas di Taman Matahari, suami mengusulkan menaiki mobil wisata. Sudah bisa ditebak, saya, Ayyas, Farah dan Papa tentu saja setuju. Untuk menikmati mobil wisata, pengunjung harus membayar Rp 10 ribu per orang selama 10 -15 menit. Tak perlu antri karena banyak sekali mobil wisata yang kosong dan siap dipilih . Sepanjang perjalanan, kami akhirnya makin tahu fasilitas apa saja yang ditawarkan di tempat wisata seluas hampir 30 hektar ini.  



Capek berkeliling, kami mencoba permainan lain. Hmm… apalagi yaaa. Saya tertarik mencoba belajar tarian chacha gratis. Saat membaca kata gratis, wah saya langsung bersemangat. Tapi ya, hanya saya saja yang semangat menari. Selebihnya, hanya menonton saya menari. Pengajarnya bernama Pak Deni yang sudah tiga bulan mengajarkan tarian chacha secara gratis. “Siapa yang mau menari bisa ke sini pada Sabtu hingga minggu,” kata Pak Deni. Belajar gratis dimulai pukul 11.00 hingga pukul 16.00 WIB. Oh ya, gerakannya gemulai banget. Badannya sepertinya lentur tak ada kaku sama sekali. Beda dengan saya yang sudah lama tak menari. Hihiiihii ….. Saya ingin mencoba bioskop 4D. Namun batal ketika lihat tempatnya seperti tidak terawat. Kursinya biasa saja dan harus bayar Rp 15 ribu.




Mencoba panjat dinding? Hmm sepertinya menarik. Akhirnya, Farah dan suami pun mencoba panjat dinding dengan membayar Rp 10 ribu per orang. “Pas ada tanjakan yang paling atas butuh tenaga lebih besar,” kata suami. Oh ya, saya baru ngeh kalau ada berbagai tawaran panjat dinding dan jaraknya pun saling berdekatan. Teryata diselenggarakan oleh perusahaan yang berbeda.Terakhir, kami mencoba perahu karet secara gratis. Duuh, capeknya keliling …. Baju renang yang di bawa dari rumah teryata hanya mengendap di tas ransel yang kami bawa.

Bagi saya, tempat wisata ini menarik dicoba. Kalau mau rekreasi hemat, bayar Rp 25 ribu kemudian mencoba permainan gratis yang ditawarkan disana. Makanan silakan bawa dari rumah. Sepertinya berenang di waterpark bisa menjadi pilihan utama. Bawa makanan dan tikar juga untuk menghemat pengeluaran.



Namun jika ingin menikmati berbagai permainan, siap-siap menghabiskan anggaran bisa sampai Rp 100 ribu per orang. Harga yang ditawarkan di setiap permainan mulai Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu. Makanan yang ditawarkan beragam. Mulai makanan sunda, padang, dan berbagai makanan siap tersedia dengan harga terjangkau. Untuk oleh-oleh, di sana tersedia beraneka makanan ringan seperti keripik, kue dan souvenir. Ada juga bunga yang ditawarkan mulai harga Rp 20 ribu Rp 12 ribu. Pulangnya, kami semua tertidur di dalam bis. Alhamdulillah, berkesempatan jalan-jalan bersama keluarga



  







  






Wulansari Rach Alida Bahaweres

Seorang Ummi, istri, jurnalis dan blogger. Aktif menulis dan memberikan pelatihan menulis. Kontak kerjasama ke @lidbahaweres dan lidbahaweres@yahoo.com. Twitter dan instagram : @lidbahaweres. Terima kasih

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar